
“Apa?” ucap Matt tidak percaya. “Jadi, gosip murahan itu benar? Theo bukan anak kandung Papa?”
“Bisakah kalian semua tenang?” lerai Papa. “Sebaiknya kita bicara di dalam. Jangan di sini.”
Aku mengepalkan tanganku menahan emosi. Setelah menghela dan mengembuskan napas beberapa saat, aku merasa cukup tenang. Aku menyusul mereka ke ruang keluarga. Akhirnya, saat yang aku tunggu datang juga. Sudah waktunya bagi kami untuk bicara.
Matt menyilangkan kedua tangan di depan dadanya dan menatap kedua orang tua kami dengan tajam. Aku duduk di sisinya sehingga kami bisa duduk berhadapan dengan mereka. Mama cemberut dan tidak mau melihat ke arahku maupun Matt. Hanya Papa yang terlihat pusing sendiri.
“Kalian berdua adalah anak kandung kami. Jangan percaya dengan berita yang beredar. Keluarga Winara juga tidak mengancam kami dengan apa pun. Perjodohan antara Chika dan Theo murni karena mama kalian dan mamanya melihat kalian berdua cocok,” kata Papa.
“Apa Papa tahu apa saja yang sudah Mama lakukan untuk memaksa gue setuju menikah dengan perempuan itu?” tanyaku tanpa basa-basi lagi.
“Kamu dan Amarilis tidak bisa bersama, Nak. Aku sudah bilang, kalau ada perempuan yang lebih baik, maka aku akan mempertimbangkan pilihanmu itu,” ucap Papa dengan lembut.
“Gue punya alasan memilih Amarilis.” Aku meletakkan tangan kananku di dada kiriku. “Jantungku hidup saat aku ada di dekatnya, Pa. Organ tubuhku yang mati karena ulah kalian berdua. Karena kalian juga, aku tidak bisa percaya kepada siapa pun lagi. Tetapi aku mau percaya kepada Amarilis. Aku mempercayakan hatiku kepadanya.”
“Nak, yang terjadi di masa lalu—” Papa berusaha untuk menjelaskan.
“Adalah alasan Mama memaksa aku menikah dengan Chika. Mama mengancam Amarilis dengan merusak bisnis keluarganya dan membayar peretas untuk mencuri tabungan mereka. Mama juga yang bekerja sama dengan Tante Winara untuk menyebarkan video dan fotoku berciuman dengan Amarilis. Apa Papa tahu semua itu?”
“Sayang,” gumam Papa terkejut. Mama hanya merapatkan bibirnya.
“Kalian ini bicara apa? Memangnya apa yang terjadi di masa lalu?” tanya Matt bingung. “Kalau kalian tidak mau buka mulut saat ini juga, gue akan pergi dari rumah. Untuk apa gue tinggal di sini jika enggak dianggap sebagai bagian dari keluarga?”
Papa memegang tangan Mama. “Sebentar. Tunggu mamamu keluar dari ruangan ini.”
“Tidak. Theo benar. Aku tidak mau menjadikan putraku sebagai tumbal demi menjaga nama baikku. Jadi, aku akan di sini, mendengarkan kamu memberi tahu putra kedua kita malapetaka yang pernah kita alami.” Mama menoleh kepada Papa dan mengangguk pelan.
Papa menghela napas panjang. Aku memejamkan mata, menghitung sampai sepuluh, menyiapkan diri mendengar kabar buruk itu lagi. “Setelah kami sah sebagai suami istri, aku terbangun di kamar hotel seorang diri. Aku tidak ingat apa yang terjadi, tetapi aku panik karena istriku tidak bersamaku.”
“Barulah pada malam harinya aku tahu, dia berada di hotel lain, tidur dengan adikku. Mereka sama-sama tidak tahu apa yang telah terjadi. Kami menutupi peristiwa itu sebaik mungkin bahkan semua jejak kami hapus.” Papa memejamkan matanya.
