
~Altheo~
Aku sangat ketakutan ketika dia mengatakan kalimat itu. Namun aku berusaha untuk bersikap tenang. Anak itu tidak boleh pergi selamanya. Karena aku tidak hanya akan kehilangan dia, tetapi juga istriku andai sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
Syukurlah, dokter mengatakan dia baik-baik saja. Aku sampai menahan napas, khawatir hal buruk benar-benar terjadi terhadap si kecil. Walau belum bertemu, kami sangat menyayanginya. Aku bahkan menjaga istriku sebaik mungkin demi melindungi buah hati kami.
Karena itu, jiwaku serasa mau pergi dari ragaku saat dia menyebut kata cerai. Apa belum cukup kejadian pagi tadi menggoncang aku sehingga dia harus membahas poin yang satu itu dari surat perjanjian pranikah kami? Ada begitu banyak poin, mengapa dia harus memilih bagian pisah?
Bagian itu harus ada dalam perjanjian, bukan karena aku berniat untuk mengakhiri pernikahan kami suatu hari nanti. Bisa saja aku hilang ingatan lagi atau apalah yang membuat hatiku berubah dan perkawinan kami berakhir. Poin itu untuk melindungi dia dari kemiskinan dan kelaparan.
Walau dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku, satu sisi hatiku tidak percaya kepadanya. Tidak apa-apa. Bila dia nekat pergi, aku bisa menyeret dia kembali. Kalau perlu, aku akan mengikat dia selamanya supaya tidak bisa lari lagi.
Dia terkejut mendapati koper lain sudah siap sedia di kamar kami. Akhirnya, dia tahu juga tentang rencanaku. Keluar dari kamar mandi, aku tidak terkejut melihat dia duduk menunggu. Dia pasti mau membahas mengenai kepergianku. Hal yang sengaja aku simpan sampai hari ini.
“Gue mendapat panggilan untuk memberi kesaksian pada persidangan Hillary. Kebetulan Antonio dan Meghan kembali besok, maka gue sekalian ikut dengan mereka.” Aku menjawab pertanyaannya.
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Bagian tubuhnya yang semakin hari semakin membuat aku tidak fokus. Aku menelan ludah dengan berat. “Aku ada di tempat kejadian. Mengapa aku tidak dipanggil untuk bersaksi juga?” tanyanya curiga.
“Gue saja sudah cukup. Mereka tidak mungkin meminta kesaksian juga dari lo, Matt, dan seluruh pengawal kita.” Aku memasuki ruang pakaian untuk memakai piyama. “Mana mungkin pengadilan mau membayar tiket kita semua. Lagi pula ada pejalan kaki yang juga bisa dimintai kesaksiannya.”
“Aku ikut. Kalau tidak, kamu tidak boleh pergi. Biar saja pejalan kaki atau petugas apartemen yang memberi kesaksian,” katanya.
“Korban utamanya harus hadir, Kat,” ucapku, menjelaskan. Aku meninggalkan ruangan itu setelah mengenakan bajuku. “Lo akan sangat kelelahan jika ikut pergi ke sana besok. Apa lo lupa dengan kandungan lo? Perjalanan itu terlalu jauh untuk lo dan bayi kita.”
__ADS_1
“Aku akan baik-baik saja. Apanya yang melelahkan? Aku bisa tidur selama penerbangan. Pokoknya, aku harus ikut atau kamu tidak bisa pergi,” ancamnya.
Menyadari dia sudah membulatkan tekad, aku tidak akan bisa mengubah pendiriannya itu. Mama meyakinkan aku bahwa dia akan baik-baik saja. Lebih baik dia pergi daripada tidak ikut dan jatuh sakit karena sedih memikirkan aku. Dokter kandungannya memberi surat keterangan untuk jaga-jaga andai ada yang menanyakan hal itu saat kami akan terbang ke sana atau pulang nanti.
Dia kelihatan begitu bahagia selama kami berada dalam perjalanan, juga penerbangan. Mungkin Mama benar, begini lebih baik. Dia juga menepati ucapannya dengan tidur selama berada di dalam pesawat. Meghan hanya tertawa kecil melihat aku mengkhawatirkan istriku.
Yang membuat aku berat membawanya serta adalah dia juga akan dibutuhkan pada saat sidang Clara. Aku mau dia berangkat bersama keluargaku, bukan denganku. Jadi, dia punya waktu untuk beristirahat usai perjalanan bulan madu kami. Namun dia sudah menangis setiap kali aku mencoba untuk memberi tahu dia mengenai rencana itu.
“Terima kasih sudah menemani aku jalan-jalan, Amarilis. Indonesia sangat indah!” Meghan memeluk sahabatnya itu saat kami akan berpisah di bandara. Dia dijemput oleh sopirnya.
“Sama-sama, Meghan.” Amarilis mendekati aku saat wanita itu berjalan menuju mobilnya.
