
~Altheo~
Gadis itu semakin hari semakin mengejutkan aku. Setelah beberapa lama bersandiwara menjadi orang lain, dia akhirnya memberontak juga. Aku tersenyum melihat dia sedang mengurus ketiga perempuan yang pernah menjadi pengikut setianya itu.
Mendengar namanya saja mereka sudah kecut, entah apa yang begitu menakutkan dari seorang Katelia? Dia hanya gadis biasa yang kebetulan punya orang tua kaya raya. Mereka bertiga juga berasal dari keluarga yang terpandang, mengapa mereka malah tunduk kepada perempuan itu?
Tubuh dan status barunya tidak membuat mereka berani menghadapinya seorang diri. Dia cukup bertindak nekat, maka mereka tidak berani mendekat. Apa mungkin ada sesuatu yang dia miliki yang membuat ketiga gadis itu melempem? Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dari jarak sejauh ini. Namun aku juga tidak mau mereka tahu aku memperhatikan mereka dari jauh.
“Nah, Theo,” kata Papa, membuyarkan lamunanku. “Ini adalah Jessica Winara, putri mereka. Kalian sebaya, jadi mengobrollah dengannya.”
“Kami sudah saling mengenal, Om,” kata Chika dengan mata berbinar-binar. “Dia adalah teman sekelasku selama SMU di Medan.”
“Oh, ya? Itu lebih baik lagi!” seru mamanya dengan riang. “Kalian tidak canggung lagi untuk bicara.”
“Ayo, Nak. Temani dia mengambil makanan,” bujuk mamaku tak kalah bahagianya.
Semua orang mendorong kami, aku bisa bilang apa? Aku berjalan dengan santai menuju meja saji dan mengambil piring bersih. Setelah mengisi makanan seperlunya, aku melihat ke sekitar ruangan mencari tempat duduk yang masih kosong.
Aku berjalan menuju meja incaranku dan duduk di kursi yang tersedia. Chika duduk di sampingku dan mendekatkan kursi sedikit ke arahku. Tindakannya itu segera membuat aku mengerti. Gadis ini menyukai aku, tetapi perempuan mana yang tidak akan tertarik kepadaku?
Wajahku tampan, tubuhku tinggi, otakku encer, statusku terhormat, dan yang paling membuat para semut itu mengerubungi aku, ahli waris utama keluarga besarku. Namun aku tetap terkejut, karena aku baru tahu dia diam-diam suka kepadaku.
Beberapa kali bicara, dia hanya marah kepadaku, sama seperti Katelia. Mungkin karena dia belum tahu siapa aku. Dia bahkan sempat mengancam aku pada saat aku menolong Amarilis yang dia siksa di kampus. Kapan dia mengetahui siapa aku yang sebenarnya?
“Om dan Tante Husada sangat baik kepadaku. Kami beberapa kali bertemu dalam acara seperti ini dan mereka menceritakan segalanya tentangmu. Aku tidak terkejut andai orang tua kita sepakat untuk menikahkan kita,” katanya dengan riang.
“Aku harap kamu tidak akan membiarkan masa lalu kita menghalangi bersatunya dua keluarga besar kita. Perusahaan orang tua kita akan menjadi kuat jika kita menikah. Orang tuaku hanya punya anak perempuan, maka kamu akan punya banyak keuntungan. Kalau kamu berhasil menunjukkan kepada Papa bahwa kamu pemimpin yang hebat, hotel kami akan jatuh ke tanganmu.
“Aku akan mengikuti jejak Mama dengan aktif pada kegiatan sosial. Jadi, aku bisa membantu kamu menjaga reputasimu tetap baik di mata masyarakat. Bukankah itu adalah pernikahan yang sangat ideal? Aku juga akan bahagia bisa merawat anak-anak kita kelak.” Dia tertawa kecil.
“Lo tahu siapa tunangan gue sebelumnya?” tanyaku mengalihkan topik.
“Dia sudah meninggal, tidak perlu dibahas lagi,” jawabnya. Dia memegang tanganku. “Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meninggalkan kamu seperti Katelia.”
