
Sebelum aku sempat melakukan apa pun, mereka mengelilingi aku. Sial. Mereka pasti sudah tahu strategi awalku, jadi tidak heran mereka membatasi ruang gerakku. Tidak ada orang yang lewat dengan berjalan kaki, tetapi menggunakan kendaraan.
Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang menepi untuk membantu aku. Pasti karena melihat tubuh keempat pria ini sudah membuat mereka ketakutan. Aku menelan ludah dengan berat sambil berpikir keras harus mulai dari mana. Apa pun caranya, aku sudah pasti kalah.
“Kalian sedang apa!? Cepat, serang dia!” seru Chika tidak sabar.
Yang aku takutkan terjadi, mereka berempat menyerang secara bersamaan. Aku memilih satu orang yang berada di depanku dan mengabaikan ketiga rekannya. Biarlah mereka memukul aku, tetapi aku bisa membalas salah satu dari mereka.
Aku menangkis serangannya, lalu mengarahkan tinju kecilku ke mukanya. Aneh. Tidak ada pukulan yang aku rasakan dari ketiga pria lainnya. Aku menoleh dan melihat ada dua orang laki-laki berbaju serba hitam yang menangani ketiga pria itu.
Syukurlah! Aku fokus menghajar satu pria itu dengan mudah. Ini yang aku suka sebagai hasil dari menurunkan berat badanku. Gerakanku lebih luwes, nyaris seperti Katelia. Badan Amarilis masih kaku, butuh banyak latihan lagi untuk melenturkan otot-ototnya, tetapi ini kemajuan yang baik.
Aku tidak tahu siapa mereka yang sudah membantu aku. Namun penolong berarti teman. Setelah pria itu berhasil aku lumpuhkan dengan senjata andalanku, penyemprot merica, aku mendekati Chika. Aku berhasil menangkapnya sebelum dia sempat kabur.
“Lepaskan aku!” Dia menarik tangannya dari genggamanku, tetapi dia kalah kuat.
Aku mengarahkan penyemprot itu ke mukanya, barulah dia diam. “Satu kata lagi, aku berjanji aku tidak memberi kamu ancaman kosong. Matamu akan terasa panas terkena cairan ini.”
Matanya membesar melihat benda itu terarah ke wajahnya. Bibirnya bergetar, pertanda dia masih takut kepadaku. Aku pikir dia sudah kehilangan kewarasannya dengan melupakan janji kami satu tahun yang lalu. Aku sampai kehabisan kesabaran menghadapinya.
“Kita sudah berjanji tidak akan saling mengganggu satu sama lain lagi. Mengapa kamu terus saja datang mengganggu aku? Kamu sudah bosan hidup?” tuntutku. Dia hanya diam. “Jawab!” Aku memegang wajahnya dengan satu tanganku dan tangan lain masih memegang penyemprot.
“Kamu yang sudah mengganggu aku!” serunya. “Kamu sudah tahu aku bertunangan dengan Theo, tetapi kamu terus saja menggoda dia!”
“Ada yang salah dengan otakmu,” ujarku dengan sinis. “Aku yang sedari awal berteman dengannya di kampus saat kamu dan dua kurcacimu itu memperlakukan aku seperti sampah. Dia membela aku yang kalian pukuli, lalu kamu bilang aku menggoda dia?
“Memangnya kalau dia bertunangan dengan kamu, dia tidak bisa berteman lagi dengan gadis yang lain? Apa kamu juga memperlakukan mahasiswa lain seperti ini? Tidak, ‘kan? Lalu ketika dia bekerja nanti, kamu mau menghajar semua rekan perempuannya? Termasuk sekretarisnya?
“Tidak. Kamu melakukan ini hanya kepadaku. Instropeksi diri, Chik. Kalau Matt tidak suka kepadamu, cek apa salahmu. Jangan salahkan aku. Tugasku hanya mendampingi dia belajar, bukan bergosip. Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku. Siapa pun yang kamu nikahi, aku tidak peduli.
