Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
182|Teman atau Lawan


__ADS_3

~Amarilis~


Begitu aku tahu dia ada hubungannya dengan Nisa, maka aku anggap ini adalah salah satu jalan bagiku untuk mencari tahu kelemahannya. Pria itu rajin sekali mengirim pesan begitu kami berteman di media sosial. Aku tidak tahu mengapa dia mendadak tertarik kepadaku.


Dia tidak mungkin tidak melihat cincin yang aku kenakan di jariku atau melihat fotoku bersama Theo di akunku ini. Caranya mengobrol layaknya seorang pria sedang tertarik dengan seorang wanita. Aneh. Nisa tidak mungkin ada hubungannya dengan ini. Kami tidak punya urusan apa pun lagi.


Aku memeriksa postingannya yang menandai Nisa dan tidak menemukan ada yang aneh. Mereka hanya menghadiri acara keluarga atau undangan bersama. Aku tahu Bastian seorang model dan tidak menyadari kalau ternyata dia juga hadir pada acara itu. Hari di mana Kakak menolak parfum dari Rahma. Apa mungkin Rahma ada hubungannya dengan ini?


“Kamu bisa duduk di sini. Aku akan ada di ruangan itu untuk dirias. Jangan ke mana-mana. Theo bisa marah kalau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu,” kata Kak Jericho dengan serius.


Aku tertawa kecil. “Aku bisa jaga diri, Kak. Tenang saja. Pergilah.” Aku setengah mendorong dia ke arah di mana ruang riasnya berada.


Gino mengikuti Kakak menuju ruangan itu, sedangkan aku ke meja saji untuk mengambil beberapa makanan ringan dan membawanya ke kursi tadi. Tersedia meja juga, jadi aku bisa tenang menaruh piring, catatanku, dan gadget Kakak.


Titik yang dia pilih memang sangat tepat, karena aku tidak terganggu dengan teriakan staf yang saling memberi instruksi persiapan pemotretan. Aku bisa menjawab panggilan masuk dengan jelas dan menjawab pesan dengan tenang.


“Aku tahu kamu pasti ada di sini!” sapa seorang pria. Aku mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Bastian. “Ah, maaf. Apa kamu sedang bekerja?” Dia melirik ponsel yang menempel di telinga kananku. Aku mengangguk, maka dia pamit pergi.


Aku tahu dia dan Rahma akan ada di tempat ini, karena itu, aku sengaja datang. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku setelah pria itu masuk ke ruang rias khusus untuknya. Untuk apa dia mendekati aku?


Pemotretan dimulai tepat pada pukul sepuluh. Kakak dan Bastian melakukan pemotretan bersama juga tunggal dalam waktu dua jam. Aku tersenyum melihat betapa kerennya kakakku berpose dan mengikuti instruksi dari fotografer dan pengarah gaya.


Tepat pada jam makan siang, Rahma datang membawa buah untuk semua orang. Sepertinya dia tahu Kakak tidak akan mau menyentuh kalau dia membawa makanan bergula atau berminyak. Aku hanya melihat dari jauh ketika dia berusaha keras untuk menarik perhatian Kakak.


“Untukmu,” kata Gino yang memberikan kotak makan siang untukku.


“Terima kasih.” Aku menerimanya dengan senang hati.


Pria baik hati itu duduk di sisiku. “Aku harap kamu betah bekerja dengan Jericho.”

__ADS_1


“Sangat betah,” jawabku. “Semoga kamu juga.”


“Aku tidak akan menjadi asistennya selama tiga tahun terakhir kalau aku tidak betah.” Dia membuka kotak makanannya. “Sikapnya baik dan bayarannya bagus. Dia juga selalu mengajak aku ke luar kota bersamanya. Semua akomodasi ditanggung. Siapa yang tidak akan bersyukur punya bos seroyal itu? Kekurangannya hanya satu. Dia sangat disiplin dan cerewet.”


“Kamu sadar aku bisa saja mengadukan semua ini kepadanya, ‘kan?” godaku.


“Silakan saja. Dia tidak mungkin memecat aku hanya karena berkata jujur.”


Kami mengobrol dengan santai sambil menyantap makan siang. Berbeda dengan Kakak dan seluruh kru, makan siang kami ditanggung oleh Kak Jericho. Gino yang biasanya memesan lewat pesan antar. Dia tidak pernah bertanya apa yang aku mau, tetapi aku yakin, Kakak yang memberi tahu dia.


Aku tenang melihat Kakak mendapatkan asisten yang baik. Semoga saja akan terus begitu. Karena aku sering mendengar berita tidak sedap mengenai asisten atau manajer yang mengecewakan orang yang sudah bertahun-tahun dia layani.


Selama pemotretan masih berlangsung, baik Kakak maupun Bastian tidak bisa mengobrol denganku. Mereka harus selalu dekat dengan para staf. Aku dan Gino yang bisa datang mendekati mereka saat sedang istirahat. Namun aku memilih untuk tidak menginterupsi pekerjaan Kakak.


“Kita sepakat untuk tidak berada di dekat satu sama lain. Mengapa kamu selalu ada di mana aku ada?” Rahma berdiri di dekatku. “Jangan menyanggah. Aku tahu kamu hanya datang menemui Kak Jericho di mana aku juga akan datang.”


