Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
108|Tamu Misterius


__ADS_3

~Amarilis~


“Gue kedatangan tamu,” kata Theo yang berjalan mendekati aku. “Bawa roti dan minuman itu, lo tunggu di kamar.”


“Apa? Mengapa aku harus menunggu di kamar? Memangnya siapa yang datang?” tanyaku bingung. Bukannya menjawab, dia mengambil piring dan gelasku, lalu memberikan kepadaku. Dia memegang lenganku dan menuntun aku kembali ke kamar.


“Tunggu di dalam sampai gue kembali. Habiskan makanan lo, lalu mandi, terserah. Jangan keluar satu langkah pun dari kamar ini. Mengerti?”


“Aku tidak—” Dia mengecup bibirku sehingga aku tidak bisa melanjutkan kalimat itu.


“Gue cuma mau dengar kata mengerti,” desaknya.


“Oke. Aku akan berada di kamar sampai kamu izinkan keluar.” Aku pun mengalah.


Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, dia menutup pintu tepat di depan mukaku. Aku mengangakan mulut, tidak percaya dengan apa yang baru terjadi. Siapa yang datang hingga aku harus bersembunyi begini? Apa mungkin orang tuanya sedang ada di sini? Atau jangan-jangan, dia selingkuh?


Memikirkan itu, aku kelaparan. Jadi, aku mengabaikan tingkahnya dan mendekati jendela. Lebih baik aku makan sambil melihat pemandangan kota yang indah ini. Aku menarik napas panjang merasakan mataku memanas. Ini bagaikan mimpi sampai aku takut terbangun. Gagal mendapatkan beasiswa dari pemerintah, ternyata aku tetap bisa datang ke kota ini dan masuk ke kampus impianku.


Siapa pun orang yang sudah mau membantu biaya hidupku selama kuliah sangat baik hati. Kampus juga ternyata tidak pelit memberikan beasiswa kepada pelajar internasional. Padahal aku tidak punya jasa apa pun terhadap negeri atau universitas ini.


Theo benar. Aku terlalu sering mendengar tentang kampus ini dari Om Azarya. Karena itu, aku juga mau melanjutkan studi di negeri ini. Bila orang sesukses dia belajar dari almamaternya, mengapa aku tidak ikut jejaknya? Tidak aku sangka, semua kerja kerasku berhasil.


Lalu orang yang sangat aku sayang juga ada di kota ini. Rasa takut yang sempat aku rasakan harus sendirian di negeri asing musnah begitu saja. Yang paling memberi semangat adalah kami akan menikah. Status hubungan kami tidak berubah. Dia masih menginginkan aku menjadi istrinya.


Mengingat pertengkaran kami tadi mengenai celana pendekku, wajahku memanas. Aku tahu apa yang dilakukan oleh suami istri ketika berada di atas ranjang. Namun aku tidak pernah memikirkan hal itu dengan baik, hanya sambil lalu.


Belum lagi anak. Oh, Tuhan. Ternyata aku sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Aku dan Theo sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Setelah dua puluh tahun lebih menjadi anak, maka kami akan menjadi orang tua. Apa aku sudah siap untuk itu?


Membayangkan Theo tanpa pakaian— Argh! Tidak, tidak. Mengapa aku ikut memikirkan hal yang jorok begitu? Bukan, itu bukan hal yang jorok. Katanya, malam pertama itu menyenangkan. Waahh, aku harus mandi. Iya, sudah saatnya untuk mandi supaya otakku tidak berpikir yang bukan-bukan.


Pintu kamarku diketuk, tepat saat aku berniat untuk masuk ke kamar mandi. “Lo sudah bisa keluar.” Terdengar suara Theo dari baliknya.


“Oke!” jawabku.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk mandi dahulu baru keluar dari kamar. Dia sudah tidak ada lagi di mana pun ketika aku meletakkan piring kotor di wastafel. Mungkin dia ada di kamar. Tidak mau mengganggu, maka aku menjelajahi ruangan yang luas itu.


Kabinet atas dipenuhi dengan berbagai bahan makanan kering dan bumbu masakan. Stoknya banyak juga. Kabinet bawah diisi dengan berbagai peralatan memasak dan makan, juga kebutuhan dapur dan kebersihan lainnya. Kulkas penuh dengan buah, camilan, dan bahan makanan basah.


Dia orang yang sangat terorganisir. Berapa lama dia mengurus semua ini sambil kuliah? Setahuku, belum liburan musim panas. Apa ada orang yang membantu dia saat pindah tempat? Tidak ada televisi di ruang duduk, sepertinya dia tidak sempat menonton.


Aku mengambil sekantong onion rings dari kabinet atas dan membawanya ke sofa di dekat jendela. Kapan aku bisa keluar dan menikmati kota ini? Theo pasti tidak mengizinkan aku pergi seorang diri. Lagi pula, aku belum mengenal daerah sekitar. Nomorku juga belum dibeli, jadi aku tidak bisa memakai peta daring. Kalau tersesat nanti, aku malah akan merepotkan Theo.


Pintu kamar di sebelah kanan terbuka, Theo keluar dengan kaus dan celana jin panjang. “Yuk, kita makan siang,” ajaknya.


“Ayo!” ucapku riang. Aku bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.


Dia menggandeng tanganku saat kami berada di luar apartemen. Bukannya mengajak aku melewati lobi, dia berjalan menuju pintu samping. Aku terkejut melihat deretan sepeda yang ada di depanku. Dia terus melangkah, lalu berhenti di dekat sebuah sepeda.