“Jadi, menjauh dari hidupku, atau kamu akan menyesal. Daripada kamu sibuk menghajar aku untuk memenangkan hati Matt, lebih baik kamu temui dan bicara dengannya. Aku sudah bilang, jangan tiru cara hidupku dahulu. Hanya dengan begitu, hidupmu akan lebih baik.”
Aku melepaskan wajahnya, lalu mundur satu langkah. “Ini yang terakhir. Jangan sampai aku melihat kamu datang untuk menghajar aku lagi. Karena kalau kamu nekat, bukan hanya orang yang kamu bawa, tetapi kamu pun akan babak belur.”
__ADS_1
Tanpa menunggu responsnya, aku melihat ke sekelilingku. Kedua pria tadi sudah tidak kelihatan. Aneh. Siapa mereka? Aku ingat Matt menyebut orang yang mengawasi aku adalah perempuan yang berpakaian layaknya mahasiswa. Lalu dari mana kedua pria itu tadi?
Chika segera menyuruh para pengawalnya yang tergeletak menahan sakit di aspal untuk bangun. Dua mobil mewah datang mendekat, mereka pun memasukinya. Walau mereka sudah tidak bisa melawan, aku tidak menurunkan rasa waspadaku. Jadi, aku menunggu sampai mereka jauh.
Aku melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggalku. Hari yang aneh. Wawancara yang berjalan dengan lancar, Chika yang datang menyerang aku lagi, dan kedua pria yang tidak aku kenal yang sudah menolong aku. Apa akan ada kejutan lain lagi?
Baru saja berpikir begitu, aku melihat seorang pemuda berdiri di depan pagar. Sepeda motornya berada tidak jauh darinya. Setelah satu semester tidak bertemu, apa yang dia lakukan di sini? Ada dorongan yang sangat aneh pada tubuhku, tetapi aku menahan diri.
Aku tidak bisa memeluknya begitu saja seperti yang aku lakukan terhadap Kak Jericho. Tidak peduli dengan perasaan aneh yang aku rasakan ini, aku menginjakkan kakiku kuat-kuat di trotoar. Jadi, aku tidak melakukan hal yang hanya akan aku sesali.
“Dasar bodoh.” Itu menjadi kalimat pertama yang dia ucapkan. Benar-benar tidak berubah. Masih saja menjadi orang yang menjengkelkan. “Menulis nomor telepon saja salah.”
Oh. Itu yang sedang dia bahas. “Terima kasih sudah memberi nomor yang benar.”
“Ganti baju lo, lalu kita makan,” perintahnya.
“Aku lelah, jadi aku mau di kamar saja.” Aku mengabaikannya.
Aku merapatkan bibirku, memahami bahwa aku tidak akan bisa melawan dia. Dasar manusia arogan. Cowok menjengkelkan! Sok ganteng! Sok tahu! Namun semua itu hanya aku ucapkan di dalam hati. Aku memilih untuk menuruti dia dan kembali keluar setelah berganti pakaian. Membantah dia hanya akan membuat dia merobohkan pagar dan pintu depan demi menyeret aku keluar.
Saat aku duduk di belakangnya, melingkarkan tanganku di tubuhnya, dan merasa damai sekencang apa pun dia mengendarai sepeda motornya, aku baru menyadari. Aku sangat merindukan dia dan momen bersama kami. Walau kami lebih banyak bertengkar daripada satu kata.
Makan siang bersama meski lebih banyak diam daripada bicara, sekadar berjalan dari tempat parkir ke ruang kuliah dengan dia menggandeng tanganku, diantar atau dijemput dengan sepeda motornya, atau ditemani saat sedang mengamen di taman. Aku kehilangan semua itu saat kami tidak bertemu.
Namun kami tidak bisa bersama. Aku tidak sederajat dengannya. Dilihat dari usaha Tante Ruth untuk memisahkan kami, aku tahu bahwa dugaanku benar. Sekalipun Theo tidak bersama Chika, mereka tidak akan membiarkan putra mereka bersama gadis miskin seperti aku.
“Lo mau makan apa?” tanyanya beberapa saat kemudian. “Jangan jawab terserah.”
