Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
123|Bohongi Aku


__ADS_3

“Ibuku sakit. Karena itu, aku tidak konsentrasi selama mengetik tugas kita,” akunya.


Demi persahabatan yang pernah terjalin di antara kami, aku mau memenuhi permintaannya. Kami berdiri di koridor dekat ruang kuliah kami. Aku menolak bicara di kantin atau taman karena kuliah akan segera dimulai dan aku tidak mau melewatkannya.


“Aku sudah bicara dengan dosen kita, tetapi dia tidak bisa mengubah peraturan yang dibuatnya sendiri. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat kamu susah. Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mendapatkan nilai itu?” tanyanya lirih.


Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama. Matanya berkaca-kaca, bibirnya gemetar, dan tangannya juga sibuk memilin jemarinya. Dia tidak berpura-pura. Theo berjanji segalanya akan baik-baik saja, jadi aku tidak khawatir tentang nilai itu.


“Peraturan adalah peraturan. Tidak ada yang bisa kita lakukan.” Aku tersenyum kepadanya. “Kita lupakan saja kejadian itu. Ayo, kita ke ruangan sekarang.”


Usai kuliah, aku tidak ikut bersamanya ke kantin. Aku lebih memilih pergi ke perpustakaan. Robert tersenyum penuh arti ketika berpapasan denganku. Mike berusaha untuk menarik perhatianku. Heran. Apa dia tidak pernah mendengar kata tidak, makanya berbuat begini?


Ketika tidak ada orang lain di sekitar, aku mengeluarkan ponselku dan melakukan panggilan video. Wanita itu menjawab saat dering hampir berakhir. Melihat wajah bahagianya saat menyapa aku, jantungku serasa dipegang erat. Sakit sekali.


“Hai, Amarilis! Aku senang kamu menghubungi aku. Apa kabarmu?”


“Hai, Tante. Kabarku baik. Tante apa kabar?” tanyaku berbasa-basi.


“Tidak pernah sebaik ini. Aku sedang memasak pai. Seandainya kamu ada di sini pasti aku berikan potongan yang besar untukmu.” Perutku mendadak lapar mendengarnya. Sampai aromanya seolah tercium di hidungku.


“Aku tidak akan menolak.” Aku mendesah pelan. “Sayangnya, aku tidak di sana.”


Dia tertawa kecil. “Ada apa? Kamu menelepon aku pada jam ini, apa kalian tidak kuliah?”


“Ng, aku butuh bantuan, Tante. Jadi, aku bertengkar dengan Theo ….” Aku berpura-pura meminta saran darinya mengenai hubungan kami. Hanya itu caranya agar dia tidak curiga.


Kalau bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya. Ibu Nora baik-baik saja, tetapi dia menyebut wanita itu sedang sakit sebagai alasan dia lupa mencantumkan namaku pada makalah kami. Memenuhi undangannya ada gunanya juga, karena ibunya memberi nomornya kepadaku.


Pada saat diskusi kelompok, mereka menyambut aku dengan senyuman, termasuk Robert yang biasanya masam. Dia pasti senang mengetahui temanku sendiri telah menjebak aku. Senyum itu sebentar lagi akan hilang dari wajahnya.


“Apa maksudmu, Amarilis?” tanya Nora yang terkejut mendengar pernyataan mundurku. “Apa kamu masih tidak memaafkan kesalahanku? Aku berjanji hal itu tidak akan terjadi lagi.”

__ADS_1


“Tidak, terima kasih. Aku sudah kehilangan satu nilai, jadi aku khawatir akan kehilangan lagi. Kalian semua tahu aku kuliah di sini karena beasiswa. Jika hasil akademikku pada semester ini jatuh, aku tidak akan bisa melanjutkan kuliahku.” Aku berdiri. “Silakan mulai diskusinya. Aku permisi.”


“Amarilis, jangan begini.” Nora mengikuti aku, tetapi aku mengabaikannya. “Aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Kamu jangan keluar dari grup kita.”


Melihat kami ada di tempat yang sepi, jauh dari orang lain, aku berhenti. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan serius. Dia juga berhenti dan masih memasang wajah memelas.


“Ibumu tidak sakit.” Dia membulatkan matanya, tetapi segera menutupi rasa terkejutnya dengan menyeka rambutnya ke belakang telinga. “Aku tahu mengapa kamu melakukan ini. Kamu mau aku tidak lanjut kuliah supaya kamu bisa mendekati Theo, ‘kan?”


“Ibuku sakit dan dia sudah sembuh. Aku bukan orang tanpa dosa, tetapi aku tidak pernah berniat berbuat jahat kepadamu. Pikiran dari mana itu?” Dia membela diri.


“Tidak usah berpura-pura, Nora. Kalau kamu suka Theo, dekati saja dia. Jangan rendahkan dirimu dengan menggunakan cara ini.”


Dia yang semula bersikap tenang, menatap aku dengan tajam. “Bagaimana aku bisa mendekati dia kalau kamu belum disingkirkan?”


