
Aku memegang tangan Amarilis yang ada di atas meja. “Kita tetap pada rencana semula. Gue pulang bersama Amarilis ke Indonesia. Setelah gue pulih sepenuhnya, gue akan kembali bekerja. Lagi pula, itu rencana kita sebelum kecelakaan menimpa gue, ‘kan?
“Gue kembali ke Indonesia setelah tiga tahun berada di negara ini dan meneruskan pengawasan gue pada restoran ini dari sana. Kenapa mendadak berubah? Papa pikir gue enggak tahu kalian berniat membuat gue lupa mengurus akta kawin kami di tanah air?” Aku menatap mereka dengan saksama.
Mama meletakkan sendok dengan keras di atas piring. Akhirnya, dia tidak berpura-pura lagi. “Aku tidak akan pernah menerima perempuan itu menjadi menantuku. Apa kamu pikir reputasi keluarga kita dibangun dalam satu malam? Aku tidak akan membiarkan kamu merusak nama baik kita.”
“Di mana Venny dan keluarganya sekarang?” tanyaku, menyinggung nama perempuan pilihannya itu. “Itu yang kalian sebut dengan calon menantu yang menjaga reputasi keluarga kita?”
Perempuan itu merapatkan bibirnya. Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Keluarga yang sudah lama menjadi teman baiknya itu meninggalkan dia ketika kesusahan datang. Perempuan yang dia pikir calon istri yang sempurna untukku, ternyata tidak siap untuk bersamaku dalam keadaan sakit.
“Amarilis tidak berpikir dua kali ketika aku menyeret dia untuk kawin lari di Las Vegas. Walau kami tidak mengenakan pakaian mahal, tidak ada keluarga, dan acara yang romantis yang aku yakin selalu dia impikan, dia mau jadi istriku.
“Venny yang sudah mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan diberikan acara pertunangan yang megah, tidak ragu meninggalkan aku yang terkapar lemah. Amarilis tetap berada di sisiku ketika aku meringis kesakitan. Dia bahkan merelakan dirinya untuk aku manfaatkan sebagai pereda nyeriku.
“Wanita ini satu-satunya yang mau ada di sampingku ketika aku tidak bisa menjanjikan apa pun bagi masa depan kami. Aku bisa saja amnesia selamanya, tetapi dia tidak lari meninggalkan aku. Yang aku lakukan sejak berada di tempat ini adalah menyakiti, memanfaatkan, dan memerintah dia sesukaku. Apa kalian lihat dia kabur dariku?
“Dia bahkan baru saja menyelamatkan nyawa kalian berdua dari sasaran kemarahan Clara. Tanpa dia, mungkin kalian sudah terbaring di bangsal rumah sakit atau yang paling parah, pulang dalam peti ke tanah air. Cepat juga kalian melupakan jasanya itu. Apa reputasi sudah mematikan nurani kalian?”
Merasakan genggaman erat tangan Amarilis, aku menahan diri untuk meneruskan kalimatku. Aku bisa merasakan tangannya gemetar, jadi aku menuruti permintaan senyapnya itu. Aku hanya mau membela dia di depan orang tuaku, bukan menyiksa dia lagi.
Papa dan Mama tidak bicara, hanya duduk diam. Aku menoleh ke arah Matt. Dia mengangkat kedua bahunya, tidak mengatakan apa pun. Aku tidak tahu seperti apa Theo menghadapi orang tuanya dahulu, tetapi aku bukan dia yang lama. Aku tidak akan diam saja disuruh tunduk melakukan hal yang salah. Aku sudah menikahi Amarilis, maka aku tidak akan diam sampai pernikahan kami legal.
Karena tidak ada hal lain yang mereka sampaikan, aku pamit. Matt juga ikut bersama kami. Hanya Papa yang membalas kalimatku, sedangkan Mama masih menutup mulutnya. Aku tidak peduli bila dia sakit hati. Itu adalah kesalahannya sendiri.
“Ng, aku harus ke kampus.” Amarilis menahan tanganku ketika kami akan memasuki mobil.
