
Kami makan malam bersama di restoran milik keluargaku. Orang tua Venny sangat senang melihat tempat itu ramai dikunjungi pelanggan. Yang mendominasi bukanlah orang Indonesia, melainkan penduduk lokal. Papa dengan senang hati menceritakan perjalanan bisnis kuliner kami dari awal sampai bisa sesukses ini.
“Kamu pasti kesepian mengurus tempat ini seorang diri. Andai kita sudah menikah, aku bisa membantu kamu mengelolanya,” kata Venny bersimpati.
“Mengenai itu—” kata Mama dengan wajah bahagia.
“Masih ada banyak hal yang perlu Theo kerjakan sebelum dia menerima seorang rekan,” sela Papa. Mama menatapnya penuh protes. “Dia perlu membuktikan dirinya kepada para pemegang saham.”
“Maksud Om, dia tidak bisa dipercaya karena membuat skandal dengan mantannya?” kata Venny. Papa hanya melirik aku. “Bagaimana mereka bisa percaya kalau fotonya saja masih bersama mantan, Om. Kami sudah setahun lebih bertunangan, dia tidak mau memasang fotonya bersama aku.”
“Ven,” tegur mamanya. “Kita sudah membahas ini. Sebaiknya jangan dibicarakan di sini.”
“Jadi, kapan lagi aku mengatakannya, Ma? Ini tidak adil. Mau sampai kapan aku bersabar melihat dia terus saja memakai foto usang itu?” Dia mencibir.
“Theo sibuk bekerja. Tidak seperti lo yang punya banyak waktu main media sosial,” ejek Matt. Dia menyikut lenganku. “Karyawan lo memanggil, tuh.”
Aku menoleh ke arah yang dilihatnya. Carlos menganggukkan kepala begitu kami bertemu pandang. Aku pamit kepada mereka, lalu mendekati dia. Kami memasuki dapur dan setelah pintu tertutup, aku mendesah lega. Benar-benar malam yang membosankan.
“Apa saya memanggil tepat waktu, Pak?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk. “Terima kasih. Kamu sudah menyelamatkan aku.”
Dia tersenyum lebar. “Kapan saja kamu butuh bantuan, saya siap untuk melakukannya.” Dia melihat ke arah teman yang memanggilnya. “Saya kembali bekerja, Pak.” Aku menganggukkan kepalaku.
Untung saja mereka memilih tempat ini sebagai lokasi makan malam kami. Jadi, aku bisa meminta salah satu karyawanku untuk memanggil aku satu jam setelah kami tiba. Dugaanku benar. Keluarga itu tidak berhenti bicara dan menginterupsi aku makan.
Seseorang meletakkan sepiring puding di depanku. Aku berterima kasih, lalu menyantapnya. Biar saja mereka berpikir aku sedang mengurus pegawaiku. Hanya beberapa menit di sini, mereka tidak akan curiga. Hm. Pudingnya enak, jadi aku minta tambahan lagi.
Kembali ke hotel, aku hanya diam saja saat Venny tidak berhenti bicara. Matt sampai memakai headset dan mendengarkan musik lewat ponselnya. Aku membaca laporan dari Daisy mengenai kondisi terakhir Amarilis. Dia masih mengurung diri di kamarnya.
__ADS_1
Apa aku perlu mengirim sesuatu untuk menghibur dia? Gara-gara perempuan itu, aku dan Amarilis jadi bertengkar. Dia tidak pernah sampai mendiamkan aku seperti ini. Aku mengirim begitu banyak pesan, tidak satu pun dibalasnya. Sial.
“Cewek umumnya suka perhiasan, bunga, boneka, atau cokelat. Kak Amarilis hanya suka satu hal, makanan. Kirim makanan saja. Lo belum pernah ajak dia ke restoran kita. Kenapa enggak kirim masakan Indonesia kesukaannya? Siapa tahu dia belum makan gara-gara lo.” Matt duduk di sisiku.
Idenya boleh juga. Amarilis masih mengurung diri di kamar, jadi sudah pasti dia belum makan. Aku mengirim pesan kepada Carlos supaya dia yang mengurus makanannya. Aku bahkan mengancam akan memecat dia kalau sampai masakannya tidak enak.
“Lo bego, sih. Gue sudah bilang jujur saja. Lihat apa akibatnya. Mana ada orang yang mau dibohongi.” Dia mengganti saluran televisi.
“Kalau dia tahu sebelum kami kembali bersama, dia akan pesimis lagi dengan hubungan kami. Gue benci setiap kali dia tidak yakin kami akan menikah.”
“Jangankan Kak Amarilis. Gue saja pesimis kalian bisa menikah. Lo pikir lo bisa mengalahkan Papa dan Mama? Bangun, Theo. Mereka jauh lebih kuat dari lo.”
“Maksud lo, lo enggak mau bantu gue? Lo tega biarkan gue berjuang sendiri?”
“Lo yang mau menikah, kenapa gue harus ikut repot? Gue juga nanti harus berjuang sendiri. Lo mau bantu pakai apa?” tantangnya. “Gue tetap dukung lo menikah dengan Kak Amarilis karena gue sudah anggap dia seperti kakak gue sendiri. Hanya itu. Untuk menghadapi ortu, itu urusan lo.”
Sampai menjelang tidur, Amarilis tidak membalas pesanku atau memberi tahu aku tentang makanan yang dia terima dariku. Padahal Daisy sudah melaporkan dia menerimanya. Wanita ini. Dia membuat aku khawatir. Dia pasti sengaja melakukannya.
