
Aku segera memeriksa ke sekelilingku. Sepertinya dia datang seorang diri, karena aku tidak melihat orang tuanya dan Kak Jericho. Mereka datang berempat tahun lalu. Kakak pasti sedang belajar atau ada urusan dengan pekerjaannya. Yang terpenting, tidak ada Mama di sini.
Yang aku bingungkan sekarang, apa Amarilis dan Kak Nolan saling mengenal? Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena setahuku, mereka tidak pernah bertemu, apalagi mengobrol. Namun dari cara Kakak menegur, sepertinya mereka saling mengenal.
“Kamu berbeda sekali dengan kamu saat SMU.” Dia memandang ke sekitar kami. “Mengapa kamu ada di sini? Mengapa juga kamu duduk di meja Keluarga Husada?”
“Ng, itu …,” kataku, tidak tahu harus menjawab apa.
“Bukankah kamu tidak berteman dengan Theo atau Chika? Ah, tidak. Om Husada tidak mungkin membiarkan kamu duduk di sini karena kamu berteman dengan Chika. Kamu sahabat baik Theo?” tanyanya lagi, bertubi-tubi.
“Kakak benar-benar tidak berubah, ya.” Aku memutuskan untuk jujur saja. “Bertanya itu satu per satu, Kak. Jangan borongan. Aku saja lupa apa pertanyaan Kakak tadi.”
Dia tertegun sejenak. “Kamu tidak pernah bicara informal begini denganku.”
“Karena hanya badanku yang Amarilis,” akuku. Aku tersenyum melihat dia bengong. “Bukan hanya Kak Jericho, Kakak juga pernah pacaran diam-diam dengan gadis yang tidak sederajat. Hanya aku yang tahu, karena Kak Jericho tidak akan bisa menyimpan rahasia. Kalau Papa dan Mama tahu ….” Aku sengaja tidak menyelesaikan kalimatku, karena informasi itu sudah cukup.
Matanya membulat. Dia menatap aku begitu lama, tanpa mengatakan apa pun. “Kat-katelia …?”
“Kakak lihat, ‘kan? Kak Jericho juga bisa dipercaya,” kataku, memberi sinyal bahwa saudara kami itu sudah tahu tentang aku dahulu.
“Ti-tidak mungkin,” gumamnya. “Tetapi yang tahu tentang gadis itu hanya kamu ….” Dia bengong.
“Ayo, minum, Kak.” Aku menyodorkan segelas minuman yang ada di depanku.
Dia menerima dan meneguk setengah isinya. “Katelia sudah meninggal,” katanya pelan.
“Minta nomorku dari Kak Jericho. Kita bertemu dan bicara. Theo sudah kembali. Dia tidak akan suka melihat aku dan Kakak berbisik begini.” Aku melihat Theo dan keluarganya menuruni panggung.
Kak Nolan yang malang masih bengong, tetapi dia menuruti perkataanku. Theo dan Matt kembali ke tempat duduk mereka dan acara makan pun dimulai. Para pelayan berbaris rapi mengantarkan makanan demi makanan ke atas meja.
Walau mata semua orang yang satu meja dengan kami memandang sinis kepadaku, aku bisa makan dengan lahap. Aku tahu mereka sengaja bersikap penuh intimidasi, tetapi aku tidak menunjukkan kepada siapa pun bahwa aku gugup.
Tidak mau mengalami insiden lagi, aku menahan diri agar tidak ke kamar mandi. Aku melakukannya di rumah saja. Memang tidak ada Tante Wibowo di tempat ini, tetapi bisa jadi mama Chika atau siapalah menyerang aku lagi. Aku berani memukul orang sebayaku, bukan seumur mamaku.
Setelah para tamu mengucapkan selamat sekaligus pulang, Theo menunggu sampai keadaan tidak ramai lagi. Elevator menuju atap memang ada empat, tetapi jumlah tamunya juga banyak. Dengan senyum semanis mungkin, aku mengucapkan selamat dan menjabat tangan orang tua Theo. Hanya Om Azarya yang mau menerima tanganku.
