Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
118|Pengganggu Lagi


__ADS_3

Melihat siapa yang ada di layar CCTV, aku mendesah pelan. Pantas saja dia marah. Mau apa lagi perempuan itu datang ke sini? Aku sudah bilang, ini adalah tempat terlarang. Aku keluar menuju lobi dan menemui dia di luar gedung.


“Malam, Theo!” sapanya masih saja berusaha membuat aku terkesan dengan bicara menggunakan bahasa Indonesia. “Kamu hari ini tidak datang ke restoran, jadi aku mengantar laporan hari ini. Kebetulan aku lewat sini.”


“Jangan lakukan ini lagi atau aku akan memecat orang yang sudah kamu gantikan. Setiap karyawan sudah punya tugasnya masing-masing.” Aku menerima map itu darinya. “Ini kedatanganmu yang terakhir, Clara. Aku tidak akan turun menemui kamu lagi jika kamu masih nekat datang.”


“Mengapa kamu bersikap begini kepadaku? Aku perhatikan kamu ramah dengan junior itu. Siapa dia? Kamu tidak pernah menjawab pertanyaanku,” desaknya.


Aku mengabaikannya dan kembali ke lobi. Dia memanggil namaku, tetapi aku terus berjalan menuju elevator. Hanya satu cara ampuh untuk menjauhkan diri dari pengganggu, menganggap mereka tidak ada. Memangnya dia siapa menuntut aku menjawab pertanyaannya?


Pengawalku yang bersamaku di elevator menerima map itu dan memeriksanya. Aku tidak pernah membawa apa pun ke apartemen tanpa melewati pemeriksaan ketat. Bisa saja dia atau siapa pun menyusupkan kamera ke tempat tinggalku.


Karena sudah telanjur meninggalkan kamar, aku memutuskan untuk mulai menyiapkan makan malam. Aku melirik ke arah pintu kamar kekasihku. Dia belum juga terpancing keluar saat aroma daging yang lezat memenuhi apartemen.


Tidak mungkin menahan lapar terlalu lama, aku mengetuk pintu kamarnya. Dia membukanya dan berjalan keluar dengan santai. Aku nyaris tersandung kakiku sendiri melihat pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia tadi mengenakan baju hangat dan celana panjang. Mengapa berganti dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek?


“Kat.” Aku menggunakan nama itu agar dia tidak marah lagi.


“Makanan sudah siap? Ayo, kita makan.” Dia duduk dan mengibaskan rambut panjangnya yang menutupi lehernya ke belakang.


Aku menelan ludah dengan berat melihat lehernya yang menggoda. “Sayang, apa yang lo lakukan?”


“Makan. Apa lagi? Bukannya itu alasan kamu memanggil aku?” tanyanya heran.


“Maksud gue pakaian lo. Memangnya lo enggak kedinginan?”


“Selingkuhan kamu memakai baju begini tadi. Padahal suhu di luar pasti lebih dingin. Aku tidak mau kalah, dong.” Dia memeriksa burger yang ada di depannya. “Bagus, kamu tidak menaruh mayones.”


Aku tahu dia marah, tetapi aku lebih baik menerima amukannya daripada menahan diri melihat dia dengan pakaian itu. Jadi, aku membopong dan membawanya ke kamar. Dia memberontak meminta diturunkan mempersulit usahaku itu.


“Turunkan aku, Theo! Kamu mau apa?” serunya kesal.


“Segera ganti pakaian atau lo enggak boleh makan.” Aku menurunkan dia di kamarnya.

__ADS_1


“Dia boleh berpakaian begitu di depan kamu. Mengapa aku tidak?” protesnya kekanak-kanakan.


“Kat, dia bukan siapa-siapa buat gue. Gue enggak merasakan apa pun melihat dia berpakaian begitu. Gue bahkan tidak sadar dia memakai baju yang terbuka,” akuku. “Cepat, ganti baju lo.”


Dia malah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Kat.” Aku terpaksa memalingkan wajah. Si junior mulai membuat aku gelisah.


“Untuk apa dia datang?”


Matilah aku. Kalau dia sampai tahu perempuan itu bekerja di restoran Papa, maka tamat riwayatku. Namun berbohong tidak akan ada gunanya. Jika dia mengetahui hal itu dari orang lain, keadaan akan semakin runyam. Wanita itu memang hanya membuat aku susah.


“Dia datang mengantar laporan kondisi restoran hari ini,” akuku.


Setelah menelaah jawabanku sejenak, dia pun mengomel panjang mengenai aku yang masih saja menyimpan rahasia darinya. Aku sudah lapar, jadi aku menggandeng tangannya kembali ke ruang makan. Biar saja dia berpakaian seperti itu, asal aku bisa mengisi perut.


Aku menjelaskan apa yang terjadi saat dia sudah tenang. Juga tentang hubungan bisnis antara kedua ayah kami. Aku tidak bisa menyalahkan manajer yang menyetujui begitu saja pengangkatan wanita itu menjadi asistennya. Karena kuasa Pak Willis jelas lebih besar darinya.


“Lo mau ke mana?” Aku heran melihat dia berdiri, padahal makanannya belum habis. “Kat.”


Dia tidak menjawab dan terus saja berjalan ke kamarnya. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan pakaiannya yang semula, baju hangat dan celana panjang. Aku mendesah lega. Akhirnya, dia kembali normal dan tidak menggila lagi.


“Lo enggak lahir dan tumbuh besar dengan kondisi empat musim. Wajar lo enggak tahan.”


