
Aku melirik ponselku yang masih saja tidak berhenti bergetar. Kakak memang sangat menjengkelkan. Aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini, dia malah memaksa. Padahal aku masih punya waktu satu minggu lebih tinggal di kota ini.
Karena dia datang, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengembalikan semua buku kuliahnya. Aku tidak lupa menitipkan satu koper berisi barang pribadi yang tidak akan aku butuhkan selama tinggal di Medan nantinya.
“Bukannya kamu akan ke Medan awal Maret? Mengapa kamu berangkat hari ini?” Dia menatap kedua barang itu dengan heran.
“Terima kasih, Mas,” kataku kepada pegawai pemilik rumah yang membantu membawa kardus.
“Sama-sama, Mbak.” Dia pun kembali ke dalam.
“Aku sudah bilang, ada buku Kakak yang perlu aku kembalikan.” Aku memberikan koper kepadanya.
“Lalu koper itu berisi apa?” tanyanya heran. Sopirnya yang memasukkan benda itu ke bagasi.
“Pakaian, sepatu, dan tas yang tidak aku butuhkan dalam waktu dekat.”
“Memangnya kamu pikir aku ini kotak penyimpanan pribadimu?” protesnya.
“Ya, sudah. Kalau Kakak keberatan, aku minta tolong Matt saja.”
“Mengapa Matt? Dia bukan keluargamu.”
“Kalau Kak Nolan punya tempat tinggal di sini, dia pasti tidak keberatan menerima barang titipanku.”
“Ya, sudah. Iya, iya. Kamu boleh titip kopermu di apartemenku,” katanya mengalah.
Dia membukakan pintu mobil, maka aku masuk dahulu. Ada panggilan yang harus dia jawab, tetapi dari kalimat yang dia ucapkan, aku tahu itu masalah pekerjaan. Aku tersenyum mendengar dia akan mengikuti audisi lagi.
Dia memang sangat berambisi. Belum puas menjadi model merek ternama, dia mengincar produk yang sudah mendunia dan rela mengikuti audisi bersama ribuan orang. Padahal dia tinggal terima saja setiap tawaran kerja yang datang, tetapi dia tidak pernah mau puas dengan prestasinya.
Mobil berhenti di depan pintu masuk sebuah mal dan dia mengajak aku keluar. Kacamata hitam dan topi yang dia pakai bisa menyamarkan identitasnya sehingga orang tidak mengenalnya. Aku tidak menolak ketika dia merangkul bahuku.
Kami memasuki sebuah restoran yang menyajikan menu utama makanan kesukaannya. Pelayan mengantar kami ke tempat yang lebih privasi agar tidak ada yang mengganggu. Maka kami dibawa ke sudut ruang makan dan bersyukur melihat penyekat yang memisahkan kami dari meja lain.
“Ada apa memaksa aku bertemu Kakak hari ini?” tanyaku.
__ADS_1
“Apa seorang kakak butuh alasan untuk bertemu adiknya?” Dia balik bertanya. “Ada apa denganmu? Kamu menolak bertemu karena sedang patah hati?”
Berhari-hari menangis membuat muka dan mataku bengkak. Aku sudah berusaha untuk menghibur diri, tetapi air mataku tidak mau berhenti mengalir. Aku tidak menyadari rasa sayangku kepada Theo ternyata sudah sedalam itu. Mendengar kata putusnya lebih mudah daripada selamat tinggal.
Aku tidak keluar kamar, tetapi pembantu pemilik kamar terus mengantar makanan kiriman untukku. Jadi, aku tidak pernah kelaparan atau kehausan. Pasti cowok arogan nan menjengkelkan itu yang mengirimnya. Tega sekali. Setelah meninggalkan aku, dia masih saja memberi perhatian. Bagaimana aku bisa melupakan dia lebih cepat?
“Ada masalah apa lagi dengan kalian berdua? Theo belum mengubah foto profilnya. Lalu apa yang membuat kamu sampai menangis berkepanjangan begini?” tanya Kakak heran.
“Aku tidak menangis berkepanjangan.”
“Tidak usah bohong. Aku kakakmu, jadi aku tahu sifatmu. Kamu hanya akan menangis seperti ini kalau kamu kehilangan sesuatu yang sangat kamu sayang. Apa yang Theo lakukan kepadamu? Apa kalian putus?”
“Aku tidak mau membicarakannya.”
“Kamu tidak mau mendengarkan aku. Lihat apa jadinya. Apa pengalamanku dan Kak Nolan belum cukup untuk jadi pelajaran? Status kalian berbeda. Jadi, mau usaha bagaimana pun, hubungan kalian tidak akan pernah direstui orang tuanya.”
Aku menutup telinga dengan kedua tanganku sambil berkata, “Aku enggak dengar. Aku enggak dengar. Kakak bicara apa, aku tidak dengar.”
“Dasar anak-anak.” Dia menjitak kepalaku hingga aku mengaduh kesakitan. “Apa kamu pikir kamu masih lima tahun?”
