Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
153|Bertanggung Jawab


__ADS_3

“Mereka teman satu kampus saat Papa melanjutkan studi di sini. Pak Gordon bahkan berutang budi kepada Papa. Jika dia tahu putrinya sudah membuat keluarga kami susah, aku yakin dia akan marah besar,” kata Matt dengan serius.


“Gordon tidak mungkin tidak tahu kalau benar Hillary yang menyebabkan kematian sopir Theo dan kecelakaan yang pria itu alami.” Antonio menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


“Kamu sendiri yang bilang, mereka keluarga paling berbahaya di kota ini. Apa pengawalnya berani buka mulut mengenai perbuatan putrinya?” tanya Matt retorik.


“Apa itu artinya Hillary kebal hukum dan akan dibebaskan?” Aku memandang mereka berdua secara bergantian. Antonio bergeming, sedangkan Matt hanya diam.


“Kalian sudah siap untuk pulang?” tanya Antonio mengalihkan topik.


“Aku sudah.” Matt melirik aku. “Mereka hanya sibuk buat anak.”


“Matt!!” seruku terkejut atas keterusterangannya. Mereka hanya tertawa. “Ngomong-ngomong, bagaimana kamu dan Antonio bisa saling mengenal?”


Setahuku, hanya aku dan Theo yang bertemu dengan Antonio. Kami cukup lama tidak berpapasan lagi sampai beberapa bulan lalu saat Theo tidak juga kembali. Aku tidak berkomunikasi dengannya, tetapi dia mengenal aku lewat berita yang viral di televisi.


Theo tidak mungkin berhubungan dengannya, apalagi menurut pengakuannya, namanya sendiri pun dia tidak ingat. Dia terpaksa menerima semua ini karena semua bukti mendukung pernyataan orang tua dan adiknya. Mereka punya foto, sertifikat, dan segalanya yang menunjukkan dia adalah Theo.


“Aku tidak mengenal Matt. Theo yang menghubungi aku. Katanya, ponselnya mengingatkan dia agar menghubungi aku mengenai Las Vegas. Dia mencari namaku pada daftar kontak dan kami pun bicara. Dia butuh waktu lama untuk mencerna informasi itu, terutama mengenai kamu.” Antonio tersenyum sedih. “Aku turut bersimpati, Nak. Walau kalian bersama lagi, pasti sulit bagimu menjalani semua ini.


“Percayalah. Dia juga mengalami hal yang sama. Karena dia belum datang, maka aku yang mendaftar pernikahan kalian pada tanggal di mana keluargamu sudah pulang. Matt menyarankan untuk tidak lama-lama berada di sini mengingat kondisi ingatan kakaknya.


“Kalian tidak langsung pulang, karena akta perkawinan kalian harus dilegalkan di KBRI dahulu, baru kalian bisa mengurus akta perkawinan di Disdukcapil di mana Theo terdaftar. Hebat, bukan? Walau kalian menikah di sini, pernikahan kalian sah di mata hukum.”


“Karena itu,” timpal Matt, “Las Vegas menjadi alternatif untuk kawin lari terbaik. Syarat tidak sulit, biayanya juga sedikit. Jauh lebih mahal mengadakan pernikahan normal.”


“Aku sudah membaca informasinya. Sertifikat dari sini hanya berlaku untuk satu tahun,” ejekku. “Apa kalian tidak tahu Om Azarya bisa menghalangi pembuatan akta kawin kami di Indonesia?”


Mereka berdua tertegun, tampak sedang sibuk memikirkan kalimatku itu. Kemudian mata mereka membulat dan mulut mereka menganga. Aku sudah menduga mereka tidak berpikir sampai ke sana. Yang mereka pikirkan hanya efek jangka pendek.


