Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
34|Aku Cemburu


__ADS_3

~Amarilis~


“Ada apa?” tanya Theo.


“Ha?” tanyaku tidak mengerti.


“Lo tidak suka makanan lo? Perlu gue panggilkan pelayan untuk menggantinya?” Dia melihat ke arah piring yang ada di depanku.


Nasi lengkap dengan lauk-pauk dan sayurannya masih utuh. Hanya sedikit bagian di dekat sendok yang sudah aku makan. Apa aku dari tadi termenung, sibuk dengan pikiranku sendiri? Sepertinya begitu. Gara-gara pemuda ini mendadak mencium aku di depan semua mahasiswa lain.


“Enak. Makanan ini enak,” jawabku sekenanya sambil mengusir jauh kecupan itu dari kepalaku.


“Kata lo, tugas lo sudah beres. Lalu apa yang membuat lo melamun begitu?” Mengapa dia tidak bisa bersikap seperti manusia biasa? Apa semua pertanyaannya harus dijawab seperti yang dia mau?


“Bisakah kita makan tanpa bertengkar?” pintaku.


Dia menatap aku dengan saksama, maka aku menyantap makanan itu secepat mungkin. Jadi, dia tidak punya alasan untuk bertanya lagi. Sebal. Gara-gara dia mencium aku tadi, jantungku berdebar tidak karuan. Menyadari dia masih menatap aku membuat aku semakin tidak nyaman.


“Oh. Lo memikirkan Richo? Lo lebih suka bersamanya daripada makan di sini bersama gue, begitu?” tanyanya dengan tajam.


“Kamu cemburu dengan Kak Jericho?” tanyaku tidak percaya.


“Iya,” jawabnya singkat.


“Tapi kamu tidak cemburu dengan Matt?” tanyaku lagi.


“Matt cinta mati dengan temannya dan lo bukan tipe kesukaannya. Lo gendut, jelek, dan miskin—” paparnya menusuk jantungku dengan setiap kelemahanku yang dia sebutkan.


“Sudah, sudah! Lihat saja beberapa tahun lagi, aku pasti akan jadi lebih cantik dari yang sekarang,” ucapku dengan kesal.


“Lo tersinggung?” Dia mendekatkan tubuhnya ke meja. “Sekarang lo tahu bagaimana rasanya jadi korban yang selama ini lo rundung.”


Dia tidak perlu memberi tahu aku tentang itu. Aku sudah tahu dan tidak bangga dengan apa yang telah aku lakukan di masa lalu. Namun aku punya alasan tersendiri sehingga melakukannya. Aku sudah dihukum parah begini, apa dia harus terus menyinggung masa laluku?


Matt datang sangat terlambat, tetapi kami tetap melanjutkan belajar selama sisa waktu yang ada. Aku sampai tidak tega melihat dia begitu kelelahan saat mengerjakan semua tugas. Dia memberi aku sebuah undangan ketika kami selesai belajar. Undangannya bagus berwarna keemasan.


“Acaranya hari Minggu, jadi Kakak harus datang. Perhatikan lokasinya di belakang undangan supaya tidak tersesat. Kalau naik angkutan umum pasti ketemu, kok. Cukup naik bus saja,” katanya.

__ADS_1


“Baiklah. Aku pasti datang.” Aku mengusap undangan yang indah itu.


Walau waktuku untuk mencari uang berkurang, tidak apa-apa. Menghadiri pagelaran musik yang sudah dia siapkan selama beberapa bulan terakhir jauh lebih penting. Lagi pula, aku penasaran dengan kemampuannya. Dia pasti bermain dengan sangat baik.


Dia mengajak aku ke ruang makan. Anehnya, ada banyak suara berasal dari dalam. Biasanya, aku hanya makan bersama ketiga anggota rumah ini. Namun suara itu ada banyak. Matt membukakan pintu dan mempersilakan aku masuk terlebih dahulu.


“Ah, ini pasti Mattheo,” ucap seorang wanita yang sudah sangat aku kenal. Mama Chika. Aku melihat ke sekeliling ruangan itu dan menemukan papanya juga gadis itu ada di sisinya.


“Iya. Matt, sapa tamu kita,” ucap Tante Ruth dengan sopan.