“Kamu lihat itu? Dia sudah punya tunangan, tetapi datang dengan gadis lain. Anak zaman sekarang memang tidak bisa diatur. Mereka semaunya sendiri,” kata orang yang ada dalam elevator yang sama dengan kami.
__ADS_1
“Padahal Azarya dan Ruth juga dijodohkan. Mereka bahagia. Pasti perempuan itu yang membuat Theo melawan orang tuanya,” ujar wanita yang lain.
“Biar saja. Nanti juga dia bosan, lalu melihat Jessica jauh lebih baik dari gadis jelek itu,” ucap wanita yang pertama bicara tadi.
Aku dan Theo keluar dahulu, karena kami berdiri di dekat pintu. Dia membawa aku ke lobi gedung. Kami tidak perlu mengantri seperti tamu lain, sebab mobilnya sudah ada di antrian. Seorang pria membukakan pintu untukku, sedangkan Theo memutar mobilnya lewat kap depan.
Baru beberapa menit menyetir, dia menepikan mobil di sebuah restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Aku memandangnya dengan bingung. Karena dia keluar, maka aku juga membuka pintu mobil. Dia kembali menggandeng tanganku menuju tempat makan itu.
“Lo pasti butuh toilet. Gue akan pesan minuman untuk kita. Lo mau apa?” tanyanya.
“Wow. Kalau kamu bersikap manis begini, kamu ganteng juga,” godaku.
“Bisa cepat sedikit?” ucapnya tidak sabar.
“Ng, teh lemon saja,” jawabku.
Dia mendekati konter, maka aku menuju toilet di bagian dalam restoran. Aku lega sekali tempat itu sudah sepi, tidak ada yang menggunakan bilik. Setelah menyelesaikan urusanku, aku kembali ke ruang makan. Theo sudah duduk dengan dua minuman di atas meja.
Teh untukku tidak diberi es batu, dia memang sudah mengenal kebiasaanku. Yang mengherankan, dia memesan kopi. Apa dia berniat untuk bergadang pada malam ini? Tidak mau tahu urusannya, aku diam tidak menanggapi minuman pilihannya.
“Dia kakakku, apa salahnya aku mengatakan yang sejujurnya?” Aku balik bertanya. Cepat atau lambat, dia akan mengetahui hal ini. Jadi, aku memutuskan untuk tidak menunggu lagi.
“Gue enggak suka dengan keluarga Katelia. Lagi pula, gue sudah sering bilang, gue enggak mau lo dekat dengan laki-laki lain.”
Sepertinya pertunangan kami yang disembunyikan orang tua Katelia sangat membekas di hatinya. Aku yakin itu alasan dia tidak menyukai Keluarga Wibowo. Tindakan gegabah mereka memang sulit dimengerti. Entah apa alasan Papa dan Mama melakukan hal itu.
Padahal reaksi wajar dari orang yang akan menjadi bagian dari Keluarga Husada adalah seperti yang ditunjukkan oleh Chika dan orang tuanya. Mereka begitu bangga dan tidak sabar untuk menikahkan putri mereka dengan Theo. Baru bertunangan saja, mereka sudah bahagianya minta ampun.
“Jangan lupa, kamu kalah taruhan,” kataku, mengingatkan.
“Taruhan apa?”
“Kamu mengucapkan cinta dahulu.” Aku tersenyum penuh kemenangan.
“Cinta? Kapan gue mengucapkan cinta?” Dia mendengus pelan. “Gue hanya bilang sayang. Lo cek saja di kamus. Itu dua kata yang berbeda arti.”
Bagaimana aku bisa lupa? Dia cowok yang pintar berkelit. Menjengkelkan sekali. Dia berkata benar, jadi aku tidak bisa membantah. Sayang dan cinta adalah dua kata yang berbeda arti. Aku yang tidak belajar juga kalau dia akan melakukan apa saja asal dia yang menang.
__ADS_1
Setelah menepikan mobilnya di depan tempat tinggalku, dia tidak melakukan kebiasaannya mencuri ciuman dariku. Walau sikapnya itu membingungkan, aku bergegas keluar dari kendaraan itu sebelum dia berubah pikiran.