“Jika satu tahun terlewati dan akta kawin kami tidak juga diterbitkan, pernikahan kami dianggap tidak sah. Theo bisa menikah dengan wanita mana pun pilihan orang tuanya, lalu bagaimana dengan aku? Dia tidak punya perasaan apa pun denganku, bisa saja sampai satu tahun berlalu, perasaannya masih sama. Jika aku melahirkan seorang anak, aku tidak bisa menuntut dia bertanggung jawab.

__ADS_1


“Aku sudah rusak di mata masyarakat, sedangkan Theo masih bisa melenggang pergi dengan santai. Itu sebabnya, menikah tanpa restu orang tua bukanlah jawaban. Seandainya saja kami menikah di gereja di mana kami terdaftar sebagai jemaat, semua ini tidak akan terjadi. Namun bagaimana kami bisa menikah di rumah Tuhan kalau tidak ada surat izin dari orang tua?” Aku tersenyum sedih.


“Mengapa aku tidak berpikir sampai ke situ?” gumam Matt.


“Hukum di negara kalian ternyata lebih rumit, ya?” Antonio memegang tanganku. “Aku yang akan bertanggung jawab atas semua ini. Aku yang memberi ide itu kepada Theo, maka aku tidak akan tidur sampai pernikahan kalian legal.”


“Terima kasih, Antonio, tetapi kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa—” kataku, menenangkannya.


“Lepaskan tangan lancangmu itu dari istriku!!” Suara yang menggelegar itu membuat kami terlompat dari tempat duduk. “Ada tempat di sisi Matt, mengapa kamu duduk serapat itu dengan istriku!?”


“Theo, lo ini apa-apaan?” ucap Matt dengan suara tertahan. “Lo buat kita jadi pusat perhatian.”


“Lo diam. Kita akan selesaikan urusan ini nanti. Bukannya menjaga kakak ipar lo, malah diam saja dia dipegang-pegang begitu.” Matanya memerah menatap adiknya.


Antonio tertawa kecil ketika dia berdiri dan pindah duduk di samping Matt. “Kendalikan dirimu, Theo. Tidak ada yang akan berani mengambil istrimu dari sisimu,” godanya.


“Zaman sekarang sudah banyak teman makan teman. Kamu tidak perlu memberi aku nasihat usang itu. Aku bisa mengendalikan diriku.” Theo duduk di sisiku, melingkarkan tangannya di pinggangku, lalu menarik aku sampai tubuh kami menempel.


“Kalau lo tetap di kamar, gue enggak akan senewen begini.” Dia membungkam mulutku dengan ciúmannya ketika aku akan membalas. “Jangan bicara lagi.”


“Theo, dia sudah aku anggap seperti cucuku sendiri. Aku tidak akan diam kalau kamu menyakitinya,” ucap Antonio dengan nada serius. Wajahku rasanya terbakar karena dia dan Matt menyaksikan ciúman kami itu.


“Aku tidak akan menyakitinya, Kakek Tua. Milikku akan aku jaga dengan baik.” balas Theo. “Apa dia baru mengadu, makanya kamu memegang tangannya tadi?”


“Kami sedang membicarakan legalitas pernikahan kalian,” jawab Antonio dengan jujur.


“Oh. Jangan khawatirkan itu. Aku yang akan mengurus semuanya. Kalau Papa berani macam-macam, aku yang akan hadapi.” Seorang pelayan datang, meletakkan sepiring burito dan tacos di depan Theo. Dia mengucapkan terima kasih. “Dia merasa bersalah putri sahabatnya berusaha untuk menghabisi aku. Situasi itu bisa aku manfaatkan nanti.”


“Kalian tidak takut terhadap Gordon?” tanya Antonio terkejut.


“Kami tidak bersalah, mengapa kami yang takut?” Theo mengangkat dagunya.

__ADS_1


Aku hanya diam mendengarkan mereka bicara tentang banyak hal secara acak, termasuk mengenai restoran mereka yang masih membutuhkan perhatian. Theo belum bisa bekerja, sedangkan Matt harus menggantikan kakaknya sampai pulih dalam mendampingi ayah mereka.