Matt sudah tidak ada di kamarnya saat aku memanggilnya untuk sarapan. Aku menelepon ponselnya dan kesal mengetahui dia ada di mana. Aku juga mau bergabung dengan mereka daripada bersama Papa dan Mama di sini. Benar saja. Mereka berlima sudah ada di ruang makan ketika aku tiba.
Venny duduk menempel dan tidak berhenti mengajak aku bicara. Semakin aku diam, semakin banyak kata yang dia keluarkan. Apa perempuan ini tidak bisa diam satu menit saja? Tidak tahan lagi, aku pamit dahulu untuk kembali ke kamar.
Namun aku tidak ke kamar. Ketika aku yakin mereka tidak melihat, aku keluar lewat pintu samping. Pengawalku sudah menunggu dengan mobil mereka. Aku lebih baik mengurus restoran daripada menunggu jam wisuda di kamar, lalu perempuan itu datang mengganggu.
Bisa saja Mama menyuruh dia untuk menemani aku di suite. Aku tidak sudi berdua saja dengannya ketika Matt sedang bersenang-senang dengan wanitaku. Adikku itu memang kurang ajar. Katanya, dia mendukung aku bersama Amarilis, tetapi dia meninggalkan aku sendiri.
“Kamu ini ada apa?” tegur Mama ketika kami bersiap ke kampus. “Kamu bilang kamu kembali ke kamar. Mengapa kamu malah keluar hotel tanpa pamit?”
“Restoran adalah urusanku, Ma. Apa aku harus selalu melapor jika aku mendadak ke sana?” Aku balik bertanya. Benar, ‘kan? Dia pasti menyuruh perempuan itu menemani aku di kamar.
__ADS_1
“Bagaimana Mama bisa tahu Theo tidak ada di kamar?” tanya Matt. “Perempuan itu merengek meminta Mama menyuruh Theo menemaninya belanja?”
“Matt, bicara yang sopan. Venny akan menjadi kakak iparmu. Kamu perlu belajar menghargainya.” Mama melirik Papa. “Mobil sudah siap?”
“Iya.” Papa memasukkan ponselnya ke saku bagian dalam jasnya. “Ayo.”
Sore harinya, aku mengikuti upacara pemberian ijazah untuk kami para mahasiswa yang mendapat gelar master. Acaranya tidak jauh berbeda dengan wisuda sarjana, hanya saja jumlah kami lebih sedikit. Jadi, acara tidak berlangsung lama walau kami semua diminta menyampaikan beberapa kata setelah menerima ijazah.
Yang paling mengharukan adalah ketika rektor yang memimpin acara meminta orang-orang yang sudah mendukung kami semua untuk berdiri di tempat. Dia mengucapkan terima kasih atas setiap bentuk dukungan dari orang tua, suami atau istri, kekasih, anak-anak, semua orang yang sudah terlibat dalam studi kami. Para wisudawan juga diminta berdiri untuk turut memberi apresiasi.
Kalau bukan karena ayahku yang bekerja keras mengumpulkan uang, aku tidak akan ada di sini sekarang. Juga ibuku yang egois, tetapi aku yakin selalu menguatkan aku lewat doanya setiap malam. Adikku yang acuh tak acuh selalu menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri.
Sayang sekali, Amarilis tidak hadir di sini. Karena dia juga berperan besar atas studiku selama dia tinggal bersamaku. Tanpa kopi aneh buatannya, camilan yang dia bawakan, air yang dia isi ulang, bahkan hanya sekadar duduk menemani aku lembur, mungkin aku malas-malasan menyelesaikan tesis. Karena berbulan-bulan membahas satu topik saja membuat aku muak.
Kami makan malam bersama sebagai bentuk syukuran di suite Papa dan Mama. Berbagai makanan diantar, jadi kami bisa memilih apa saja yang kami mau. Ini malam terakhir mereka berada di sini, jadi aku menyabarkan diri atas kehadiran keluarga Venny.
“Nah, Venny, aku sudah menepati janji. Kamu menyaksikan langsung acara wisuda Theo,” kata Mama. “Satu janji lagi akan aku penuhi nanti ketika putraku sudah bisa meninggalkan restoran.”
“Iya, Tante. Terima kasih,” ucap wanita itu tersipu.
“Theo sudah tamat, mengapa kita harus menunggu tahun depan, Ruth?” Mama Venny tersenyum penuh arti. “Kita punya waktu untuk menyiapkan pernikahan mereka mulai dari sekarang. Bukankah akan ada acara besar lainnya dalam waktu dekat? Theo akan pulang ke tanah air, ‘kan?”
“Kamu benar juga.” Mama menepuk tangannya. “Ah, tetapi Venny bekerja di Jakarta. Kalau mereka menikah tahun ini, mereka akan berpisah cukup lama.”
“Itu bukan masalah, Ruth,” kata papa Venny. “Aku bisa menyiapkan penggantinya. Venny akan sangat membantu Theo mengurus restoran kalian. Siapa tahu mereka bisa kembali ke Indonesia lebih cepat jika bekerja sama.”
“Sayang, kamu dengar itu?” Mama menatap penuh harap kepada Papa. “Mereka ada benarnya. Jika kita siapkan pernikahan mereka sekarang, maka masih ada waktu sampai bulan Agustus nanti.”
Aku menatap Papa dengan khawatir. Semoga saja dia masih ingat dengan janjinya. Namun tawaran papa Venny sangat menggoda. Papa juga berharap urusan restoran bisa selesai lebih cepat dan aku kembali ke Indonesia untuk bekerja lagi bersamanya.
__ADS_1
Papa menoleh ke arahku sebelum melihat Mama. “Mengenai itu, aku punya ide yang lebih baik.”