
Mendengar namanya, aku tetap tidak mengenalinya. Namun aku sudah tahu wanita mana yang dia maksud. Meghan sampai bersumpah bahwa dia tulus berteman denganku. Dia tidak sama seperti kakaknya yang kecentilan itu. Semoga saja begitu atau aku akan kempeskan badannya itu.
Akhir pekan itu aku awali dengan menghubungi Mama dan Bunda. Kami saling berbagi cerita apa saja yang kami lakukan dalam satu minggu terakhir. Usai berbincang dengan mereka, Hercules mengambil alih untuk mendiskusikan tugas akhirnya denganku.
Matt juga melakukan hal yang sama sampai Theo harus menjemput aku dari kamar untuk sarapan. Syukurnya, dia tidak memaksa untuk memutuskan hubungan panggilan video. Jadi, Matt masih bisa berdiskusi denganku. Sabtu pagi yang sangat sibuk.
“Kamu jangan masak apa pun. Aku akan mentraktir kamu makan siang.” Aku mengeringkan piring terakhir yang sudah aku bilas.
“Dalam rangka apa?” tanyanya.
“Aku mengerti alasan kamu marah mengenai Mike. Kamu yang menemui dosen untuk menunjukkan bukti aku satu grup diskusi dengan mereka.”
“Perempuan memang tidak bisa menyimpan rahasia.”
“Terima kasih banyak, Theo.” Aku memeluknya dengan erat. “Aku sayang, sayang, sayang kamu!”
“Sebaiknya lo lepaskan pelukan lo sebelum gue hamili,” katanya dengan serius.
“Theo! Apa kamu tidak bisa berhenti menggunakan kata itu!?” protesku kesal, spontan melepaskan pelukanku. Aku jelas tidak mau hamil dalam waktu dekat.
“Gue serius. Apa lo enggak merasakan hal yang sama? Ingin buka baju dan mengakhiri penantian ini sekarang juga?” Dia mengipas-ipas dadanya dengan menarik-narik bagian depan bajunya. “Ruangan ini mendadak panas. Gue butuh es.” Dia mendekati kulkas.
“Aku semakin yakin kamu mau menikahi aku hanya untuk memuaskan nàfsúmu, bukan karena kamu ingin bersamaku selamanya.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku.
“Gue sudah jawab jujur. Iya, itu salah satunya. Kamu juga akan ketagihan nanti kalau sudah rasakan satu kali,” katanya dengan sombongnya.
Aku tidak memberi tahu restoran yang aku pilih untuk makan siang kami, tetapi aku yakin dia sudah bisa menebaknya melihat jalur yang aku tempuh. Dia tersenyum bahagia mengetahui tempat yang kami tuju. Begitu sampai, dia menggandeng tanganku, tidak sabar untuk masuk.
Ternyata dia punya alasan. Tempat itu ramai dengan pengunjung yang juga berniat makan siang. Kami tidak mendapatkan meja, tetapi masih ada kursi kosong di konter. Kami segera mendekatinya dan menyebutkan pesanan kami. Pelayan sampai tertawa kecil.
Kami memesan hal yang sama seperti saat pertama kali makan bersama di restoran itu. Satu paket burger lengkap untukku dan piza untuk Theo. Aku menawarkan untuk menambah pesanan, dia menolak. Maka aku memesan pai labu untuk dibawa pulang.
Aku mengajak Theo berkeliling dengan sepeda untuk membakar kalori dari makanan tadi. Dia tidak menolak, maka aku mempersilakan dia yang menunjuk jalan. Aku tidak menyangka dia membawa aku ke restorannya. Kami hanya lewat dan tidak mampir.
“Pagi, Amarilis.” Mike melingkarkan tangannya di bahuku. “Besok pesta di rumahku, kamu serius tidak mau hadir?” Dia masih saja berusaha untuk membujuk aku.
