Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
178|Suamiku Sayang


__ADS_3

Aku membaca isinya dan mataku memanas membaca nama Theo lalu namaku pada berkas tersebut. Akhirnya, Akta Perkawinan kami diterbitkan juga! Kami adalah suami istri yang sah di mata hukum Indonesia. Hanya tinggal mengurus pernikahan di gereja.


Namun kami perlu menabung untuk bisa mengadakan acara itu. Simpananku tidak banyak dan aku tidak mau Ayah atau Papa yang menanggung biayanya. Aku yakin Ayah maupun Bunda keberatan jika resepsi pernikahan kami dilangsungkan secara sederhana.


Sebaiknya setelah si kecil cukup besar saja kami melangsungkan pernikahan dan resepsi tersebut. Aku yakin kami akan butuh banyak biaya untuk kelahirannya. Semoga saja aku bisa melahirkan dengan normal supaya pengeluarannya tidak banyak.


“Aku masih tidak percaya ini,” kataku pelan. “Aku pikir papamu akan melakukan segala cara untuk menghalangi penerbitan akta kawin kita.”


“Gue sudah bilang, gue tahu kelemahannya.” Dia mênciúm pipiku. “Gue langsung mengurus KTP dan KK baru kita. Jadi, kita punya kartu keluarga sendiri dengan status menikah. Tidak akan ada lagi yang bisa menyebut lo simpanan atau selingkuhan gue.”


“Tidak masalah. Mereka bisa menyebut aku apa pun yang mereka mau.” Aku meletakkan amplop itu di atas meja, lalu menoleh kepadanya. “Mengapa kamu tidak tunjukkan kata itu kemarin?”


“Kita langsung menghadiri undangan pada sore harinya, lalu lo lebih suka memanas-manasi para ibu itu dengan menyuruh gue menyeka bibir lo. Dalam perjalanan pulang, lo tertidur. Kapan kita bisa membicarakan ini?” tanyanya dengan nada bosan.


Aku tertawa kecil. “Maafkan aku. Jadi, bagaimana kita merayakan ini, suamiku sayang?”


Panggilan itu terasa semakin enak di lidahku. Dia sudah bukan lagi suami sementaraku selama satu tahun masa berlaku sertifikat perkawinan kami dari Las Vegas. Dia suami sahku yang tidak akan bisa diambil wanita mana pun dari sisiku lagi.


“Tentu saja dengan melakukan aktivitas suami istri favorit kita.” Dia berdiri, lalu meraih tanganku.


“Kita mau ke mana?” tanyaku bingung.


“Ke mana lagi?” Begitu aku berdiri, dia segera membopong tubuhku. Aku memekik terkejut. “Apa lo enggak dengar? Kita akan merayakannya dengan melakukan aktivitas favorit kita.”


“Sebentar lagi makan siang, Theo.”


“Gue sudah minta pelayan mengantar makan siang, teh sore, dan makan malam ke kamar.” Aku membulatkan mata mendengarnya. “Oh, iya, sayang. Benar. Kita akan melakukannya sepanjang hari ini. Lo sudah membuat gue puasa selama satu minggu. Saatnya berbuka.”


“Theo, aku tidak akan sanggup,” ucapku tidak percaya.


“Lo bisa meladeni Venny, masa enggak bisa melayani gue.”

__ADS_1


Dasar Theo sudah gila. Dia benar-benar melakukannya. Aku tidak diizinkan turun dari tempat tidur sepanjang hari Sabtu itu. Hasilnya, aku kelelahan pada hari Minggu. Untung saja kami bisa ibadah di rumah tanpa harus pergi ke gereja. Bisa-bisanya dia segar bugar, aku yang kehabisan tenaga.


Namun pada hari Senin, tubuh dan pikiranku sangat ringan. Mual pada pagi hari yang biasanya cukup mengganggu, tidak aku alami. Aku juga bisa bekerja dengan baik dan konsentrasi. Kami memang obat bagi satu sama lain.


Usai bekerja, aku mengamati media sosial dan melihat postinganku pada hari Jumat lalu disukai dan dikomentari banyak orang. Chika menunjukkan reaksinya dengan mengunggah foto romantisnya dengan suami. Aku benar. Ini cara yang tepat untuk membalas dia.


Fotonya bersama Pak Norman tidak natural. Namanya juga dijodohkan. Tentu saja interaksi mereka tidak akan pernah sama denganku dan Theo yang menikah karena saling mencintai. Yang menarik perhatianku adalah jumlah reaksi yang dia dapatkan tidak lebih banyak dariku.


Kak Jericho memberi tahu nama tempat yang menjadi lokasi pertemuannya dengan teman-teman seprofesinya pada keesokan hari. Itu adalah sinyal kami jika Rahma akan muncul di tempat yang sama dengannya. Aku sudah bosan bekerja dari rumah, maka aku pergi ke tempat itu.


Mereka memesan sebuah ruangan, jadi kami tidak berbaur dengan pelanggan restoran yang lain. Aku duduk di sisi Kakak bersama asistennya yang lain. Mereka semua benar-benar model dilihat dari cara makan mereka yang malas-malasan. Hanya aku dan Gino, asisten Kakak, yang lahap.


