
“Theo, lihat siapa yang datang.” Pintu kamarku dibuka dan wanita yang mengaku sebagai ibuku itu masuk diikuti oleh seorang wanita yang sangat cantik.
Perempuan yang sepertinya sebaya denganku itu menarik napas terkejut. Dia membulatkan mata melihat perban pada kepalaku, memar yang mulai pulih pada wajahku, lalu selimut yang menutupi bagian tubuhku yang lain. Ekspresi terkejut itu berubah kasihan.
Aku sangat membenci ekspresi itu, karena melihatnya setiap hari pada wajah orang yang masuk ke kamar ini. Mereka yang mengaku keluargaku dan para tenaga medis. Padahal aku tidak perlu mereka kasihani. Aku pasti sembuh dan pulih seperti sedia kala.
“Gu-gue,” ucap perempuan itu pelan.
“Tidak apa-apa. Kamu bisa mendekat. Walau dia tidak bisa mengingat, dia tidak akan menyakiti kamu.” Mama mengajak wanita itu berdiri di sisinya.
“Ma-maaf.” Dia malah membalikkan badannya dan keluar dari kamar.
“Venny!” panggil Mama yang segera mengikutinya.
Aku kembali menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan mata. Rasanya baru sebentar, pintu diketuk dan dibuka. Kapan aku bisa beristirahat bila mereka terus keluar masuk ke kamar? Seorang pria mengikuti Papa melewati ambang pintu disusul seorang wanita.
“Berkat doa kalian juga, Theo akhirnya bangun.” Papa berdiri di sisi ranjangku, sedangkan kedua orang itu mengamati aku.
“Syukurlah, dia sudah bangun.” Wanita itu memegang tangan suaminya, lalu menatapnya penuh haru. “Putri kita pasti senang tunangannya sudah bangun.”
“Iya, Ma.” Pria itu menepuk-nepuk tangan istrinya. “Apa kata dokter mengenai keadaannya?”
“Semua organ dalamnya baik, gegar otaknya masih pemulihan, begitu juga kondisi tangan dan kaki kirinya. Dia akan mulai fisioterapi agar bisa berjalan dan menggunakan tangan kirinya seperti sedia kala.” Papa tersenyum kepadaku, lalu menoleh ke arah pasangan itu lagi.
Mata mereka berubah terkejut sebelum menatap aku dengan rasa kasihan. “Maksudmu, dia cacat?” tanya wanita itu dengan nada khawatir.
“Tidak. Dokter bilang dia akan pulih jika fisioterapi dengan teratur,” ralat Papa.
“Gu-gue ….” Perempuan tadi kembali. Mama menyusulnya.
__ADS_1
“Nak? Ada apa?” tanya wanita yang tidak akau kenal itu.
“Pa, Ma, gue enggak mau jahat, tetapi gue enggak mau merawat dia. Kita tidak tahu sampai kapan dia dalam kondisi itu,” kata wanita muda itu.
“Apa maksudmu, Venny?” Pria itu terlihat gugup saat melirik Papa. “Jangan bicara begitu. Kamu tidak perlu merawatnya. Ada perawat pribadi yang akan melakukannya.”
Wanita itu menggeleng dengan cepat. “Tidak, Pa. Gue mau pertunangan ini diakhiri. Cari pria lain, Pa. Gue enggak mau menikah dengan laki-laki cacat. Apa Papa tidak lihat wajahnya? Mukanya penuh luka bekas pecahan kaca. Apa kata orang nanti?” Meski dia setengah berbisik, kami bisa mendengar semua kalimat itu dengan jelas.
“Ven, kamu—” tegur pria itu.
“Jangan dipaksa,” kata istrinya, memotong. “Kalau putri kita mau putus, maka kita harus menurut. Ini adalah pernikahannya, bukan kita. Masa kamu mau putri kita selamanya merawat orang cacat?”
“Apa maksudmu? Dokter berkata putraku akan pulih seperti sedia kala. Kalian tidak pernah datang saat dia masih koma. Lalu dia baru bangun dan kalian langsung minta putus?” tanya Mama tidak percaya. “Theo tidak cacat. Tubuhnya hanya sedang dalam masa pemulihan.”
“Apa bedanya, Ruth? Lagi pula, kamu bisa jamin dokter berkata jujur?” tantang wanita itu.
“Apa katamu?” kata Mama, tersinggung. Dia kemudian berubah sedih. “Kita sudah sepakat. Venny akan menikah dengan Theo pertengahan tahun depan. Kumohon, jangan batalkan semua rencana kita. Percayalah, Theo akan pulih. Dia tidak akan merepotkan siapa pun.”
Namun dia tidak mau menerimanya. Wanita itu mendekati tempat tidur dan menaruh benda itu di atas kasur dekat kakiku. Dia mundur dan berdiri di belakang papanya. Wanita yang sangat cantik. Sayangnya, kecantikan itu pudar begitu kata cacat keluar dari mulutnya.
“Aku tidak percaya kamu melakukan ini kepadaku,” ucap Mama lirih kepada temannya.