“Bukankah urusan lo di sana sudah selesai? Lo sudah dapat ijazah lo, ‘kan?” tanyaku heran.
“Seharusnya minggu lalu aku menemui dokter gigiku. Retainer gigiku sudah selesai, jadi aku sudah bisa melepas kawat ini,” jawabnya.
“Ooo. Biaya mahal lainnya yang harus gue keluarkan padahal gue enggak ingat sudah menjanjikan hal ini kepada lo,” ejekku.
Wajahnya merah padam. “Aku pergi sendiri saja!” serunya kesal.
__ADS_1
Aku memeluk dia dari belakang, menahan dia tidak menjauh dariku. “Kenapa lo cepat sekali marah?”
“Kalian mau bermesraan terus di situ atau masuk mobil? Seminggu buat anak masih belum cukup juga? Sampai kapan gue harus melihat kalian enggak bisa jauh dari satu sama lain?” keluh Matt.
“Makanya, menikah,” ejekku.
Kami menuju kampus dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berkeliling. Dokter mengatakan mereka akan butuh waktu cukup lama untuk mengurus Amarilis. Matt ikut bersamaku. Aku tidak bisa mengingat apa pun mengenai gedung atau setiap jalan yang kami lewati.
Aku sengaja menghindari bagian dalam gedung kampusku agar tidak bertemu dengan dosen di sana. Mereka akan tersinggung atau yang paling parah, mengasihani aku jika tahu kondisiku sekarang. Aku tidak butuh rasa kasihan dari siapa pun.
“Lo yakin tidak mau tinggal di sini sejenak, menjauh dari ortu kita?” tanya Matt saat kami meminum kopi di salah satu gedung kantin.
“Gue khawatir Amarilis hamil. Kami akan butuh bantuan banyak orang, karena gue enggak paham dengan itu. Lo perlu baca banyak buku dan konsultasi dengan dokter. Wanita hamil itu mengerikan.” Aku menatapnya dengan serius. Wajah Matt memucat.
“Menghadapi Mama yang datang bulan saja merepotkan. Gue enggak bisa bayangkan pengalaman Papa ketika Mama hamil.” Dia bergidik pelan. “Kenapa lo buru-buru punya anak? Enggak mau bulan madu dahulu? Katanya, tidur dengan kakak gue enak.”
“Aku mau menyelesaikan tanggung jawab gue ke ortu kita, baru fokus menyiapkan diri gue untuk kembali bekerja. Lagi pula, Amarilis punya banyak sekali rencana yang gilanya dicatat Theo yang dahulu. Pengingatnya membuat aku gila.” Aku memijat puncak hidungku.
“Lo yakin banget, ya, gue akan pulih.” Aku menggeleng tak mengerti.
Dia hanya tertawa. “Lo sudah siap andai Papa dan Mama mendepak lo dan menunjuk gue sebagai pengganti?” Dia tersenyum penuh arti.
“Lo yakin gue akan melepas hak gue begitu saja?” balasku, menerima tantangannya.
Dia tersenyum puas. “See? Gue suka banget dengan lo yang sekarang.” Lihat, kan?
Daisy menghubungi pengawalku untuk memberi tahu Amarlis sudah siap. Aku membeli kopi dan camilan untuk istriku, lalu menyusul mereka ke mobil. Suatu hari nanti, aku akan kembali ke kampus ini, jika keadaan sudah memungkinkan. Aku mau memberikan oleh-oleh khas Indonesia untuk para dosen yang sudah membimbing aku.
Amarilis terlihat semakin cantik tanpa pagar di giginya. Sepertinya dokter memberikan perawatan juga setelah bertahun-tahun giginya ditempeli besi. Pantas mereka membutuhkan waktu lama untuk melepas kawatnya tersebut. Alat yang dia bilang sudah selesai itu hanya perlu dipakai saat tidur.
