Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
74|Sama-sama Sibuk


__ADS_3

“Lo sudah tahu perasaan gue. Di kepala gue selalu ada lo. Supaya bisa konsentrasi mengerjakan tugas akhir ini, gue menghindari segalanya yang ada hubungannya dengan lo. Maaf, kalau lo jadi salah paham. Gue enggak bermaksud menghindari lo. Sungguh.”


Ternyata itu alasannya. Aku hanya memikirkan diri sendiri sampai lupa dia pernah mengakui hal itu. Padahal aku sudah tahu dia sedang sibuk mengerjakan skripsi, bukan berlibur atau bermain-main. Namun aku senang pernah mengalaminya. Karena aku semakin yakin aku sayang kepadanya.


“Bagaimana kalau kita pergi berlibur pada awal tahun nanti?” usulnya.


“Berdua saja?” tanyaku, mengonfirmasi. Dia mengangguk cepat. “Tidak. Terlalu berisiko.”


“Gue tidak akan melewati batas. Kita bisa memesan dua kamar,” janjinya.


“Tidak, Theo. Lebih baik kita pergi seharian daripada menginap. Ingat, giliran aku yang akan sangat sibuk pada semester depan.” Aku akan mengajukan proposal dan hal itu akan menyita waktuku.


“Benar juga.” Dia mengusap-usap dagunya.


“Kamu akan mulai bekerja di perusahaan papamu. Kita berdua akan sangat sibuk, Theo.”


“Gue hanya kerja dari Senin sampai Jumat. Kita bisa kencan seperti orang berpacaran lainnya pada akhir pekan. Jadi, kamu tidak boleh mendekam di kamar pada dua hari itu,” tuntutnya.


“Tidak boleh begitu, dong. Kamu boleh fokus pada tugas akhirmu, mengapa aku tidak?”


“Ooo. Lo balas dendam, nih, ceritanya?” godanya. Aku tertawa kecil. “Baiklah. Semakin lo cepat tamat, semakin leluasa keadaan kita nanti.”


Dia datang ternyata untuk mengurus sidang skripsinya. Aku bangga sekali kepadanya. Dia bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat. Aku tahu dia mengejar kuliah berikutnya di luar negeri. Aku tidak tahu di mana dan jurusan apa, karena katanya rahasia.


Setelah melewati masa-masa ujian akhir semester. Aku pun bisa menghadiri sidang tersebut. Theo terlihat sangat tenang dan lancar dalam mempresentasikan penelitiannya. Para dosen penguji bertanya pun dijawabnya dengan baik. Apa aku nanti bisa seperti dia?


Teman-temannya mengucapkan selamat begitu sidang berakhir. Dosen mengajak mereka berfoto bersama. Ketika Chika mendekatinya, Theo tidak menggubrisnya melainkan mendatangi aku. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang mengarahkan pandangan mereka kepada kami.


“Terima kasih,” ucapnya sebelum memeluk aku sangat erat.


“Terima kasih untuk apa?” tanyaku bingung.


“Karena sudah memahami aku dan kesibukanku,” jawabnya.


Aku mengusap-usap punggungnya. “Theo, kita masih ada di ruang sidang.” Aku menyadari tatapan semua orang tertuju kepada kami.

__ADS_1


“Ah, iya.” Dia melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tanganku. “Kamu mau makan apa?”


“Bakso!” jawabku dengan cepat.


Sama seperti wisuda Kak Jericho, aku hanya bisa melihat Theo dari jauh. Kami sudah sepakat untuk tidak merusak suasana hati mamanya dalam acara bahagia itu. Mereka sudah membiayai kuliahnya, maka aku tidak pantas ada di sana dan melukai perasaan orang tuanya.


Walau Chika berada di sana, aku yakin hati Theo hanya untukku. Jadi, aku tidak merasa sedih atau terbuang melihat mereka berfoto bersama atas desakan keluarga. Mereka akan mengadakan acara makan di restoran milik Keluarga Husada. Aku tidak diundang.


Namun pada hari Minggu, Theo mengajak aku menghabiskan waktu berdua saja. Kami merayakan kelulusannya dengan cara kami sendiri. Pertama, kami ke taman, lalu lanjut ke museum. Tradisi yang mulai kami sukai. Dia senang bisa berada di ruang tertutup, sedangkan aku di tempat terbuka.


Sayangnya, hanya untuk satu hari. Karena pada hari Senin, aku mulai masuk kuliah. Matt menggoda aku yang kesepian sejak Theo tidak ada di kampus lagi. Dia menawarkan diri untuk menemani aku makan siang, tetapi aku menolak. Saatnya bagiku untuk fokus pada proposalku.


“Selamat pagi,” sapa pria yang sudah bukan seorang pemuda itu.


“Theo!” Aku segera berlari memeluknya. Kami tertawa bersama, melepas rindu. “Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Apa gue enggak boleh datang ke sini menemui calon istri gue?” Dia balik bertanya.


“Bukan begitu. Apa kamu tidak pergi ke kantor?” Aku melepaskan pelukanku. “Wah! Kamu keren sekali pakai baju resmi begini. Mana jasmu?”


“Di mobil. Gue tahu ada yang akan memeluk gue sambil menangis, jadi untuk jaga-jaga … aw!” Dia mengusap-usap perutnya yang aku pukul.


“Aku tidak menangis. Kamu keluar kota setiap akhir pekan, siapa yang tidak akan marah?” cibirku.


“Hei. Gue bekerja, bukan liburan,” katanya, membela diri. “Lo mau sarapan bareng gue atau gue tinggal? Gue belum makan dari rumah.”


“Ikut!” sorakku senang.


