
“Theo, apa-apaan ini?” protes Amarilis ketika aku menarik tangannya untuk mengikuti aku ke bagian belakang panggung. “Kalau kamu marah tentang pakaian ini, aku tidak mau dengar. Baju yang kamu pilih itu jelek semua. Apa kamu pikir aku mau datang ke konser ini seperti badut?”
“Sini! Di sini!” seru Matt yang melambaikan tangannya kepada kami. Dia terlihat sangat tidak sabar.
Menyusahkan aku saja. Mengapa kejadian tidak terduga seperti ini tidak mereka prediksi, sih? Ini bukan konser pertama yang pernah mereka adakan. Masa mereka tidak mempersiapkan segala hal andai sesuatu yang buruk terjadi?
“Matt? Apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Amarilis berubah antusias. “Apakah kita mendapat kursi untuk melihat konsernya lebih dekat?”
“Apa lo benar-benar tidak bisa diam sebentar saja?” ucapku kesal.
Kami segera mendekati adikku. Dia melihat aku dengan tatapan penuh harap, lalu menoleh ke arah belakang kami. Aku memberi sinyal bahwa Amarilis adalah orang yang akan menolong dia dan rekan orkesnya untuk memulai pertunjukan musik mereka.
“Kok, Kak Amarilis?” ujar Matt kecewa sambil menatap aku dan Amarilis secara bergantian. “Kami butuh pemain biola, Theo.”
“Dia—” jawabku.
“Aku pemain biola,” kata Amarilis pada saat yang bersamaan.
Matt melihatnya dari kepala hingga kaki, lalu kembali memandang wajah Amarilis. “Gue tahu Kakak suka bercanda, tetapi yang ini tidak lucu, Kak.”
“Aku serius bisa main biola,” ucap Amarilis lagi. “Konser musik biasa begini aku juga pernah tampil.”
“Konser musik biasa? Ini orkestra, Kak,” kata Matt frustrasi. Dia menoleh ke arahku. “Gue butuh orang yang bisa mendampingi gue memainkan ‘Moonlight Sonata Third Movement’. Kalau bukan karena pemain biolanya akan terlambat datang, gue tidak akan panik begini.”
“Ka-kamu akan memainkan Moo-moonlight Sonata—” Amarilis tidak bisa menyelesaikan kalimatnya itu dan hanya bisa tercengang.
“Ya, sudah. Ganti saja urutan lagunya. Kalian orang seni ini suka sekali membuat susah hidup kalian dan orang lain,” keluhku.
Apa dia lupa aku tidak punya banyak teman? Aku hanya mengikuti les musik beberapa tahun saja dan tidak menggelutinya seperti dia. Mana ada lagi teman lesku yang masih aku kenal dekat? Hanya Amarilis satu-satunya orang yang aku tahu bisa bermain biola.
__ADS_1
“Orkestra ini tidak akan memuncak kalau urutan lagunya harus diubah lagi. Lo enggak akan mengerti. Ya, sudah. Gue coba tanya lagi teman-teman gue yang lain.” Dia mengangkat ponselnya, mencoba untuk menelepon orang lain yang bisa membantunya.
Amarilis memegang tangannya itu, menghalangi adikku meneruskan niatnya. “Beri aku lima menit untuk pemanasan. Aku akan dampingi kamu,” kata Amarilis dengan yakin.
“Kakak serius? ‘Third Movement’, lo, temponya presto agitato, bukan ‘Second Movement’, apalagi First yang allegro.” Matt menatap Amarilis penuh curiga.
“Aku yang seharusnya bertanya. Kalian serius memilih lagu itu pada penampilan pertama? Aku yakin pemain biola kalian gugup minta ampun sehingga dia sengaja terlambat datang,” kata Amarilis dengan tatapan curiga. Dia sepertinya paham Matt sedang bicara apa.
“Kami memilihnya untuk menyambut kedatangan para hadirin. Kalau diawali dengan lagu yang bertempo moderato atau andante, orang-orang akan mengantuk di awal.” Matt membela diri.
“Kamu ini banyak bicara.” Amarilis meraih tangan Matt sehingga adikku terbawa bersamanya. “Ayo, kita harus cepat supaya konser tidak batal.”
“Orkestra,” ralat Matt.
Walau sudah lama tidak bermain alat musik, aku tahu apa itu “Moonlight Sonata Third Movement”. Gubahan musik karya Beethoven yang sangat terkenal sekaligus sulit untuk dikuasai. Anehnya, orang lebih mengenal First dan Third, tetapi jarang yang mengetahui “Second Movement” dari judul itu.
Aku kembali ke aula dan duduk di kursiku. Tidak lama kemudian, Chika mengisi kursi kosong di sisiku itu. Yang benar saja. Aku sudah mengusirnya, dia malah datang lagi. Mama juga sudah jelas memberi tahu dia bahwa Matt akan keberatan kursi itu diambil oleh orang lain.
“Aku tidak mengusirnya, jadi berdiri dan kembalilah ke kursimu. Ketika urusannya sudah selesai, dia akan membutuhkan kursi ini,” kataku dengan tajam, lelah menghadapinya.
Dia merapatkan bibirnya, lalu berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Aku mendesah pelan. Apa yang tidak bisa dia pahami dari sikapku? Setelah aku berulang kali menolak, dia malah berpikir aku memancing dia untuk semakin memantapkan hubungan kami. Orang yang aneh.