__ADS_1
“Hati-hati. Bertunangan dengan gue akan mengancam nyawa lo.” Aku menarik tanganku darinya. Bertambah lagi alasan aku tidak akan tertarik kepadanya dan tawarannya itu.
Dia tertawa kecil. “Katelia meninggal bukan karena dia bertunangan denganmu, tetapi karena dia ceroboh. Dia kurang hati-hati saat Amarilis jatuh ke danau. Jadi, aku tidak akan meninggal hanya karena kita bertunangan. Lagi pula, ada banyak orang yang mengawal aku sejak kemarin.”
Tebakanku benar. Gadis ini menyukai aku. Apa yang dijanjikan orang tuaku kepadanya sehingga dia begitu ingin menikah denganku? Setahuku, Keluarga Winara hanya memiliki usaha perhotelan di Parapat dan Medan. Tidak ada urusannya dengan perusahaan kami. Apa iya Papa berniat bekerja sama dalam jangka panjang dengan mereka?
Sayangnya, gadis ini bukan tipeku. Dia terlalu banyak bicara, juga tidak peka dengan kebutuhanku. Apa dia tidak melihat aku sedang makan dan perlu ketenangan? Jika aku tertarik kepadanya, aku pasti akan bertanya segalanya tentang dia. Seperti yang aku lakukan terhadap Amarilis.
Lagi pula, aku tidak tertarik dengan usaha perhotelan. Aku lebih suka dengan restoran dan usaha bumbu kemasan yang dimiliki keluargaku. Usaha ini bisa dikembangkan dengan memproduksi lebih banyak varian yang belum masuk dalam merek kami. Bisnis keluarganya hanya bisa dikembangkan dengan membuka lebih banyak cabang. Modalnya terlalu besar dengan risiko yang besar juga.
Sebaliknya, aku nyaman bersama Amarilis. Dia gadis yang tidak banyak menuntut. Aku datang atau tidak, dia santai saja. Walau awalnya melawan, dia melakukan juga apa yang aku suruh. Sesekali membantah, bukan masalah. Aku suka bertengkar dengannya.
Keinginan hidupnya yang besar membuat aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Seorang Katelia yang manja dan selalu mendapatkan apa yang dia mau itu ternyata bisa bertahan hidup saat segalanya direnggut darinya. Aku bahkan tidak yakin bisa melakukan itu.
“Hai, Theo!” sapa Chika saat aku baru turun dari sepeda motorku.
Aku tidak membalas dan berjalan menuju ruang kuliah. Dia malah menggandeng tanganku yang segera aku tepis. Aku tidak suka ada yang menyentuh tanganku tanpa izinku. Apalagi kami tidak punya hubungan apa pun.
“Sebelum kita menikah, tidak akan ada hubungan di antara kita,” kataku dengan tegas. “Berhenti menyentuh gue atau gue akan memberi tahu orang tua gue siapa lo yang sebenarnya.”
“Silakan saja. Remaja sedikit nakal itu hal yang biasa,” balasnya dengan santai.
Tanpa tahu malu, dia duduk di sisiku selama kami mengikuti perkuliahan. Aku hanya menganggap dia sebagai hantu yang betah gentayangan di dekatku. Setiap kata yang dia ucapkan, setiap tindak tanduknya selalu aku abaikan. Lama-kelamaan juga dia akan bosan sendiri.
Jam makan siang menjadi waktu yang aku tunggu-tunggu karena bisa berdua saja dengan Amarilis. Aku tidak melakukan atau membicarakan hal khusus dengannya. Hanya makan siang bersama. Lagi pula, itu yang aku lihat dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran.
Menonton, jalan-jalan, atau hal yang buang uang dan waktu lainnya tidak masuk dalam daftarku. Akhir pekanku sudah penuh dengan aktivitas bersama Papa dan Mama, jadi aku hanya punya dua waktu dalam satu minggu untuk bisa bersama Amarilis.
Dua hari yang uniknya menjadi saat paling favoritku.
“Jadi, bagaimana menurutmu tentang Jessica?” tanya Mama dengan senyum bahagia.