Aku tidak mencuci sendiri pakaian pemberiannya itu, tetapi membawanya ke penatu. Aku baru berani membersihkannya setelah tahu caranya dari pegawai di tempat itu. Walau aku sudah punya banyak baju dengan bahan sejenis, aku tidak berani memutuskan mana cara yang benar.
Tanganku benar-benar bukan tangan seorang Katelia lagi. Ujung jari-jariku juga mengeras karena terlalu sering bermain biola. Aku sering berpikir sendiri, apa yang membuat Theo memilih aku menjadi calon istrinya? Dia serius atau main-main?
Namun merasakan liontin pada kalungku, dia serius dengan omongannya. Memang dia belum bilang cinta, tetapi itu kata yang pasti sangat asing baginya. Sama seperti halnya bagiku. Kami sama-sama tidak pernah berpacaran, karena orang tua kami yang menentukan calon pasangan kami.
“Mengapa aku merasa tidak enak dengan tujuan kita malam ini?” ucapku kepada Theo. Dia kembali mengajak aku menghadiri acara rahasia. Matt juga minta izin untuk tidak belajar. “Acara apa yang keluargamu adakan pada hari ini?”
“Lo benar-benar pelupa.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia membawa aku ke restoran milik keluarganya. Jantungku berdebar tidak menentu setiap kali langkah kami semakin dekat ke ruangan yang diarahkan oleh pelayan. Wanita muda itu membuka pintu untuk kami. Aku tidak terkejut lagi-lagi melihat keluarga Chika juga ada di dalam.
Matt segera berdiri dari sisi mamanya dan berpindah duduk di sebelah Chika. Jadi, Theo bisa duduk di samping Tante Ruth dan aku yang di ujung. Matt ada di depanku sehingga aku tidak perlu melihat ke arah Chika atau kedua orang tuanya. Posisi yang aman untukku.
“Ini acara ulang tahunku, Theo. Berani sekali kamu membawa orang yang tidak aku undang,” protes Tante Ruth dengan tajam.
Oh, iya. Tahun lalu setelah tampil di perayaan ulang tahun pernikahan mereka, aku diundang untuk makan malam bersama. Jaraknya hanya beberapa hari setelah acara itu untuk merayakan ulang tahun Tante Ruth. Tanggal memang kelemahanku.
“Jika Amarilis tidak boleh datang, gue juga enggak mau hadir, Ma.” Theo kembali berdiri.
“Nak, duduklah,” ucap Om Azarya, melerai.
Acara itu berjalan sangat kaku, jauh lebih buruk daripada saat Theo memperkenalkan aku kepada keluarganya. Para orang tua mengobrol dengan santai walau aku bisa melihat ketegangan di antara mereka. Hanya Chika yang sesekali mereka ajak bicara. Kami bertiga total mereka abaikan.
Theo maupun Matt tampak tidak peduli dengan sikap mereka. Keadaan itu justru membuat mereka bisa makan dengan leluasa. Aku menendang kaki mereka setiap kali mereka berebut menambah makanan di atas piringku. Aku tidak akan bisa tidur kalau aku sampai sakit perut.
Setelah keluarga Chika pamit, Theo juga permisi kepada orang tuanya untuk mengantar aku pulang. Aku mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tante Ruth di luar restoran, tetapi dia tidak mau menjabat tanganku. Aku membiarkan Theo menggandeng tanganku menuju tempat parkir.
“Mamamu akan semakin membenci aku, Theo,” kataku khawatir.
“Biar gue yang urus hal itu.” Dia membuka pintu mobilnya, maka aku memasukinya.
Kami hanya diam dalam perjalanan pulang. Namun saat tiba di depan tempat tinggalku, dia masih iseng berusaha mencium bibirku. Tindakan kecilnya itu membuat aku tertawa. Dia tersenyum, maka aku mengerti. Dia sengaja melakukannya untuk menghibur aku.
Bangun pada pagi harinya, aku bersiap untuk berolahraga seperti biasanya. Mendengar ponselku bergetar, aku mendekati meja. Ada sebuah pesan baru, maka aku memeriksanya. Aku menelan ludah dengan berat membaca nama pengirimnya.
__ADS_1