Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
88|Masalah Baru


__ADS_3

“Sombong sekali!” Kalimat itu menyambut aku ketika membuka pintu pagar.


“Matt!” protesku sambil mengelus-elus dadaku.


“Mentang-mentang sibuk magang di hotel tenar, tidak mau lagi bertemu dengan gue,” omelnya.


“Sudah tahu aku sombong, mengapa kamu masih saja mengajak aku? Sana, ajak teman yang seusia denganmu!” Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan debaran jantungku.


“Kakak dan Theo sedang ada masalah, ya? Dia juga uring-uringan tidak jelas. Gue enggak melakukan kesalahan, dia terus saja menatap gue dengan tajam. Kalian cepat berbaikan dan berhenti membalas perbuatan pacar kalian dengan bersikap buruk kepada gue!” balasnya sengit.


Aku tertegun sejenak mendengar protesnya itu, lalu tertawa kecil. “Maaf. Aku tidak sombong. Ada banyak hal yang terjadi beberapa minggu belakangan ini yang menyita perhatianku. Aku akan ada di perpustakaan usai berdiskusi dengan dosen, aku traktir makan siang, ya?”


“Janji?” tagihnya.


“Janji.”


Kami pergi ke kampus dengan sepeda motornya, lalu berpisah di tempat parkir. Dia menuju ruang kuliahnya, sedangkan aku ke kantor dosen pembimbingku. Karena pria itu belum datang, aku duduk di ruang tunggu bersama para senior yang juga akan bimbingan dengan dosen mereka.


Bukannya menerima kami di ruang kerjanya, dosen pembimbing itu meminta kami datang ke rumah. Dia harus segera mengejar jam kuliah di kampus lain. Kami hanya bisa menelan rasa kecewa setelah menunggu berjam-jam, tetapi tidak bisa konsultasi dengannya.


Untungnya, dia mau menerima tugas kami dan berjanji akan memeriksanya. Jadi, saat kami datang untuk bimbingan, kami tinggal menerima catatan darinya. Itu bukan hal yang buruk, setidaknya, kami tidak datang sia-sia ke kampus.


“Apa maksud Kakak kalian sudah putus?” ucap Matt heran. Dia melakukan sesuatu pada ponselnya, lalu memberikannya kepadaku. “Mengapa dia tidak mengganti apa pun?”


Aku terlalu sibuk dengan skripsiku sampai tidak membuka media sosial selama berhari-hari. Ternyata Theo masih menggunakan foto profil yang sama. Pantas saja Tante sampai meminta bertemu hanya untuk menyuruh aku memutuskan hubungan dengan putranya.


Yang tahu kami sudah putus hanya aku dan Theo. Orang-orang masih beranggapan kami baik-baik saja. Mengapa dia melakukan ini? Aku tidak mengerti. Itukah sebabnya dia tidak mau membaca pesanku tentang cincin pemberiannya? Apa dia tahu, tetapi pura-pura tidak melihat pesanku itu?

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa yang terjadi,” aku mengembalikan ponselnya, “tetapi kami serius sudah putus.”


“Lalu mengapa cincin itu masih ada pada Kakak?” tanyanya.


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Mama tidak berhenti mengomel mengenai cincin yang seharusnya dipakai Chika. Perempuan itu memang hanya membuat susah saja. Bisa-bisanya mama gue lebih berpihak sama dia daripada kami.” Dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


“Dia tunangan resmi Theo. Wajar saja dia dan Tante menuntut cincin itu diberikan kepadanya.” Aku menahan senyum, membayangkan Chika memutar otak untuk mengambil benda ini dariku.


“Gue enggak akan menghadiri pernikahan mereka kalau Papa dan Mama memaksa Theo menikah dengannya. Gue juga akan pergi dari rumah. Gue enggak sudi satu atap dengan dia.”


“Mengapa kamu sebenci itu kepadanya? Apa dia pernah menyakiti kamu?” tanyaku heran.


“Karena gue dan Theo sama. Kami enggak suka cewek agresif. Apalagi yang tetap menempel ketika kami sudah bilang tidak. Kalau ada laki-laki suka perempuan begitu, tidak dengan kami.”


Dua hari menunggu, dosen pembimbing mengirim pesan dan meminta aku datang untuk berdiskusi mengenai bab dua dan tiga skripsiku. Alamat rumahnya jelas, tetapi aku kesulitan menemukan lokasi tepatnya. Pengendara ojek daring juga bingung melihat petanya berbeda dengan alamatnya.


Seorang wanita separuh baya datang membuka pintu, kemudian membukakan pagar. Aneh. Apa tidak ada mahasiswa lain yang juga diundang untuk konsultasi? Mengapa rumahnya terlihat sepi? Hal yang menjadi alasan aku sempat berpikir aku salah alamat.


