
Sombong sekali dia. Memangnya dia pikir dia itu siapa? Suami, bukan. Orang tua, bukan, Kakak, juga bukan. Lalu apa haknya bisa mengatur hidupku dan dengan siapa aku menjalin hubungan? Enak sekali dia yang menentukan segalanya dalam hubungan kami.
Om Azarya dan Tante Ruth tidak mungkin mengundang keluarga Chika makan bersama mereka kalau niat mereka tidak serius dengan pertunangan itu. Mereka pasti lebih setuju putra mereka bersanding dengan perempuan seperti Chika daripada denganku.
Tuh, ‘kan, inilah sebabnya aku tidak mau terlibat urusan dengan laki-laki. Pikiranku jadi teralihkan, padahal tujuan utamaku kuliah adalah belajar. Theo memang menjengkelkan. Mengapa aku harus mengajar adiknya dan bertemu dengannya di kampus yang sama?
Mungkin dunia ini sedang menertawakan aku. Semua pemuda yang dahulu datang mendekat aku terima dengan tangan terbuka. Itu perhatian yang sangat aku suka. Sebagai teman, tidak lebih. Aku sering iseng, tetapi aku menghormati Papa dan Mama yang sudah memilihkan suami untukku.
Lalu aku ada dalam tubuh jelek dan gendut ini sehingga aku tidak lagi menjadi pusat perhatian laki-laki. Kalau pun ada yang melirik, mereka hanya memandang aku dengan sinis. Pandangan yang sama yang pasti Katelia tujukan kepada Amarilis dahulu.
“Akhirnya, aku bisa mentraktir kamu makan juga,” ucap Sonata dengan senang. Dia meletakkan baki berisi makanan pesanannya di atas meja.
“Terima kasih, Sonata,” kataku dengan tulus. Aku duduk di depannya dengan meja berada di antara kami. Bila dengan Theo aku bisa makan sepuasnya, dengan dia, aku berhati-hati memilih makanan. Aku tidak mau dia berpikir aku rakus karena dibayari makan.
“Jadi, kamu punya hubungan apa dengan Theo?” Dia menatap aku penuh arti.
“Hanya teman. Dia juga teman sekelasku di SMU,” jawabku dengan jujur.
“Ooo. Kamu menganggur satu tahun setelah tamat SMU, ya? Aduh, aku jadi segan. Kamu ternyata seniorku. Aku malah bersikap tidak sopan dengan memanggil kamu nama saja,” katanya, merendah.
“Jangan begitu. Walau usiaku lebih tua, kita seangkatan. Aku justru lebih suka begini, jadi aku terasa lebih muda saat bertemu mereka.” Aku tertawa cekikikan.
“Maafkan aku, ya.” Dia terlihat menyesal. “Kamu sudah cerita mereka sering merundung kamu saat SMU, tetapi aku malah percaya kamu mencuri dompet senior kita.”
“Tidak apa-apa. Kita baru saling mengenal, wajar saja kamu tidak percaya sepenuhnya kepadaku.”
Kami makan sambil bicara mengenai kampus dan alasan kami masing-masing memutuskan untuk mengambil jurusan tersebut. Ternyata kami sama-sama tidak berasal dari kota ini melainkan luar kota. Bedanya, aku dari pulau yang berbeda, sedangkan dia dari provinsi di pulau yang sama.
Matanya tulus, pertanda dia tidak berbohong mengenai apa pun yang dia sampaikan. Iya, bukan dia yang sudah menghapus dokumen tugas kami dari laptopnya. Rahma pelakunya. Dia mendekati aku, tetapi aku menolak berteman dengannya. Apalagi alasannya melakukan itu kalau bukan karena iri?
__ADS_1
Hubunganku dan Sonata semakin akrab ketika keesokan harinya, dia masih bersikap sama kepadaku. Kejadian dia berubah sikap dan menjauh dariku saat Chika menuduh aku mencuri masih membekas di kepalaku. Jadi, aku selalu berpikir kebaikannya hanya sementara. Semoga saja tidak.
Pada malam harinya, aku sangat lega hanya makan bersama Matt dan Tante Ruth. Tidak ada lagi tiga orang asing yang merasa berhak menghakimi aku, bersandiwara, atau diam-diam saja melihat sikap istrinya yang tidak sopan. Sopir mereka mengantar aku pulang, karena Theo tidak di rumah.
Menjelang makan siang pada keesokan harinya, aku melihat Theo berjalan dari ruang kuliahnya menuju ujung koridor. Dia melewati aku tanpa menoleh, menyapa, atau melakukan apa pun. Gaya berpacaran yang sangat aneh. Apa dia hanya menjadi pacarku pada hari Senin dan Jumat?
“Lihat dia,” bisik seseorang di dekatku kepada temannya. “Dia pasti mengira Theo suka kepadanya.”
“Perempuan bodoh mana yang tidak akan tertipu? Baru digandeng sedikit sudah besar kepala. Dia tidak tahu Theo tidak suka dengan perempuan,” ejek temannya itu.
“Iya, benar. Dia hanya mau gabung dengan laki-laki setiap ada tugas kelompok. Memilih tempat duduk juga tidak mau yang dekat perempuan. Kita lebih cantik, mana mungkin Theo suka dengan cewek gendut, jerawatan, dan jelek itu. Ih, aku saja jijik,” kata perempuan pertama tadi.
Seandainya saja mereka tahu. Pemuda itu mengejar-ngejar aku sampai setengah memaksa aku untuk menjadi pacarnya, bahkan tidak mau putus hubungan denganku ketika ada gadis lain yang lebih cantik dan kaya yang disodorkan di depannya.
