Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
166|Salah Perhitungan


__ADS_3

Karena Bunda dan Mama tidak bersemangat, Ayah mengajak kami makan siang bersama di rumah makan kesukaan Bunda. Kami semua memilih makanan dengan antusias, sedangkan mereka hanya mengangguk saja setiap kali Ayah dan Papa memberi usul pilihan pesanan mereka.


Para pria menatap aku penuh tanya yang aku jawab dengan mengangkat kedua bahuku. Aku tidak mau memberi tahu mereka, lalu harus memberi penjelasan lagi. Biar itu menjadi bagian kedua ibuku. Lagi pula, itu hal yang seharusnya aku bahas dengan Theo, bukan papa atau saudaraku.


Keluargaku pulang, maka aku ikut keluarga Katelia ke rumah mereka. Mama mengalah supaya Theo tidak bingung kami harus bergantian tinggal di dua rumah yang berbeda. Kami sampai sekarang juga tidak tahu bagaimana menjelaskan alasan aku punya empat orang tua.


Bunda langsung naik ke lantai atas, tidak mengajak kami untuk duduk bersama di ruang keluarga. Melihat itu, Ayah mengikutinya, kedua kakakku melakukan apa yang mereka mau, sedangkan aku dan Theo lega bisa lepas sejenak dari keluargaku.


“Ada apa dengan Mama dan Bunda?” tanya Theo, ketika kami sudah di kamar.


“Mereka kecewa dugaan mereka salah.” Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berganti pakaian di kamar. Theo hanya berdiri menatap aku. “Apa yang kamu lakukan? Bersihkan dirimu dan ganti bajumu. Kita tidak akan ke mana-mana.”


“Dugaan mereka apa yang salah? Jawab pertanyaan itu jangan setengah-setengah.”


Aku tertawa kecil melihat dia dongkol begitu. “Mereka membangunkan aku untuk memeriksakan diri di kamar mandi. Mereka sudah menyediakan alat tes. Ternyata negatif. Mereka langsung sedih dan bertingkah begitu seharian.”


“Kamu tidak hamil?” tanyanya, terdengar kecewa.


Aku mendesah pelan. “Theo, kamu jangan ikut sedih begitu. Tidak semua pasangan beruntung bisa hamil dalam usaha pertama. Kita masih bisa mencoba lagi.”


“Kita harus pakai alat tes untuk tahu hari suburmu. Jadi, hal ini tidak terjadi lagi.” Dia berjalan ke kamar mandi dengan wajah kecewa. Aku hanya menahan senyum melihatnya.


Bisa santai di tempat tidur, aku membuka media sosial dan terkejut ada begitu banyak notifikasi permintaan pertemanan di akunku. Semuanya adalah teman-teman semasa sekolah. Ada juga beberapa senior yang aku tahu sering berpapasan denganku di kampus.


Huh. Aku yang dahulu jelek, mereka hindari, hina, sampai melihat pun tidak sudi. Begitu aku berubah dengan penampilan yang jauh lebih baik, mereka datang mendekat. Aku rasanya ingin membalas dengan mengabaikan mereka semua, tetapi aku membutuhkan mereka.


Jadi, aku menerima semua permintaan dari akun yang aku tahu satu sekolah dan kampus denganku. Selebihnya, aku abaikan. Aku tidak mau berurusan dengan penjahat di dunia daring. Apalagi aku sudah menikah. Untuk apa mengobrol dengan pria yang memakai foto cowok ganteng, tetapi tidak aku kenal? Suamiku jauh lebih tampan dari mereka.

__ADS_1


Yang Chika katakan tidak berlebihan. Orang-orang memang lebih heboh membahas aku dan Theo di akun mereka daripada pengantin. Gosip mengenai hubungan buruk antara aku dengan Keluarga Wibowo pun tertepis begitu saja. Mereka takjub melihat aku bisa akrab dengan keluarga Katelia.


Syukurlah, mereka tidak menduga hal yang aneh-aneh, hanya hubungan kami yang membaik. Satu dari ketiga mantan sahabatku itu tidak ada yang berkomentar. Sepertinya mereka serius dengan janji kami beberapa tahun yang lalu. Kami tidak lagi saling mencampuri urusan satu sama lain.


Ah, iya! Rahma dan Nisa tidak hadir dalam pernikahan Chika. Apa mereka tidak diundang? Memang mereka sudah lama tidak terlihat bersama. Rahma juga sudah lama tidak muncul di dekatku sejak aku tahu dia nyaris membuat aku dan Sonata gagal mengumpulkan tugas.


“Ada apa? Muka lo serius banget.” Aroma kolonye Theo memasuki penciumanku begitu dia duduk di sisiku. Aku mendekat dan mencium pipinya. Dia menatap aku sesaat, lalu mengusap kepalaku.


“Lihat. Ada banyak sekali foto kita kemarin saat menghadiri pernikahan dan resepsi.” Aku melihat ponselku bersamanya sambil menggulir layar. Postingan demi postingan hanya ada foto kami.


Aku dan Theo tidak berteman di media sosial. Entah mengapa tidak ada satu pun dari kami yang tertarik untuk mengajukan permintaan pertemanan. Mungkin karena kami sering bertemu dan tidak berhenti berbagi membuat kami lebih suka pertemuan di dunia nyata daripada daring.


