Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
146|Ini Salahku


__ADS_3

“Usai acara pertunangan, Theo yang mengantar Venny pulang. Sopirnya ditembak dalam perjalanan pulang dan mereka mengalami kecelakaan hebat. Polisi masih menyelidiki kasus itu. Masalahnya, sopir meninggal dan Theo koma.” Matt mendesah pelan.


“Dia bangun bulan lalu, tetapi tidak bisa mengingat apa pun. Jadi, kasus ini tidak bisa diselesaikan karena tidak ada saksi. Pelakunya tahu betul memilih lokasi yang pas. Berkas pada kamera dasbor juga tidak banyak membantu karena tidak merekam bagian belakang mobil.”


“Tega sekali kamu. Masalah sebesar ini kamu sembunyikan dariku,” ucapku tidak percaya.


“Theo akan memarahi gue jika gue membuat Kakak khawatir. Lagi pula, apa yang bisa Kakak lakukan? Datang ke sini dan ribut dengan Mama? Gue menunggu sampai bisa memberi kabar baik, Kak. Ketika dia bangun, gue sudah siap untuk menceritakan segalanya, tetapi dia amnesia.


“Untunglah Kakak tidak ada di sini atau Kakak akan terluka melihat dia menolak Kakak. Kami saja butuh waktu lama untuk menunggu dia bisa menerima kami sebagai keluarga. Kakak tidak akan mau bicara atau bertemu dia yang sekarang. Dia lebih dingin dan sadis dari es.”


“Bila dia tidak mengingat apa pun, apa yang dia lakukan di sana?” Kepalaku tidak bisa berpikir, jadi aku bertanya sekenanya.


“Fisioterapi, membaca buku kuliahnya, lebih banyak di rumah. Yang orang tahu, dia sudah kembali ke Amerika, kami masih menyembunyikan keadaannya. Sayang sekali, kami tidak bisa menemukan ponselnya. Jadi, kami tidak bisa menolong dia untuk memeriksa surel dan media sosialnya.”


“Maksud kamu, untuk mencari kemungkinan pelakunya? Mengapa tidak bayar peretas saja?”


“Apa Kakak tidak dengar? Kami menyembunyikan keadaannya. Jika satu orang di luar keluarga yang tahu hal ini, maka seluruh dunia akan tahu.” Dia kembali mendesah keras. “Gue benci dia yang sekarang. Jauh lebih menyebalkan.” Mengapa dia terus saja mengeluhkan hal yang sama?


“Bagaimana dengan keadaan fisiknya? Kamu bilang dia menjalani fisioterapi.”


“Kaki dan tangan kirinya luka parah saat kecelakaan terjadi. Dia sudah bisa berjalan, tetapi masih nyeri. Itu yang buat dia jadi orang menjengkelkan. Ketika lelah, dia duduk di kursi roda. Keadaannya itu membuat dia tidak berdaya dan pemarah.


“Namun kondisi itu jauh lebih baik. Sebelumnya, dia bahkan tidak kuat berdiri di atas kaki kirinya. Semoga saja fisiknya bisa pulih lagi. Biar gue bentur kepalanya supaya ingatannya kembali.” Dia menggeram pelan.


Aku menarik napas terkejut mendengarnya. “Matt, jangan gila kamu. Dia bisa mati.”


“Dia sedang tidur, jadi Kakak bisa melihat wajahnya.” Dia memasuki sebuah ruangan yang tidak aku kenal. Layar ponsel berubah hitam, tidak lama kemudian, muncul wajah Theo dalam keadaan tidur. Dia kelihatan damai sekali.


Mataku memanas mengingat kejadian buruk yang baru menimpanya. Siapa yang tega melakukan ini kepadanya? Theo bukan orang yang ramah dan baik hati, tetapi dia tidak pernah jahat kepada siapa pun. Siapa yang sudah menembak sopirnya sehingga kecelakaan maut itu terjadi?

