
“Oh, ya, ampun!” serunya, terkejut ketika membuka pagar, aku ada di hadapannya. “Apa kamu tidak bisa menghentikan kebiasaan burukmu ini?”
Aku hanya diam melihat dia menutup pagar, lalu menggemboknya kembali. Dia membalikkan badan dan mengerutkan keningnya menatap aku. Matanya yang bulat itu menyipit. Bibir tipisnya merapat, nyaris membentuk garis lurus. Mengapa semakin hari dia semakin cantik saja?
Namun aku tenang dia tidak memakai riasan berlebihan. Sepertinya hanya bedak dan lipstik. Kalau dia memakai mekap lengkap, aku akan menghapus semua itu dari wajahnya. Dia hanya magang, bukan menjadi model atau akan menikah. Rambutnya juga hanya dikuncir di belakang kepala.
“Ayo, temani gue sarapan.” Aku menggandeng tangannya.
“Theo, aku harus pergi ke tempat kerja.” Dia menarik tangannya dari genggamanku. Amarilis, calon istriku, menolak peganganku.
“Ke tempat kerja atau ketemu bos lo?” tanyaku tanpa emosi.
“Tentu saja aku akan bertemu atasan di tempat kerja. Lepaskan, Theo. Aku tidak mau terlambat,” tukasnya, masih berusaha menarik tangannya dariku.
“Lo temani gue sarapan atau perusahaan itu akan gue buat bangkrut,” ancamku dengan santai.
Dia kembali membulatkan mata besarnya itu, lalu mendengus pelan. “Apa kamu sudah gila?”
“Tidak. Gue cemburu.” Aku membuka pintu mobil dan membiarkan dia masuk dahulu. Dia mencoba untuk mengatakan sesuatu, tetapi mengalah dan menutup mulutnya.
Dia diam saja selama aku mengemudikan mobil. Bagus. Aku sedang tidak mau bertengkar dengannya. Setelah mempertimbangkan akan makan apa, aku memilih sebuah toko roti yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Aku membeli beberapa roti isi dan minuman botol.
“Tidak, aku sudah sarapan,” tolaknya saat aku memberinya kantong berisi roti.
“Makan atau gue suapi,” ancamku. Aku mengulum senyum melihat dia menggumam pelan tanpa suara, mengumpat aku.
“Aku bisa terlambat, Theo,” ulangnya. Dia kali ini terdengar khawatir.
“Norman adalah kenalan gue. Dia tidak akan memarahi lo setelah gue beri tahu apa yang buat lo datang telat ke kantor.”
“Itu namanya nepotisme,” keluhnya.
Aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan situasi di tempat magangnya tersebut. Seperti biasa, dia bicara panjang lebar setiap kali membahas hal yang dia sukai. Aku tidak suka melihat itu. Apalagi matanya membesar, bibirnya tersenyum menyebut perusahaan milik Wiryawan itu.
__ADS_1
Kalau keadaannya berbeda, yang sedang dia puji-puji saat ini pasti perusahaan keluargaku. Aku semakin membenci Chika dan keluarganya. Mereka sudah membuat aku jauh dari calon istriku dan harus bertahan mendengar dia memuji Wiryawan.
Ponselku bergetar dan aku menerima pesan yang aku tunggu-tunggu. Amarilis tidak akan terlambat, jadi aku tidak perlu repot-repot memberi tahu pria itu alasan keterlambatannya. Aku akan tunjukkan langsung di hadapannya.
“Aku hanya bekerja selama beberapa minggu di sini, bukan mencari suami. Jadi, kamu tidak perlu cemburu,” tuturnya, saat kami sudah tiba di depan lobi kantornya.
“Gue cemburu selalu ada alasannya,” ungkapku, menjelaskan. “Lo makan siang bersama keluarga bos lo kemarin. Bos mana yang melakukan itu dengan karyawan magang?”
“I-itu …. Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya terkejut. “Oh. Iya. Pengawalmu.”
“Apa lo sebahagia itu sampai tidak menyadari gue juga ada di sana?” Aku menyipitkan mataku.
Mulutnya menganga lebar. Dia menutupnya kembali begitu memahami maksudku. “Oke. Aku hanya makan siang bersama mereka, tidak ada alasan yang lain. Tante Wiryawan menyukai permainan biolaku. Hanya itu. Kalau kamu ada di sana, mengapa tidak sapa aku?”
“Benar hanya makan siang?” tanyaku penuh selidik.
“Benar, sayang.” Dia menoleh ke belakang. “Sudah ada mobil lain di belakang. Aku harus pergi.”
Tanpa menunggu responsku, dia membuka pintu dan keluar. Aku melihat dari kaca spion depan. Orang yang ada di belakang tepat seperti laporan pengawalnya. Maka aku keluar dan memanggil Amarilis. Dia berhenti dan menoleh kepadaku.
“Bukan barang. Ini—” Aku mengecup bibirnya, lalu berubah pikiran setelah merasakan manis dan lembutnya bagian yang paling aku sukai dari wajahnya itu.
Aku memeluk pinggangnya, mendekatkan tubuh kami, lalu menciumnya lebih dalam, memanfaatkan mulutnya yang terbuka karena terkejut. Tarikan napas terkejut orang-orang di dekat kami tidak membuat aku segan memberi mereka tontonan gratis.
Amarilis hanya berdiri diam dan tidak membalas ciumanku. Aku membujuk lewat ciuman, mengusap punggung, dan membelai pipinya, sampai dia mencium aku juga. Merasakan gerakan bibirnya dan pegangan tangannya pada kemejaku, barulah aku berhenti.