“Nah, begitu. Tunjukkan sifat aslimu supaya aku tidak muntah.” Aku tersenyum puas. “Selamat berjuang menyingkirkan aku. Semoga kamu beruntung.”


Aku melakukan kesalahan besar dengan keluar dari kelompok itu, tetapi tidak ada cara lain. Bila aku tetap bersama mereka, sama saja bohong. Karena Nora akan tetap sengaja tidak mencantumkan namaku pada makalah kami. Studiku benar-benar akan terancam.


Theo sama sekali tidak membantu dengan masuk ke kamar dan memaksa aku untuk tidur. Padahal masih pukul sebelas malam. Kami bertengkar sengit, tetapi aku kalah telak. Tentu saja. Bagaimana aku bisa melawan dia yang arogan?


Namun begitu dia kembali ke kamarnya dan suasana apartemen sudah sunyi senyap, aku bangun dan melanjutkan belajarku. Hanya tinggal beberapa paragraf lagi, maka makalahku selesai. Ide sedang lancar, jadi aku harus mengetik semuanya sekarang sebelum menghilang.


“Apa lo pikir bunyi ketak-ketik kibor laptop lo tidak akan terdengar sampai ke kamar gue?” Theo tiba-tiba saja sudah berada di sampingku sehingga aku menjerit ketakutan. Dia menutup bibirku dengan tangannya. “Lo bisa membangunkan satu gedung dengan teriakan lo.”


Aku menarik napas lega, lalu menjauhkan tangannya dari wajahku. “Kalau kamu tidak mengejutkan aku, maka aku tidak akan teriak.”


“Lo enggak bisa lagi dipercaya.” Dia mendadak membopong tubuhku.


“Theo, turunkan aku! Kamu mau membawa aku ke mana?” protesku melihat dia membawa aku keluar dari kamar.


“Lo bisa diam, tidak? Sudah hampir tengah malam. Orang-orang bisa terbangun karena suara lo,” katanya dengan kesal.

__ADS_1


“Turunkan aku baru aku diam,” balasku.


“Tidak.” Dia membuka pintu kamarnya dengan mudah, lalu membaringkan aku di ranjangnya. “Gue enggak mau waktu lo jadi istri gue, lo terkena penyakit hati.”


“Oke, oke. Aku akan tidur.” Aku duduk dan berniat turun dari tempat tidur, tetapi dia menghalangi. Dia melihat aku dengan tajam sehingga aku menelan ludah dengan berat.


“Gue enggak percaya lagi sama lo. Tidur di sini,” perintahnya. Aku menatapnya tidak percaya. “Ayo, berbaring. Atau lo mau gue ikat di tempat tidur?”


“Sejak kapan kamu kasar begini?” protesku, tetapi aku menurut dengan membaringkan tubuhku. Aku tidak mau benaran diikat di tempat tidur. Memangnya aku tahanan? Tidak apa-apa. Setelah dia pulas nanti, aku bisa kabur ke kamarku.


“Bukannya lo tahu gue kasar, tetapi tetap sayang?” Dia berbaring di sisiku.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Aku berusaha untuk menjauh, tetapi dia segera memeluk aku.


“Lo pikir gue mau tidur di lantai? Enak saja. Lantainya terlalu dingin. Sudah, pejamkan mata lo. Tidur.” Dia memadamkan lampu nakas dan mempererat pelukannya. “Jangan berpikir yang macam-macam. Gue enggak akan hamili lo sekarang.”


“Theo!!” Pipiku memanas mendengar kalimatnya itu.


Karena dia diam, maka aku juga diam. Aku memejamkan mata dan menunggu sampai dia tertidur. Hanya beberapa paragraf lagi untuk menyelesaikan tugasku. Akan aku buktikan kepada Nora bahwa aku bisa tanpa dia dan mantan teman satu grupku yang jahat itu.


Hm …. Bantalnya harum sekali. Aroma sampo Theo yang maskulin. Aku memang sangat beruntung. Punya pacar yang sangat tampan, baik hati, kaya raya, cerdas lagi. Paket lengkap yang diidamkan banyak wanita. Jadi, aku tidak heran Clara tidak henti mengejarnya dan Nora jatuh cinta kepadanya.


Suasana sudah hening. Aku membuka mata dan tidak merasakan pelukan Theo yang hangat. Tidak, tidak, tidak. Apa yang aku pikirkan? Sempat-sempatnya aku memikirkan kehangatan pelukannya. Aku segera duduk dan memperhatikan sekelilingku. Ke mana dia?


Mengapa aku malah memikirkan itu? Dia tidak ada, maka aku bebas untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Aku membuka pintu, malah disambut dengan aroma lezat masakan. Theo sedang memasak apa tengah malam begini?


“Pagi,” sapanya sambil memamerkan gigi rapinya.


Pagi? Aku menoleh ke arah jendela. Masih gelap. Maka aku melihat ke arah jam digital yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Pukul tujuh pagi. Oh, tidak. Aku ketiduran. Tugasku!


__ADS_1


(Enaknya jadi Amarilis. Kalau aku, lembur, ya, lembur saja. Tidak ada yang memaksa bobok bareng. #ehh)


__ADS_2