“Selamat malam,” sapa pemuda itu dengan ramah.


“Dan perempuan itu?” tanya mama Chika dengan tatapan tidak suka.


“Dia adalah guru privat Matt. Gadis yang sangat baik dan cerdas! Apa kamu tahu, Matt akhirnya bisa ranking juga setelah selama ini nilainya pas-pasan.” Pujian Tante Ruth membuat aku tersipu.


“Lalu mengapa dia ada di sini? Tidak sopan orang miskin seperti dia bersikap seenaknya di rumahmu,” kata mama Chika, memandang aku dengan sinis.


“Mama jangan begitu. Dia adalah teman aku dan Theo di SMU. Mama lihat sendiri, Theo adalah orang yang sangat baik sehingga memberi pekerjaan kepada teman kami. Dia membutuhkan uang untuk membayar kuliahnya, Ma,” kata Chika dengan lembut.


Aku nyaris memutar bola mataku mendengar nada suara penuh kepalsuannya itu. Dia dan mamanya mirip, jadi mereka seharusnya bicara dengan nada yang sama. Sepertinya dia telah menemukan cara untuk bisa dekat dengan pemuda incarannya.


Papa Theo melerai dan mengajak kami semua untuk berdoa bersama sebelum mulai makan. Aku duduk di antara Theo dan Matt, jadi aku mengerti mengapa Chika menatap aku dengan tajam. Dia duduk di samping mamanya, sedangkan Om dan Tante masing-masing di kepala meja makan.


Hanya para orang tua yang bicara, jadi kami anak-anak hanya mendengarkan. Theo menambahkan makanan ke atas piringku setiap kali hampir habis. Matt juga tidak mau kalah. Aku menendang kaki mereka berdua di bawah meja, karena aku bisa muntah kebanyakan makan.


“Hubungan mereka sepertinya lebih dari teman,” ucap mama Chika, menatap aku tidak suka.


“Sudah berbulan-bulan bersama, wajar saja mereka bertiga akrab,” kata Tante Ruth, menjelaskan. “Theo dan Matt sudah menganggap Amarilis sebagai saudara perempuan mereka sendiri.”


“Aku berharap Theo tidak akan begitu kepada gadis lain setelah mereka resmi bertunangan. Aku tidak suka melihat putriku terluka kalau sampai calon suaminya selingkuh.” Perempuan itu menatap aku begitu arogan, seolah aku hanya kotoran baginya.


Resmi bertunangan. Calon suami. Dua hal itu lebih menarik perhatianku daripada sikapnya yang sok hebat itu. Aku menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Theo. Responsku bisa disalahartikan dan aku tidak mau hubungan rahasia kami terbongkar.


“Tante jangan khawatir. Theo mati rasa terhadap perempuan. Jadi, dia tidak akan selingkuh. Lagi pula, hubungan antara Theo dengan tunangannya masih bisa diputus. Tante baru bisa menuntut kesetiaannya ketika dia sudah menikah. Bukan begitu, Pa?” Matt menatap Om Azarya penuh arti.


“Tentu saja. Walau kami sebagai orang tua yang memilihkan calon, keputusan akhir tetap ada di tangan Theo. Aku dan Ruth begitu. Kami beruntung bisa menemukan satu sama lain. Orang yang dipilihkan orang tua kami, juga adalah pilihan hati kami.” Om menatap Tante Ruth penuh cinta.

__ADS_1


Kesempatan untuk melihat Om Azarya lebih dekat akhirnya datang juga. Tidak ada yang buruk dari sikap dan kata-kata yang dia ucapkan. Lalu apa yang membuat Papa tidak menyukainya? Yang tidak masuk akal, mengapa memilih Theo menjadi calon suami Katelia, kalau Papa tidak menyetujuinya?


Mustahil Om Azarya memaksa atau mengancam Papa untuk memberikan aku kepada Theo. Usaha mereka lebih besar daripada bisnis keluarga kami. Justru kami yang lebih banyak diuntungkan dari bersatunya kedua perusahaan lewat pernikahan Theo dan Katelia.


