
Aku membuka mataku perlahan dan bertemu dengan dua bola mata bulat berwarna gelap. Semula aku berpikir, aku akan melihat wajah yang tidak asing lagi bagiku. Ternyata aku masihlah Amarilis. Bodoh. Mustahil aku bisa kembali menjadi Katelia. Tubuhku sudah membusuk di dalam tanah.
Namun Theo benar. Wajar saja dia kini mudah cemburu. Bekas jerawat yang semula menghiasi mukaku mulai memudar, rambutku terlihat sehat dan bercahaya, gigiku juga mulai tersusun rapi. Yang paling mengejutkan adalah bentuk tubuhku.
Katelia punya dada dan bökong yang membentuk, tetapi tidak sebesar milik Amarilis. Mungkin dia terbiasa gemuk, jadi dua bagian tubuhnya itu wajar terlihat besar. Ketika berat badannya turun drastis seperti ini, kedua bagian itu tidak berkurang banyak.
“Apa kamu bisa bayangkan sulitnya aku menahan amarah ketika kamu joging di Indonesia?” Theo sudah berdiri di belakangku, ikut melihat bayanganku. “Orang-orang di kota ini lebih sopan, tetapi tetap saja ada beberapa yang tidak tahu malu menatap tubuh lo dengan lapar.”
“Ooo.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku, tetapi dia segera mengalihkan wajahnya. “Mengapa kamu masih melakukan itu?”
“Kat, gue enggak tahu kenapa lo berpikir lo jelek. Di mata gue, lo itu cantik. Gue enggak suka lo kurus begini, karena mata laki-laki makin kurang ajar. Dada dan bökong lo menarik perhatian mereka.” Dia masih tidak mau melihat aku. “Gue enggak suka itu. Apalagi lo sekarang semakin cantik.”
Mendengar itu, aku terharu. Iya. Amarilis sangat berubah hanya dengan merawat rambut, wajah, memperbaiki susunan gigi, dan mencapai berat badan ideal. Aku yang salah sudah membandingkan tubuh ini dengan badan Katelia. Wajar saja aku tidak akan pernah secantik itu.
Ayah dan Bunda yang mewariskan kelebihan mereka kepada Katelia. Papa dan Mama yang ditiru oleh Amarilis. Kami berasal dari orang tua yang berbeda. Jadi, masing-masing punya kecantikannya tersendiri. Kalau dilihat dengan saksama, Amarilis cantik juga.
“Terima kasih, Theo.” Aku membalikkan badan dan memeluknya. Merasakan dia hanya berdiri kaku dan tidak membalas pelukanku, aku menoleh.
“Sepertinya, sudah saatnya kita membahas ini,” ucapnya pelan. Dia memegang tanganku dan mengajak aku duduk di tepi tempat tidur. “Sayang, lo harus hati-hati saat berduaan dengan gue.” Dia terdiam sejenak, hanya menatap aku. Lalu dia mendesah pelan. “Gue menginginkan lo.”
Aku mengerutkan kening mendengar kalimat itu. “Sudah? Itu saja?” tanyaku bingung melihat dia tidak melanjutkan kalimatnya.
“Lo enggak paham?” ucapnya bingung membuat aku makin tidak mengerti. “Gue menginginkan lo, Kat. Gue ingin tidur bareng lo saat ini juga.”
Aku segera menarik tanganku darinya dan menutup dadaku. “Jangan gila kamu. Ingat janjimu.”
“Justru karena gue menepati janji, gue memalingkan muka. Melihat lo dengan dada yang … maksud gue, ng, gue ….” Dia kesulitan mengucapkan kata yang sudah aku pahami.
“Kamu teràngsäng,” sambungku.
__ADS_1
Dia mendesah lega sambil mengangguk. “Jangan salah paham. Gue enggak akan melewati batas. Gue juga kaget gue sering sekali merasakannya. Karena itu, gue mau menikah dengan lo secepatnya.”
“O, begitu.” Aku pura-pura tersinggung. “Kamu mau menikah denganku hanya untuk tidur bareng?”
“Lo ini ada apa?” Dia mengerutkan keningnya. “Itu salah satu bukti gue sayang sama lo. Kalau gue enggak merasakan itu, untuk apa gue buang-buang waktu berpacaran dengan lo? Memangnya kita menikah hanya untuk pegang-pegang tangan. Ya, enggaklah.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Baik. Lain kali, aku akan berhati-hati.”
“Jadi, lo jangan tersinggung kalau gue memalingkan muka nanti. Gue sedang menahan hàsrat yang mendadak muncul karena teràngsäng. Gue janji, gue enggak akan pernah memaksakan kehendak. Membujuk lo untuk tidur bareng sebelum kita menikah juga tidak.”
“Iya, sayang. Aku percaya.” Aku memegang tangannya. “Aku sayang kamu.”
“Gue juga.”