Kami mencuci piring bersama usai makan. Aku lega melihat dia sudah tidak marah. Saat aku pamit untuk lanjut belajar, dia mengangguk pelan. Buku tebal pemberian dosenku pun aku baca sampai tiba pada bagian yang dia beri tanda.


Amarilis tidak datang ke kamar pada satu hari itu saja. Mungkin karena sedang libur, dia tidak punya aktivitas lain, jadi dia mencoba untuk memberi semangat kepadaku. Hal paling manis yang dia lakukan adalah memotong buah dan memberikannya kepadaku.


Digoda begitu, bagaimana aku bisa menahan diri terus? Jadi, satu kali, aku menarik tangannya saat akan keluar dari kamar. Wajahnya memerah ketika duduk di pangkuanku. Ini memang pertama kalinya dia duduk di atas pahaku.


“Mengapa lo menunduk begitu?” Aku mengurung tubuhnya dengan kedua tanganku.


“A-aku harus memakan buah bagianku,” ucapnya mencari-cari alasan.


“Kita bisa berbagi.” Aku menggunakan garpu dan menusuk sepotong apel. “Buka mulutmu.”

__ADS_1


“Theo, aku bisa makan sendiri.” Dia bergerak gelisah di pangkuanku. Aku tidak memedulikannya dan menunggu dia membuka mulutnya, menerima apel itu dariku. Akhirnya, dia menurut juga.


“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan besok?” tanyaku.


Wajahnya berbinar bahagia. “Pergi ke mana?” tanyanya dengan antusias.


Aku meminta dia untuk memakai baju yang cukup tebal, sarung tangan, penutup telinga, syal, juga topi rajutan. Kami akan banyak berurusan dengan salju pada hari ini. Ramalan cuaca memperkirakan salju akan turun pertama kali pada sore atau malam ini.


Kami tidak bisa bepergian dengan sepeda, jadi aku memesan taksi untuk kami. Dia senang sekali aku memilih tempat bermain seluncur es sebagai kunjungan pertama. Aku lupa dia adalah Katelia, jadi dia bisa berseluncur dengan lancar walau awalnya butuh membiasakan diri.


Dia sangat bahagia berkeliling tempat itu sepuasnya. Aku yang semula berharap bisa membantu dia belajar berseluncur malah kalah dalam hal kecepatan dan keseimbangan dibandingkan dia. Aku jatuh satu kali, sedangkan dia nihil.


“Butuh bantuan, sayang?” godanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


“Silakan ejek gue sepuas lo.” Aku berdiri sendiri tanpa bantuannya.


“Begitu saja merajuk.” Dia memeluk aku dengan erat. “Ayo, aku pegang supaya kamu tidak jatuh.” Tentu saja aku tidak menolaknya.


Kami melanjutkan dengan makan daging panggang ditemani bîr. Minuman yang cocok untuk melawan udara dingin. Dia semula menganggap minuman itu pahit, lama-kelamaan, lidahnya pun terbiasa. Aku memesan pai sebagai makanan penutup.


Aku mengajak dia ke taman dan bersyukur tempat itu belum padat dengan pengunjung. Kami berkeliling melihat Desa Natal di mana ada banyak stan yang menjual berbagai jenis makanan dan ornamen Natal. Amarilis memilih karangan bunga bundar untuk digantung di depan pintu, juga pohon natal miniatur yang bisa diletakkan di atas bufet. Idenya boleh juga.


Malam tiba, kota itu sangat indah dengan berbagai lampu dari pohon Natal maupun ornamen yang menghiasi setiap depan toko, rumah, dan bangunan lainnya. Suasana hari besar itu benar-benar terasa di kota ini. Hal yang tidak sempat aku nikmati pada tahun lalu.


Kami berhenti berjalan di dekat paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu Natal untuk menghibur para pengguna trotoar. Melihat Amarilis berdiri di sisiku dengan wajah bahagia, aku mendekat. Udara semakin dingin, jadi aku memeluknya dari belakang, saling berbagi kehangatan.


Sesekali aku mendengar dia ikut menyanyikan lirik lagu bersama paduan suara tersebut. Suaranya tidak enak untuk didengar, tetapi aku tidak protes. Aku memejamkan mata dan menikmati kidung yang indah itu bersama pengunjung lainnya.


Paduan suara itu berhenti bernyanyi, suasana hening sejenak. Aneh. Mengapa aku tidak merasakan Amarilis di pelukanku? Keadaan yang sepi itu juga terasa janggal. Aku membuka mata dan melihat tidak ada seorang pun di sekitarku.


Jantungku berdebar dengan kencang. Aku tidak peduli dengan semua orang asing itu, tetapi di mana Amarilis? Dia baru saja ada dalam pelukanku. Kehangatannya masih bisa aku rasakan di tangan dan dadaku. Bagaimana dia bisa pergi tanpa aku ketahui?


“Sayang?” panggilku.

__ADS_1


Apa semua orang sedang bermain petak umpet? Tidak ada kerumunan yang tadi mendengar paduan suara, juga tidak ada orang yang lalu lalang menikmati suasana malam yang indah. Kota mendadak hening tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Keringat mulai mengucur deras di keningku.


“Amarilis!” Aku kini setengah berteriak. Tidak ada sahutan. Ke mana dia pergi? “Katelia! Sayang! Kamu di mana?” Yang terdengar hanya gema suaraku yang kembali kepadaku. Oh, Tuhan.


__ADS_2