
“A-apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya gugup. Dia segera berdiri dari tempat tidurnya.
“Untuk ukuran seorang pecundang, kamarmu boleh juga.” Aku melihat ke sekelilingku. Berbeda dengan dugaanku, kamar itu cukup rapi bagi laki-laki. Semua barang ada pada tempatnya, hanya meja yang berantakan dengan buku yang berserakan.
“Aku tidak menyentuh pacarmu, mengapa kamu datang ke sini?” tanyanya lagi, mencoba bicara dengan normal. Padahal aku bisa mendengar nada ketakutan pada suaranya.
“Siapa yang menyuruh kamu melakukannya?” Aku pun berhenti berbasa-basi.
“Menyuruh apa?” Dia tertawa gugup. “Jangan bicara sembarangan.”
“Amarilis bukan tipemu. Jangan buang waktuku. Siapa yang menyuruh kamu mendekati dia?” Aku melirik pengawalku, maka dia memberikan amplop yang dari tadi dia pegang. “Sama seperti yang kamu lakukan kepada wanitaku. Aku juga akan menyebarkan masa lalumu jika kamu tidak jujur.”
Dia salah jika dia pikir hanya dia yang bisa mencari tahu hal yang memalukan yang disembunyikan Amarilis dari semua orang. Aku juga sanggup kalau membalas hal yang sama. Wanitaku cuma malu dengan tubuh lamanya. Sebaliknya, pria ini telah melakukan kejahatan dengan menipu banyak orang.
Tidak perlu banyak mengancam, dia pun mengaku. Aku sudah menduga semua ini ada hubungannya dengan dia, tetapi saat mendengar namanya, aku akui aku terkejut. Dia rela mempertaruhkan nama baik keluarganya demi aku. Apa yang sudah aku lakukan sampai dia cinta mati kepadaku?
Mungkinkah sesuatu terjadi pada perusahaan keluarga mereka sehingga mereka membutuhkan aku? Tidak. Itu mustahil. Aku sudah memeriksa segalanya dan tidak ada cela dalam bisnis mereka. Lalu dari banyak pria lain yang lebih sukses di negeri ini, mengapa dia memilih aku?
Belum lagi mantan teman Amarilis, menambah kerjaan saja. Dua tahun yang singkat mengapa kami harus menghadapi masalah asmara yang pelik begini? Kami hanya mau kuliah, lalu pulang ke negara kami untuk berkarya di sana. Kami sama sekali tidak berminat mencari pacar baru.
Namun Nora akan aku urus nanti. Dia belum tahu aku sudah tahu perasaannya kepadaku. Sebaiknya aku tunggu rencananya selanjutnya agar dia berpikir Amarilis masih menyimpan rahasianya. Jika dia datang sendiri dan mengakui perasaannya, baru aku bisa bertindak.
“Pastikan rekan-rekanmu menjaga Amarilis dengan baik selama aku tidak ada. Jaga jarak saat dia melakukan aktivitas di luar dan langsung eksekusi siapa pun yang mendekatinya. Tidak perlu tunggu sampai dia diserang. Aku tidak mau ada yang menyentuhnya sedikit pun.”
Kami sedang berada di dalam mobil khusus untuk mereka. Mobil yang aku sewa selama kami berada di sini. Jauh lebih praktis daripada membeli mobil hanya untuk digunakan selama tiga tahun. Kami sesaat lagi akan tiba di gedung tempat tinggal kami.
“Baik, Pak. Bagaimana dengan permohonan rekan saya di Indonesia?” tanyanya.
“Dia bebas melakukan apa pun yang dia mau selama kami berada di sini.”
Wisuda kian dekat, aku mulai mengemas pakaian yang akan aku butuhkan. Keluargaku hanya menginap dua malam karena Matt harus segera kembali ke kampus. Dia sedang sibuk mengurus skripsinya. Sungguh kabar gembira, karena aku bisa bersama Amarilis lagi.
__ADS_1
Hanya satu hal yang aku lupakan. Seseorang yang muncul di depan pintu tanpa memberi tahu dahulu dia akan datang. Amarilis melihat wajahnya lewat layar CCTV dan curiga karena aku menyuruh dia sembunyi di kamar selagi aku menyambut tamu.
“Hai, Theo!” Dia membuka lebar kedua tangannya, berniat memeluk aku. Namun dia merengkuh udara, karena aku menghindarinya. “Kenapa lo masih malu-malu? Enggak ada yang akan protes melihat kita berpelukan.”
“Kenapa lo bisa ada di sini?” tanyaku, tidak mau berbasa-basi.
“Gue mau kasi kejutan. Bagaimana? Lo senang gue datang ke sini?” katanya dengan riang. Dia melirik ke arah lobi. “Tempat ini tenang sekali. Pantas saja lo pilih tinggal di sini.”
“Kembalilah ke hotel. Gue akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa urusan.” Aku melihat ada taksi menunggu di depan.
“Kalau begitu, gue pamit dahulu dengan sopir taksinya. Gue bareng lo saja.” Dia membalikkan badan, berniat untuk mendekati tumpangannya itu.
