Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
29|Taruhan Konyol


__ADS_3

“Lama banget,” keluh Theo yang berdiri di gerbang kampus.


Aku menerima helm yang dia sodorkan. “Bukan aku yang menyuruh kamu menunggu,” kataku, membela diri.


“Lo sengaja lupa dengan kesepakatan, ya? Hari ini hari Jumat, hari kita makan siang bareng.” Dia mengulurkan tangannya, membantu aku menaiki sepeda motornya.


Aku menolak tangan itu dan duduk di jok belakang dengan kemampuanku sendiri. Dia mengendarai sepeda motornya dengan cepat sehingga aku harus memeluknya dengan erat. Menjengkelkan sekali. Aku yakin dia sengaja melakukan ini supaya bisa merasakan dadaku.


Kami memasuki rumah makan yang tidak ramai dan dia memilih meja paling sudut. Melihat dia hanya diam menatap aku, maka aku juga tidak bicara. Namun dia tidak berhenti mengamati wajah dan tubuhku, maka aku tidak tahan lagi.


“Ada apa?” tanyaku risi.


“Lo masih diet?” tanyanya curiga.


“Aku sudah bilang, aku perlu mencapai berat badan ideal. Napasku sesak dengan tubuh segendut ini. Kamu mau aku mati muda karena serangan jantung?” tantangku.


“Lo akan baik-baik saja. Jangan turunkan berat lo lebih dari ini,” ancamnya.


“Atau apa?” Aku menerima ancamannya. “Kamu mau melakukan apa kalau aku masih menurunkan berat badanku? Aku belum gila, Theo. Ada banyak yang mau aku raih, jadi aku tidak mau mati muda.”


“Memangnya lo mau melakukan apa sehingga butuh badan kurus?” tanyanya ingin tahu.


“Aku tidak mau kurus. I-de-al,” kataku, sengaja menyebutkan setiap suku katanya dengan jelas. “Aku mana mau jadi tengkorak berjalan.”


“Karena itu, jangan turunkan lebih dari ini,” katanya lagi.


Aku menatap dia dengan saksama. Ada apa dengannya? Mengapa dia tidak mau aku menurunkan berat badanku? Bukankah usahanya untuk meyakinkan orang tuanya mengenai hubungan kami akan lebih mudah jika aku tidak gemuk?


Lagi pula, laki-laki pada umumnya suka dengan perempuan ramping. Aku tidak percaya dia berbeda dengan mereka. Karena kalau kaumnya suka dengan gadis gemuk, Amarilis pasti ditaksir banyak orang sejak lama. Apalagi dia satu-satunya yang bertubuh besar di kelas kami.


“Kamu takut jatuh cinta sungguhan denganku kalau aku lebih kurus, ya?” tebakku.


“Itu perintah, Amarilis,” katanya dengan nada setengah mengancam.


“Kamu tidak suka dengan Katelia karena dia jahat kepada semua siswa di sekolah, tetapi Amarilis berbeda. Karena itu, kamu melarang aku dekat dengan Kakak, sedangkan di sisi lain, aku boleh akrab dengan Hercules. Kamu takut kalau aku jadi cantik, kamu akan jatuh cinta kepadaku,” ungkapku.


“Kita pacaran, jatuh cinta itu wajar,” ujarnya dengan santai. “Lo pikir gue takut jatuh cinta sama lo? Jangan-jangan lo sendiri yang takut?”

__ADS_1


“Aku tidak akan jatuh cinta dengan cowok arogan sepertimu,” ucapku dengan tegas.


“Mau taruhan?” tantangnya.


“Aku tidak mau mempertaruhkan uangku demi kekonyolan ini,” sergahku.


“Kalau gue yang jatuh cinta lebih dahulu, gue bebaskan lo dari peraturan apa pun. Kalau lo yang jatuh cinta, maka apa pun yang gue minta harus lo turuti,” paparnya.