“Aku lapar. Ayo, kita makan.” Mereka melewati aku, tidak peduli aku mendengar semua perkataan mereka tadi. Baguslah, mereka tidak percaya aku dan Theo ada hubungan khusus.
Kedua gadis itu cantik, jadi aku paham mengapa mereka menghina aku. Katelia juga bereaksi serupa setiap melihat cewek jelek lewat. Fokusku di kampus ini untuk belajar, bukan menjadi model supaya semua orang mengagumi aku. Lihat saja. Mereka akan terkejut melihat penampilanku nanti.
“Mengapa kamu makan sedikit sekali?” tanya Kakak khawatir. “Tambah pesananmu. Aku yang bayar, tidak usah sungkan.”
“Aku harus punya berat badan ideal untuk bisa meraih mimpiku, Kak,” kataku, mengingatkan.
Dia memperhatikan tubuhku dengan saksama. “Benar juga. Kalau penampilan kamu tidak menarik, mana ada yang mau menerima kamu jadi karyawan.” Dia mengusap-usap dagunya. “Kapan kamu ulang tahun? Aku akan belikan baju yang cocok untukmu.”
“Tidak sekarang. Aku tidak mau tampil mencolok. Begini lebih baik,” tolakku dengan halus. “Lagi pula, kamarku kecil, makanya aku tidak punya banyak barang pribadi.”
“Baiklah. Terserah kamu saja.” Dia melihat ke sekeliling kami. “Sebaiknya kamu menjaga jarak dari Theo. Papa dan Mama tidak akan suka melihat kamu akrab dengannya.”
Aku tersenyum mendengar kalimatnya itu. Dadaku terasa lapang, lega karena dia masih melihat aku sebagai adiknya, bukan orang lain. Apa yang Theo takutkan tidak akan pernah terjadi. Aku memang berada di tubuh gadis lain, tetapi bagi Kakak, aku tetaplah adiknya, Katelia.
__ADS_1
“Kami hanya teman. Lagi pula, apa Kakak lupa? Aku adalah Amarilis. Memangnya orang tua Kakak dan aku sama? Aku bergaul dan menikah dengan siapa kelak, mereka tidak akan peduli.”
“Kamu benar. Mengapa aku berkata bodoh begitu?” Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kakak memang bodoh. Antara kita bertiga, hanya Kakak yang prestasinya paling rendah,” ejekku.
Dia mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambutku. Aku menjauh dan tertawa puas sudah membuat dia kesal. Sebenarnya, dia tidak bodoh, hanya malas. Kalau dia sudah menyukai sesuatu, maka dia akan mengabaikan yang lain.
Kak Jericho jatuh cinta sangat dalam dengan dunia modeling. Apa pun dia lakukan, bukan hanya model foto, tetapi juga peragaan busana. Dia beruntung ada produk pria sangat terkenal yang memilih dia sebagai duta mereka. Sejak itu, namanya melambung tinggi.
Aku dan Kak Nolan tidak bisa lagi pergi bersamanya tanpa dikejar-kejar penggemar dan wartawan. Jadi, kami memutuskan untuk tidak mengajak dia setiap kali makan atau jalan-jalan. Satu tahun meninggalkan layar kaca, barulah dia bisa bepergian tanpa kejaran penggemar lagi.
Sepertinya dia sengaja melakukan itu supaya bisa kuliah dengan tenang. Aku tidak bisa bayangkan apa jadinya dia kalau dikerubungi penggemar setiap hari di kampus. Namun aku bangga sekali dengan prestasi yang sudah dia raih sebagai model.
“Ngomong-ngomong, aku memenangkan audisi. Jadi, bersiaplah. Akan ada banyak orang lagi yang akan mengikuti aku ke mana aku pergi. Jangan mengeluh ketika aku memakai penutup kepala dan mulut atau membawa kamu makan ke tempat yang privasi,” katanya dengan serius.
“Wow! Selamat, Kak!” pujiku. “Kapan pagelarannya?”
“Nanti aku kabari. Aku akan berikan satu tiket emas untukmu. Apa kamu mau bawa teman?”
“Sepertinya tidak.” Aku sebaiknya datang sendiri. Sonata belum tentu menyukai peragaan busana.
“Kalau begitu, aku beri dua tiket. Terserah kamu mau datang dengan siapa.” Dia tersenyum. “Aku bangga kepadamu. Kamu lebih memilih untuk menjadi diri sendiri daripada mengikuti nasihatku untuk tetap menjadi Amarilis. Rasanya pasti tidak nyaman.”
“Kakak tidak akan tahu betapa tersiksa harus bersandiwara selama berbulan-bulan.” Aku mendesah dengan keras. “Karena itu aku putuskan untuk menjadi diriku sendiri saja. Lagi pula, tidak ada orang yang mengenal apa bedanya Amarilis dan Katelia selain kalian.”
“Tetap berhati-hati. Dan cari aku ketika kamu butuh bantuan,” katanya dengan serius.
Matt terlihat lelah sekali saat kami belajar. Aku menyarankan untuk beristirahat lebih cepat, dia menolak. Pagelaran musiknya semakin dekat, sepertinya mereka berlatih kian berat agar tidak melakukan kesalahan. Aku jadi penasaran, dia bermain alat musik apa.
__ADS_1
“Hei, lihat!” ucap seseorang ketika aku memasuki koridor menuju ruang kuliah pada pagi itu.
Orang-orang menoleh ke arahku membuat aku bingung. Ah, tidak. Pandangan mereka bukan kepadaku, tetapi di belakangku. Maka aku menoleh dan melihat Theo sedang berjalan bersama Chika. Aku segera mengerti apa yang menarik perhatian mereka begitu melihat tangan gadis itu.