Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
147|Hariku tanpamu


__ADS_3

Mati aku. Beasiswa yang aku terima tidak besar. Apartemen ini tidak murah dan aku lupa memeriksa sampai kapan biaya sewanya. Dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar kedua orang ini? Aku masih punya waktu sekitar empat bulan untuk pergi dari sini. Itu uang yang banyak.


“Tidak. Pak Theo memberi kami cukup uang sampai Anda lulus. Karena itu, Anda tidak bisa mundur dari tanggal rencana kelulusan Anda. Biaya apartemen dan makan juga aman. Namun setelah itu, kami tidak tahu perintah selanjutnya.” Daisy menoleh ke arah rekannya.


“Partner kami yang ada di Jakarta juga sedang terkatung-katung. Tidak ada perintah lanjutan dari Pak Theo mengenai tugas mereka selanjutnya. Apalagi beliau hanya berada di rumah atau pergi ke rumah sakit. Untuk menyelidiki peristiwa itu, mereka butuh dana darinya.”


“Jadi, kalian tidak bisa membantu mencari tahu pelakunya,” pungkasku. Mereka mengangguk. “Aku minta maaf. Semua ini salahku, tetapi aku menyalahkan kalian. Aku akan berusaha untuk fokus dengan studiku, jadi kita bisa pulang tepat waktu.”


Apartemen dibayar sampai akhir bulan Maret pada tahun berikutnya, jadi aku aman. Aku tidak tahu dari mana biaya untuk makanan yang diantar ke apartemen. Daisy tidak mengatakannya dan aku segan bertanya. Jadi, aku biarkan saja dia mengerjakan tugasnya.


Suasana Natal mulai terasa, aku semakin sedih memikirkan keadaan Theo. Secara fisik, dia semakin baik, tetapi belum ada perkembangan mengenai ingatannya. Aku sedikit terhibur Meghan mengajak aku jalan-jalan pada awal bulan Desember melihat situasi Natal di kota pada malam hari.


“Clara mengenal Robert,” katanya pelan. Aku menoleh ke arahnya dengan bingung. “Seharusnya dia menakut-nakuti kamu supaya kamu pulang ke Indonesia. Namun gagal. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi mereka bertengkar hebat akhir pekan lalu.”


“Aku tahu ada yang aneh pada pria itu. Apalagi mengingat gosip mengenai hubungannya dengan sihir.” Aku mengangguk mengerti.


“Dia hanya penipu. Aku sudah mencari tahu mengenai gosip yang beredar itu. Dua di antaranya tidak benar. Maka gosip lainnya sudah pasti bohong. Dia sendiri yang menyebarkan isu itu supaya orang takut kepadanya. Tidak benar dia bisa mengendalikan jiwa orang lain.”


“Benarkah?” tanyaku. Dia mengangguk. “Wah, dia menang banyak. Walau usahanya itu gagal, dia dapat mobil Mike. Clara pasti kesal mengetahui dia sudah ditipu.”


“Sangat kesal, karena itu mereka bertengkar tentang uang.” Dia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu apa yang kurang darinya sehingga harus memiliki Theo. Padahal ada banyak laki-laki lain di dunia ini. Aku akui dia tampan, seandainya kamu ada di sana. Theo sangat keren pada acara pertunangan itu. Ah, maksudku, itu ….”


“Tidak apa-apa, Meghan. Aku mengerti kamu menghadiri acara pertunangan itu. Aku senang dia terlihat tampan pada hari itu.” Aku tersenyum tipis.


“Dunia memang tidak adil, ya, terhadap orang seperti kita. Aku dan Clara sama-sama berasal dari keluarga terpandang, tetapi orang memandang aku sebelah mata. Kamu dan Theo saling mencintai, malah tidak direstui karena beda status.”


“Juga karena tidak menarik,” timpalku.

__ADS_1


“Semua orang bisa menarik asal mengenakan baju yang cocok dan mekap yang pas,” katanya. “Ah, ayo, kita makan di sana. Supnya sangat enak.”


Kami melanjutkan percakapan sambil menikmati kehangatan di dalam restoran. Lepas sejenak dari tesis ternyata enak juga. Kami sengaja tidak membahas itu sepanjang kami bersama. Hal itu bisa kami diskusikan saat berada di kampus.


Ujian akhir semester pun berlangsung dan kami sama-sama tinggal lama di kampus untuk belajar. Aku tidak mau ada di apartemen seorang diri, lalu menangisi Theo. Sebisa mungkin, aku pulang saat aku sudah mulai mengantuk. Jadi, aku langsung tertidur tiba di kamar.


Pekerjaanku di restoran masih berjalan lancar. Walau ada beberapa kendala, aku mengatasinya bersama Matt dibantu manajer dan karyawan yang bersangkutan. Menjelang Natal, rumah makan itu ramai dikunjungi orang dan pelancong dari negara bagian lain.


“Aku tidak yakin aku bisa melakukan ini,” tolakku saat Matt memilih beberapa undangan yang harus aku datangi atau lewatkan.