“Sayangnya, kami melupakan hal yang penting. Mama kalian hamil. Dia terlambat datang bulan dan kami memeriksanya. Jiwanya masih terguncang karena mengetahui malam pertamanya dilewati bersama adikku, kalian tidak akan bisa bayangkan kehamilan itu menghancurkan hatinya.
“Dia ingin menggugurkan kandungan yang belum genap berusia lima minggu itu, tetapi Nenek melarang. Baginya, bayi itu tetap cucunya karena berasal dari adikku. Aku tidak terima. Jadi, aku lebih memilih istri daripada mamaku.
“Sejak detik itu, Nenek mengakhiri hubungannya dengan mama kalian dengan meminta cincinnya kembali. Aku mengantar istriku ke klinik dan menggúgurkan kandungannya. Kami tahu kami telah melakukan dosa besar, tetapi membiarkan anak itu tumbuh tanpa cinta ibunya jauh lebih jahat.”
__ADS_1
Ruangan itu menjadi sangat sunyi setelah Papa menghentikan ceritanya. Mama tidak menangis seperti yang aku duga, sedangkan Matt sibuk sendiri dengan pikirannya. Dia akan butuh waktu untuk memproses semua informasi itu. Aku juga tidak langsung menunjukkan reaksi.
Menggúgurkan kandungan adalah dosa besar yang sama saja dengan mêmbunuh. Bila publik pada masa itu mengetahui hal ini, bukan hanya nama baik keluarga yang hancur, tetapi orang tuaku dan dokter yang menangani proses itu bisa dijerat hukum.
Jadi, aku langsung tahu peristiwa ini yang dijadikan sebagai sênjata oleh Keluarga Winara agar Mama setuju untuk menikahkan aku dengan Chika. Jika orang-orang sampai tahu, maka kami akan hancur. Walau kasus itu sudah kedaluwarsa saat ini dan orang tuaku tidak bisa dituntut, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kami dari serangan media dan masyarakat.
“Siapa yang sudah melakukan itu?” tanya Matt pelan.
“Omku, kakek kalian. Dia masih tidak terima aku yang menjadi penerus ayahku. Padahal dia juga tidak bisa apa-apa. Hanya menghabiskan uang Kakek.”
“Wow. Keluarga kita benar-benar solid,” kata Matt dengan sarkas.
“Bukti apa yang teman Mama punya sehingga Mama melakukan ini?” tanyaku, kembali pada topik utama kami. “Tolong, jangan bohong lagi.”
“Kamu tahu aku aktif dalam yayasan sosial yang menolong wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Kalau kejadian ini sampai terbongkar, reputasi kita bisa hancur.” Mama mendesah pelan. “Dia punya bukti kedatangan kami ke klinik itu.”
“Tidak ada bukti, sayang,” kata Papa, menyela.
“Dia bilang ada.”
Mama tertegun sejenak. “Maksud kamu, Stephanie membohongi aku?”
Papa mengangguk. “Aku tahu kejadian itu mengguncang kita semua. Dia pasti melihat celah itu dan mengerjai kamu. Dia seorang wanita, jadi dia tahu kelemahanmu. Ibu mana yang bisa berpikir jernih ketika diingatkan tentang anak yang pernah dia gúgurkan?”
Kami makan malam di kamar masing-masing, kecuali Matt. Dia mengikuti aku ke kamarku setelah selesai mandi. Kami hanya diam menyantap makanan kami masing-masing. Berita tadi pasti sangat mengguncang jiwanya. Kami punya seorang kakak satu ibu yang tidak pernah dilahirkan.
Aku mengerti mengapa Nenek sangat marah kepada Mama, sampai tidak menganggapnya menantu lagi. Namun Mama tidak bersalah. Dia tidak menginginkan anak yang akan terus menjadi pengingat malam paling buruk dalam hidupnya. Malam yang seharusnya tidak terlupakan karena pengalaman pertamanya bersama orang yang dicintai.
“Lo baik-baik saja?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya pelan.
Mama tidak keluar kamar selama beberapa hari sejak kami bicara. Jadi, betapa leganya kami saat dia keluar dari sarangnya pada pagi itu. Dia meminta kami untuk tidak membuat rencana apa pun pada akhir pekan, maka aku dan Matt menurut.