“Kamu sadar aku adalah asistennya, ‘kan? Aku hanya menuruti perintah. Bosku bilang datang, maka aku datang. Bosku bilang cukup kerjakan dari rumah, aku tetap di rumah.” Aku menatapnya dengan heran. Wow, aktingku oke juga.


“Ketika Kakak menolak kamu nanti, aku akan ada di sana, melihat harapanmu hancur,” balasku.


Dia tertawa kecil. “Kak Jericho tidak akan bisa menolak, Amarilis. Aku memegang kartu As yang tidak akan bisa dia kalahkan.” Dia menyeka rambut panjangnya dari bahu ke punggungnya, lalu kembali bergabung bersama para staf.


Kartu As? Huh. Jika benar dia punya hal sepenting itu, untuk apa dia menunggu begitu lama untuk menyatakan cinta? Dia pasti hanya menggertak aku. Kalau pun dia benar punya sesuatu yang bisa membuat dia mendapatkan Kakak, aku akan lakukan segalanya untuk mencegah hal itu terjadi.


“Akhirnya, selesai juga.” Bastian duduk di kursi di sebelahku. “Kamu pasti akan diantar Richo.”


“Aku punya kendaraan sendiri,” kataku, mengingatkan.


“Ah, iya. Kamu sudah mengatakan itu saat kita bertemu di kafe.” Dia mendekatkan dirinya. “Berapa gaji yang Richo berikan kepadamu sebagai asistennya? Aku mau membayar tiga kali lipat kalau kamu mau bekerja untukku.”

__ADS_1


“Maaf, kami sudah tanda tangan kontrak.” Aku melihat Gino mulai bersiap-siap, maka aku juga mengemasi barang bawaanku ke tas.


“Aku akan membayar penaltinya.” Dia belum menyerah.


“Itu akan mencoreng reputasiku kelak saat bekerja untuk yang lain. Orang-orang akan berpikir aku tidak setia kepada satu atasan demi uang. Tidak, terima kasih,” tolakku.


Dia tersenyum, lalu menatap aku dengan saksama. “Asisten Richo memang sangat setia kepadanya. Dia beruntung.” Dia tertawa kecil. “Kamu pasti berpikir aku punya rencana buruk mendekati kamu. Kamu tidak salah, tetapi bukan rencana terhadap kamu.”


“Kalau kamu punya dendam kepada Kak Jericho dan berniat untuk menggunakan aku, jawabanku tidak.” Aku berdiri. Kalau dia tahu hubungan kami yang sebenarnya, dia tidak akan memancing aku untuk mengkhianati kakakku sendiri.


“Aku tahu Nisa dan teman-temannya merundung kamu di sekolah,” katanya, mengejutkan aku. “Aku membenci dia karena menghina profesiku setiap kali kami menghadiri acara keluarga.”


“Bicara yang jelas. Aku tidak punya waktu melayani cowok rewel,” kataku, tidak sabar.


“Aku punya reputasi yang harus dijaga, jadi aku tidak bisa menyentuh dia.” Bastian menoleh dengan senyum penuh arti. “Kamu punya suami yang terpandang, pasti punya banyak koneksi yang bisa membantu andai kamu perlu jasa untuk menutupi skandal.”


“Heh, aku juga punya reputasi yang harus dijaga.” Aku tidak terima dia menyepelekan reputasiku.


“Kamu mau aku beri tahu cara untuk menjatuhkan dia atau tidak?” Dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. “Ini tawaran sekali seumur hidup. Kalau tidak mau, aku akan jaga jarak darimu.”


Aku menatapnya dengan saksama. Dia terlihat jujur dan cara bicaranya yang ramah sepertinya sudah menjadi kebiasaannya. Dia tidak melakukan itu hanya denganku. Jika benar dia mendekati aku untuk menjatuhkan Nisa, maka dia pasti punya sênjàta rahasia.


Dia adalah satu-satunya orang yang tidak aku ketahui kelemahannya. Apa mungkin ini caraku untuk bisa membalas perbuatan jahatnya terhadap aku dan Amarilis? Namun aku tidak sepenuhnya yakin Bastian berkata jujur. Bisa saja dia sedang menjebak aku.


“Apa rencanamu?” Aku memutuskan untuk mendengar dia dahulu.


“Apa kamu tahu kebiasaan buruknya selama sekolah?” Aku menggeleng pelan, karena aku memang tidak tahu apa pun sebagai Amarilis. “Dia akan bertemu dengan teman-temannya pada hari Kamis ini. Tunangannya sedang keluar kota, jadi dia pikir dia aman.


“Kamu datang saja dahulu untuk melihat situasi. Lalu silakan kamu pikirkan rencana apa yang terbaik untuk membalas perbuatannya kepadamu.” Dia berdiri. Aku sampai menengadah karena perbedaan tinggi kami yang mencolok. “Pikirkan baik-baik, lalu beri tahu aku apa jawabanmu.”

__ADS_1


“Mengapa kamu melakukan ini?” tanyaku penuh curiga. “Aku tidak percaya kamu mau menjatuhkan kerabatmu sendiri hanya karena hinaan. Kamu tidak sedang menjebak aku atau Theo?”


__ADS_2