
“Tidak ada orang yang bisa berubah dalam waktu satu tahun. Mustahil kamu bisa sepintar ini dalam waktu singkat. Aku ingat betul, kamu siswa paling bodoh di kelas kita, juga nomor bontot dari semua siswa seangkatan satu sekolah,” kata Rahma menambahkan.
“Lalu kamu dapat nilai A pada semua mata kuliah semester satu. Kamu pasti curang. Ayo, jujur saja kepada kami. Bagaimana kamu bisa berubah drastis begini?” desak Nisa.
Apakah melihat gadis yang mereka kenal bodoh menjadi cerdas begitu menyakitkan? Mereka pasti mengikuti aku tanpa aku sadari ke tempat ini. Mungkin mereka bertanya kepada sekuriti untuk tahu tujuanku datang ke rumah itu.
“Kalian lupa dengan rahasia kalian yang aku ketahui dengan baik?” tanyaku, setengah mengancam.
Wajah mereka berubah pucat. Bagus. Mereka tidak sepenuhnya berniat untuk mengganggu aku. Jelas sekali mereka tidak mau semua rahasia mereka aku bongkar. Keluarga mereka bisa marah besar, karena semua perbuatan mereka itu akan merusak reputasi mereka.
Selama mereka tidak bisa menebak aku adalah Katelia, maka aku masih aman. Cara ini terpaksa aku tempuh karena tidak ada jalan lain untuk mengendalikan seseorang selain lewat rahasianya. Suatu hari nanti, aku yakin mereka akan curiga. Namun aku sudah tidak bisa ditindas lagi saat hari itu tiba.
“Se-sebaiknya kita pergi, teman-teman. A-aku ti-tidak mau orang tuaku sampai tahu rahasiaku,” ucap Rahma yang pertama menyerah.
“Jangan lemah begini, Rahma. Dia hanya menggertak kita, jangan takut.” Chika menatap aku dengan mata menantang. “Dia tidak akan berani mengatakan apa pun kepada orang lain.”
“Kamu pernah tidur dengan pacar kakakmu demi dapat obat terlarang yang—” Aku tidak bisa melanjutkan kalimatku itu, karena dia membungkam mulutku dengan tangannya.
Matanya membulat, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Tutup mulutmu. Kalau ada yang mendengarnya dan hal ini sampai ke telinga kakakku, aku bersumpah kamu akan mati.”
Aku menepis tangannya itu dari mulutku. “Ini peringatan terakhir. Kalian mengganggu aku lagi, maka rahasiamu yang pertama kali akan aku bongkar, Chika.”
Tanpa menunggu respons mereka, aku berjalan menuju halte. Bus bertepatan datang, jadi aku bisa langsung masuk dan menjauh dari mereka. Aku menarik napas panjang begitu keadaanku sudah aman. Jantungku berdebar cepat sekali sampai dadaku sesak.
Berhadapan dengan mereka seperti ini terus umurku bisa berkurang banyak. Bagaimana mereka bisa ada di sini juga? Apa yang begitu menarik dariku sampai mereka membuntuti aku? Theo saja tidak sepenasaran itu dengan perubahanku. Mengapa mereka berbeda?
Oh. Mungkin mereka bukan mengikuti aku, tetapi mengawasi gerak-gerikku. Mungkin mereka takut aku akan menemui orang terdekat mereka dan membeberkan semua rahasia mereka kepada orang tersebut. Benar juga. Mengapa aku tidak berpikir begitu sebelumnya?
Aku tidak boleh gugup agar bisa menjawab pertanyaan mereka dengan tenang. Pesan Kak Jericho harus aku ingat baik-baik. Jangan sampai keteledoranku sendiri yang membongkar rahasiaku. Aduh, aku benar-benar harus segera tamat dan mengejar mimpiku.
“Pantas saja kamu lebih kurus.” Tiba-tiba Chika bergabung joging bersamaku ketika aku berbelok ke sebuah gang. Kedua temannya juga ikut melakukan hal yang sama.