“Kamu juga akan melakukan hal yang sama jika keadaannya berbalik. Aku tidak percaya kamu akan menerima putriku dengan tangan terbuka bila dia jadi cacat,” tuduh wanita itu tanpa hati.
Mama menarik napas terkejut. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia tidak mengatakan apa pun lagi untuk membalas kalimat wanita itu. Sepertinya mereka kenal lama atau berteman baik, karena hanya itu alasan seorang wanita terhormat dan terpandang mau memohon.
“Kalian tidak serius, ‘kan?” tanya Papa yang dari tadi hanya diam. Mama mendekat dan berdiri di sisinya. “Ini adalah keputusan besar, tidak bisa ditarik kembali.”
Ayah wanita itu mendesah pelan. “Maafkan aku, Azarya. Venny sudah memutuskan, jadi kami harus menghargai apa pun keputusannya.”
__ADS_1
“Baik.” Papa mengangguk setuju. “Biar aku yang mengumumkan putusnya hubungan mereka.”
Kedua suami istri itu saling bertukar pandang. Mereka tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Keduanya entah memikirkan apa, tetapi mereka melihat putri mereka dan menggeleng pelan. Wanita itu bergeming, juga hanya diam.
“Mengenai itu, kami bersedia menunggu sampai waktunya tepat. Mereka baru saja bertunangan, tidak baik mengakhirinya secepat ini.” Pria itu melirik aku. “Mereka akan jadi bulan-bulanan media, terutama Theo. Kita tunggu sampai berita mengenai pertunangan mereka tidak hangat lagi.”
“Kamu benar.” Papa melihat aku dengan sedih sebelum kembali menatap temannya. “Terima kasih. Aku sangat menyayangkan hubungan kita berakhir begini.”
Walau aku tidak mengatakan apa pun dan hanya menyaksikan kelimanya berinteraksi terhadap satu sama lain, aku tidak bisa melupakannya. Cara Venny menatap aku dan menyebut aku cacat. Cara kedua orang tuanya yang mengasihani aku. Juga tangisan pilu Mama ketika mereka meninggalkan kami bertiga saja di kamar.
Aku memang tidak mengingat apa pun, bahkan nama dan identitasku sendiri. Namun dadaku nyeri mendengar tangisan menyayat hati dari wanita yang mengaku sebagai ibuku itu. Masa di mana dia butuh dukungan seorang sahabat, malah menghadapi kenyataan pahit hancurnya sebuah hubungan.
Pada hari itu aku sudah berjanji di dalam hati. Meski aku tidak ingat siapa mereka, aku tidak mau punya urusan lagi dengan ketiganya. Aku lebih baik mengemis di jalanan andai saja kami jatuh miskin daripada meminta pertolongan mereka sampai kapan pun.
“Kejadian tahun lalu itu masih membekas segar di kepalaku.” Aku melihat pria itu menelan ludah dengan berat. “Orang tuaku mau memaafkan dan menerima kalian lagi, aku tidak. Kalian menyebut namaku sebagai alasan menyembunyikan putusnya hubungan kami, sungguh keterlaluan.
“Padahal Anda meminta pengumuman ditunda karena tidak mau publik tahu kalian sudah berbuat kejam. Kalau media tahu pertunangan kami putus, mereka juga akan tahu kondisiku. Kalian pasti malu kalau ketahuan membuang aku yang sedang berbaring tak berdaya di rumah sakit. Iya, ‘kan?
“Enak saja kalian datang lagi ketika aku sudah pulih sepenuhnya, lalu bersikap seolah peristiwa pada hari itu tidak pernah terjadi. Bila malam ini aku kecelakaan dan koma, apa kalian akan campakkan aku lagi?” Melihat mereka hanya diam, aku melirik cincin pertunangan di jari Venny. “Kalian boleh ambil benda itu sebagai kenangan, tetapi hanya itu. Beri tahu putri Anda, jauhi aku.”
“Theo, dengarkan dahulu—” kata Venny lagi, masih berusaha untuk menarik perhatianku.
“Berhenti menggiring opini publik dengan menyebarkan gosip tidak benar tentang istriku. Dia tidak sekaya kalian, tetapi dia wanita yang terhormat. Apa kalian pikir aku tidak tahu kalian pelakunya? Hentikan atau aku akan bongkar kejadian putri Anda memutuskan pertunangan kami saat aku masih tergeletak sakit.” Aku berdiri. “Aku tidak akan mengganggu Anda lebih lama. Permisi.”
“Theo!” Venny ikut berdiri, tetapi aku mengabaikannya.
“Venny, duduk,” perintah pria itu ketika aku berjalan mendekati pintu.
“Tetapi, Pa,” tolak putrinya. Aku tidak melihat apa yang selanjutnya terjadi, karena aku sudah di luar dan menutup pintu itu kembali.
__ADS_1
Urusanku dengan mereka sudah selesai, maka tinggal satu pasangan terakhir. Namun aku tidak akan melakukan hal itu sekarang. Aku tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka supaya mereka tidak bisa lagi menolak Amarilis sebagai istriku.