
Theo masih berada dalam ruangan saat aku dan Matt belajar. Adiknya itu tidak berhenti mendesah kesal melihat kehadiran kakaknya. Padahal pemuda itu menepati janjinya dengan tidak melakukan apa pun yang bisa mengganggu konsentrasinya belajar.
Sejak kami sepakat untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris, Matt tidak mau lagi bicara dengan bahasa Indonesia saat belajar. Tantangan yang tentu saja aku terima dengan senang hati. Namun ada Theo bersama kami, jadi aku sesekali membiarkan Matt meralat tata bahasaku. Katelia yang jago berbahasa Inggris, bukan aku.
“Ooo. Gue tahu. Lo naksir Kak Amarilis, ya, makanya selalu ada di sini sama kami?” goda Matt. Theo hanya diam. “Lo menolak tunangan lo, karena dia terlalu cantik dan kaya, ‘kan?”
“Lo bahas dia sekali lagi—” Theo mendelik tajam. Matt hanya tertawa puas.
Tunangan? Ah, iya. Dia orang kaya raya, wajar saja sudah punya tunangan. Sama seperti Katelia yang juga ditunangkan sejak kecil dengan anak rekan bisnis papanya. Pemuda yang malang. Kami belum pernah bertemu agar tidak mengganggu studi. Akhirnya, kami justru tidak akan pernah berjumpa.
“Ternyata selera lo seperti Kak Amarilis. Jeblok banget!” Anak kurang ajar itu mengakak, puas sekali menghina aku dan Theo.
“Sialan lo!” Theo yang sudah tidak tahan lagi segera mendekat dan memukul kepala adiknya itu secara bertubi-tubi. Rasakan. Bukannya mengerang kesakitan, Matt malah tertawa semakin keras.
Usai belajar, seperti biasa, kami makan malam bersama. Tante Ruth tidak lagi menyembunyikan rasa kesalnya melihat tingkah kedua anaknya itu. Dia memberi mereka jeweran keras sampai mereka hanya bisa cemberut saat menyantap makanan masing-masing.
Kejadian yang mengingatkan aku kepada kedua kakakku. Kami juga tidak berhenti bertengkar sampai Papa dan Mama pusing. Walau aku anak perempuan satu-satunya, aku tetap dihukum jika terbukti bersalah. Orang tua kami tidak pernah pilih kasih. Aku menepis pikiran itu sebelum air mata menetes.
Sulitnya menjadi Amarilis karena aku tidak punya kenangan masa kecil dengan mereka. Aku ada di badan anggota keluarga mereka, tetapi ingatan mengenai ayah, ibu, dan adiknya tidak ada sama sekali di kepalaku. Aku mengenal mereka hanya dari kebersamaan kami sejak jiwaku ada di tubuh ini.
“Aku benar-benar malu dengan tingkah kalian berdua. Mulai besok, Theo tidak boleh ada di ruangan itu lagi saat mereka sedang belajar.” Tante Ruth menatap tajam ke arah putranya yang berniat untuk membela diri. “Aku tidak mau mendengar alasan apa pun. Itu keputusan final. Kalian mengerti?”
“Iya, Ma,” jawab mereka berdua serentak. Aku mengulum senyum melihatnya.
Aku kembali kabur dari rumah mereka dan pulang dengan angkutan umum. Menatap pemandangan malam kota membuat hatiku sedih. Hidupku tidak akan begini kalau saja aku dan Katelia tidak jatuh ke danau. Dia akan membantu mamanya mengurus kue, sedangkan aku kuliah dengan santai.
Walau Katelia jahat, dia tidak pantas mati mengenaskan begini. Dia layak untuk diberi kesempatan kedua dan memperbaiki dirinya. Yang dia lakukan tidak seperti teman-temannya yang mengonsumsi obat-obatan terlarang, menggugurkan kandungan, sampai mencuri. Dia hanya mengganggu orang.
Tenanglah, Katelia. Aku akan membuat mereka menyesal telah melakukan hal jahat ini kepada kita.
Rahma, Chika, dan Nisa sudah menunggu di tempat parkir kendaraan mereka pada keesokan pagi. Sesuai dengan kesepakatan, mereka akan melakukan syarat kedua. Aku tidak membutuhkan orang lain atau penonton, cukuplah satu orang ini saja.
__ADS_1
“Siap-siap. Dia datang,” ucap Rahma.
Aku heran mendengar kalimatnya itu. Mengapa harus bersiap-siap? Dia hanya teman sekelas kami saat SMU, bukan artis atau— Melihat ekspresi wajah Chika, aku tertegun sejenak. Ah, masa iya? Tunggu, tunggu. Chika? Tidak mungkin.
Namun melihat tatapannya yang tidak lepas dari Theo, aku tidak salah menebak. Gadis ini menyukai pemuda menjengkelkan itu. Wow. Ini jalan yang sangat mudah. Aku tidak perlu menunggu lama, dia sudah memberi aku cara yang jitu untuk membalas perbuatannya.
“Selamat pagi, Theo,” sapa Chika dengan nada bahagia. Matanya bahkan sampai berbinar-binar.
Namun pemuda itu hanya melewati kami. Dia menyempatkan untuk melirik aku dengan tatapan penuh curiganya. Huh. Berhari-hari mengawasi aku, tidak ada benda yang hilang dari rumahnya. Mengapa dia masih saja waswas terhadapku? Sebentar lagi, dia akan mengetahui kebenarannya.
“Tunggu, ada yang perlu aku sampaikan,” ucap Chika belum mau menyerah.
Pemuda itu akhirnya berhenti dan membalikkan badannya. “Ada apa?”