Aku merasa waswas saat tahu Chika dan orang tuanya datang untuk makan malam bersama kami. Mama menyambut mereka dengan ramah, sedangkan aku dan Matt bersikap acuh tak acuh seperti biasanya. Matt sengaja memilih posisi duduk di mana dia yang ada di antara aku dan Chika.
Setelah makan malam, Mama mengajak kami semua ke ruang keluarga. Pilihan yang aneh. Ruang depan yang biasanya menjadi pilihan kami untuk menjamu tamu. Namun hanya beberapa menit, aku pun mengerti alasan pemilihan tempat tersebut.
__ADS_1
Mama menyalakan televisi dan memutar sebuah video. Ketiga orang itu menarik napas terkejut melihatnya. Aku menoleh ke arah Mama yang sedang tersenyum kepadaku. Aku tidak akan bertanya, karena aku tahu dia pasti menyuruh orang untuk meretas surelku.
“Apa yang kamu lakukan, Ruth?” tanya Tante Winara.
“Menunjukkan bukti alasanku memutuskan pertunangan putraku dengan putrimu,” jawab Mama.
Perempuan itu membulatkan matanya. “Kamu serius? Kamu sudah siap untuk hancur?” ancamnya.
“Aku serius, tetapi aku tidak akan hancur,” kata Mama dengan tenang.
“Ma, jangan diam saja. Katakan sesuatu,” desak Chika.
Tante Winara merapatkan bibirnya. Kami menunggu, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Mereka akhirnya pulang. Hanya Om Winara yang pamit dengan sopan. Kami tetap duduk di tempat masing-masing, tidak ada yang mengantar mereka pulang.
Matt yang pertama bersorak senang. Dia memeluk Papa dan Mama dengan erat sambil melompat di tempat. Aku meninggalkan mereka, tidak tertarik untuk ikut dalam perayaan itu. Seharusnya hal ini tidak pernah terjadi, andai Mama jujur kepada Papa.
Aku tahu satu masalah sudah selesai, tetapi ada masalah lain yang sudah menunggu. Orang tuaku tidak akan menunggu lama untuk memberi aku calon istri yang baru. Katelia baru meninggal selama dua tahun, mereka sudah menjodohkan aku dengan Chika. Berikutnya, siapa lagi?
Pintu kamarku diketuk, aku mempersilakan masuk. Mama tersenyum kepadaku dari celah pintu, lalu masuk dan menutupnya kembali. Dia melihat ke sekeliling kamarku sebelum duduk di tepi tempat tidur. Aku menghentikan kegiatanku dan menunggu.
“Aku minta maaf,” katanya pelan. “Aku sudah sangat jahat selama beberapa bulan ini kepadamu.”
“Mama juga sudah jahat kepada Amarilis,” timpalku.
Dia diam sejenak. “Keluarga kita tidak seperti keluarga lainnya, Nak. Matt saja tidak kami izinkan dekat dengan gadis biasa, apalagi kamu. Aku salah besar mengenai Chika, tetapi aku tidak akan salah lagi memilih calon istrimu nanti.”
“Mama salah memilih jodoh gue yang pertama dan kedua. Bagaimana Mama bisa yakin yang ketiga tidak akan salah juga?” tantangku.
“Apa maksudmu? Memangnya apa yang salah dengan Katelia?”
“Gue akan memilih istri gue sendiri, seperti wasiat Nenek. Papa dan Mama sudah gagal menemukan perempuan yang layak, bukan hanya satu kali, tetapi dua kali.”
“Theo—” Mama berusaha untuk memotong.
“Gue belum memaafkan Mama, jadi jangan paksa gue berbuat nekat, Ma.”
“Anak kecil seperti kamu menantang aku?” Mama mendengus pelan. “Oke. Aku mau tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan kami. Nenek yang kamu banggakan itu sudah meninggal, tidak akan bisa membantu kamu menentang aku lagi.”
__ADS_1