__ADS_1


Tiga bulan tidak mendengar kabarnya, aku malah melihat dia dalam keadaan amnesia. Dia tidak bisa mengingat apa pun. Apakah dia juga tidak ingat kepadaku? Dadaku terasa sakit sekali. Kami baru saja saling menyatakan cinta dan aku tidak akan mendengar kata itu keluar dari mulutnya untuk waktu yang lama. Sampai kapan, aku tidak tahu.


Semua ini salahku. Oh, Tuhan. Ini salahku. Dia dan Matt bersikeras agar Theo tidak pulang, tetapi aku memaksa dia untuk menghadiri wisuda adiknya. Mungkin dia sudah punya firasat tidak enak. Aku malah mendorong dia berjalan menuju kecelakaan maut itu.


“Kasihan Theo. Venny mengembalikan cincin pertunangan mereka dan menolak untuk merawatnya. Mama yang histeris sampai terdiam ketika teman yang dia bangga-banggakan itu meninggalkan dia. Venny dan keluarganya merahasiakan keadaan Theo karena mereka juga tidak mau malu.”


Perempuan tidak tahu diri. Dia hanya mau menerima Theo yang sempurna, tetapi tidak bersedia ada di sisinya yang sedang sakit. Keluarga itu manusia atau bukan? Setelah acara besar dan mewah yang dihadiri oleh banyak orang, mereka meninggalkan dia pada saat paling genting.


Tidak. Theo tidak perlu dikasihani. Dia justru beruntung mengalami hal ini sekarang. Perempuan itu tidak pantas berada di sisinya. Aku akan tunjukkan kepada mereka semua. Masih ada aku yang mau menerima Theo, apa pun keadaannya.


Layar itu kembali gelap dan muncul wajah Matt. “Gue enggak bisa lama-lama. Dia akan terbangun kalau ada orang di dekatnya. Karena keadaan Theo, gue yang sekarang mendampingi Papa. Entah bagaimana kondisi restoran di sana. Gue enggak bisa pantau.”


Aku menawarkan diri, Matt segera bersorak senang. Dia cepat-cepat menutup mulutnya dan melihat ke sekitarnya. Kami tidak bisa bicara lebih lama, maka kami meneruskan rencana itu lewat pesan. Dia meminta aku untuk melakukan itu dan melaporkan segalanya kepadanya. Jadi, dia bisa meneruskan hal itu kepada papanya.


Percakapan itu kami akhiri, karena Matt harus pergi kerja dan aku perlu makan malam. Daisy sudah mengantarkan makanan ke konter. Aku jadi teringat dengan para pengawal Theo. Ke mana mereka ketika kecelakaan itu terjadi? Apa Daisy tahu hal ini dan menyembunyikannya dariku?


Air mata menetes satu per satu membasahi pipiku. Seandainya saja aku tidak keras kepala, mungkin Theo ada di sini bersamaku. Kami duduk berhadapan menikmati makan malam buatannya. Bisa jadi kami bertengkar karena aku selalu berbeda pendapat dengannya.


Salakan anjing menyambut aku ketika pada pagi itu aku keluar dari gedung. Antonio dan Buddy sudah berdiri di depan pintu. Oh, Tuhan. Aku melupakan hal yang penting. Dia mengundang aku untuk merayakan Thanksgiving di rumah mereka. Acara itu empat hari yang lalu.


“Kamu ingkar janji,” tuduhnya.


“Maafkan aku. Ada masalah besar dan aku tidak ingat dengan acara itu,” sesalku.


“Ada masalah apa? Mata kamu bengkak.” Dia mengamati wajahku. “Kamu juga terlihat lebih kurus. Apa kamu bertengkar lagi dengan pacarmu? Dia akhirnya memutuskan kamu?”


“Aku tidak mau membahasnya.” Aku berjalan menuju halte.


“Mana sepedamu? Apa kamu akan jalan kaki ke kampus?”

__ADS_1


“Aku akan naik bus.” Aku menunjuk halte tidak jauh dari tempat kami berada.


“Kami antar.” Dia menunjuk mobilnya yang ada di depan kami. Buddy menyalak, ikut mengajak.