“Ini sepeda lo. Baru sampai tadi. Dan ini helm lo.” Dia menunjuk sepeda berwarna merah muda lengkap dengan keranjang di bagian depan, lalu memberikan sebuah helm kepadaku.


“Seharusnya kamu tidak melakukan ini. Aku akan membelinya sendiri begitu uang kuliahku masuk rekening,” ucapku segan.


Aku tersenyum, lalu berjinjit. Dia menundukkan kepalanya sehingga aku bisa mencium pipinya. “Terima kasih.”


“Sama-sama.” Dia memakai helm, lalu menaiki sepedanya. “Ikuti aku.”


Dia mengambil jalur yang berbeda dari restoran yang kami tuju pada hari sebelumnya. Aku sangat menikmati perjalanan kami karena dia memilih jalan yang lebih jauh. Aku mengingat setiap belokan yang dia ambil dan memperhatikan letak beberapa toko yang ingin aku kunjungi.


Bila sebelumnya dia memilih makanan Amerika, dia mendatangi restoran Meksiko untuk siang ini. Wah, aku sudah tidak sabar untuk makan burito. Aku menerima uluran tangannya dan memasuki tempat makan itu. Aroma yang lezat segera memasuki penciumanku, membuat aku lapar.


“Apa kamu selalu makan siang di restoran seperti ini, lalu memasak sendiri untuk makan malam dan sarapan?” tanyaku, setelah pelayan pergi meninggalkan meja kami.


“Tidak. Lo baru datang, jadi gue ingin menunjukkan beberapa restoran kesukaan gue yang akan lo suka juga,” jawabnya. “Kalau kita makan seperti ini sepanjang tahun, gue bisa bangkrut.”


Sudah aku duga. Walau dia tidak pelit dalam hal mentraktir makan, dia hanya membawa aku ke restoran dua kali seminggu saat kami awalnya berpacaran. Makan di luar setiap hari selain tidak sehat bagi tubuh juga tidak baik bagi kantong.


Kalau aku sudah mendapatkan uang nanti, aku tidak akan membiarkan dia yang membayar tagihan makan kami. Aku harus membayar makananku sendiri. Dengan begitu, aku turut membantu dia berhemat selama kami berada di sini.

__ADS_1


“Apa itu artinya lo yang akan memasak makanan kita setiap hari?” tanyaku merasa tidak enak.


“Iya. Tenang saja. Menambah satu porsi lagi bukan hal yang berat. Gue hanya masak makanan yang mudah, tetapi sehat. Jadi, lo enggak usah pikirkan soal itu. Gue enggak akan menyuruh lo masak.”


“Bukan begitu,” ucapku pelan. “Ngomong-ngomong, kamu tadi melanggar kesepakatan kita.” Dia mengerutkan kening tidak mengerti. “Kamu mencium aku di kamar.”


“Terus, lo mau apa? Lo mau marah sama orang yang sudah memberi lo tempat tinggal yang nyaman dan makanan yang lezat?” tantangnya.


“Siapa yang marah?” kataku, membela diri. Benar juga. Dia sudah memberikan banyak hal kepadaku sejak aku tiba di negara ini, masa aku marah hanya karena dia mencium aku?


“Lagi pula, hanya itu cara yang gue tahu ampuh membuat lo diam.” Dia menatap aku dengan serius. “Lo perlu belajar menurut sama calon suami lo ini tanpa banyak debat.”


Benar-benar menjengkelkan. Belum resmi menjadi suami sudah banyak menuntut. Bagaimana kalau sudah jadi nanti? Bisa-bisa bukan hanya persoalan dekat dengan laki-laki yang akan dipermasalahkan. Aku bernapas pun jadi persoalan.


“Jadi, siapa yang tadi datang?” Aku mengalihkan pembicaraan.


“Sepeda,” jawabnya tanpa melihat mataku.


“Kalau sepeda, tidak mungkin kamu menyuruh aku sembunyi. Jangan bohong.” Aku memicingkan mata, menatapnya penuh curiga.


“Gue mengajak lo ke sini untuk makan, bukan bertengkar.”


“Oh, begitu.” Aku duduk bersandar dan menyilangkan kedua tangan di depan dadaku. Dia melirik ke arah tanganku sesaat sebelum mendesah dan membuang muka. “Kamu selingkuh, ya, makanya kita pasti bertengkar membahasnya? Kamu sedang dekat dengan seorang perempuan?”


“Mulai besok, gue akan ujian akhir semester. Kalau lo mau lihat-lihat kampus, ikut saja. Lo akan bertemu dengan pihak kampus pada hari Rabu, ‘kan?” katanya, mengalihkan topik.


Tidak mau bertengkar di tempat umum, aku pun mengalah. “Apa boleh yang belum jadi mahasiswa masuk lingkungan universitas?”


“Boleh. Nanti gue tunjukkan tempat yang nyaman untuk menunggu atau lo bisa langsung pulang sendiri ke apartemen. Jaraknya tidak jauh.”


Dia tidak berlebihan. Makanan yang disajikan restoran itu sangat enak. Theo mempersilakan aku memesan lagi jika mau tambah, tentu saja tidak aku tolak. Karena pelayannya sangat ramah dalam melayani kami. Theo memberi tip yang cukup besar.


Kami kembali bersepeda ke apartemen. Beberapa meter dari tempat tujuan, dia malah mengayuh terus, tidak berhenti untuk menyeberang jalan. Katanya dia mau lanjut belajar untuk persiapan ujian. Dia mau mengajak aku ke mana lagi?

__ADS_1


__ADS_2