“Kalau mau tambah, ambil saja.” Kakak melirik makanan yang melimpah ruah di depan kami. “Hanya kita yang akan makan dengan porsi besar. Mereka semua takut. Jangan khawatir, aku yang bayar.”


“Memangnya Kakak tidak takut gemuk makan sebanyak ini?” Aku melihat piringnya.


“Ini tidak seberapa. Sesekali makan banyak tidak akan membuat badan mendadak melar. Lagi pula, ini makan siang bukan malam. Aku masih punya segudang aktivitas yang membutuhkan energi.” Kak Jericho menaruh satu potong dada ayam ke atas piringku. “Makan yang banyak.”


Semua yang mereka sebut itu sudah pernah aku dengar, karena panitianya menghubungi aku. Kakak tersenyum penuh arti ketika temannya menyatakan keinginannya diundang oleh produk ternama itu. Kakak memang hebat. Bakatnya sampai ke telinga orang yang dekat dengan produk ternama itu.


“Halo, semua!” Pintu dibuka dan Rahma pun datang. “Aku punya oleh-oleh untuk semua orang!” Dia memberikan tas demi tas belanja kecil kepada semua yang hadir. Aku tidak heran ketika dia tidak memberikan satu untukku.


“Oh. Aku tidak pakai parfum ini.” Kakak memberikan bagiannya kepada Gino. “Kesukaanmu.”


“Ini untukku? Sungguh?” tanya Gino tidak percaya. Kak Jericho mengangguk.


Aku melirik ke arah Rahma yang duduk di depan kami. Dia merapatkan bibirnya, kesal melihat Kakak tidak menerima pemberiannya itu. Padahal model lain kelihatan begitu senang diberikan hadiah parfum mahal. Aku sudah bilang, dia butuh aku kalau mau mendekati Kakak.


Usai makan, aku dan Kakak berpisah. Dia akan menemui klien untuk membicarakan persiapan pemotretan dengan sebuah majalah. Aku memutuskan untuk menunggu Theo pulang kerja di kafe yang tidak jauh dari kantornya. Aku juga mau sesekali bekerja di luar rumah.


Baru saja meletakkan ponselku di atas meja, benda itu bergetar. Aku mengambilnya dan tersenyum melirik nama pada layarnya. “Halo, sa—” sapaku dengan riang.

__ADS_1


“Pulang,” potongnya tanpa basa-basi. “Lo minta izin keluar untuk bertemu dengan bos lo, bukan bersantai di kafe. Makanan yang dimasak koki jauh lebih sehat.”


“Kamu sebentar lagi pulang, jadi kita bisa ke rumah bersama.”


“Apa gunanya lo yang pakai mobil, gue pakai sepeda motor, kalau lo harus menunggu gue pulang? Gue masih harus cek laporan dari restoran di Amerika, jadi lo pulang. Jangan membantah lagi. Kalau lo enggak balik detik ini juga, gue ikat lo di rumah.”


Tanpa menunggu respons dariku, dia mengakhiri hubungan telepon kami. Aku cemberut melihat layar yang berubah gelap itu. Bayangan jelekku yang sedang merengut tampak jelas di layarnya. Apa bedanya pulang sekarang dengan nanti? Satu jam lagi dia akan selesai bekerja. Benar-benar suami yang tidak romantis.


Aku mengangkat tangan menarik perhatian pelayan di depanku. Daripada bertengkar tidak jelas dengan dia, lebih baik aku mengalah. Malu rasanya meminta pelayan untuk melepaskan ikatanku besok. Dia tidak pernah memberi ancaman kosong, jadi aku yakin dia akan mengikat aku lagi jika aku tidak menuruti ucapannya tadi.


“Tolong, bungkus pesanan saya tadi. Terima kasih,” kataku kepada pelayan itu.


“Baik, Mbak. Mohon tunggu sebentar.” Pelayan itu pergi, maka aku memasukkan ponsel dan tablet ke tas. Hanya ponsel kerja yang tidak berhenti bergetar yang tetap aku pegang.


Begitu pesananku diantar ke meja, aku berdiri dan berjalan menuju kasir. Daisy pasti sudah memberi tahu Theo kalau aku berniat untuk pulang. Pria menjengkelkan itu tidak akan berhenti mengganggu pengawalku sampai aku keluar dari kafe ini.


Kasir menyebut jumlah tagihanku, maka aku mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari dompetku. Aku mengulurkan uang itu, tetapi sebuah tangan mendahului aku. Dia mengulurkan uang dengan nominal yang sama.


“Biar saya yang membayar tagihan nona cantik ini,” kata seorang pria yang berdiri di dekatku. Dia menoleh dan tersenyum kepadaku. “Jangan menolak. Anggap saja ini awal dari pertemanan kita.”


___


~Author's Note~


Teman-teman, apakah masih dapat notifikasi setiap kali novel ini update? Soalnya ada yang mengeluhkan tidak dapat pemberitahuan lagi. Apa ada yang mengalami hal yang sama? Jika tidak ada, abaikan saja pertanyaan ini. Terima kasih. 🙏🏻


Dan terima kasih sudah membaca, ya. ❤


Salam sayang,


Meina H.

__ADS_1


__ADS_2