Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
137|Tambahan Beban


__ADS_3

“Lihat, ‘kan? Apa aku bilang? Seharusnya kita biarkan orang yang menolong dia. Aku mana mau buang uang untuk orang tua keras kepala begini.”


“Ya, sudah. Kita tinggalkan saja dia di sini. Lagi pula, dia bisa coba untuk mati lagi.” Aku memegang tangan Theo, lalu mengajaknya keluar dari pondok itu.


“Hei, kalian mau ke mana?” serunya dari arah belakang kami.


Aku tidak menggubrisnya lagi. Ada-ada saja. Aku tidak butuh ucapan terima kasih, tetapi setidaknya jangan memarahi orang yang menolong nyawanya. Memang apa enaknya mati mengenaskan begitu? Terbujur kaku di semak belukar hanya ditemani seekor anjing yang panik. Dasar kakek tua bodoh.


Kami seharusnya bahagia hari ini. Setelah makan siang, aku berencana menonton bersama sambil makan piza dan minum jus jeruk. Lalu makan malam dan menonton lagi. Duduk di teras, mendengar bunyi hutan pada malam hari juga menyenangkan. Gara-gara kakek itu, semuanya buyar.


“Ulang tahun yang aneh.” Film baru saja usai, tetapi tidak satu pun dari kami yang mau bangkit untuk mengganti dengan film lain.


“Kamu mengharapkan hal yang spesial.” Aku menyikut dadanya. “Anggap saja doa kamu terjawab.”


“Lo, ya, senang banget lihat gue susah.” Dia memencet hidungku dengan gemas.


Bunyi ketukan pada pintu menginterupsi kami. Apa kami tidak salah dengar? Aku dan Theo saling bertukar pandang. Terdengar ketukan lebih keras pertanda ada orang yang berada di balik pintu. Aneh. Kami tidak mengenal siapa pun yang ada di sekitar sini.


Theo berdiri untuk membuka pintu, sedangkan aku tetap duduk. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Theo dengan nada tidak suka.


“Aku sudah bilang, kalian harus bertanggung jawab.” Seorang pria tua mendorong Theo ke samping agar dia bisa masuk. Anjingnya menyusul dengan ekor bergerak cepat.


Aku segera berdiri melihat kedatangannya yang tidak sopan itu. “Kakek, kabinmu bukan di sini. Kalau kamu tidak pergi, kami akan menelepon polisi.”


“Aku lapar. Baunya enak.” Dia melihat ke sekelilingnya. Pandangannya tertuju pada kotak piza di atas meja. “Ah, ada piza! Boleh?” Dia memandang aku dan Theo.


Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, tidak suka dengan sikapnya itu. Setelah dia masuk tanpa izin, dia bertanya sebelum mencomot piza? Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh ke arah Theo, dia menggeleng pelan.


“Jangan pelit. Nanti aku pesan lagi satu kotak untuk kalian. Pemilik piza terenak di kota ini kenalan baikku.” Dia duduk di kursi dan mengambil kotak tersebut. “Ah, baguslah. Kalian membeli piza dari restorannya. Ini piza terbaik di sekitar sini.”


Theo menutup pintu dan kembali berdiri di sisiku. Kami tidak tahu harus bagaimana terhadap kakek tua ini. Bersikap kasar, biar bagaimana pun dia adalah orang tua yang kurang sehat. Bersikap baik, dia akan semakin kurang ajar. Orang asing mana yang datang ke rumah orang lalu minta makan?


“Karena kamu kurang sehat, minum air putih saja.” Aku meletakkan segelas air di atas meja.

__ADS_1


“Ah, terima kasih. Aku memang membutuhkannya.” Dia segera mengambil gelas tersebut dan meneguk isinya dengan dahaga. “Ada apa? Mengapa kalian diam saja? Silakan lanjutkan aktivitas kalian. Aku tidak akan mengganggu.”


Aku hanya bisa menelan ludah melihat dia menghabiskan semua piza itu berbagi dengan anjingnya. Theo hanya mengangguk pelan, lalu berdiri dan mengganti film selanjutnya untuk kami tonton. Pria itu juga ikut menyaksikannya bersama kami.


“Bagaimana ini?” tanyaku, melihat pria tua itu tertidur pulas dengan kotak piza kosong di dadanya.


“Bagaimana lagi? Aku tidak mau memapah dia ke kabinnya.” Dia berdiri, membersihkan kotak besar itu, dan membawanya ke dapur.


“Mengapa kamu tidak panggil pengawal kita saja?” tanyaku heran.


“Aku tidak mau ada yang tahu kehadiran mereka. Lagi pula, tugas mereka menjaga kita, bukan mengurus orang asing yang tidak dikenal,” sindirnya, mengingatkan kesalahanku.


Aku mendesah pelan, sebelum berdiri dan berjalan ke kamar. Aku mengambil sebuah selimut dari lemari, lalu membawanya ke ruang depan. Theo sudah membaringkan pria itu di sofa yang tadi kami duduki. Dia pasti tidak mau menyusahkan aku, jadi dia memindahkannya sendiri.


Kami membawa makanan ke teras agar tidak mengganggu pria tua itu dan anjingnya. Spageti itu sudah dihangatkan, tetapi kami harus menghabiskannya dengan cepat sebelum dingin. Perut penuh, kami pun duduk berdekatan sambil menutupi tubuh dengan selimut.


Semakin malam, hutan semakin ramai dengan bunyi berbagai jenis binatang. Syukurnya, tidak ada bunyi yang menandakan hujan akan turun. Aku memeluk pinggang Theo, mendekatkan tubuh kami. Aku tersenyum merasakan dia mencium rambutku.