Kami pulang ke rumah Antonio. Pria itu tidak membiarkan kami menyewa sebuah apartemen atau tinggal di kamar hotel. Karena kalah berdebat dengannya, kami pun mengalah. Kami tidak pergi ke mana-mana selama akhir pekan, melainkan fokus memulihkan jet lag.
Pada hari Senin, mobil patroli sudah menunggu aku di depan pekarangan rumah Antonio. Aku tidak menduga akan diperlakukan seperti ini. Amarilis jadi khawatir sehingga aku harus meyakinkan dia bahwa aku akan baik-baik saja. Dia yang semula setuju untuk menunggu di rumah, memaksa untuk ikut. Aku menoleh ke arah Antonio. Dia memahami maksudku dan menahan istriku.
“Jangan begini, Amarilis. Gue pasti pulang dengan selamat.” Aku membelai pipinya.
Air mata sudah membasahi wajahnya. “Bagaimana aku tidak khawatir? Kamu akan bersaksi melawan perempuan jahat yang nyaris mencabut nyawamu. Pengadilan sampai mengirim polisi untukmu, maka ini hal yang serius, Theo.”
“Mereka hanya mengawal gue mengikuti prosedur, sayang.” Aku melepaskan kaitan jemarinya pada tanganku. “Biarkan aku pergi, Amarilis. Ini hanya sebentar. Dalam sekejap, aku pasti pulang.”
“Kamu harus pulang. Jika terjadi sesuatu kepadamu, lihat saja. Aku akan menyusul kamu,” ancamnya.
__ADS_1
Meski aku bersikap tenang, jantungku berdebar dengan cepat begitu mobil bergerak. Perjalanan menuju pengadilan cukup jauh, tetapi lalu lintas lancar. Mataku awas melihat keadaan di sekitarku walau pandanganku tetap ke arah depan mobil.
Perasaanku sedikit tenang ketika kami tiba di pengadilan. Petugas menerima kedatanganku, lalu membawa aku ke ruang tunggu. Sudah ada beberapa orang juga yang menunggu di ruangan itu. Begitu pengadilan akan digelar, aku diminta untuk memasuki ruang persidangan.
Aku mendapat giliran kedua setelah kesaksian seorang yang kebetulan melintas di trotoar pada hari kejadian. Dia tidak sengaja terkena pélúru menyasar yang dilepaskan Hillary. Walau dia selamat, dia kehilangan satu ginjalnya yang terkena tèmbàkan itu.
Semua orang yang ada di ruang sidang mengamati aku dengan saksama sejak duduk di kursi saksi. Namun aku fokus kepada kuasa hukum terdakwa dan penuntut umum. Aku menjawab pertanyaan yang mereka ajukan dengan singkat dan jelas, tanpa bertele-tele. Aku mau hal ini segera selesai. Lagi pula, Amarilis pasti khawatir kepadaku.
“Terima kasih sudah datang, Pak Husada. Perjalanan Anda sangat jauh, jadi kami sangat menghargai kedatangan Anda,” ucap salah satu penuntut yang mengantar aku keluar ruangan.
“Terima kasih kembali.” Aku menerima uluran tangannya dan menjabatnya sesaat. “Semoga aku cukup membantu jalannya sidang dengan kesaksianku.”
“Sangat membantu. Anda justru saksi kunci dari sidang ini. Tanpa Anda, kami tidak bisa menuntut terdakwa dengan hukuman maksimal.” Dia melirik ke arah pintu ruang sidang. “Saya harus kembali ke dalam. Sekali lagi, terima kasih, Pak.”
Aku menganggukkan kepalaku dan melihat dia sampai pintu memisahkan kami. Petugas polisi yang bertugas menjaga aku menunjuk ke arah pintu keluar. Aku menuruti mereka. Sopir Antonio sudah menunggu di depan pintu, jadi aku langsung masuk ke mobil.
Mobil patroli bergerak terlebih dahulu, baru kami menyusul. Mereka hanya mengawal kami, tidak membunyikan sirene untuk menyingkirkan pengguna jalan yang lain. Lalu lintas masih lancar, karena belum waktunya makan siang. Untungnya, sekolah dan kampus masih liburan musim panas atau jalanan pasti ramai saat ini.
Bunyi yang sangat keras menarik perhatianku diikuti dengan bunyi têmbàkan beruntun pada mobil di depanku. Mobil yang aku tumpangi pun berhenti mendadak, mengempaskan tubuhku dengan hebat ke depan, lalu menubruk jok dengan keras.
Jantungku berdebar dengan kencang dan aku merasakan seluruh tubuhku gemetar. Aku sanggup mengalahkan orang sebesar dan sekuat apa pun dengan kemampuan bela diriku. Setidaknya, sampai bantuan datang. Namun sênjäta àpi adalah kelemahanku.
Keadaan di sekelilingku berubah kacau. Mobil-mobil membunyikan klakson memaksa barisan paling depan untuk terus bergerak. Pengguna trotoar berteriak panik, menjauh dari hujan têmbàkan. Aku melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan di tengah séràngan pêlúru itu, tiarap.
__ADS_1