“Kakak hanya perlu hadir. Gue mohon, Kak. Hubungan kami dengan mereka sangat baik. Mereka juga yang membantu restoran itu bisa buka di sana,” bujuk Matt lagi. “Pakai uang yang baru gue transfer untuk membeli pakaian dan apa saja yang Kakak butuhkan. Jangan lupa untuk dandan.”


“Matt, apa kamu sudah gila?” protesku, merasa terpojok.


“Gue harus pergi. Kami harus berangkat kerja sekarang. Gue akan kasi bonus.” Dia mengakhiri hubungan telepon dan tidak lama kemudian, ada notifikasi pesan baru di kotak masuk.


Dia mengirim foto Theo sedang mandi di bawah pancuran. Pria itu tidak menyadari sedang dipotret. Walau kami sudah lama bersama, bukan berarti aku pernah melihat dia tanpa pakaian. Wajahku memanas, tetapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari gambar itu.


Mengapa dia harus semisterius ini? Sikapnya malah membuat wanita menjadi layaknya semut yang mengitari gula. Satu saingan pergi, datang lagi yang lain. Sepertinya keadaan akan terus begini andai pun kami suatu hari nanti benar-benar menikah. Aku menarik napas panjang merasakan mataku memanas. Aku rindu dia.


Aku semakin gugup melihat pintu masuk hotel di depanku. Daisy keluar dahulu dan seorang bellboy membukakan pintu mobil untukku. Aku memilih mengenakan gaun hitam agar terkesan netral. Pilihanku tepat karena para wanita di sekitarku dominan memilih warna yang sama.


Acara ulang tahun pernikahan itu dihadiri oleh banyak sekali tamu penting dilihat dari sikap para penerima tamu. Belum lagi mereka rata-rata memakai perhiasan berlian asli. Itu bukan benda yang murah. Aku serasa berada di surga. Sudah lama rasanya aku tidak menghadiri acara semegah ini.


“Amarilis?” Terdengar suara orang yang aku kenal dari sisi kananku. “Kamu tidak bilang akan datang.”


“Hai, Meghan.” Aku menatap kagum ke arah badannya yang semakin langsing. Dia memilih gaun berwarna hitam sehingga dia terlihat lebih ramping. “Aku tidak tahu kamu juga akan datang.”

__ADS_1


“Aku mewakili keluargaku. Mereka menghadiri acara yang lain. Bulan Desember adalah bulan yang penuh dengan undangan pesta.” Dia memegang tanganku. “Ayo, kita duduk.”


Ada dua kursi untuk keluarganya, maka Meghan meminta aku duduk di sisinya yang kosong. Dia mendapat meja paling depan. Keluarganya pastilah orang penting. Aku tidak tahu di mana kursi untuk Keluarga Husada. Mungkin di barisan kedua.


“Siapa temanmu ini, Meg?” tanya seorang wanita muda yang baru datang. Dia duduk di sisi Meghan.


“Oh. Hai, Hillary. Perkenalkan. Ini Amarilis, teman baikku. Amarilis, ini Hillary,” kata Meghan.


“Hai, salam kenal.” Aku mengulurkan tangan, tetapi wanita itu hanya menatap penampilanku.


“Apa yang dilakukan orang miskin berlagak kaya ini di sini?” ucapnya dengan sinis. “Apa kamu yang bawa dia ke sini untuk menggantikan Clara?”


“Dia diundang mewakili Keluarga Husada. Apa kamu tidak tahu apa-apa tentang restoran itu?” balas Meghan, setengah mengejek. “Katanya, teman baik. Masa kamu tidak tahu Clara sedang di Paris?”


“Oh. Restoran yang sebentar lagi bangkrut itu? Pemiliknya sangat sombong. Mengapa tuan rumah mengundang mereka datang?” Wanita bernama Hillary itu menatap aku dengan tajam. “Tunggu. Wajahnya tidak asing.” Dia mengeluarkan ponselnya.


Meghan menoleh ke arahku dengan tatapan khawatir. Aku tersenyum, menenangkannya. Aku sudah biasa direndahkan orang, jadi dia tidak perlu merasa tidak enak. Tidak ada hinaan yang menyakitkan lagi bagiku. Apalagi sejak aku tahu, kehilangan Theo adalah sakit yang paling mengerikan.


Perempuan itu tertawa terkejut. “Kamu perempuan yang ada di foto profil Theo.” Dia memandang aku lagi dengan sikap merendahkan. “Dari banyak wanita yang jauh lebih baik darimu, dia bersikeras tetap memilih kamu. Dia memang pantas mendapatkan kemalangan.”


Kalimat terakhirnya itu membuat aku tertegun. “Apa maksudmu?” tanyaku penuh selidik.


Matanya membulat. “Ah, bukan apa-apa.” Dia yang tadi bersikap begitu arogan berubah gugup. “Sebaiknya kamu diam, acara akan dimulai.”


Pembawa acara memang sudah bersiap di posisinya, tetapi aku tidak mau menunggu untuk bicara dengannya. “Jangan menghindar. Kemalangan apa yang kamu maksudkan tadi?”


__ADS_1


__ADS_2