Kondisi kesehatan Theo memang memperumit segalanya. Setiap rencana berubah, termasuk semua yang sudah aku susun untuk diriku sendiri. Aku tidak tahu kami akan tinggal di mana ketika kembali ke Indonesia. Aku juga pusing memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan pernikahanku ini kepada keluargaku. Membayangkan respons mereka, aku tidak sanggup.


Bunda pasti marah besar dan protes tiada habisnya karena tidak menyaksikan aku menikah. Mama mungkin hanya bisa diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Kak Nolan dan Kak Jericho, oh, Tuhan, aku bisa diceramahi selama tujuh hari tujuh malam. Hercules pasti tertawa mengejek. Para ayah? Aku hanya bisa berharap mereka tidak mengakhiri hidup Theo.


“Ada apa?” Theo datang dari belakangku, ketika aku sedang melihat pemandangan dari jendela kamar. “Lo masih memikirkan tentang legalitas pernikahan kita?”


“Kita akan tinggal di mana saat pulang nanti?”


“Di rumah keluarga gue.” Dia meletakkan kedua tangannya di bingkai jendela, mengurung tubuhku. “Kalau ortu gue tidak mau menerima lo,” dia mencium pundakku, “kita cari apartemen.”


“Kamu sudah berbulan-bulan tidak bekerja. Apa kamu masih punya uang?” tanyaku khawatir.


“Ah, iya. Ada orang yang harus gue kirimi uang sampai dia lulus studi. Padahal gue enggak ingat sudah berjanji akan mendukung biaya kuliahnya yang sangat mahal,” sindirnya.


“Aku tidak pernah—” kataku, membela diri.


“Gue enggak akan menikahi lo, kalau gue enggak sanggup beri lo hidup yang layak. Jadi, lo jangan khawatir soal tempat tinggal atau makanan.” Dia memeluk tubuhku. “Lo cukup jadi istri yang baik.”


Kami mengemasi pakaian kami dan menyusunnya di koper. Baju yang tidak diperlukan, kami satukan di sebuah kardus untuk disumbangkan. Buku-buku terpaksa kami tinggal dan Meghan yang akan mengurusnya. Kami tidak peduli dia akan menjual atau menyumbangkannya.


Kami menghindari membayar kelebihan bagasi, maka kami hanya membawa barang yang ingin kami pertahankan saja. Semua hadiah dari Antonio dan Meghan aku bawa pulang, termasuk gaun hadiah Natal yang menjadi gaun pengantinku.


Selesai mengurus beberapa hal, kami memutuskan untuk istirahat dan melanjutkannya pada hari berikutnya. Aku mandi dahulu, lalu giliran Theo. Dia masih belajar memasak dengan benar. Walau rasa masakannya tidak seenak sebelumnya, aku dan Matt tidak mengeluh.


Mendengar pintu apartemen diketuk, aku meletakkan piring yang aku pegang, lalu menoleh ke kamar. Theo dan Matt ada di sini. Pengawal hanya mengetuk satu kali dan langsung masuk, tetapi ketukan ini berbeda. Mengapa tamu tidak menekan bel dari pintu lobi? Aku mendekat dan memeriksa siapa yang datang lewat lubang pintu.


Jantungku berdebar dengan cepat dan mendadak kesulitan menelan ludahku sendiri. Mengapa mereka datang ke sini tanpa pemberitahuan? Aku kembali melihat ke arah pintu kamar. Mengapa mereka berdua mandinya lama sekali?


Ya, sudahlah. Aku hadapi saja. Aku meletakkan tanganku pada kenop pintu. Melihat tangan kiriku itu bergetar, aku memegangnya dengan tangan kananku dan memutarnya. Aku membuka pintu dan kami pun bertemu pandang. Mereka membulatkan mata begitu mengenali aku.

__ADS_1


__ADS_2