Empat akhir pekan terlewati karena dia berada di luar kota. Rasanya semua serba kebetulan. Aku tidak mau menuduh Om Azarya sengaja memonopoli dia untuk menjauhkan kami. Namun apalagi alasan dia melakukan semua itu sekarang kalau bukan disengaja?


Theo tidak pernah ikut setiap kali Om pergi ke luar kota sebelumnya. Padahal dia tidak kuliah pada akhir pekan, jadi bisa saja ikut menemani papanya. Sejak dia wisuda, barulah mereka pergi keluar kota setiap hari Jumat malam dan pulang pada Minggu malam.


Aku dan Theo total tidak bisa bertemu selama satu bulan yang lalu. Syukurlah, kami masih bisa saling berkirim pesan atau menelepon. Jika aku sedang fokus pada proposalku pun, dia tidak keberatan aku hanya diam ketika kami melakukan panggilan video.


Jadi, aku sangat bahagia dia menyempatkan datang menemui aku sebelum ke kantor. Aku kebetulan akan ke perpustakaan untuk mencari buku penunjang lainnya. Kami sama-sama setuju untuk makan nasi gurih, dan dia memesan satu porsi lagi untuk bekal makan siangku.

__ADS_1


Menunggu pesanan kami diantar, dia mengajak aku berfoto bersama. Hal yang langka itu tidak aku tolak. Awalnya, aku merasa risi dia memotret kami dalam posisi yang terlalu dekat. Namun setelah beberapa jepretan, aku terbiasa, malah menyukai hasil foto tersebut.


“Maaf, gue akan sangat sibuk di tempat kerja. Akan gue kabari mengenai rencana kita akhir pekan ini,” ucapnya merasa bersalah.


“Aku mengerti. Pergilah. Hati-hati.” Aku memegang kenop pintu, tetapi dia menahan tanganku yang lain. Aku menoleh dan dia mengecup bibirku.


“Gue sayang lo, Katelia.” Dia membelai pipiku dengan lembut. “Jangan dekat dengan laki-laki lain.”


Aku mengangguk pelan, lalu menatapnya dengan serius. “Kamu juga. Jangan dekat dengan gadis lain,” ucapku tidak mau kalah.


“Apa lo memakainya?” Dia melirik leherku. Memahami maksudnya, aku mengeluarkan kalungku yang ada di balik kerah kemeja. “Bagus.” Dia mengusap cincin yang menjadi liontinnya.


Aku tidak heran ketika pada akhir pekan itu, kami tidak bisa bersama lagi. Dia harus menemani Om Azarya meninjau sebuah pabrik di luar kota. Walau kami tidak bisa bertemu, dia bicara denganku lewat panggilan video, cukup untuk mengobati rasa rindu.


Entah apa yang terjadi, Matt menjemput aku pada hari Minggu dan mengajak aku jalan-jalan. Dia tidak mau mengatakan hal apa yang sedang kami rayakan, tetapi aku menyukai aktivitas itu. Kami makan siang, menonton film, berkeliling mencari hadiah untuk gadis incarannya, lalu makan malam, dan menonton lagi. Kakak dan adik sama saja. Mereka tidak suka aktivitas di luar ruangan.


“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.


Dia dari tadi sibuk sendiri dengan ponselnya. Sesekali dia cemberut, lalu tersenyum atau tertawa sendiri pada kesempatan lain. Aku memeriksa ponselku berulang kali, tetapi tidak ada pesan baru dari Theo. Jadi, aku memasukkannya kembali ke tas. Kami menunggu film yang akan kami tonton.


“Gue mengunggah foto kita di akun Mukabuku gue. Banyak yang berkomentar, termasuk orang yang enggak gue suka.” Dia memberikan ponselnya kepadaku.


Aku melihat foto kami yang dia maksudkan. Aku ingat dia mengajak aku berpose saat kami makan, sebelum film dimulai, dan ketika memilih kado. Fotonya cukup banyak dan dia memberi keterangan, “Kakak dan guru terbaik.” Dia menambahkan emoji hati dan wajah tersenyum.


Ada banyak yang memberi respons atas postingannya tersebut. Yang dia maksud dengan orang yang tidak dia suka ternyata Chika. Perempuan itu berkomentar menggoda yang ditanggapi penuh emosi oleh Matt. Aku tersenyum membaca setiap kata pembelaannya terhadap aku.


“Orang seperti dia tidak perlu diladeni.” Aku mengembalikan ponselnya.


Chika menggoda dia dengan mengatakan bahwa kami berdua sangat serasi. Hal yang tidak perlu dia masukkan ke hati. Cukup anggap saja yang dia maksud dengan serasi adalah sebagai adik dan kakak, bukan sepasang kekasih. Matt memang mudah marah kalau menyangkut aku, entah mengapa.


“Gulir layarnya dan lihat foto yang ada pada postingannya,” anjurnya.


Aku menurut dan melihat foto yang mengejutkan. Chika berpakaian pantai dengan dada rendah sedang memeluk Theo yang memalingkan wajahnya. Iya. Wajah pria yang dipeluknya tidak terlihat, tetapi aku tahu itu adalah pacarku. Pacarku!


“Theo sedang ada di Bali bersama Papa. Gue enggak tahu bagaimana ceritanya perempuan itu juga ada di sana. Sudah cukup.” Dia mengambil ponselnya kembali saat aku berniat melihat postingan yang lain. “Tidak perlu lihat foto lainnya. Percaya saja sama Theo.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Aku tidak bisa merebut kembali ponsel itu dari tangannya, jadi aku terpaksa mengalah. Sikapnya itu justru membuat aku curiga ada yang tidak beres. “Apa ada foto yang lebih parah dari yang pertama tadi?”


__ADS_2