Dia bertanya tentang perkembangan tesisku, topik yang aman. Aku tidak bisa bercerita tentang Theo dengannya. Keluarganya ingin hal itu dirahasiakan, maka aku harus menghormati keputusan mereka. Walau aku tidak tahu sampai kapan keadaan ini bisa ditutupi.


Mereka mengantar sampai gerbang kampus. Kami berjanji akan bertemu malam ini di restoran. Aku berjalan cepat menuju gedung, langsung ke ruang kuliah kami. Meghan sudah datang dan tersenyum ramah kepadaku. Dia memberikan tas belanja yang berisi kue dari acara Thanksgiving di rumahnya.


Aku menyibukkan diri dengan kampus, latihan bela diri, tesis, dan urusan restorannya agar tidak sedih memikirkan Theo. Manajer yang bertanggung jawab atas rumah makan itu sangat lega dengan kehadiranku. Dia kesulitan mengambil keputusan sejak tidak ada orang yang berhubungan langsung dengan pemilik usaha Keluarga Husada tersebut.


Matt mengirim hasil pemindaian tanda tangan Theo kepadaku untuk mempermudah membubuhi tanda tangan pada beberapa dokumen yang sudah dia setujui. Tidak ada satu hal pun yang aku putuskan sendiri, bahkan hal yang sepele. Aku tidak mau ada masalah karena kehadiran di tempat ini. Aku mau membantu, bukan membuat usaha mereka satu-satunya di luar negeri bangkrut.


Ketika keadaanku sudah cukup tegar dan siap untuk membicarakan masalah yang menimpa Theo, aku meminta Daisy dan rekannya menghadap. Seperti biasanya, mereka berdiri dengan tegak di depanku, menolak untuk duduk. Aku menatap mereka, memikirkan pertanyaan yang tepat.


“Aku dan Theo tidak pernah pergi ke mana pun tanpa pengawalan kalian. Aku mohon kalian mau jujur kepadaku. Apa yang terjadi kepada Theo di Jakarta? Apa yang rekan kalian laporkan mengenai peristiwa nahas itu?” tanyaku dengan nada memelas.


“Saya yakin adik Pak Theo sudah menceritakan kejadiannya. Laporan mereka kepada kami tidak jauh beda, Nona,” jawab Daisy.


“Sopirnya ditembak dan kalian tidak bisa mencegah hal itu terjadi?” tanyaku tidak percaya.


“Nona, kami hanya pengawal biasa, bukan Tuhan yang mahatahu.”


“Bukankah tugas kalian melindungi dia? Masa kalian tidak tahu harus melakukan apa begitu dia ditembak? Bagaimana kalau peluru itu luput sedikit saja? Bisa jadi Theo yang dimakamkan, bukan sopirnya. Apa saja yang sudah kalian kerjakan sampai menjaga dia pun tidak bisa?”


Tubuhku bergetar membayangkan hal itu. “Mengapa kalian tidak mencegah kecelakaan itu terjadi? Mengapa? Mengapa kalian membiarkan dia terluka parah bahkan sampai kehilangan ingatannya? Kalian juga tega diam saja, menyembunyikan masalah itu dariku. Aku berhak tahu keadaannya.


“Tiga bulan. Tiga bulan aku menunggu kabar ketika dia sedang berjuang antara hidup dan mati. Apa kalian tidak tergerak sedikit pun untuk memberi tahu aku? Kalau Theo sampai mati dan aku baru tahu ketika dia sudah tiada, apa gunanya lagi aku hidup?”


“Nona jangan bicara begitu. Keadaan ini juga berat bagi kami.” Daisy berdehem ketika suaranya serak. “Nasib kami berdua terkatung-katung di sini jika Pak Theo tidak juga bisa mengingat.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Aku menyeka air mata yang tidak aku duga membasahi pipiku. “Mengapa kamu bilang nasib kalian terkatung-katung? Apa ini ada hubungannya dengan biaya tinggal dan makan?”


__ADS_2