Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
204|Satu Detik


__ADS_3

Karena seluruh tubuhku sudah sigap sedari tadi, aku segera memeluk mama Theo dan bergeser ke arahnya. Mamaku berdiri di belakang mama Theo jika didengar dari arah datangnya suara, maka aku yakin sudah memilih sisi yang benar.


“Aarghh!!” Seorang wanita berteriak begitu dekat di sebelahku, sebelum tubuhnya meluncur jatuh ke anak tangga berjalan itu. Tanpa daya, dia terus berguling sampai ke lantai bawah.


Eskalator menuju lantai bawah memang sepi. Aku dan mama Theo berada di barisan paling depan, sedangkan orang yang mendahului kami baru saja tiba di lantai tujuan. Jadi, tidak ada yang bisa menolong atau menghalangi tubuh perempuan itu yang bergerak turun.


“Ada orang jatuh!” Setelah yang menyaksikan kejadian itu pulih dari rasa terkejut, keadaan di sekitar kami pun ramai dengan teriakan histeris.


“Cepat telepon ambulans!” perintah salah satu pengunjung mal yang menuju lantai atas.


“Hei, jangan gerakkan dia! Siapa tahu ada tulang yang patah!” seru yang lain.


Aku dan mama Theo melangkahi tubuh itu, lalu aku berbalik dan mengulurkan tanganku kepada mamaku. Begitu tangan kami bersentuhan, aku merasakan tangannya gemetar. Aku membawa dia menjauh dari kerumunan orang-orang yang penasaran dengan keadaan wanita itu.


Begitu kami berada di tempat yang aman, aku segera memeluk dia. Ternyata tubuhnya juga bergetar dengan hebat. Dia pasti sempat ketakutan sesuatu yang buruk akan terjadi kepadaku. Ya, Tuhan. Seandainya mamaku tidak berteriak, memperingatkan aku, sesuatu yang buruk pasti terjadi.


“Tidak apa-apa, Ma.” Aku mengusap-usap punggungnya. “Aku baik-baik saja. Mama jangan khawatir. Lihat, aku memeluk Mama dan baik-baik saja. Si kecil juga aman.”


“Iya, Safira. Putri dan cucu kita baik-baik saja.” Mama Theo membantu aku menenangkan Mama.


“Iya,” isak Mama. “Oh, Tuhan. Aku takut sekali tadi. Di-dia tiba-tiba saja turun satu anak tangga dan mengulurkan tangannya. Un-untung saja aku segera mengenali wajahnya.” Mama memeluk aku dengan erat. “Apa salahmu, Nak? Mengapa dia benci sekali kepadamu?”


Mama menangis tersedu-sedu membuat aku ikut sedih. Namun aku tidak melarang atau memaksa mamaku berhenti menangis. Dia membutuhkan ini untuk menenangkan dirinya sendiri. Aku melihat kepada mama Theo. Dia pun mengerti dan mengeluarkan ponselnya.


Tidak lama kemudian, petugas medis datang dan langsung mengambil alih memeriksa keadaan wanita itu. Petugas sudah ikut campur menjauhkan kerumunan agar korban tidak kekurangan oksigen. Eskalator juga ditutup dari kedua jalur sehingga tidak ada lagi yang menggunakannya.


Kami tidak mendekat, juga tidak mau ikut campur. Mereka bisa mengidentifikasinya nanti ketika suaminya menyusul mereka ke rumah sakit. Kami berhati-hati dengan menjaga jarak agar tidak dituduh telah berbuat jahat terhadap perempuan itu.

__ADS_1


Para pengawalku tidak menyembunyikan diri mereka lagi dan mengawal kami pulang. Aku dan kedua mamaku hanya diam sepanjang perjalanan. Aku masih percaya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Satu detik saja terlambat, aku nyaris kehilangan bayiku.


Theo, Papa, dan Antonio sudah berdiri di teras menyambut kedatangan kami. Begitu mobil berhenti, suamiku membuka pintu dan menolong aku keluar. Tanpa peringatan, dia langsung memeluk aku dengan erat. Akhirnya, aku tidak lagi menahan emosiku dan menangis dalam pelukannya.


Firasatnya benar. Chika belum puas mempermalukan aku di media. Rencananya gagal total, dia masih mencari kesempatan untuk menyakiti aku. Ketika pertama kali merasakan hal yang tidak enak itu, seharusnya aku mulai berhati-hati. Insting tidak pernah bohong.


Setelah dia berulang kali menyakiti aku dengan menyuruh pengawalnya mengeroyok aku semasa kuliah, aku masih tidak percaya dia akan melakukan ini. Dia bahkan melakukannya di depan banyak orang, dengan puluhan saksi mata. Mendorong aku di eskalator tidak pernah tebersit dalam benakku.


“Aku benar-benar terkejut.” Ibu Mertua melihat aku dengan mata tidak percaya. “Bagaimana dia bisa bergerak dengan sigap sehingga dia tepat sekali menghindari dari dorongan wanita itu? Dia bahkan masih sempat menolong aku melihat ujung eskalator.”


“Juga masih sempat membantu aku yang ada di belakang kalian,” timpal mamaku. “Kalau bukan karena bantuannya, aku pasti tidak bisa menggerakkan kakiku dari tangga itu.”