“Ada apa, Nak? Ke mana Amarilis? Apa dia sedang ke kamar mandi?” tanya Mama bingung.
“Nanti juga Mama tahu.” Aku sengaja membiarkan dia penasaran.
Tepat pada pukul tujuh malam, pertunjukan musik pun dimulai. Semua pemain musik sudah bersiap di tempatnya masing-masing, termasuk Matt yang duduk di depan piano besar di sebelah kiri dirigen. Namun aku tidak menemukan Amarilis. Ternyata dia diperkenalkan khusus sebagai tamu.
Mungkin mereka tidak mau mengambil risiko andai dia bermain buruk. Wajar saja, dia bukan pemain biola klasik profesional. Mereka sudah berlatih berbulan-bulan, sedangkan Amarilis baru bergabung beberapa menit sebelum acara dimulai. Kualitasnya jelas jauh beda.
__ADS_1
Aku diam-diam merasa lega melihat pakaian yang dia kenakan. Untung saja dia membangkang aku pada hari ini, jadi penampilannya tidak memalukan. Atau aku akan malu sendiri akibat gaun yang sengaja aku pilih yang kurang cocok di badannya.
“Aku baru tahu Amarilis bisa bermain biola,” bisik Mama terkejut. “Apa yang terjadi? Apa teman Matt ada yang batal ikut?”
“Katanya, dia akan terlambat datang,” jawabku singkat.
“Lo? Matt sudah berangkat sejak siang tadi, mengapa mereka tidak curiga ada teman yang belum juga tiba sebelum konser dimulai?” tanya Mama heran. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
Bagaimana aku bisa menjawabnya? Ini bukan grupku. Aku juga heran mereka baru mengetahui hal itu beberapa menit sebelum konser dimulai. Seperti bukan orkestra profesional saja. Sekian kali menyaksikan Matt dan teman-temannya tampil, baru kali ini ada masalah sebesar ini.
Matt mulai bermain dan ruangan itu pun dipenuhi dengan gerakan cepat jemarinya menekan tuts demi tuts piano. Namun bukan dia yang membuat aku terperangah. Amarilis mengikuti gerakannya dengan kecepatan yang sama. Padahal ini lagu yang sulit jika jarang latihan.
Berbeda dengan Matt yang tidak memerlukan buku not, maka Amarilis membutuhkannya. Jadi, aku tidak heran melihat ada orang yang berdiri di sisinya, siap untuk mengganti halaman buku besar itu. Aku menelan ludah dan berdebar-debar, khawatir dia akan melakukan kesalahan.
Namun Amarilis sangat profesional. Dia melakukan kesalahan pada dua not yang sejauh ini aku dengar, tetapi wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan dia baru saja memainkan not yang salah. Matt juga tidak memedulikan kesalahan kecil tersebut dan terus bermain.
Dua alat musik yang berbeda, mengeluarkan bunyi yang berbeda pula, bisa terdengar harmonis. Kesalahan kecil itu hanya bisa diketahui oleh mereka yang menghafal not tersebut. Penikmat musik biasa tidak akan mengetahuinya. Luar biasa. Padahal mereka tidak pernah latihan bersama, tetapi mereka bisa bergerak selaras.
Suasana aula hening sejenak ketika mereka selesai. Satu orang bertepuk tangan, lalu diikuti oleh semua orang yang ada di ruangan besar itu. Bunyi gemuruh tepuk tangan memenuhi aula diikuti suitan beberapa orang, membuat bulu kudukku meremang. Matt berdiri, mendekati Amarilis, lalu menundukkan badan mereka ke arah penonton. Bahkan rekan pemusik Matt ikut bertepuk tangan.
“Amarilis luar biasa!” seru Mama tidak percaya. “Itu lagu yang sangat sulit. Matt berlatih setiap hari selama beberapa bulan baru bisa menguasainya, gadis itu justru mengejarnya tanpa latihan panjang.”
“Sayang, apa kamu tahu apa artinya ini?” tanya Papa dengan antusias.
Mama menoleh, lalu mengangguk penuh arti. “Papa benar juga!”
Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi aku senang melihat mereka bahagia. Kami terlalu khawatir. Sepertinya Papa dan Mama tidak akan keberatan andai aku memilih Amarilis kelak menjadi istriku. Andai, karena aku belum berpikir sampai ke sana.
Amarilis masih bermain bersama mereka untuk dua lagu berikutnya. Barulah pada lagu ketiga, ketika mereka beristirahat sejenak, Amarilis tidak duduk di barisan pemain biola lagi. Posisinya diganti oleh perempuan yang aku tahu adalah salah satu teman Matt. Aku menunggu beberapa saat, tetapi dia tidak juga muncul dari pintu masuk samping.
__ADS_1
“Ma, aku pergi sebentar,” pamitku. Mama mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung, fokus menyaksikan permainan putra bungsunya.
Aku terpaksa mengganggu orang yang duduk di barisan kami untuk keluar dari kursi. Agar tidak mengganggu barisan dekat pintu samping, aku keluar melalui pintu utama. Merepotkan saja. Ke mana Amarilis pergi? Jarak antara belakang panggung ke aula tidak jauh, tetapi dia kembali lama sekali. Awas saja kalau dia berani kabur.