“Silakan duduk sebentar. Bapak akan segera menemui Adik,” kata wanita itu dengan ramah.


Dari cara bicara dan pakaiannya, sepertinya dia seorang asisten rumah tangga, bukan istrinya. Aku melihat ke sekelilingku menunggu dosen itu datang. Rumahnya tidak hanya mewah dari luar, situasi di dalam juga sama. Perabotan, karpet, dan lukisannya kelihatan mahal.


Setahuku gaji dosen tidak besar. Mungkin istrinya juga bekerja dan pendapatannya lebih besar dari suaminya. Aku tidak pernah mencari tahu, foto keluarga juga tidak ada pada ruangan itu, entah mereka punya anak atau tidak.


“Selamat sore,” sapa pria itu.

__ADS_1


Aku berdiri, menyambut kedatangannya. “Selamat sore, Pak.”


“Duduk, duduk. Tidak perlu berdiri begitu.” Dia membawa sesuatu di tangannya yang aku yakin adalah dua bab skripsi yang sudah aku kerjakan.


“Terima kasih, Pak.” Aku kembali duduk dan heran melihat dia duduk begitu dekat di sisiku.


“Aku sudah periksa kedua bab ini,” ucapnya dengan tangan kiri meletakkan tugasku di atas meja, sedangkan tangan kanannya diletakkan di atas lututku. Aku mengerutkan kening melihatnya. “Aku punya beberapa masukan, kamu bisa memeriksa catatanku pada bagian yang aku tandai.”


“Baik, Pak.” Aku merasa risi ketika dia mengusap-usap lututku.


“Kalau sudah selesai, kamu bisa berikan lagi kepadaku untuk diperiksa.” Dia mendekatkan wajahnya, maka aku spontan menjauh. “Aku bisa membantu kamu untuk maju sidang lebih cepat.”


“Ah, tidak perlu, Pak.” Aku mengambil tumpukan kertas dari atas meja dan sengaja memakainya untuk menjauhkan tangan kurang ajarnya itu yang naik ke pahaku. “Semester gasal baru dimulai. Masih ada banyak waktu untuk menyelesaikan tugas ini.”


“Apa kamu lupa? Kamu membutuhkan tanda tanganku untuk menyelesaikan skripsi itu,” katanya dengan senyum licik. Matanya turun ke dadaku, lalu sengaja berlama-lama menatapnya. “Seperti yang aku katakan tadi, kamu bisa maju sidang tanpa susah payah sekaligus tamat sesuai targetmu.”


“Apa maksud Bapak?” tanyaku curiga.


“Datanglah malam ini dengan pakaian terbaikmu ke tempat yang akan aku beri tahukan lewat pesan. Kalau aku suka dengan proposalmu, maka skripsimu aku anggap selesai.” Dia menyeka rambut yang ada di bahuku ke bagian belakang tubuhku untuk mengekspos leherku.


Apa pria ini sedang melecehkan aku? Menyadari hal itu, aku segera berdiri sehingga dia nyaris jatuh dari tempat duduknya. Gila. Dia mau mencium leherku. Apa pikirannya sudah tidak beres? Aku mengepalkan tinju, menahan diri agar tidak memukul muka mêsumnya itu.


“Terima kasih untuk bimbingannya, Pak. Saya akan memperbaikinya sesuai saran Bapak dan datang lagi untuk menunjukkan hasil revisinya,” kataku, mencoba untuk bersikap biasa. “Selamat sore.”


“Jangan lupa untuk memeriksa pesan dariku. Nasib skripsimu ada di tanganmu,” katanya, tetapi aku tidak menghentikan langkah mendengarnya.


Jantungku berdebar dengan cepat dan napasku memburu ketika aku sudah keluar dari pekarangan rumah itu. Apa yang baru saja terjadi? Aku bergidik membayangkan tangannya di leherku tadi. Dasar laki-laki tua tidak tahu diri! Apa dia pikir aku perempuan murah hanya untuk dijadikan pelampiasan?

__ADS_1


Aku benar-benar tidak percaya ini. Seluruh tubuhku gemetar, menahan emosi mengingat tangannya yang kurang ajar tadi. Beraninya dia mengusap lutut dan pahaku, bahkan menatap dadaku. Aku pikir pelecehan yang dilakukan dosen kepada mahasiswanya hanya ada di berita. Ternyata bisa menimpa aku juga. Apa dia melakukan hal yang sama kepada mahasiswa bimbingannya yang lain?


Oh, Tuhan. Aku hanya mau tamat dengan tenang. Tinggal satu semester terakhir dan aku bisa pergi dari kampus ini dengan damai. Mengapa malah jadi begini?


__ADS_2