Aku menarik napas terkejut, tetapi bisa langsung mengendalikan diri. Umurku serius berkurang satu tahun karena ulahnya itu. “Bukannya kalian tinggal di tempat yang elit. Apa yang kalian lakukan di tempat kumuh ini?” ucapku seraya menyindir.
__ADS_1
“Selama tujuh belas tahun kamu tidak peduli dengan berat badanmu. Ada apa kamu mendadak ingin menurunkannya?” tanya Rahma penasaran.
“Kalau mau diterima jadi karyawan, di antara kita berdua, siapa yang menurutmu akan lebih mereka pilih?” tanyaku, memberi petunjuk.
“Apa?” kata Chika terkejut. “Kamu sudah menyiapkan diri untuk bekerja??” Mereka serentak tertawa mengejek.
“Heh. Bukan hanya penampilan dan nilai akademik yang menjadi pertimbangan utama perusahaan menerima karyawan. Kamu harus punya relasi juga,” ledek Nisa.
Mereka tertawa sambil mempercepat lari mereka dariku. Sepertinya dugaanku benar, mereka mengawasi aku dari jauh. Tidak apa-apa. Aku bisa putar otak dengan cepat memikirkan jawaban yang tepat jika mereka bertanya tentang apa pun.
Taman pada hari Sabtu itu sangat ramai, entah ada momen apa. Aku tidak menyia-nyiakannya dengan bermain sebaik mungkin. Melihat ada banyak pasangan muda-mudi, aku memainkan lagu bertema hubungan asmara. Benar saja. Mereka yang mendengar tidak pelit memberi uang.
“Permainanmu bagus sekali. Apa kamu mau tampil di sebuah acara resmi?” tanya seorang pria muda yang sedari tadi tekun menyaksikan aku bermain.
“Acara resmi apa, Mas?” tanyaku dengan sopan.
“Orang tuaku merayakan ulang tahun pernikahan mereka, acaranya sebentar lagi. Aku tidak tahu apa kamu siap—” katanya sedikit ragu.
“Asal ada daftar lagunya, saya bisa mempersiapkan diri dari sekarang, Mas,” kataku dengan cepat, tidak mau kehilangan kesempatan emas itu.
“Bila warna ungu bukan masalah—” Aku langsung teringat dengan gaun pemberian Tante Ruth.
“Sempurna! Itu warna kesukaan Bunda. Berikan nomor rekeningmu,” katanya sambil mengeluarkan ponselnya. Aku mengerutkan kening, tidak mengerti. “Ayo, cepat! Ini jadi bukti aku tidak main-main. Aku akan berikan uang mukanya, jadi kamu yakin untuk datang.”
“Oh. Tidak perlu, Mas. Saya percaya.”
“Kalau begitu, aku yang tidak percaya kamu.” Dia tertawa kecil.
Aku pun mengalah dan memberikan nomor rekeningku. Dia melakukan sesuatu dengan ponselnya sebelum mengarahkan layarnya kepadaku. Aku membulatkan mata melihat jumlah yang dia transfer. Dia hanya tertawa. Kami bertukar nomor telepon dan bukti itu dia kirim kepadaku.
Mataku memanas ketika dia pergi. Mengapa Tuhan baik sekali kepadaku? Setelah semua hal jahat yang aku lakukan, aku diberi rezeki yang tak terduga. Aku sudah siap untuk bekerja keras membiayai kuliahku, tetapi selalu saja ada jalan untuk mempercepat terkumpulnya uang.
Wajar pria itu mentransfer uang demikian banyak untukku. Acara yang dia maksudkan diadakan pada keesokan harinya. Aku malah baru ingat hari Sabtu lalu adalah Hari Valentin. Pantas saja ada begitu banyak pasangan yang mendatangi taman pada malam hari.