“Gue akan menyusul,” tukasku dengan tegas. “Lo kembali ke hotel dahulu.”
“Kenapa lo dingin banget sama gue? Maksud gue baik mau ke hotel bareng lo.” Dia memasang wajah memelas, tetapi aku tidak terenyuh.
Aku menunggu sampai dia maauk ke taksi dan memastikan tidak akan kembali, baru aku masuk ke lobi. Merepotkan sekali. Mengapa Mama tidak bilang dia akan datang juga? Aku benar-benar benci kejutan seperti ini. Semoga tidak ada kejutan lain yang menanti.
Aku mengusap-usap dada, menenangkan debaran jantungku. Bukannya menunggu di kamarnya, dia malah ada di sini. Namun aku tidak bisa memarahinya, melihat dia siap meledak kapan saja. Aku mendekati elevator dan menunggu sampai pintunya terbuka.
“Wanita yang sangat cantik.” Amarilis berdiri di sisiku. “Dari pakaian, tas, dan sepatunya, dia pasti bukan perempuan biasa. Ketemu di mana?”
“Kita bicara di dalam.” Aku berdehem pelan.
“Kita bicara sekarang,” desaknya. “Siapa wanita tadi? Mengapa dia senang sekali bisa bertemu denganmu? Pakai peluk segala. Kamu menghindar pun, dia tetap genit.”
Aku hanya diam, tidak memberi jawaban apa pun. Pintu terbuka, aku bergegas masuk. Amarilis mengikuti aku dengan mata yang tetap menusuk aku dengan tajam. Aku benar-benar sedang sial. Setelah beberapa hari ini aku mengeluhkan kedekatannya dengan pria lain, perempuan itu malah memilih datang pada hari ini untuk menunjukkan dirinya.
“Dia adalah tunangan gue.” Aku bersiap menunggu reaksi Amarilis.
Kami duduk bersama di sofa depan. Karena dia tidak memberi respons, aku menoleh ke arahnya. Dia sedang memejamkan mata dan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Oke. Aku harus siap dengan amarahnya.
__ADS_1
“Kapan rencananya kamu akan memberi tahu aku tentang dia?” tanyanya dengan tenang.
“Tidak akan pernah. Gue enggak pernah menganggap dia ada.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Bila kamu tidak mau menikah dengan wanita pilihan mamamu, mengapa kamu memasang cincin pertunangan di jarinya?”
“Gue enggak memasang apa pun. Itu deklarasi antara dua orang tua saja. Karena itu, pertunangan kami tidak tercium media.”
Berbeda dengan pertunanganku dengan Chika, Papa dan Mama tidak mengumumkan secara di depan pers, hanya antara kedua orang tua. Aku bahkan tidak menghadirinya. Tiba-tiba saja keluarga itu rajin diundang ke rumah atau makan bersama di restoran, menurut laporan Matt.
Dia yang paling menderita harus ikut dalam skenario kedua orang tua kami. Aku sudah berada di sini ketika mereka saling mendekatkan diri. Aku mengenal perempuan itu, karena kami kadang bertemu dalam acara yang diadakan kedua keluarga, putri salah satu rekan bisnis Papa.
“Mengapa kamu tidak jujur mengatakan itu dari awal? Kita sepakat tidak ada rahasia, Theo.”
“Calon istri gue hanya satu. Lo orangnya. Cincin warisan Nenek tidak pernah gue minta balik, karena gue hanya akan menikah dengan lo.”
“Jadi, kamu mau kita menikah sebelum pulang, karena dia?”
“Karena Mama enggak akan pernah merestui pilihan gue. Jadi, gue harus menikahi lo sebelum mereka memaksa gue menikah dengan wanita lain.”
“Aku tidak suka dengan ide itu, Theo. Kamu tidak seharusnya menentang orang tuamu.”
“Gue tahu lo akan bilang begini, makanya gue merahasiakan pertunangan itu. Gue enggak mau dengar kata-kata pesimis dari lo. Percaya sama gue. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Bagaimana semuanya akan baik-baik saja? Kamu akan ada di hotel selama dua malam dengan keluarga dan tunanganmu.” Dia berdiri dan segera masuk ke kamarnya.
Kami tadi masih bercanda sejak bangun pagi. Gara-gara perempuan itu, aku harus pergi tanpa diantar senyuman Amarilis. Dia tidak keluar dari kamarnya, jadi aku yang menemuinya. Namun apa pun yang aku katakan, dia tidak terbujuk.
“Lo jangan begini. Gue selalu jaga diri.” Aku berdiri di ambang pintu, tidak mau mengganggu, melihat dia berbaring membelakangi aku. “Sampai lusa nanti.”
Mama segera memeluk begitu melihat aku datang. Papa menjabat tanganku, sedangkan Matt tersenyum jahil. Dia pasti sudah bisa menebak respons Amarilis atas kedatangan Venny. Aku jadi tidak tenang memikirkan wanitaku sedang patah hati.
__ADS_1
Kami sepakat hanya keluarga yang datang, malah ada keluarga lain yang belum ada ikatan apa pun dengan kami. Apa yang Mama rencanakan dengan semua ini?