“Aku akan menjemput kamu untuk makan malam bersama. Sampai nanti.” Aku tidak menunggu sampai dia menjawab. Melihat Norman mengangakan mulutnya dari jok belakang mobilnya, misiku pagi ini berhasil dengan baik.
Gadis itu terlahir naif, jadi aku yang harus bekerja keras menjaga dia dari godaan pria lain. Norman masih lajang, muda, dan kaya raya. Perempuan mana yang tidak akan tertarik kepadanya? Apalagi mereka sering bertemu dan bekerja sama. Kalau bukan Amarilis, bisa saja pria itu yang jatuh cinta.
Katelia selalu rendah diri dengan keadaannya yang sekarang. Sepertinya dia punya standar tinggi tentang perempuan cantik. Aku tidak pernah menilai Katelia dalam tubuh lamanya sebagai gadis yang cantik. Katelia yang baru, nah, itu yang bisa disebut dengan cantik. Kalau tidak, aku tidak akan jatuh cinta kepadanya.
Wow, Altheo. Apa kamu tidak salah bicara? Jatuh cinta? Kamu jatuh cinta kepada perempuan berjerawat, bergigi tak beraturan, dan bertubuh tidak menarik itu? Cepat juga. Apa mungkin yang dikatakan orang-orang di komentar akun media sosialku benar? Amarilis sudah menyihir aku.
__ADS_1
Tidak. Sihir, pelet, apa pun itu, aku tidak peduli. Aku menyukai Amarilis dan semua yang ada padanya. Apalagi saat aku menciumnya. Aku sudah tidak sabar untuk melakukan lebih dari itu dengannya. Apa rasanya seperti yang orang-orang katakan?
Oke, cukup, Theo. Masih pagi, otakmu sudah jalan-jalan terlalu jauh. Fokus. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran dan sesuatu yang membuat aku menginginkan Amarilis. Efek yang hanya aku rasakan saat memikirkan dia.
“Selamat pagi, Pak,” sapa pria yang menyambut aku di ruang rapat.
“Selamat pagi. Maaf, aku sedikit terlambat.” Aku menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Para peserta rapat sudah siap untuk mengikuti pertemuan. “Silakan mulai rapatnya.”
Aku baru saja duduk ketika merasakan ponsel di dalam sakuku bergetar. Sekretaris Papa biasanya mengirim semua pekerjaanku lewat surel kantor, jadi ini tidak mungkin ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku mengeluarkan benda komunikasi itu dan memeriksanya.
Ternyata sebuah pesan dari Amarilis. Apa kamu sudah gila? Aku jadi bahan gunjingan di kantor gara-gara kamu! Aku tersenyum membaca kalimat itu. Sebenarnya, tujuanku bukan itu, tetapi begini juga tidak masalah. Biar sekalian semua karyawan lainnya tidak berani mendekati dia.
Para pengawalnya tidak bisa masuk ke kantornya, karena mereka bukan pegawai. Mereka hanya bisa sesekali menyamar menjadi pengantar paket atau tukang kebersihan untuk memeriksa keadaannya. Selebihnya, mereka mengakrabkan diri dengan petugas keamanan agar bisa ikut memantau CCTV.
Rasa cemburuku ini memang akut sekaligus kronis, tetapi aku berkewajiban menjaga calon istriku dari siapa pun yang mencoba menyakiti atau merebut dia dariku. Hubungan kami sudah sejauh ini, aku tidak mau kehilangan dia. Tinggal satu langkah lagi, maka dia milikku selamanya.
“Lo di mana?” Aku sudah sampai di depan lobi kantornya, tetapi dia tidak ada di antara karyawan yang berjalan keluar dari pintu utama.
“Bekerja. Apa kamu lupa pagi tadi kamu mengantar aku ke mana?” ucapnya sarkas.
“Lo hanya magang. Untuk apa masih di kantor di luar jam kerja?” Aku melirik jam di dasbor.
“Karena aku masih punya tugas. Apa kamu pikir aku ini anak dirut yang bisa pulang kapan saja semauku?” balasnya dengan sengit.
Biasanya dia sensitif begini karena akan, sedang, atau baru saja selesai datang bulan. Kebiasaannya yang sudah aku hafal di luar kepala. Apa dia pikir aku akan mundur ketika dia bersikap kasar begini? Dia selalu lupa apa saja yang sanggup aku lakukan.
“Turun sekarang juga atau gue akan naik dan tarik lo pulang di depan semua orang,” ancamku. Tanpa menunggu jawabannya, aku memutuskan hubungan telepon kami.
Tidak sampai lima belas menit, dia sudah keluar melewati pintu utama itu dengan wajah cemberut. Mulutnya komat-kamit pasti sedang mengumpat aku. Gadis yang unik. Dia tidak suka melakukan perintahku, tetapi menurutinya juga. Ciri-ciri istri yang baik.
“Ada apa denganmu? Mengapa mendadak mengajak makan malam? Bukankah biasanya kamu bersama papamu bertemu dengan rekan bisnis kalian?” protesnya.
“Lo mau makan baik-baik dengan gue atau gue cium di depan semua orang ini lagi?” Aku menoleh kepadanya dengan tatapan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Dia merapatkan bibirnya, menahan emosi. Setelah beberapa saat, dia tidak juga bicara, hanya duduk bersandar dan melihat ke bagian depan mobil dengan kesal. Bibirnya bergerak membentuk sebuah kalimat. Dasar cowok arogan. Aku tersenyum melihatnya.
Aku tidak membawanya terlalu jauh, karena aku sudah lapar. Mengingat dia suka bakso, maka aku memilih makanan itu untuk memperbaiki suasana hatinya. Aku menoleh ke arah spion depan merasakan ada yang janggal di belakang mobil.