Aku menyukai bunyi dari taruhan itu, maka aku mengulurkan tanganku kepadanya. Dia menyeringai saat menjabat tanganku. “Sepakat.”


Pada akhir pekan, aku mengamen di taman yang selalu ramai itu. Keempat orang yang semula aku hindari sudah mengetahui aku adalah Katelia, maka aku tidak sungkan lagi tampil bermain biola. Lagi pula, ketiga gadis nakal itu tidak akan mencampuri urusanku lagi.


Ah, kecuali satu orang yang entah mengapa ingin menjadi sahabatku. Aku tidak percaya dia tulus mau berteman denganku. Pasti ada sesuatu yang dia inginkan. Jadi, aku harus berhati-hati dan tidak terkecoh dengan keramahannya itu.


Setelah memasukkan uang hasil mengamenku lewat ATM, aku pun pulang. Uang kuliah untuk dua semester sudah terpenuhi, maka aku bisa fokus pada biaya hidup sehari-hari. Makan malamku selalu aman, karena ada yang mentraktir. Hanya makan siang saja yang kadang-kadang aku beruntung.


Pada Senin pagi, aku tidak bertemu dengan satu pun dari ketiga gadis itu. Kakak maupun Theo juga tidak kelihatan, jadi aku bisa berjalan dengan santai di koridor menuju ruang kelasku. Tempat duduk favoritku masih kosong, maka aku segera mendudukinya.


“Untuk topik ini, saya mau kalian mengerjakan tugas dengan seorang teman. Kalian bisa pilih dengan siapa kalian mau bekerja sama, karena saya tidak akan menentukannya. Tugasnya harus kalian berikan kepada saya minggu depan paling lama pukul tiga sore,” tutup dosen kami.


Bencana itu akhirnya terjadi juga. Aku benci kerja kelompok. Aku lebih suka tugas pribadi, karena aku tidak perlu berhadapan dengan teman yang pemalas yang hanya mau mendapat nilai saja. Atau rekan yang banyak menuntut, tetapi tugas tidak selesai-selesai.


Menjadi Katelia memang banyak keuntungannya. Dia tidak pernah kesulitan mendapat teman untuk tugas kelompok. Semua orang berebut masuk dalam timnya. Sebagai Amarilis, aku harus bersabar menjadi orang terakhir yang akan dipilih oleh salah satu dari mereka.


“Kamu mau mengerjakan tugas ini bersamaku?” tanya seseorang yang berdiri di sisi mejaku.


Aku tertegun sejenak karena mengenal suara itu. Aku mengangkat kepalaku dan dugaanku benar. “Kamu yakin?” Aku balik bertanya.


“Tentu saja. Kalau kamu tidak mau—” kata Sonata dengan segan.


“Ayo, kita buat tugas yang sangat bagus!” seruku senang.


Dia tersenyum lebar. “Aku punya banyak ide mengenai tugas itu!” Dia duduk di kursi kosong di sisiku, lalu menariknya agar kami bisa bicara lebih dekat.


Setelah menentukan waktu diskusi kami, aku bergegas menuju gerbang kampus. Aku tidak mau hariku rusak karena mendengar omelannya yang tidak penting. Lagi pula, aku tidak mau membuang makan siang gratisku. Pengumuman beasiswa yang aku lamar masih lama lagi.


Dia tidak bicara selama kami makan, sibuk sendiri dengan tabletnya. Aku pun makan dengan lahap sambil mengulang membaca topik yang kami pelajari tadi dari dosen. Jadi, aku punya topik yang bisa aku usulkan saat berdiskusi dengan Sonata.

__ADS_1


Ponselku bergetar, maka aku mengeluarkannya dari tas. Aku mengerutkan kening membaca nama pada layar. “Halo, Ma?” sapaku.


Kami tidak punya jadwal tertentu dalam berkomunikasi. Jadi, kapan saja mereka mau bicara, maka mereka menghubungi aku. Berbeda dengan mereka, aku tidak pernah menelepon atau mengirim pesan terlebih dahulu. Rasanya masih sungkan untuk berbincang dengan orang tua Amarilis.


