
“Hei, hati-hati kalau bicara,” tegur seorang pria. “Salah menuduh, kamu bisa kena pasal pencemaran nama baik. Keluarga Husada bukan keluarga kecil yang bisa kamu ajak main-main. Mereka serius menjaga reputasi mereka.”
“Tak ada asap, jika tak ada api. Kamu juga pasti tahu tentang berita itu.”
Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengetuk pintu, lalu membukanya. Mereka semua terdiam melihat ke arahku, lalu duduk dengan rapi sambil mengucapkan selamat pagi. Aku membalas sapaan mereka dan mempersilakan pemimpin rapat untuk memulai.
Mendengar percakapan itu, aku akhirnya mengerti bahwa dugaanku benar. Keluarga Winara pasti menggunakan gosip itu untuk mengendalikan Mama. Sayangnya, mereka tetap saja menyebarkan berita tidak benar itu walau aku dan Chika sudah bertunangan.
Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Aku atau keluarga jahat itu.
Setelah beberapa kali menemukan mobil mereka di pekarangan rumah kami, aku terkejut mereka tidak datang pada malam ini. Kepala pelayan yang menyambut aku pulang mengatakan keluargaku sudah berkumpul di ruang makan.
“Kamu dari mana saja?” tanya Papa. “Kita berangkat pada waktu yang bersamaan, mengapa kamu tiba lebih lama dariku yang naik mobil?”
Aku hanya diam, tidak menjawab. Jika aku memberi tahu mereka aku melihat keadaan Amarilis di tempat tinggalnya, mereka pasti marah besar. Meski aku tidak bertemu atau bicara dengannya, mereka tidak akan mau tahu.
“Chika akan sidang pada hari Kamis, sebaiknya kamu datang memberi dia dukungan. Hal itu akan jadi berita yang baik bila ada yang memostingnya di media sosial mereka,” kata Mama. “Dia akan mulai bekerja di perusahaan kita supaya kalian bisa lebih sering bersama.”
“Lalu bagaimana dengan hotel milik keluarganya? Apa dia tidak akan membantu usaha keluarganya sendiri?” tanya Matt dengan ketus.
“Papanya masih ada dan memimpin perusahaan itu dengan baik. Lagi pula, bekerja di Medan akan membuat mereka jadi jauh. Makanya papamu menawarkan posisi di perusahaan kita.” Mama tersenyum kepada Papa.
“Tolong, pastikan dia datang untuk bekerja, ya, Pa. Gue enggak punya waktu mengurusi perempuan yang berpikir tempat kerja adalah lokasi bermesraan,” ujarku kepada Papa.
“Mengapa kamu selalu berpikir yang buruk tentang gadis itu?” protes Mama.
“Karena yang Theo katakan itu benar, Ma. Herannya, hanya Papa dan Mama yang tidak bisa melihat hal sejelas itu,” balas Matt.
Aku mengabaikan percakapan mereka dengan fokus pada makananku. Semakin cepat aku selesai makan, semakin baik. Aku tidak mau setiap kali bicara dengan orang tuaku, nama Chika lagi yang keluar dari mulut mereka. Aku sudah muak mendengarnya.
Selesai makan, aku menuju kamar untuk membersihkan diri. Seorang pelayan datang membawakan minuman hangat dan camilan untukku. Namun melihat ada dua gelas diletakkan di atas meja, aku mengerutkan kening. Ketika dia keluar, Matt masuk dengan wajah serius.
“Gue benci kalian berdua,” katanya sambil mengempaskan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
“Ada apa lagi?” Aku mengambil potongan buah bagianku dan memakannya.
“Lo dekat dengan Kak Amarilis karena dia Katelia, ‘kan?” ucapnya, mengejutkan aku. “Berani banget lo bohongi gue. Enggak mungkin seorang Altheo Husada menyukai gadis biasa tanpa hal istimewa.”
“Lo sadar lo sedang bahas orang mati?” tanyaku.
“Sesadar gue sedang bahas hal gila.” Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Jadi, apa lagi sanggahan lo? Enggak usah bicara tentang ketertarikan fisik atau hati, deh. Lo ajak dia berpacaran karena dia Katelia, ‘kan?” Aku mengangguk. “Bukannya lo bilang dia orang jahat?”
“Apa lo lihat dia pernah menyakiti orang yang tidak bersalah lagi?” Dia menggeleng. “Karena itu gue suka dia. Lo enggak akan bisa bertahan seperti dia yang mendadak bangun dalam tubuh orang lain dan badan aslinya dibawa mati oleh korbannya sendiri.”
Karena dia sudah tahu tentang itu, maka aku tidak menutupinya lagi. Lebih cepat dia mengetahui hal itu semakin kuat dasarnya untuk membela aku. Papa dan Mama bersekutu dengan Chika, jadi aku butuh satu keluargaku yang akan berada di pihakku.
“Maksud lo, Katelia yang mendorong Kak Amarilis ke danau?”
“Amarilis adalah gadis yang sering dia rundung di sekolah.”
“Wow.” Dia tertegun mendengar informasi itu.
Aku membiarkan dia mencerna informasi besar itu sejenak. Walau mereka tidak pernah bertemu, aku menceritakan kepadanya tentang gadis itu. Aku tidak tahan mendengar dia begitu ingin bertemu dengan calon kakak iparnya itu. Setelah dia tahu Katelia sangat jahat, dia pun membencinya.