Jadi, ini adalah satu-satunya cara baginya untuk bisa melihat postingan teman-temanku, terutama mereka yang mendadak menandai aku begitu akun kami jadi teman. Ada-ada saja. Hari libur begini ternyata banyak juga yang aktif memeriksa akunnya.


“Aku tidak menyangka permintaan Bunda dan Mama membawa keuntungan tersendiri,” ucapku puas. “Aku tidak perlu susah payah untuk membuat Chika sengsara. Cara ini sangat efektif.”


Aku tertegun sejenak, lalu menoleh ke arahnya. “Kamu bercanda, ‘kan?” Aku tertawa kecil.


“Gue serius.” Tidak ada senyum atau ekspresi pada wajahnya. “Membuat hotel mereka bangkrut sangat gampang. Gue tinggal munculkan satu isu dan tamu tidak akan datang lagi ke sana.”


“Ng, sebaiknya tidak. Masalahku dengan Chika, bukan papanya.” Aku menolak. “Ah, lihat! Ada video.” Aku menyentuh tombol Play pada video itu dan menontonnya.


Foto kami yang berjalan memasuki gereja atau aula, duduk bersama di kedua lokasi itu, tidak ada apa-apanya dibandingkan video tersebut. Kami bersama keluargaku berjalan masuk layaknya barisan prosesi pada kedua acara itu.


Walau aku sempat kecewa pernikahan kami berlangsung sangat singkat, melihat video itu sudah cukup menghibur. Kami seolah diantar oleh keluarga kami untuk menikah disaksikan oleh banyak orang. Hanya tinggal satu hal lagi, keluarga Theo. Andai mereka ada, maka video itu sempurna.


Aku semakin mengerti rasa amarah Chika melihatnya. Seharusnya postingan yang mendominasi akun media sosial teman-teman kami adalah dia dan Pak Norman. Namun yang terjadi di luar dugaannya. Salah dia sendiri. Mengapa mengundang aku dan Theo pada hari terakhir?

__ADS_1


Kalau dia tidak berniat pamer, mungkin dialah yang jadi bintang di media sosial selama beberapa waktu ke depan. Aku tidak akan datang pada acara itu, karena hanya Keluarga Wibowo yang dapat undangan, bukan Andriyana. Namun berkat undangan darinya, kami diizinkan masuk gereja dan aula.


“Lo? Apa ini?” Ada sebuah postingan yang menandai akun Meghan. Aku menyentuh tautan yang mengarah pada sebuah situs yang berisi sebuah video. Aku ragu-ragu menekan tombol Play, tetapi memilih untuk memainkannya. Situs berita, jadi videonya pasti aman.


Aku menarik napas terkejut melihat pemandangan yang mengawali video tersebut. Penthouse Keluarga Willis. Kami semua sedang berdiri di ruang depan, sepertinya saat Om Azarya pamit untuk pulang. Kami berjalan menuju pintu, sedangkan Clara mengeluarkan sesuatu dari balik sofa.


“Riwayat mereka tamat,” gumam Theo. “Perempuan itu tidak akan bisa menghindari hukum dengan adanya rekaman itu. Mereka pasti sedang sibuk bertemu dengan pemegang saham perusahaan mereka. Aku tahu dari Matt bahwa satu skandal kecil saja bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk menjelaskan duduk persoalan itu kepada orang-orang penting di perusahaan.”


Video itu menunjukkan dengan jelas kejadian saat Clara menodongkan senjata kepada Om Azarya dan Tante Ruth. Dia juga tidak ragu-ragu melepaskan têmbàkan kepada pasangan suami istri itu. Aku ikut berdebar-debar ketika aku menangkap tangannya dan mengarahkan ke atas.


Melihat rekaman itu dengan mengalaminya langsung ternyata memberi sensasi yang berbeda. Aku dapat keberanian dari mana sehingga nekat mendekati orang yang berbahaya? Salah langkah sedikit saja, salah perhitungan sedetik saja, maka aku sudah tiada pada hari itu.


“Ada apa, Amarilis? Kenapa badan lo gemetar?” tanya Theo khawatir. Dia merangkul bahuku. “Hei, lo enggak apa-apa?”


Aku menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa. Hanya terkejut aku bisa senekat itu.”


“Makanya gue menghukum lo. Berani benar lo berniat membuat gue jadi duda secepat itu.” Dia mengusap-usap lenganku. “Lupakan saja. Yang penting kita semua sudah lolos dari maut.”


Dia memeluk aku, maka aku membiarkan kehangatannya menenangkan aku. Mengerikan sekali. Apa salah Om Azarya sehingga dia mau mengakhiri hidupnya? Perempuan yang bodoh. Kehilangan posisi justru membuat dia rela kehilangan segalanya asal bisa melenyapkan penghalangnya.


“Kak, jangan bodoh!” Terdengar teriakan Kak Jericho dari depan pintu. “Kak, bukan begini caranya.”


Aku dan Theo saling bertukar pandang. Aku yang pertama melepaskan pelukan, lalu keluar dari kamar. Kak Jericho menuruni tangga menyusul Kak Nolan yang berjalan cepat menuju pintu. Aku terkejut melihat koper kecil yang diseretnya. Mau ke mana dia?



[Yes! Sepertinya kita akan jalan-jalan lagi, Theo!]

__ADS_1


__ADS_2