Aku memeluk tubuhnya dengan erat, percaya dia tidak akan melanggar janjinya. Awalnya, dia tidak membalas pelukanku. Aku menahan tawa membayangkan dia sedang berusaha untuk menahan diri. Aku jahat, aku tahu. Namun aku ingin sesekali menggodanya.
Aku tidak melihat ada sosok ayah, tetapi aku tidak bertanya. Aku tahu banyak keluarga tidak lengkap di negeri ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tumbuh besar di tengah keluarga yang tidak lengkap. Keluargaku maupun Katelia terjaga utuh.
“Ayah dan ibuku bercerai ketika aku berusia sepuluh tahun,” ucap Nora saat kami mencuci piring. Dia bercerita tanpa aku tanya. “Dia selingkuh dengan teman baik Ibu. Mereka menikah, tetapi bercerai tidak lama kemudian. Ayah mencoba untuk rujuk, Ibu menolak. Dia lebih nyaman hidup sendirian, membesarkan kami.”
“Maafkan aku,” ucapku pelan.
“Bukan salahmu,” candanya. “Walau aku menganggap keputusan mereka itu egois, aku ingin ibuku bahagia. Dia senang hidup sendiri, tidak perlu mengkhawatirkan suami yang jarang pulang.”
Diam-diam, aku bersyukur punya pacar bermulut tajam seperti Theo. Dia juga tidak mata keranjang. Tatapannya dingin kepada semua orang, termasuk aku. Jadi, aku sering bingung dia marah atau tidak kepadaku. Hanya deklarasi sayangnya yang membuat aku percaya aku ada di hatinya.
Chika yang jauh lebih cantik dan menarik dari Amarilis tidak mampu menggoyahkan pendiriannya. Apalagi saat itu aku masih gendut dan baru memulai program menurunkan berat badan. Seleranya memang aneh. Dia lebih suka cewek berbadan besar daripada ramping.
Aku yang seharusnya pencemburu berat dalam hubungan kami. Anehnya, dia yang sempurna secara fisik yang paling cemburu jika ada laki-laki yang dekat denganku. Padahal pria mana yang mau dekat dengan cewek jelek begini?
__ADS_1
“Jadi, kamu dan Theo?” tanyanya setengah menggoda.
“Iya, aku dan Theo.”
“Kalau aku boleh tahu, sejak kapan kalian bersama?” Dia memberikan gelas terakhir kepadaku.
“Sejak aku semester kedua di kampus.” Aku mengeringkan gelas itu dengan handuk. “Tetapi kami putus sambung. Kami baru kembali bersama saat aku datang ke sini.”
“Ah, keluarga kalian pasti tidak merestui hubungan kalian.” Dia memberikan segelas cokelat hangat kepadaku usai mencuci piring. “Dia kuliah dengan biaya sendiri, sedangkan kamu beasiswa. Dia punya restoran yang sukses di ibu kota, dan kamu hanya orang biasa.”
“Kamu memang pengamat ulung,” pujiku. Aku mengikuti dia duduk di salah satu kursi di dekat meja makan. “Pantas saja kamu bisa jadi teman diskusi yang menyenangkan dalam grup kita.”
“Aku kagum denganmu. Kamu sangat berani. Aku tidak akan mau menjalin hubungan yang rumit begitu. Tidak, aku bahkan tidak tertarik punya hubungan asmara.”
“Kamu trauma dengan pernikahan orang tuamu.”
Dia mengangguk pelan. “Aku tidak bisa melupakan luka yang aku lihat di mata ibuku.”
Aku mendengarkan dia bercerita mengenai dirinya, masa lalunya, dan rencananya di masa depan. Namun aku tidak mengizinkan diriku terbawa suasana agar tidak terlalu terbuka dengannya. Aku tetap harus berhati-hati dalam berteman. Rahasia terdalamku tidak boleh ada yang lagi yang tahu.
“Para gadis, saatnya kalian memberikan tempat ini kepada ahlinya,” seru ibu Nora yang memasuki dapur bersama Theo. “Aku dan asistenku akan mulai memasak menu utama kita untuk besok.”
“Apa maksud Ibu?” tanya Nora bingung. “Theo bisa memasak?”
“Apa kamu pikir semua anak itu pemalas seperti kamu dan kakakmu?” ejek wanita itu. Nora malah tertawa mendengarnya. “Ayo, sana. Kami butuh kawasan ini untuk kami saja.”
Nora menarik tanganku untuk mengikutinya keluar dari ruang makan. Theo menyempatkan untuk mengusap rambutku ketika aku melewatinya. Aku melihat dia ditarik ibu Nora untuk memeriksa kulkas. Aku menoleh ke arah temanku dan melihat dia sedang mengarahkan pandangan ke ibunya.
Itu yang semula aku pikirkan, sampai aku mengikuti arah matanya dan memastikan sekali lagi. Dia tidak sedang melihat mamanya, melainkan Theo. Bukan tatapan seseorang kepada kenalannya, tetapi seorang perempuan yang mengagumi lawan jenisnya.
__ADS_1