__ADS_1
“Jauhkan tanganmu dariku,” kataku dengan tegas.
Dia tidak memedulikannya. “Bagaimana kalau begini? Aku undang juga Meghan, kalian datanglah bersama. Tidak perlu bawa apa-apa. Semuanya sudah tersedia di rumahku.”
“Aku juga sudah punya acara, Mike. Tidak, terima kasih.” Meghan ternyata sudah berjalan di sisiku.
“Kalian berdua akan menyesal, karena aku mengundang artis ternama untuk mengisi acara.”
Aku dan Meghan tetap tidak terbujuk dengan tawarannya itu. Kami memasuki ruang kuliah dan aku mendesah kesal ketika Robert duduk di sisi kiriku. Meghan pun berdiri dan kami bertukar tempat sehingga aku duduk di dekat jendela. Dengan begitu, Mike dan Robert tidak berebut lagi untuk duduk di dekatku.
Entah ada apa dengan mereka berdua. Aku jelas tidak mau dekat apalagi berteman dengan mereka. Saat kami masih satu grup, mereka acuh tak acuh dengannya. Mengapa setelah aku keluar, mereka mulai berulah? Apa ada yang mereka inginkan dariku?
“Katakan, Amarilis. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau datang ke pesta di rumahku?” Mike mendekati aku yang sedang membuka kunci sepeda. “Apa begini cara kamu membalas orang yang sudah menolong kamu mendapatkan nilai?”
Yang benar saja. “Tidak ada, Mike. Aku benar-benar tidak bisa datang. Lagi pula, aku tahu bukan kamu yang bicara dengan Profesor Bateman mengenai nilai tugasku.”
“Siapa pacarmu? Dia pasti tidak lebih tampan dariku.” Dia berdiri terlalu dekat, tetapi aku tidak mundur untuk menghindarinya. Matanya turun menatap bibirku. “Aku bisa lebih baik darinya.”
“Jawabanku tetap tidak.”
“Jauhi aku, Bodoh! Aku sudah bilang, aku sudah punya pacar!” Aku meninggalkan dia yang meringis kesakitan sambil memegang hidung dan sela pahanya.
Ada orang tidak jauh dari kami. Para pria memasang wajah kesakitan seolah merasakan nyerinya, sedangkan para wanita tertawa kecil. Aku berjalan, lalu menaiki sepeda, dan mengayuhnya. Hari ini benar-benar hari sialku. Padahal aku tidak mau punya musuh.
Aku tidak terkejut melihat Theo berdiri dengan kedua tangan di pinggangnya saat aku memasuki apartemen. Pengawalku pasti sudah mengadukan apa yang tadi terjadi. Aku benci setiap kali dia benar. Dasar Mike gila. Apa maksudnya berniat mencium aku tadi?
Baru beberapa hari yang lalu aku menemui dokter gigi dan mengencangkan kawat. Kalau dia sampai berhasil mencium aku, malam ini aku pasti tidak bisa tidur. Gigi depanku sedang sakitnya minta ampun. Jadi, melihat Theo marah tidak membantu aku sama sekali.
“Jadi, lo hanya akan diam dan tidak mengatakan apa pun?” tanyanya saat kami makan malam.
“Memangnya kamu mau aku bicara apa?” balasku sengit.
“Maaf, misalnya.” Dia memicingkan matanya. “Lo santai saja setiap kali dia merangkul, memeluk, pegang sana-sini, dasar ganjen. Lo senang ada yang suka sama lo?”
“Siapa yang santai saja? Aku sudah menolak dengan sopan,” kataku, membela diri. “Aku tidak mau mencari musuh, Theo. Menyelesaikan masalah dengan kekerasan hanya akan mempersulit aku.”
__ADS_1
“Tergantung orangnya. Masa lo mau dicium baru bertindak. Ganjen lo, tahu enggak?”
“Aku tidak genit! Aku sudah bilang aku punya pacar. Dia saja yang keras kepala!”