__ADS_1
“Selamat malam, Ayah, Bunda, saudara, sanak, dan sahabat semua. Untuk menghibur kita semua, ada tamu istimewa yang pasti akan membuat kita terhanyut dengan gesekan biolanya. Selamat menyantap makan malam sambil menikmati permainan sahabat baruku, Amarilis Josepha.”
Pria baik hati itu mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku hanya menggeleng pelan, geli dengan tingkahnya yang terlampau ramah itu. Padahal kami baru bertemu untuk kedua kalinya, tetapi dia memperlakukan aku layaknya saudara.
Alunan piano dimulai, maka aku bersiap untuk memainkan lagu pertamaku. Orang-orang bertepuk tangan mengenali nada-nada pertama tersebut. Aku tersenyum, berterima kasih, lalu meneruskan permainan sebaik mungkin.
Setelah setengah jam pertama, aku diminta untuk istirahat. Makanan sudah disiapkan di atas meja di mana barang-barangku berada. Aku berterima kasih, lalu menyantap hidangan itu sambil mendengar alunan piano mengiringi tamu yang hendak tampil bernyanyi di panggung.
“Terima kasih banyak, Amarilis,” kata pria baik hati itu. Aku merasakan tasku bergetar. “Itu adalah sisa bayaranmu. Aku sangat puas dengan penampilanmu. Bunda senang sekali bisa mendengarnya.”
“Terima kasih, Mas,” ucapku tersipu.
“Apa aku boleh memberikan nomor ponselmu andai ada kenalanku yang mau kamu menghibur pada acara mereka juga?” tanyanya dengan sopan.
“Boleh, Mas. Tetapi pastikan mereka sebaik Mas, ya. Saya tidak mau dikerjai atau dijebak orang yang usil,” pintaku, berhati-hati agar dia tidak tersinggung.
“Itu pasti. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu,” janjinya. Ada mobil berhenti di dekat kami. “Nah, tumpanganmu untuk pulang sudah tiba.”
“Oh. Tidak perlu, Mas. Saya bisa pulang sendiri,” tolakku dengan halus.
“Jangan begitu. Taksi ini aman, kamu tidak perlu khawatir. Ongkosnya sudah aku bayar. Jika masuk tol pun biaya akan dibebankan kepadaku,” bujuknya. “Tolong, jangan ditolak.”
Melihat wajah memelasnya, aku pun mengalah. Aku tiba dengan selamat di tempat tinggalku, juga bisa mengganti alas kaki sebelum turun dari mobil. Teman-teman satu rumahku bisa terganggu jika aku melangkah menggunakan sepatu berhak tinggi itu.
Gaun ungu itu agak longgar, tetapi aku berhasil menyiasatinya dengan memakai ikat pinggang kecil. Jadi, aku tetap bisa tampil dengan baik pada acara tadi. Sepertinya aku harus membawa gaun bagus ini ke penjahit agar disesuaikan dengan ukuran tubuhku saat ini.
Puas dengan hasil yang aku capai dari olahraga setiap pagi, aku semakin bersemangat melakukannya. Bila hujan turun, aku bisa menggantinya dengan senam di kamar atau mencuri waktu pada sore dan malam hari di mana aku senggang.
“Jangan salah paham,” kata Nisa yang menghalangi jalanku menuju kampus. “Kami hanya penasaran. Bagaimana kamu bisa bermain biola begitu ahli?”
“Jangan bohong, karena kami merekamnya.” Chika mengarahkan layar ponselnya kepadaku sebelum aku sempat merespons.
Ada rekaman video aku sedang bermain biola di sebuah taman. Dilihat dari warna kaus yang aku pakai, itu kejadian pada hari Sabtu yang lalu. Walau aku sudah memakai topi, mereka bisa mengenali aku. Padahal kami bukan teman baik.
__ADS_1
“Mengapa aku harus selalu menjawab pertanyaan kalian?” kataku bingung.
Mereka saling bertukar pandang, lalu melihat ke arahku. Ucapan Chika selanjutnya bagaikan petir di siang bolong. “Karena kamu memakai biola milik mendiang Kat.”