
~Altheo~
Ujian akhir semester dua pun terlewati tanpa insiden yang berarti. Syukurlah, Amarilis hanya ada di apartemen, jadi Clara tidak bertemu dengannya lagi. Perempuan aneh itu sama saja dengan Chika. Aku sudah menolak, tetapi dia masih saja berusaha untuk mendekati aku.
Kabar baiknya, dia tidak akan ada di sekitar kampus lagi begitu dia wisuda nanti. Aku akan bebas menjalani tahun terakhirku di kampus ini. Aku juga bisa mengenal Amarilis lebih dekat sembari mencari jalan untuk menikah dengannya sebelum kembali ke Indonesia.
Mama sudah menyiapkan sebuah rencana besar, maka aku juga harus memikirkan langkahku sendiri dengan hati-hati. Aku tidak boleh lemah dan gegabah lagi seperti saat berhadapan dengan Keluarga Winara. Mereka bermain-main dengan trauma kami terhadap masa lalu sehingga aku kesulitan menentukan langkah. Aku harus kuat, apalagi aku akan menjadi seorang suami dan ayah.
Jika aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, bagaimana aku bisa menjaga keluargaku nanti?
“Waahh! Sini, aku mau foto di sini!” seru Amarilis yang menarik tanganku mendekati sebuah patung.
Kota bersejarah ini punya banyak sekali museum yang menunjukkan sejarah awal terbentuknya negara Amerika Serikat. Amarilis bukan gadis yang rewel, dia senang ke mana pun aku membawanya. Aktivitas yang membosankan bagi wanita lain, justru sebuah kegiatan yang menyenangkan baginya.
“Lo serius senang ada di sini?” tanyaku curiga.
“Kamu tidak salah bicara? Ini tempat yang ingin dikunjungi banyak orang di dunia. Orang Amerika sendiri juga berharap bisa datang ke sini sekali seumur hidup mereka,” jawabnya dengan antusias.
“Lo enggak mau ke mal untuk belanja pakaian atau barang wanita lainnya? Di sini ada banyak butik dari perancang ternama di dunia,” godaku.
“Mau aku pakai ke mana? Aku di sini hanya kuliah, bukan mendampingi suami miliarderku ke pesta besar nan megah.” Dia menggelengkan kepalanya. “Ayo, kita ke sana!”
Perempuan yang aneh. Dia terlahir sebagai gadis yang selalu mendapatkan semua yang dia mau. Namun enam tahun menjadi Amarilis membuat dia berubah drastis. Perpaduan yang sangat aku suka. Jiwanya seorang gadis yang terlatih dalam tata krama, sedangkan identitasnya gadis biasa.
Hal yang aku suka yang justru menjadi penghalang besar dalam hubungan kami. Mama tidak akan pernah merestui pernikahanku dengan gadis biasa. Aku hanya boleh menikah dengan wanita yang berasal dari keluarga yang sederajat dengan kami.
Sederajat. Kami tidak butuh bantuan perusahaan mana pun untuk berkembang, apa lagi yang orang tuaku butuhkan dari pernikahan sederajat? Aku sudah buktikan restoran baru kami bisa sukses hanya dengan kerja sama bisnis, tanpa ikatan perkawinan.
“Kamu memikirkan apa?” tanya Amarilis, membuyarkan lamunanku.
“Lo,” jawabku sekenanya.
“Bohong. Kamu lupa dengan kesepakatan kita untuk selalu bicara jujur?” Dia meletakkan sendok di atas piringnya, berhenti makan sejenak.
__ADS_1
“Gue sayang lo, jadi gue sedang pikirkan cara agar kita bisa menikah,” akuku.
Dia tersenyum. “Masih ada waktu satu tahun lagi sampai kamu kembali ke Indonesia. Fokus belajar dahulu, kita pasti akan menemukan jalannya nanti.”
“Gue masih ada di sini sampai lo tamat, Kat. Apa lo lupa, restoran baru keluargaku ada di sini?”
“Oh. Restoran yang rencananya akan dibuka di luar negeri itu, di kota ini??” tanyanya terkejut. Aku mengangguk. “Kamu tidak pernah cerita lokasi tepatnya.” Dia mencibir.
Tentu saja aku tidak bisa menceritakan detail apa pun kepadanya pada saat kami masih bersama. Segalanya masih belum pasti pada saat itu. Ketika setiap detail sudah beres dan pemilihan lokasi di kota ini dimulai, kami sedang putus sementara.
“Kapan-kapan aku ajak ke sana dengan teman yang lain. Jadi, staf tidak akan curiga melihat gue datang hanya dengan seorang cewek.”
“Tante masih menentang hubungan kita.” Dia mengangguk mengerti.
“Karena itu, aku senang kita bisa bersama di kota yang jauh dari keluarga kita.”
Pada hari ulang tahun kami berdua, aku mengajaknya menginap di sebuah kabin di tengah hutan. Udara yang dingin memaksa dia untuk memakai baju berlapis, jadi aku tidak perlu mengingatkan dia tentang pakaian yang terlalu pendek atau terbuka.
