Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
142|Obat Cêlàka


__ADS_3

~Amarilis~


Kepalaku terasa sakit, memaksa aku membuka mata. Aku melihat langit-langit kamar yang sudah aku kenal. Perutku terasa mual, maka aku duduk. Melihat ada obat, gelas, dan catatan di atas nakas, aku membacanya. Tulisan tangan Theo yang menganjurkan aku meminum obat tersebut.


Setelah meminumnya, keadaanku sedikit membaik. Aku perlahan berdiri dan merasakan sakit di sekujur tubuhku. Apa yang terjadi kepadaku? Aku berjalan menuju kamar mandi dan terkejut melihat bayanganku di cermin. Rambutku berantakan, mataku cekung, dan kulitku pucat.


Aku menyikat gigi, membersihkan wajah, lalu menyisir rambutku. Sejak tinggal bersama Theo, aku tidak pernah langsung keluar kamar setelah bangun pagi. Walau aku jelek, aku tidak mau dia melihat aku dalam keadaan berantakan.


Sembari membersihkan diri, aku berusaha untuk mengingat apa yang terjadi semalam, tetapi aku hanya bisa mengingat sampai kejadian di rumah Meghan. Aku mengobrol dengannya ketika Theo diajak berbincang oleh beberapa orang yang tidak aku kenal.


“Pagi,” sapa Theo yang sedang menikmati sarapannya di konter dapur.


“Pagi.” Aku terkejut mendengar suaraku yang seperti laki-laki. Aku berdehem, lalu duduk di sisinya.


“Bagaimana keadaan lo?” Dia mendekatkan sepiring bakon ke depanku.


“Kepalaku sakit sekali.” Aku mendesah pelan. “Apa yang terjadi? Mengapa aku tidak bisa mengingat apa pun?”


“Apa yang terakhir lo ingat?” Dia malah balik bertanya.


“Kita berada di rumah Meghan. Hanya itu. Bagaimana aku bisa ada di kamar, aku tidak ingat.” Aku menutup roti berisi selada, tomat, bakon, dan ham itu dengan roti kedua.


“Oke.” Dia mengangguk pelan, tetapi aku melihat semburat merah di wajahnya.


“Ada apa, Theo?” Aku membatalkan niatku menggigit roti. “Mengapa kamu tersipu begitu? Apakah aku melakukan sesuatu yang memalukan?”


“Makan.” Dia berdehem pelan. “Tidak ada hal yang memalukan.”


“Aku tidak akan makan sebelum kamu mengatakan segalanya.” Aku menjauhkan piringku dariku.


Dia melirik aku, lalu aku melihat ada semburat merah lagi di pipinya. Menjengkelkan sekali. “Ada yang memberi lo obat pêràngsang.”


Obat pêràngsang? Apa maksudnya obat yang membuat aku …? Oh, tidak. Apakah telah terjadi sesuatu dengan kami semalam? Rasa sakit di sekujur tubuhku ini. Apa aku dan dia akhirnya tidur bersama? Oh, Tuhan. Ini memalukan sekali.


“Tidak terjadi apa-apa.” Dia berdehem pelan, membuat aku curiga. “Lo jangan berpikir yang tidak benar tentang gue. Apa lo pikir gue akan meniduri lo kalau lo enggak akan mengingatnya? Enak saja. Waktu pertama kita tidak akan kita berdua lupakan.”


“Lalu mengapa muka kamu memerah begitu?” Aku menutup dadaku dengan kedua tanganku. “Apa yang kamu lakukan kepadaku semalam?” Wajahnya semakin terbakar. “Theo!!”

__ADS_1


“Gue melihat badan lo. Oke. Gue enggak bisa buang gambaran itu dalam waktu sekejap dari kepala gue. Bukan salah gue lo enggak bisa jaga diri. Makanya, minum itu pelan-pelan. Jangan langsung teguk dua gelas tanpa memberi jeda.” Mengapa malah dia yang marah?