Kami duduk bersama di ruang keluarga. Pelayan menyajikan minuman hangat dan kudapan untuk kami di atas meja. Setelah beberapa saat hanya diam, barulah mama Theo yang membuka bahan pembicaraan. Aku tenang melihat mereka berdua sudah pulih dari guncangan tadi.


Aku melirik Daisy. “Saat Theo berada di Indonesia untuk menghadiri wisuda Matt, aku tidak punya aktivitas di apartemen. Jadi, aku meminta Daisy untuk mengajari aku beberapa teknik membela diri. Dia memberi bonus dengan mempertajam rasa waspadaku.


“Aku sudah merasa tidak enak sejak kita keluar dari toko perlengkapan bayi itu. Seharusnya aku percaya dengan instingku, tetapi aku mengabaikannya. Lalu perasaan itu muncul lagi di eskalator. Benar saja. Mama berteriak memperingatkan aku sehingga aku punya waktu untuk menghindar.”


“Gue enggak marah.” Theo mengusap kepalaku. “Cara lo terbukti efektif. Seandainya lo terluka tadi, maka lo pasti dapat hukuman yang berat.”


“Theo,” tegur mamanya.


“Mama enggak boleh ikut campur,” kata Theo dengan serius. “Ini urusan antara gue dengan istri gue. Dia perlu tahu konsekuensi dari perbuatannya hari ini andai keberuntungan tidak berpihak kepada kita. Yang terjadi itu nyaris, Ma. Hitungannya detik. Mama cek saja di media daring.”


“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.


“Kejadian yang kalian alami itu tidak sengaja direkam menggunakan kamera ponsel oleh salah satu pengunjung. Lo tahu sendiri orang zaman sekarang suka cari perhatian. Video itu sudah ditonton satu juta orang hanya dalam waktu satu jam. Berita tentang lo dan Chika viral.”

__ADS_1


“Oh, Tuhan.” Aku menutup mulut dengan tanganku.


“Dia sudah tidak bisa berkelit lagi. Terlalu banyak saksi dan bukti bahwa dia berniat menyakiti lo. Gue meminta pengacara kita untuk mengurus masalah ini. Sudah saatnya mengakhiri sengketa yang tak kunjung usai di antara kalian. Norman bodoh itu memang tidak bisa mengatur istrinya.” Theo mengertakkan giginya, menahan amarah.


Suami dan ayah mertuaku kembali ke kantor agar Matt tidak kerepotan mengurus pekerjaan sendiri. Aku tetap bersama kedua ibu dan sahabat baikku di ruang keluarga. Begitu memeriksa ponsel, aku menemukan ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dan pesan di kotak masuk.


Aku memulai dengan menelepon Bunda. Dia menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf karena tidak ada di dekatku pada saat ini. Padahal aku baik-baik saja. Seandanya dia ada di sini pun, Bunda tidak akan bisa mencegah peristiwa tadi terjadi. Meghan kebetulan ada di dekatnya, jadi kami bisa melakukan panggilan video bersama.


Kak Jericho yang paling menjengkelkan. Dia marah-marah tanpa memberi aku kesempatan untuk menjelaskan. Padahal aku sama sekali tidak memprovokasi Chika untuk melakukan itu. Dia sedang melakukan pemotretan di luar kota, jadi dia tidak bisa datang menemui aku di rumah.


Usai memberi penjelasan kepada Edrick dan Sonata, barulah aku bisa bernapas sedikit lega. Aku membuka peramban di ponsel dan Theo benar. Berita mengenai aku dan Chika sedang viral. Aku mudah saja menemukan video kejadian tadi.


Penasaran dengan hasilnya, aku memilih satu video dan memainkannya. Jaraknya cukup jauh, tetapi aku bisa melihat yang mamaku katakan benar. Chika awalnya berdiri di anak tangga satu tingkat di atas Mama. Lalu dia tiba-tiba turun satu langkah, ada beberapa detik dia terlihat diam sebelum mengulurkan tangannya. Aku menghindar dan dia tidak bisa menghentikan laju tubuhnya.


Aku tidak mau melihat lebih lanjut, khawatir akan terbawa mimpi. Namun aku yakin jatuhnya pasti mengerikan dan aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Aku mencari berita mengenai kondisi terbarunya. Lalu menemukan satu media yang baru menayangkannya.


Menurut dugaan sementara, dia mengalami patah tulang tangan dan kaki. Kepalanya baik-baik saja, karena dia melindungi bagian tubuhnya itu saat jatuh. Syukurlah. Setidaknya, dia tidak akan cacat. Walau aku mau dia menderita, aku tidak ingin sampai sejauh itu. Dia layak diberi kesempatan kedua.


“Sayang, lihat ini!” Mamaku memanggil sambil menunjuk ke arah televisi. “Bukankah dia wanita yang dimarahi Delilah pada hari ulang tahunmu? Mengapa dia melakukan hal sebodoh itu?”


___


~Author’s Note~


Hai, teman-teman. Aku sedang ada urusan hari ini dan besok di luar rumah yang akan menyita banyak waktu. Jika aku masih bisa menambah satu bab lagi pada hari ini akan aku tambahkan. Bila tidak, kita bertemu besok, ya.


Terima kasih banyak atas pengertiannya. Selamat beraktivitas.

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2