“Nah, itu baru Theoku.” Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum kepadanya. Dia menoleh, lalu melirik bibirku. Memahami apa yang akan dia lakukan, aku memejamkan mataku. Dia menciúm aku begitu lembut. Semua bunyi itu mendadak lenyap, digantikan bunyi keras debaran jantungku.


“Andai lo tahu, betapa kerasnya gue menahan diri untuk membopong lo ke tempat tidur sekarang,” bisiknya. “Kehadiran kakek tua itu ada gunanya juga.”


“Kita bisa puasa melakukan ini sampai kita resmi menjadi suami istri,” godaku.


“Lebih baik gue melewati batas, tetapi gue bertanggung jawab daripada tidak bisa dekat dengan lo lagi.” Dia mempererat pelukannya. “Gue enggak mau kehilangan lo lagi.”


“Mengapa kamu jadi melankolis begini?” Aku mengusap-usap punggungnya. “Aku tidak akan ke mana-mana.”


“Gue enggak mau tinggal sendirian saat tua nanti seperti kakek itu. Ketika kita berpisah, laporan dari Daisy sangat menghibur gue. Mengetahui lo baik-baik saja, memberi gue semangat hidup. Apalagi lo tidak menjalin hubungan dengan siapa pun.


“Seandainya lo jatuh cinta dengan yang lain dan melupakan gue, gue pasti akan sendirian selamanya seperti kakek itu. Jadi, ini kesempatan terakhir kita. Gue enggak mau pulang hanya jadi pacar lo. Gue mau jadi suami lo.”


“Apa pernikahanmu dengan dia sudah disiapkan?” Karena dia sedang membahasnya, maka aku bertanya hal yang sampai sekarang belum dia jawab.

__ADS_1


“Gue hanya akan menikah dengan lo.”


Entah kapan aku tertidur, tetapi saat membuka mata, aku sedang berbaring di ranjang. Cuaca sangat dingin, membuat aku malas untuk bangun. Namun melihat Theo tidak ada di sisiku, aku duduk dan mencarinya. Dia tidak berbaring di lantai, lalu di mana dia tidur?


Aku membersihkan diri di kamar mandi sebelum keluar dari kamar. Aku ingat ada kakek tua keras kepala yang tidur di pondok ini bersama kami. Aku tidak mau ada orang lain yang melihat keadaanku saat baru bangun pagi.


Begitu membuka pintu, aroma masakan yang sedap memasuki penciumanku. Perutku bereaksi dengan protes minta diisi. Aku terkejut melihat Theo duduk bersama kakek tua itu di dekat konter dapur. Mereka serentak menoleh ke arahku ketika aku mendekat.


“Pagi. Morning,” sapa mereka bersamaan.


Aku hanya bengong melihat mereka jadi akrab dalam sekejap. “Ada apa lo hanya diam di situ? Cepat ke sini, nanti bagian lo ludes dimakan si tua ini.”


“Apa yang terjadi?” tanyaku tidak mengerti.


“Ada orang yang tidak memahami bahasa kalian. Kalau kalian mau mengusir aku, katakan saja terus terang,” kata kakek tua itu.


“Aku keberatan kamu ada di sini.” Giliran aku dan Theo yang kompak mengatakannya.


“Oke, tetapi aku tidak akan pergi.” Dia menjilat jari tangannya. “Kamu pintar memasak.”


Aku tidak percaya dengan apa yang kami alami. Seharusnya kami berlibur berdua saja, tetapi selama satu minggu di kabin, selama itu juga kakek tua yang kami tidak ketahui namanya itu bersama kami. Dia tidak kembali ke pondoknya, juga tidak mengeluh tidur di sofa.


Ulang tahunku yang seharusnya aku lewati dengan Theo, harus kami rayakan bersama dia. Aku yang sudah siap dengan permohonanku hanya bisa pasrah menunda bermesraan dengan pacarku sendiri. Di mana kami duduk, dia ikut. Hanya saat tidur, dia tidak masuk kamar. Kami tidak berani berciúman atau berpelukan, khawatir akan tergoda sampai melewati batas.


Pada hari terakhir, kami saling berpamitan. Kakek tua itu tersenyum puas ketika kembali ke kabinnya bersama anjing setianya. Dia mendoakan yang baik untuk hubungan dan hidup kami ke depan, tetapi aku menangis begitu kami dalam perjalanan pulang.


“Lo yang salah. Gue sudah bilang, biar pengelola yang mengurus dia,” kata Theo, menambah cuka pada hatiku yang terluka.


Belum pernah kami gagal waktu berlibur atau jalan-jalan. Ini adalah liburan terburuk kami. Semua rencanaku hancur karena kehadiran kakek tua yang tidak kami kenal itu. Aku akhirnya hanya diam sampai kami tiba di kota kami agar tidak bertengkar dengan Theo.


Seakan liburan kami belum cukup hancur, wanita kecentilan itu berdiri di depan gedung apartemen ketika kami tiba. Dia melihat ke arah mobil dengan wajah kesal seolah-olah tahu kami akan pulang pada jam ini. Aku meminta sopir untuk berhenti. Aku tidak mau bersembunyi lagi.


Aku keluar dari mobil dan berjalan mendekat, tetapi dia melewati aku dan melangkah menuju Theo. Aku menatapnya tidak percaya. Apa yang dia inginkan dari pacarku?

__ADS_1


__ADS_2