“Lo mengeluh panas, jadi gue basahi saja badan lo di bak kamar mandi. Gue siram terus lo dengan air dari pancuran. Lo tahu sendiri kalau baju basah, badan lo berbayang. Dada lo besar dan, ah, maksud gue. Ya, gue lihat semuanya.” Dia tidak melihat aku sama sekali saat bicara.


“Dasar bodoh!” seruku kesal. “Mengapa kamu yang memandikan aku? Ke mana Daisy?”


“Lo enggak mau melepaskan gue dan terus saja menyentuhkan badan lo ke gue. Pengaruh obatnya sangat kuat sampai semua badan lo sensitif. Apa lo pikir gue enggak malu dilihat tetangga pas lo minta dada lo dipegang?” Dia memijat puncak hidungnya dengan telunjuk dan jempol kanannya.


“Mana lo pakai bahasa Inggris lagi. Lo merengek-rengek begitu, ya, sudah gue siram saja di kamar mandi. Daisy yang membantu mengganti baju lo, jadi enggak usah berpikir macam-macam. Gue juga tahu batas. Gue enggak akan sanggup melihat lo tanpa pakaian.” Dia mendesah pelan. “Puas?”


Oh. Tuhan. Itu memalukan sekali. Aku pernah mendengar dari mulut orang-orang mengenai dampak dari obat pêràngsang, tetapi kepada laki-laki. Aku belum pernah mendengar terhadap perempuan. Aku tidak merasakan apa pun yang aneh selain sakit kepala dan perut. Nyeri otot ini mungkin akibat aku terkena air terlalu lama.


“Apa kamu memberi aku obat untuk menghilangkan efek pêràngsang itu?”


“Tidak. Gue hanya memberi lo minum banyak supaya lo sering buang air. Kenapa? Bagian tubuh lo masih ada yang sensitif dengan sentuhan?” tanyanya.


Aku menggeleng pelan. “Hanya tinggal sakit kepala dan perut.”


Dia melirik piringku. “Makan. Hanya itu cara membantu mengurangi rasa sakit lo itu.”


Aku pun menurut. Makanan itu tidak terasa di lidahku. Entah karena aku masih terguncang dengan ceritanya atau ada masalah dengan lidahku. Namun aku memaksa mulutku mengunyah makanan itu. Aku membutuhkannya untuk membuat keadaanku jadi lebih baik.


Untuk membuat dia merasa lebih baik, aku sengaja memakai baju tebal dan longgar. Jadi, aku bisa sedikit menyembunyikan dada dan bökongku yang memang dianugerahi lebih menonjol dari bagian lain pada tubuhku. Amarilis sangat beruntung dalam hal ini.


Setelah berganti pakaian, aku teringat dengan Meghan. Aku memutuskan untuk menelepon dia sebelum keluar dari kamar. Dia menjawabnya pada deringan kedua. Cepat sekali.


“Hai, Amarilis! Syukurlah, kamu akhirnya menelepon juga!” Dia terdengar seperti sedang menangis.


“Meghan, ada apa? Kamu menangis?” tanyaku bingung.


“Aku merasa bersalah karena sudah mengundang kamu ke rumahku. Maafkan aku, Amarilis. Aku tidak tahu kalau kakakku akan—” Dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya itu.


“Kakakmu?” Aku semakin bingung. “Apa maksudmu, Clara yang sudah memasukkan obat ke jusku semalam?” Dia menggumam pelan. “Itu bukan salahmu, Meghan.”


“Tentu saja itu salahku. Kalau aku tidak menundang kamu, hal itu tidak akan terjadi.” Dia terisak. “Apa kamu baik-baik saja? Aku tidak berani menelepon dahulu, karena tidak mau mengganggu. Apa kamu dan Theo akhirnya … ah, maksudku … ah, itu.”


“Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Theo,” ucapku, memahami maksud pertanyaannya.

__ADS_1


“Sungguh?” pekiknya senang diikuti dengan suara lega. “Oh, syukurlah! Aku takut hubungan kalian akan hancur karena perbuatanku.”