Kami sedang sarapan bersama, jadi aku tidak terkejut melihat Matt tersenyum penuh arti kepadaku mendengar pertanyaan itu. Papa tidak memberi respons, tetapi aku tahu dia akan setuju dengan apa pun yang Mama sampaikan. Mereka pasti membicarakan ini selama beberapa hari terakhir.
__ADS_1
“Apanya, Ma?” tanyaku, tidak mau salah paham.
“Apakah dia gadis yang baik? Apa kamu suka kepadanya?” tanya Mama secara spesifik.
“Dia suka merundung teman-teman saat kami SMU di Medan. Gue sudah kasi tahu Mama tentang itu. Dia teman baik Katelia. Jadi, gue enggak suka dia,” jawabku dengan lugas.
“Oh, ya?” ucap Mama sedikit terkejut.
“Remaja sedikit nakal itu biasa,” kata Papa, menengahi. “Kamu coba kenali dia lebih baik selama beberapa waktu ini. Aku yakin kamu akan berubah pikiran setelah melihat dia yang sekarang.”
“Seseorang tidak akan berubah secara drastis jika tidak ada hal tragis yang menimpanya, Pa.” Aku menyatakan pendapatku yang tidak setuju dengannya. “Gue sudah melihat sendiri di kampus. Dia tidak berubah. Tetapi gue akan coba melakukan apa yang Papa dan Mama katakan.”
Aku sudah terbiasa memberi bukti yang otentik kepada orang tuaku mengenai apa pun yang tidak aku setujui dari pendapat mereka. Jika mereka sudah satu kata, maka aku tidak bisa menentang keputusan mereka itu. Satu-satunya jalan adalah menunjukkan kepada mereka Chika yang asli.
Menemani Papa bertemu dengan koleganya pada sore itu sangatlah menyenangkan. Tidak ada anak perempuan yang dibawa oleh para pria itu untuk dikenalkan denganku. Sepertinya Papa dan Mama sudah mantap untuk menunjuk Chika sebagai calon istriku.
Ini adalah alasan aku setuju saja dengan pilihan mereka. Kami bisa fokus membahas bisnis dan tidak ada lagi perkenalan berikutnya dengan deretan perempuan yang hanya memikirkan penampilan, tetapi tidak tahu apa-apa mengenai usaha keluarganya.
Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena memang tidak semua anak tertarik untuk meneruskan usaha orang tuanya. Kebanyakan dari mereka sudah punya hobi dan impiannya masing-masing, jauh berbeda dengan bidang yang keluarga mereka geluti.
“Azarya,” sapa seseorang, memanggil nama ayahku.
Kami menoleh dan melihat Chika beserta ayahnya ada di restoran yang sama. Papa segera membalas sapaannya, lalu menjabat tangannya. Aku pun tahu dia menunda rencananya menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu masuk.
“Kebetulan kalian ada di sini,” kata Papa sambil melirik ke arahku. “Ada yang mau aku tanyakan.”
Chika memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri di sisiku dan menyapa aku. Namun aku tetap mengarahkan perhatianku kepada Papa dan mengabaikannya. Aku tidak menyukai perempuan ini, maka aku tidak berpura-pura ramah kepadanya.
Pada hari Jumat itu, aku menantikan makan siang bersama Amarilis. Dia bersikap aneh dengan menurut saja mengikuti aku. Padahal biasanya kami bertengkar dahulu sebelum berangkat makan siang bersama. Ternyata tugasnya hilang dan dia harus mengetiknya di tempat rental. Dia punya pacar, mengapa tidak dimanfaatkan? Malam itu juga, aku membelikannya untuknya.
Aku tidak tahu mengapa aku peduli kepadanya. Aku semakin tidak mengerti ketika aku merasakan darahku mendidih melihat cara Jericho menatapnya pada siang itu. Tanganku refleks merangkul bahu Amarilis dan mencium pelipisnya di depan semua orang.
Ini pertama kalinya aku tidak hanya merangkul bahu seorang gadis, tetapi juga mencium dia dengan posesif di depan banyak saksi. Aku sendiri tidak percaya dengan itu. Apa yang terjadi kepadaku?
__ADS_1