“Aku butuh bantuanmu. Hercules mengutak-atik ponselku, jadi aku tidak tahu bagaimana masuk ke akun medsosku!” serunya panik.


Hercules sialan. Mengapa dia tidak mengembalikan segalanya seperti semula setelah dipakai? Aku menghela napas panjang, lalu memberinya instruksi agar memberikan alat komunikasi itu kepada karyawannya yang paham menggunakan gadget.


Kurang dari lima menit, akunnya pun bisa kembali digunakan. Maka aku menuntun Mama untuk mengubah kode masuknya agar tidak bisa disalahgunakan oleh karyawannya tadi. Aku belajar banyak dari pengalamanku berteman, tidak ada orang yang sepenuhnya bisa dipercaya.


Hubungan telepon kami akhiri dan aku bisa kembali melanjutkan belajarku. Hercules bodoh itu akan aku beri pelajaran. Lihat saja nanti. Sebagai harapan keluarga satu-satunya, dia malah merepotkan orang tua. Apa yang dia lakukan dengan ponsel Mama? Awas saja kalau dia macam-macam.


“Mama lo buka usaha kue?” tanya Theo, memecahkan keheningan. Dia pasti menebak begitu karena mendengar nama alamat surel Mama tadi.


“Iya. Kalau tidak, aku tidak akan diizinkan kuliah dan harus membantu usahanya,” jawabku.


Dia tertegun dan menatap aku dengan saksama. Kebiasaannya itu mulai membuat aku tidak nyaman. Mengapa dia hanya memandang tanpa mengatakan apa pun? Apa mungkin dia punya kemampuan membaca pikiran? Ah, tidak, aku berpikir terlalu jauh.


“Lo berubah,” katanya singkat.


“Memangnya kamu berharap aku bersikap bagaimana?” Aku balik bertanya. “Mau merundung orang, memangnya aku punya apa? Wajah biasa saja, uang tidak banyak, nama orang tua tidak besar, jadi aku yang sekarang ini sasaran empuk, Theo. Aku harus berubah kalau mau bertahan hidup.”


“Lo serius mau mencapai impian seorang Katelia? Lo tidak mau punya impian lain yang lebih masuk akal dan sesuai level lo?” Dia mengangkat kedua alisnya.


“Kamu menghina aku?” kataku kesal. “Mana ada impian yang benar-benar masuk akal, karena itu kita berjuang untuk mencapainya. Jangan mentang-mentang kamu bisa kuliah dengan mudah, punya kendaraan mewah, dan semuanya serba gampang, kamu bisa merendahkan aku.”


“Gue hanya berusaha untuk membantu. Rintangan lo akan lebih besar sebagai seorang Amarilis.”


“Aku tahu dan aku siap dengan itu.”


Aku dan Sonata bertemu di ruang kuliah sesuai kesepakatan. Kami berdiskusi bersama dan aku senang mendengar semua ide darinya. Kami berbagi tugas untuk mencari informasi lebih banyak mengenai subtopik tersebut.


Tante Ruth menyambut kedatanganku ke rumah mereka dan meminta aku untuk menunggu di ruangan biasa. Matt pasti akan terlambat lagi. Waktu itu aku gunakan untuk mencari informasi dari hasil diskusiku bersama Sonata.


Muridku datang dengan wajah lelah, tetapi dia memaksa diri untuk belajar dengan konsentrasi. Aku kembali mengerjakan tugasku ketika dia menyelesaikan soal yang aku beri. Syukurlah, bagianku sudah selesai dan aku siap untuk mendiskusikannya besok dengan Sonata.


“Kak,” panggil Matt. Aku menggumam karena sedang meminum air. “Bagaimana rasanya pacaran?”

__ADS_1


Spontan saja aku tersedak mendengarnya. Mengapa dia mendadak bertanya tentang itu? Gawat. Apa dia tahu mengenai hubunganku dengan kakaknya?


__ADS_2