“Meghan, hei. Itu bukan perbuatanmu, tetapi Clara.”


“Tetap saja aku merasa bersalah. Aku heran melihat dia begitu bahagia saat kami sarapan. Ternyata dia yang memasukkan dua dosis pêràngsang ke minumanmu. Dia mau merusak rencana pernikahan pacarmu dengan membuat kalian sama-sama tidak pêrawan lagi.


“Kalau aku tidak mengundang kamu, maka semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Amarilis. Aku tidak bisa melindungi kamu di rumahku sendiri. Kalau kamu tidak mau berteman denganku lagi karena insiden ini—” Dia kembali terisak.


“Meghan, aku sudah bilang, tidak terjadi apa-apa. Rencana Clara gagal total. Bagaimana kalau kita bicarakan ini sambil makan siang bersama pada hari Senin? Kamu belum ada rencana berlibur lagi dengan keluargamu, ‘kan?” tanyaku, memberi usul.


“Benarkah? Tidak. Kami rencananya ke Indonesia pada bulan Agustus. Papa mau menghadiri acara pertunangan Theo. Ah, maafkan aku mengenai itu, Amarilis.”


“Apa boleh buat. Hubungan kami memang tidak direstui orang tuanya.”


Kami mengakhiri hubungan telepon, lalu aku kembali ke ruang depan. Theo yang sedang membaca sesuatu pada tabletnya mengangkat kepala, melirik pakaianku sejenak, lalu kembali menatap layar gadgetnya. Aku duduk di sisinya.


“Lo bicara dengan siapa?” tanyanya.


“Meghan. Clara yang memasukkan obat ke minumanku. Dua dosis. Kamu percaya itu?”


“Pantas saja kamu sangat bêrgàirah.” Dia menggelengkan kepalanya.


Aku merasakan wajahku memanas. “Sebaiknya kita tidak membahas ini lagi.”


“Setuju.”


Aku melirik layar tabletnya. Ada banyak angka dan huruf yang sedang dia baca dengan serius. Sepertinya itu laporan mengenai restorannya. Pria yang malang. Aku meletakkan kepalaku di bahunya. Ada tanggung jawab yang besar di pundaknya pada usia semuda ini.


Teringat dengan ucapan Meghan, aku tidak bisa marah lagi kepadanya mengenai rencana besar itu. Menikah dengan wanita yang sederajat adalah salah satu tanggung jawabnya terhadap keluarganya juga. Aku serba salah, tidak tahu harus percaya kepadanya atau mengakhiri hubungan kami.


Pada keesokan harinya, aku makan siang di restoran sesuai janjiku dengan Meghan. Dia kelihatan sedih, walau aku sudah mencoba untuk menghiburnya. Sikapnya sangat berbeda dengan Nora yang santai saja setelah membuat aku nyaris kehilangan nilai.


Bunyi kaca pecah membuat restoran itu hening sejenak. Lalu terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakangku. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri sambil meletakkan kedua tangan di sisi kepalanya. Tubuhnya menutupi pemandangan yang sedang dia teriaki.


Pintu masuk dibuka dengan keras menarik perhatian semua orang. Pria bertubuh besar berdiri di sana dengan wajah merah padam. Yang membuat semua orang menarik napas terkejut adalah dia membawa senjata api di tangannya. Matanya tertuju kepada perempuan tadi.


“Tiarap!” teriak salah satu pria yang duduk di sebelah kananku. Dalam sekejap, suasana restoran menjadi kacau dengan bunyi berisik meja dan kursi yang bergeser.

__ADS_1


“Oh, Tuhan. Oh, Tuhan.” Meghan mulai menangis dan memegang tanganku dengan erat.


Menuruti ucapan pelanggan itu, aku mengajak Meghan untuk menundukkan tubuh kami. Badannya gemetar, aku juga. Aku hanya berniat makan siang dan bicara dengan temanku. Mengapa kami malah berada dalam situasi gawat begini?


__ADS_2