Dia mendesah pelan, lalu melihat ke sekitar kami. Hm. Apa ada masalah baru yang sedang dia hadapi? “Ini tentang temanmu, Rahma. Dia beberapa kali terlibat dalam tim peragaan busana yang aku ikuti.”
“Dia bukan temanmu,” ucapku cepat.
“Oke. Mantan teman.” Dia meralat kalimatnya sendiri. “Apa ada yang mau kamu lakukan kepadanya? Sabtu lalu dia menyatakan cinta dan aku meminta waktu untuk berpikir.”
“Apa maksud Kakak?” tanyaku bingung, tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya.
“Maksudku, kalau kamu tidak butuh bantuanku untuk memberi dia pelajaran, maka aku akan jawab tidak. Sebaliknya, jika kamu mau dia patah hati parah, misalnya, aku akan gunakan pesonaku.”
“Reputasi Kakak perlu dijaga, jangan macam-macam. Dia urusanku,” kataku dengan tegas.
“Oke,” jawabnya.
Aku tidak segera percaya mendengar jawabannya itu. Dia mengalihkan pembicaraan sehingga aku tidak bicara lebih lanjut. Dia menceritakan tentang berbagai pekerjaannya dalam waktu ke depan. Aku pun mengalah dan menyimaknya.
__ADS_1
Dia mengantar aku pulang setelah makan, karena aku tidak kuat berada terlalu lama di luar. Mataku perih dan aku butuh tidur. Itu yang aku lakukan begitu tubuhku menyentuh permukaan kasur. Aku lelah sekali sehingga aku bisa pulas dengan cepat.
Matt mengajak aku bertemu pada akhir pekan terakhirku di kota ini. Undangan yang tidak aku tolak, karena aku mau pamit dengannya. Sonata juga aku minta untuk datang, jadi aku tidak perlu keluar dua kali hanya untuk bertemu dengan mereka.
“Gue benci kalian berdua,” keluh Matt.
“Baru duduk sudah buat tidak enak hati. Kamu ini bagaimana, sih?” protes Sonata.
“Lo enggak mengerti. Mereka berdua itu gue dukung sepenuhnya, eh, malah pisah. Begonya, yang satu lagi masih menggunakan foto profil yang sama. Heran gue,” omel Matt.
“Dia hanya mau memanas-manasi orang tua kalian dan Chika. Kalau mereka tahu kami sudah putus, mereka akan tenang dan berpikir Theo lebih memilih gadis itu daripada aku,” tebakku.
“Entah apa rencana yang sudah dia siapkan sampai menunggu selama ini untuk putus dari Chika. Gue sudah enggak tahan lagi.” Dia menggeram kesal.
“Amarilis, kalau kamu pulang, apa itu artinya kamu tidak akan datang pada saat aku sidang?” tanya Sonata dengan wajah sedih. “Kamu juga tidak akan datang pada hari wisudaku?”
“Nah, iya. Bagaimana dengan aku? Apa Kakak juga tidak akan datang pada hari wisudaku?” tanya Matt, tidak mau kalah.
Aku berterima kasih di dalam hati kepada Sonata. Dia sudah membuat Matt berhenti bicara tentang kakaknya yang menjengkelkan itu. Aku masih butuh waktu untuk tidak merasa sedih lagi setiap mengingat tentang dia. Kenyataan bahwa foto profilnya belum diganti itu juga membuat aku resah.
Namun aku akhirnya mengerti mengapa dia tidak menukarnya dengan foto yang lain. Dia butuh tameng agar Chika tidak semakin menjadi mendekatinya. Untungnya, berita mengenai mereka tidak lagi memenuhi media. Perempuan jahat itu juga sudah tidak memosting foto mesra mereka.
Pada hari terakhir sewa kamar, aku pamit kepada teman-teman serumah dan pemilik indekos itu. Kak Richo memaksa untuk mengantar aku ke bandara, maka aku mengalah. Matt tidak bisa karena dia masuk kuliah. Alasan aku memilih hari biasa untuk pulang.
“Kamu serius tidak mau jadi manajerku? Kariermu akan lebih cemerlang kalau kamu mengawalinya dengan menjadi manajer model terkenal seperti aku,” bujuknya lagi.
“Tidak, Kak. Aku tidak bisa bekerja terikat kontrak. Kakak sudah tahu aku akan melanjutkan studi agar bisa bersaing dengan orang lain di dunia kerja. Semakin cepat aku kuliah, semakin baik.”
“Melamar beasiswa, kamu harus punya pengalaman kerja, Riris,” katanya, mengingatkan.
“Aku punya, dong,” ucapku dengan santai.
Setiap langkah sudah aku susun dengan baik, jadi aku punya alasan atas setiap pilihan hidupku. Hanya Theo yang tidak masuk dalam rencanaku, tetapi aku tidak menyesali apa yang telah terjadi di antara kami. Dia memilih jalannya sendiri, maka giliranku untuk mewujudkan impianku sendiri.
Aku yakin kami akan bertemu lagi suatu hari nanti. Dia tidak masuk dalam rencanaku sekarang, tetapi dia menjadi satu pion penting pada proyekku di masa mendatang.
__ADS_1