“Kami sudah berbaikan dengan Amarilis dan dia tidak mencuri dompetku. Kami yang diam-diam menaruh benda itu ke dalam tasnya,” aku Chika dengan wajah tersipu. “A-aku tidak mau kamu terus salah paham dan menganggap dia pencuri. Kami yang mengerjai dia.”
Theo melihat ke arahku. “Apa itu benar?” tanyanya.
“Aku sudah bilang, aku tidak mengambil dompetnya. Kamu saja yang tidak mengenal siapa mereka dan siapa aku,” jawabku.
Tempat dudukku masih di barisan paling belakang, maka aku menempati kursi paling tengah dan mengikuti perkuliahan dengan serius. Sikap dan perlakuan mereka terhadap aku tidak mau aku ambil pusing. Lama-lama juga mereka bosan sendiri setelah beberapa saat tidak ada insiden pencurian.
“Hai,” sapa Theo saat aku berjalan keluar gerbang kampus.
“Mengapa kamu menyapa aku?” tanyaku curiga.
Dia tertawa. “Gue minta maaf. Lo benar. Seharusnya gue tahu lo tidak mungkin mengambil dompet itu.” Dia tersenyum, tetapi matanya tetap dingin. “Ayo, gue traktir makan sebagai permintaan maaf.”
“Tidak perlu. Kamu percaya aku tidak mencuri sudah cukup,” tolakku dengan halus.
Dia malah memegang tanganku dan menarik aku mendekati sepeda motornya. “Gue tetap merasa tidak enak. Ayo, naiklah.”
__ADS_1
Kami makan di sebuah warung makan sederhana, jadi aku tidak merasa bersalah memesan banyak makanan. Kapan lagi aku bisa makan sepuasnya dan gratis? Aku tidak pernah memikirkan makan dahulu, beda dengan situasiku sekarang.
Dia hanya diam, jadi aku bisa makan dengan tenang. Dia berbeda sekali dengan adiknya yang sangat aktif bicara dan tidak mau duduk diam. Hanya ketika aku memberi tugas, barulah dia bisa fokus mengerjakan satu hal. Usai makan, kami berpisah untuk mengikuti mata kuliah terakhir.
“Hai, Amarilis! Ayo, masuk!” ajak Tante Ruth yang berjalan keluar dari sebuah ruangan. “Matt belum pulang, kamu tunggu di dalam saja. Jangan khawatir, kamu tetap pulang tepat waktu.”
“Baik, Tante. Terima kasih.” Aku berjalan menuju ruang perpustakaan dan duduk di tempatku.
Pintu diketuk dan seorang pelayan masuk. Dia membawakan makanan dan minuman di atas baki. Ah, yang aku tunggu-tunggu. Tante Ruth tahu benar aku sudah lapar setiap kali datang ke rumah mereka. Camilan yang disajikan tidak pernah sedikit sehingga aku selalu mengajar dengan perut penuh.
Matt belum juga datang, aku memutuskan untuk mempelajari ulang materi yang aku dapatkan di kampus selama seharian tadi. Masih minggu kedua, belum ada tugas dari dosen sehingga caraku belajar hanya dengan membaca catatan dan info lengkapnya di buku kuliahku.
“I’m so sorry. Something came up—” Aku benar-benar minta maaf. Sesuatu telah terjadi— Matt datang dan meminta maaf, juga menjelaskan hal yang menyebabkan dia terlambat.
Aku tidak memusingkan hal itu, karena aku bisa belajar sambil makan menunggu kedatangannya. Setelah menyimpan bukuku kembali ke dalam tas, aku bersiap untuk mengajarnya. Dia malah hanya berdiri dan melihat ke sekeliling ruangan.
“Di mana Theo?” tanyanya bingung.
“Aku tidak tahu. Waktu aku datang, ruangan ini kosong,” jawabku dengan jujur. “Bukannya mama kamu sudah melarang dia untuk berada di sini saat kita belajar?”
Dia mengerutkan keningnya, kemudian menepuk tangan dengan keras, mengejutkan aku. Keluarga ini perlu belajar untuk tidak melakukan setiap hal yang memekakkan telinga. “Gue tahu dia pasti ada perasaan khusus kepada Kakak.”
“Berhenti bicara omong kosong. Cepat, duduk.”
Meski terganggu dengan kehadirannya, aku merasa kehilangan dia tidak ada di ruangan ini bersama kami. Ah, aku akan terbiasa setelah beberapa hari berdua saja dengan Matt seperti semula. Lagi pula, dia tidak berhenti mengawasi gerak-gerikku membuat aku tidak nyaman.
Namun dia ada di ruang makan saat kami makan malam. Matt menggunakan kesempatan itu untuk menggoda kakaknya. Dia tidak tahu alasan Theo menemani kami belajar, tetapi aku tidak meralat tuduhannya. Biar saja dia berpikir kakaknya itu menaksir perempuan gendut.
Theo sudah menunggu ketika aku datang ke kampus pada keesokan paginya. Dia menggunakan alasan yang sama, untuk melindungi aku dari para gadis nakal itu. Padahal mereka bertiga tidak akan mengganggu aku lagi.
Pada siang harinya, dia kembali sudah menunggu aku dengan sepeda motornya di gerbang. Aku tidak enak menerima makan siang gratis dua hari berturut-turut. Namun dia tidak mau mendengar kata tidakku. Mobil Chika dan teman-temannya melintas saat Theo memasangkan helm ke kepalaku.
__ADS_1
“Tenang. Selama ada aku, mereka tidak akan bisa mengganggu kamu lagi,” katanya.
Dia salah paham, tetapi aku tidak meralatnya. Aku terlalu fokus kepada Chika yang menatap aku dengan tajam. Lalu dia melirik kepada Theo. Benar juga! Mengapa aku tidak menyadarinya sedari tadi? Itu adalah pembalasan yang paling menyakitkan.