Aku tahu yang aku rasakan kepadanya ini dialami semua laki-laki normal, tetapi aku tetap harus menjaga diri tetap waras. Sebisa mungkin, aku tidak merebut hal yang belum milikku. Aku mau jadi laki-laki yang sejati untuknya.
“Apa saja yang lo lakukan selama di Medan?” tanyaku. Kami sedang duduk bersantai di sofa sambil menonton salah satu koleksi film pemilik kabin.
“Membantu usaha kue keluargaku.” Dia mendekatkan ponselnya, menunjukkan sebuah postingan. “Aku yang mempromosikan roti atau kue setiap hari di media sosial. Jika ada momen besar seperti hari raya atau perayaan khusus, maka aku membuat postingan yang sesuai.
“Cara ini sangat membantu usaha keluarga kami untuk mendapatkan pesanan partai besar setiap hari. Karena aku sudah melakukannya sejak aku ada di tubuh ini, kampus menganggapnya sebagai pengalaman yang berharga.” Ada nada bangga pada suaranya.
“Karena itu, mereka menerima lamaran lo,” kataku, menyimpulkan. Dia mengangguk. “Apa lo menyempatkan diri mengunjungi makam Katelia?”
“Tidak.” Dia bergeser mendekat, lalu meletakkan kepalanya di bahuku. “Aku tidak akan ke sana sebelum semua rencanaku berhasil.”
“Rencana?” tanyaku bingung.
“Iya.” Suaranya berubah serius. “Chika, Nisa, dan Rahma sudah sangat jahat kepadaku dan Katelia. Mereka tidak mau mengakui kesalahan mereka atas peristiwa jatuhnya kami ke danau. Aku akui aku orang yang jahat, tetapi aku tidak pernah lari dari tanggung jawab. Aku hanya meminta mereka untuk mengaku. Itu pun tidak bisa mereka lakukan.”
__ADS_1
“Kat, dendam tidak akan ada habisnya dan hanya membawa kerugian buat lo. Lo sudah memiliki segalanya kembali. Lo juga sudah punya gue. Apa itu enggak cukup?”
“Apa kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan kepada Chika dan keluarganya? Perbuatanmu itu bisa menimbulkan dendam di hati mereka, tetapi kamu tetap melakukannya.”
“Kalau ada cara lain, aku pasti akan melakukannya. Masalahnya, mereka menggenggam erat Mama yang punya ketakutan di masa lalu. Jadi, reputasi dibalas dengan reputasi,” kataku, membela diri.
“Apa bedanya dengan aku yang juga tidak punya cara lain untuk membalas perbuatan mereka?” tanyanya. “Apa kamu pikir aku nyaman dengan hidup baruku ini? Aku ingin mereka tahu sakit yang aku rasakan akibat perbuatan mereka. Aku butuh dukunganmu.” Dia memeluk tubuhku.
Oh, Tuhan. Dadanya menempel di dadaku. Walau kami berpakaian tebal, aku tetap merasa tidak nyaman. Mengapa akhir-akhir ini aku sangat peka dengan kedekatan fisik kami? Apa karena aku mencintai dia? Atau karena aku semakin dewasa?
“Gue hanya enggak mau lo berhadapan dengan hukum, Kat.” Aku bicara untuk mengalihkan pikiran dari hal yang belum waktunya. “Mereka bukan lawan lo.”
“Tenang saja.” Dia mempererat pelukannya. Oh, Tuhan. “Aku tahu cara bermain yang aman.”
Film berakhir, jadi aku punya alasan untuk menjauh sejenak darinya. Aku mengeluarkan CD dari DVD player, lalu meletakkannya di dekat kotaknya. Setelah suhu benda itu sama dengan suhu ruangan, barulah aku simpan kembali.
“Lo mau makan apa?”Aku berjalan menuju konter dapur.
“Mi kuah sepertinya enak. Apa ada bahan-bahannya?” Dia mengikuti aku dan duduk di salah satu kursi di seberang konter.
“Ada.” Aku membuka kabinet atas dan mengeluarkan satu kemasan spageti.
“Kamu berulang kali bicara tentang masa lalu mamamu. Apa yang terjadi? Bila Tante Ruth sampai mau saja disetir mama Chika, maka ini pasti masalah yang berat,” katanya, mengejutkan aku.
“Gue enggak bisa cerita.” Aku meletakkan panci berisi air di atas kompor, lalu mendekati kulkas untuk mengambil sayuran dan lauk.
“Kamu bilang, aku adalah calon istrimu. Mengapa aku tidak boleh tahu rahasia yang sudah diketahui Chika? Kamu takut aku akan menyebarkannya kepada orang banyak?” tanyanya curiga.
“Kenapa lo bicara begitu? Itu rahasia orang tua gue, harusnya mereka yang cerita. Itu bukan rahasia gue. Chika juga tahu dari ortunya, bukan dari gue,” kataku, membela diri.
“Aku tidak lapar. Kamu makan sendiri saja.” Dia turun dari kursinya.
Aku mendekat dan menangkap tangannya. “Kat, ada apa dengan lo? Kok, jadi begini, sih?”
__ADS_1
“Lepaskan aku!” Dia menepis tanganku, maka aku mengalah. Dia berjalan cepat menuju kamarnya. Ada apa lagi ini?