Sebentar. Apa yang aku lakukan? Urusan Papa bukanlah urusanku lagi. Mengapa aku selalu saja lupa akan hal itu? Keputusannya di masa lalu tidak memengaruhi kehidupanku sekarang. Jadi, biar saja dia mau suka atau tidak kepada Om Azarya. Bagiku, pria ini orang baik. Itu sudah cukup.


“Lo? Theo mau ke mana?” tanya mama Chika yang berisik itu.


Om Azarya mengajak para tamunya untuk melanjutkan obrolan di ruang depan usai makan malam. Aku menggunakan kesempatan itu untuk pamit kepada Tante Ruth. Dia mengangguk mengerti dan berjalan bersamaku ke pintu depan. Matt dan Theo juga mengikuti kami.


“Amarilis akan pulang, jadi putraku yang akan mengantarnya,” jawab Tante Ruth.


“Dia sudah besar, bisa pulang sendiri. Mengapa Theo yang harus repot-repot mengantar dia pulang? Kalau kamu takut terjadi sesuatu kepadanya, kamu bisa pesan taksi daring, Ruth. Aku yakin ojek daring akan menolak membonceng dia yang gendut begini.” Wanita itu mengerutkan hidungnya.


“Ma, sebaiknya kita jangan ikut campur. Itu kebiasaan mereka, jadi tidak baik kalau kita yang bukan siapa-siapa malah mendikte mereka,” kata Chika, melerai.


“Oh. Oh, iya.” Wanita sombong tertawa tersipu. “Maafkan aku. Maklum, aku sudah sering sekali dikerjai pembantu di rumah, jadi aku sangat hati-hati dengan orang yang hanya memanfaatkan kebaikan kita.” Dia menatap aku dengan tajam, tetapi tersenyum kepada Tante Ruth.


“Aku mengerti,” kata mama Theo. Dia mendorong aku dan Theo ke pintu depan. “Ayo, pergilah. Kasihan Amarilis masih perlu berberes sebelum istirahat.”


Theo pamit kepada mamanya dan aku mengucapkan terima kasih atas kebaikannya. Dia mengantar aku tepat ke tempat tinggalku, tidak mampir ke mana pun. Benar-benar makan malam yang sangat aneh. Aku tahu mama Chika sangat galak, tetapi baru kali ini aku yang menjadi sumber omelannya.


Dia berada di rumah orang lain, tetapi yang protes dengan semua kebiasaan di rumah Theo. Apa dia tidak sadar dia sudah mempermalukan dirinya sendiri? Aku makan malam bersama mereka, dia yang protes. Aku diantar pulang oleh Theo, dia juga yang keberatan.


Belum punya hubungan apa-apa saja, dia sudah begitu. Bagaimana nanti saat Chika dan Theo benar sudah resmi bertunangan? Jangan-jangan dia memecat aku dan mengganti sendiri guru privat Matt. Aku baru kali ini melihat mama Chika ikut campur urusan orang lain sampai sejauh itu.


“Seperti biasa. Jangan dekat-dekat dengan pemuda mana pun selama gue sibuk,” katanya yang betah mengatakan kalimat itu lagi, itu lagi.


“Aku tidak mau dekat denganmu lagi. Kamu dan Chika akan segera mengumumkan pertunangan kalian.” Aku mengembalikan helmnya kepadanya. “Aku masih punya harga diri, jadi, kita putus.”


“Kami belum bertunangan, kenapa lo bicara begitu?” tanyanya heran. “Lo tetap pacar gue.”


“Kamu sebenarnya paham arti pacaran tidak, sih?” kataku bingung.


“Lo tidak puas hanya makan siang bareng dan diantar pulang begini? Lo mau kita ciuman, pelukan, dan tidur bareng juga, begitu?” Dia tiba-tiba meraih tanganku, lalu menarik aku mendekat.


“Eh, apa-apaan kamu!” Aku menahan dia mendekat lewat satu tanganku yang ada di depan dadanya, tetapi dia lebih kuat dariku.

__ADS_1


“Gue yang menentukan segalanya di sini, Katelia,” bisiknya di telingaku. “Pertunangan dengan gadis lain, orang tua gue, laki-laki lain, bahkan lo sendiri tidak bisa memutuskan hubungan kita.”


__ADS_2