Mendengar kalimat itu, perasaan senduku tadi langsung musnah. Kalau bukan karena dia orang kaya raya, aku yakin perempuan mana pun tidak akan tahan ditunangkan dengannya. Chika mau saja, ya, karena keluarganya berduit. Aku? Aku terpaksa ikut ke mana dia mau, karena dia tidak bisa dibantah.
“Piza atau burger. Yang praktis saja. Aku sedang tidak selera makan nasi atau mi,” jawabku.
Dia memesan makanan lewat drivethru, lalu membawa aku ke tempat yang tidak aku duga-duga. Kami tidak duduk di lobi, sebuah ruangan, atau tempat tertutup mana pun, tetapi dia menggandeng tanganku sampai ke atap gedung.
__ADS_1
Tempat itu sangat luas dan berangin. Namun yang mengejutkan aku adalah pemandangan hijau di sekitarku. Hebat sekali. Ada taman di atap gedung perkantoran milik keluarganya. Dia membawa aku ke salah satu gazebo yang terdekat. Ada kursi kayu dengan alas yang empuk dan mejanya. Jadi, kami bisa duduk untuk makan dan menikmati udara yang segar serta pemandangan hijau yang indah.
“Tempat ini indah sekali!” pujiku, terpukau dengan semua tanaman yang tampak sangat terawat itu. “Aku baru tahu ada kebun di atas gedung ini.”
“Kalau lo perhatikan di internet, ada banyak artikel mengenai gedung ini dengan kebun uniknya.” Dia meletakkan makanan bagianku di depanku. “Makanlah.”
Aku menurut dan menyantap makanan itu sambil memperhatikan bukan hanya tanaman hijau yang ada di kebun tersebut. Aku menemukan beberapa bunga yang sebagian sedang berbunga. Aku tahu mawar, melati, dan bugenvil, sedangkan selebihnya, aku tidak bisa mengingat namanya.
“Nenek yang meminta gedung ini dibuatkan kebun. Kakek menyetujuinya, bahkan memberikan satu atap ini untuk ditanami apa saja yang Nenek mau.” Dia melihat ke sekeliling kami. “Awalnya, gazebo ini yang dibangun dengan beberapa tanaman di sekitarnya. Lalu berkembang sampai tidak ada satu titik pun yang tidak Nenek manfaatkan.
“Kebun ini pernah beberapa kali mendapatkan penghargaan, baik dari pemerintah kota, daerah, maupun organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Nenek sering juga mengikutkannya pada beberapa perlombaan desain kebun dan menjadi pemenang.
“Tempat duduk gue dan tempat duduk lo adalah tempat di mana Kakek dan Nenek duduk bersama saat mereka kencan. Hanya berdua, tanpa kami para anak dan cucu mereka.” Dia tersenyum. Hal yang sangat jarang dia lakukan.
“Sepertinya kamu sayang sekali kepada kakek dan nenekmu,” tebakku.
“Tidak sesayang gue sama lo,” ucapnya dengan lugas.
Jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang dia sayang kepadaku? “Jangan bercanda. Kata itu bukan mainan.”
“Gue mau kita berpacaran lagi.” Dia menatap aku dengan serius. “Gue tidak suka tidak ada lo di dekat gue. Gue juga enggak mau makan siang sendirian lagi. Gue nyaman kalau lo di samping gue, bukan berjauhan begini.”
“Kamu sudah tahu syaratnya. Aku tidak mau backstreet,” kataku, mengingatkan. Dia tidak akan mau memenuhi hal itu, jadi aku akan terus mengajukan syarat yang sama.
“Lo akan gue bawa ke rumah besok. Gue akan beri tahu ortu kalau gue memilih lo jadi istri gue,” ucapnya dengan serius.
Aku mengedip-ngedipkan mataku, tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Dia setuju dengan syarat yang aku ajukan. Apa aku tidak salah dengar?
“Apa gue boleh melakukan sesuatu?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.
“Ha?” gumamku bingung, masih percaya tak percaya.
Dia meletakkan tangannya di atas tanganku, maka aku menunduk untuk melihatnya. Apa yang akan dia lakukan? “Kita perlu tanda jadi kalau hari ini kita resmi berbaikan.”
__ADS_1