“Coba kalau gue yang dipeluk cewek, lo marahnya sampai ke langit! Kalau gue yang cemburu, lo juga yang protes, menganggap gue aneh. Lihat, ‘kan? Omongan gue benar!”
“Iya, kamu benar. Semuanya benar. Kamu yang paling benar. Puas!?”
Kami saling merapatkan bibir dan melotot terhadap satu sama lain, lalu membuang muka. Walau sedang kesal, kami tetap menghabiskan makanan kami. Setelah mencuci piring bersama, kami masuk ke kamar masing-masing. Tentu saja tanpa drama membanting pintu. Apartemen ini bukan milik kami dan kami tidak mau mengganggu tetangga.
Jantungku berdebar sangat kencang dan badanku gemetar karena amarah. Menjengkelkan sekali. Dia hanya nyaris mencium aku. Nyaris. Aku berhasil memukulnya supaya hal itu tidak terjadi, tetapi tetap saja Altheo Gunawan Husada yang sok keren, sok ganteng, tidak punya perasaan itu marah kepadaku! Enak saja dia menyebut aku ganjen! Aku sama sekali tidak genit-genitan dengan Mike!
Semoga saja laki-laki kurang ajar itu tidak bisa jalan besok, biar tahu rasa. Dia yang berbuat jahat, eh, aku yang kena getahnya. Theo marah besar dan berpikir aku selingkuhlah, genitlah. Padahal aku selalu setia dan tidak pernah main mata dengan yang lain.
Air mata menetes membasahi pipiku, maka aku mengempaskan tubuhku di ranjang. Aku menangis dengan membenamkan wajah di bantal. Aku tidak mau Theo arogan yang menjengkelkan itu sampai tahu aku sedih begini. Dasar cowok jahat suka menang sendiri.
Joging pada keesokan harinya, aku memilih berlari di depan. Aku tidak mau melihat wajahnya atau punggungnya yang menjengkelkan itu. Bukannya olahraga sendiri, dia malah mengikuti aku. Hampir sampai di gedung, dia menyikut aku. Kesal dengan itu, aku membalasnya. Dia menyikut aku lagi.
“Hentikan, Theo. Aku masih marah!” Aku mempercepat lariku. Dia malah memegang tanganku, lalu tiba-tiba saja membopong aku. “Apa ini!? Turunkan aku. Katamu, aku berat!”
“Berat karena tukang selingkuh,” ujarnya.
“Aku tidak selingkuh.” Aku mencubit pipinya.
“Jaga jarakmu dengan laki-laki lain. Aku serius, Amarilis.” Dia menatap aku dengan tajam.
“Oke,” ucapku pelan. Lebih baik mengalah daripada bertengkar dan jadi tontonan orang.
Tiba di kampus pada minggu berikutnya, aku heran dengan cara orang memandang aku. Mereka tertawa kecil sambil bicara dengan teman di sisinya. Apa yang terjadi? Ah, mungkin mereka membahas kejadian aku menghajar si bodoh Mike. Teringat itu, aku jadi kesal sendiri.
Memasuki gedung, orang-orang juga melakukan hal yang sama. Mereka memperhatikan aku seraya berbisik dengan orang di sampingnya. Aneh. Mengapa aku jadi perhatian orang-orang hari ini? Aku memakai baju yang sopan, warnanya juga tidak tabrakan. Lalu apa yang terjadi?
“Amarilis! Sini!” panggil Meghan, melambaikan tangannya kepadaku.
Dia sedang berdiri di depan papan pengumuman, maka aku mendekatinya. Orang-orang yang berdiri di dekatnya serentak menoleh ke arahku. Apa yang sedang mereka lihat? Aku berdiri di sisi Meghan dan melihat ke arah yang dipandangnya. Oh, Tuhan. Jadi, ini yang membuat aku mendadak terkenal?
__ADS_1