Dia berhenti menyantap buah potong bagiannya. “Gue melihat Kak Amarilis bicara dengan Chika di koridor kampus. Dia mengancam perempuan jahat itu karena sudah menyuruh dosen hidung belang mereka untuk merusak reputasinya.” Aku mengangguk mengerti.
Jadi, Amarilis sudah bicara dengannya. Perempuan itu tidak akan berhenti mengganggu dia. Apa dia tidak punya rencana lain selain mengancam Chika? Mengapa dia tidak melakukan sesuatu yang ekstrem? Jangan-jangan, dia sudah punya rencana besar yang lain untuk membalas perbuatannya?
Aku datang ke kampus pada hari dia sidang. Matt mendapat kabar tentang jadwal itu dan mengajak aku untuk hadir. Namun aku menolak dan hanya melihat Amarilis dari jauh. Keadaan akan semakin rumit jika aku menunjukkan diri karena Chika juga sidang pada hari yang sama.
“Mengapa kita harus liburan bersama mereka terus, sih?” keluh Matt.
Untuk melihat-lihat kampus yang akan aku masuki, kami berlibur ke ibu kota pertama di Amerika Serikat tersebut. Musim dingin adalah musim yang paling aku benci. Kami harus berpakaian tebal setiap kali kami keluar dari hotel. Bahkan di dalam ruangan pun aku harus memakai baju berlapis.
“Dinikmati saja. Belum tentu lo nanti bisa datang ke sini waktu gue kuliah. Papa sekalian mau lihat lokasi restoran barunya. Enggak usah pikirkan Keluarga Winara. Kita ada di sini untuk mendukung orang tua kita,” hiburku.
Ketika kami tidak ada jadwal bersama, aku pergi sendiri melihat kondisi kampus incaranku. Aku juga mencari tahu lokasi apartemen yang terjangkau di sekitarnya. Sebisa mungkin, aku menggunakan sepeda untuk transportasi demi menghemat biaya hidup.
__ADS_1
Ini adalah alasan aku tidak mengeluh dengan kedatangan kami ke kota ini. Tidak peduli siapa yang datang bersama kami asalkan tujuan utamaku tercapai. Kota ini akan menjadi rumahku selama tiga tahun. Waktu yang lama untuk jauh dari orang tua dan menyusun rencana.
Chika tidak sebodoh yang aku pikirkan ketika tiba pada hari wisudanya. Ternyata dia sengaja tidak lulus lebih cepat untuk mengejek Amarilis. Aku tidak bisa bersamanya karena harus berada di acara syukuran yang diadakan Keluarga Winara.
Matt yang sudah menolak hadir pun terpaksa datang. Padahal dia sudah pamit untuk pergi ke aula demi melihat guru privatnya itu. Aku tidak bisa masuk lewat jalur undangan. Namun dengan sedikit usaha, aku bisa menyaksikan gadisku menerima penghargaan dari universitas.
Perjuangannya benar-benar gila bisa meraih summa cum laude. IPK yang dia raih pasti tinggi sekali. Aku dapat cum laude saja sudah syukur.
“Semua orang sudah mengucapkan selamat, tetapi tunanganku belum mengatakan apa pun,” kata Chika yang datang mendekati aku.
“Selamat,” ucapku singkat. Matt yang berdiri di sisiku tertawa geli.
Perempuan itu cemberut, tetapi dia segera memasang senyum manisnya. “Terima kasih. Aku senang hari bahagia kita semakin dekat.” Dia melingkarkan tangannya di lenganku.
“Apa lo enggak dengar apa kata papa gue? Theo akan berada di luar negeri selama tiga tahun. Chika, pernikahan kalian masih lama lagi,” ejek Matt.
“Anak kecil seperti kamu tahu apa tentang urusan orang dewasa?” balas Chika.
Walau aku tidak hadir pada hari yang sama Amarilis wisuda, aku menemui dia pada hari Senin. Aku tidak memberi tahu Papa alasan aku meminta cuti, tetapi dia memberi izin. Maka aku menggunakan satu hari itu untuk merayakan kelulusan Amarilis sekaligus mengucapkan selamat tinggal.
Kami akan berpisah selama beberapa tahun, jadi aku perlu memberi dia perpisahan yang layak. Aku tidak mau dia menolak andai ada laki-laki yang lebih baik yang mendekatinya. Namun rencanaku itu buyar ketika dia tidak mau pisah denganku.
Entah dia memahami aku atau tidak, aku sengaja membiarkan dia masih memegang cincin warisan Nenek. Dia tidak menghubungi atau mengirim pesan seperti hari kami putus sebelumnya. Mungkin dia memahami mengapa aku tidak meminta benda itu kembali.
Kabar baik akhirnya aku terima pada pertengahan bulan Maret. Kampus yang aku incar itu menerima aku menjadi mahasiswa mereka. Yes! Aku segera memeriksa persyaratan apa yang perlu aku penuhi untuk melakukan pendaftaran ulang.
“Benarkah!?” seru Mama dengan wajah bahagia. Aku mengangguk pelan. “Syukurlah!”
“Gue bangga banget sama lo, Theo. Selamat, ya,” ucap Matt. Papa juga menyampaikan ucapannya.
“Kalau begitu, kita bisa lanjut ke langkah berikutnya.” Mama melihat layar ponselnya. “Masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya.”
“Apa maksud Mama?” tanyaku waswas.
__ADS_1
“Sudah saatnya kamu dan Chika meresmikan hubungan kalian.” Mama tersenyum bahagia. “Kamu akan tenang menjalani hubungan jarak jauh jika kalian sudah menikah.”