Mênciúm dia jadi lebih menyenangkan tanpa perlu khawatir benda yang sudah dilepas itu akan menyakiti kami berdua. Aku menguji cobanya pada malam itu juga. Dia awalnya menolak, karena masih marah dengan perbuatanku pagi tadi. Namun begitu kami terbawa suasana, dia membalas cîúmanku. Setelah berhari-hari melakukan ini dengannya, bagaimana bisa aku melepaskannya?
“Kamu jangan percaya diri dahulu,” katanya, saat aku baru saja membaringkan tubuh di sisinya.
__ADS_1
“Gue pikir lo sudah tidur.” Aku menarik selimut menutupi tubuh kami berdua.
“Aku bisa saja meninggalkan kamu suatu hari nanti.”
“Gue tinggal ikat lo lagi,” balasku dengan santai. “Lo enggak akan bisa kabur saat gue sedang tidur. Daisy sudah tahu tugasnya. Lo enggak boleh pergi tanpa izin gue. Jadi, silakan dicoba.”
“Aku bukan tahananmu, Theo,” protesnya.
“Selama satu tahun ini, lo enggak bisa ke mana-mana. Gue harus jaga lo dan calon anak kita sampai dia lahir dengan selamat. Percaya sama gue, Amarilis. Ini yang terbaik. Setelah itu, lo bebas mau berbuat apa saja, termasuk membalas perbuatan ketiga wanita jahat itu.”
Dia menoleh dengan mata membulat. “Kamu tahu tentang rencana balas dendamku?”
“Gue sudah bilang, Theo mencatat segalanya di pengingat ponselnya.”
Pada keesokan harinya, kami menyelesaikan mengemasi barang terakhir kami dan menyisakan satu kardus besar dengan dua koper besar berisi barang pribadi kami untuk dibawa ke Indonesia. Matt hanya membawa koper kecilnya. Barang lainnya diurus oleh teman Amarilis untuk disumbang.
Kami menginap di rumah Antonio pada hari terakhir kami berada di Amerika. Pria tua yang baik hati itu memperlakukan kami bagai anaknya sendiri. Kami dimanjakan dengan makanan enak dan kamar yang nyaman. Dia mengundang sahabat Amarilis untuk ikut serta, tetapi wanita itu menolak.
Dia pasti merasa tidak enak setelah melihat kakaknya sendiri telah mengancam kami di depannya. Padahal kami tidak mempermasalahkan hal itu. Kejahatan kakaknya, bukanlah kesalahannya. Apalagi dia sudah terbukti bersikap sangat baik kepada istriku.
“Jangan lupa datang ke Indonesia. Aku akan menunjukkan banyak tempat yang indah kepadamu,” kata Amarilis saat kami akan berpisah dengan Antonio.
“Aku akan datang. Kalian siapkan saja waktu kalian.” Pria itu mengusap rambut istriku. “Satu lagi, semoga kalian suka dengan hadiah pernikahan untuk kalian dariku.”
“Hadiah lagi? Antonio, kamu sudah memberi terlalu banyak untuk kami,” protes Amarilis.
“Tidak ada yang terlalu banyak untuk seorang teman. Pergilah. Jangan sampai kalian ketinggalan penerbangan.” Dia melirik aku agar membawa istriku masuk ke mobil. Dia dan anjing setianya mengantar kepergian kami dari teras rumah.
Matt yang melakukan check-in di bandara, sedangkan aku dan Amarilis menunggu tidak jauh di belakangnya. Kami lanjut menuju bagian imigrasi untuk memberi stempel pada paspor kami. Aku dan Matt selesai terlebih dahulu. Amarilis yang tadi maju pertama dari kami malah masih di konter.
Firasatku tidak enak melihat petugas lain datang ke loket itu. Amarilis menoleh ke arahku dengan wajah panik. Aku segera melangkah mendekatinya. “Mengapa istri saya lama sekali diperiksa? Apa ada masalah, Pak?” tanyaku kepada petugas yang melayaninya.
“Sebentar, ya, Pak.” Pria itu meletakkan gagang teleponnya. “Ibu Josepha perlu ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ada masalah dengan paspornya.”
__ADS_1