
Cowok aneh itu mengajak aku bersepeda cukup lama sebelum kembali dan berbelok ke apartemen. Aku hanya diam dan menurut dibawa ke lantai atas. Kami tidak mampir ke mana pun, juga tidak ada hal yang dia lihat-lihat, maka alasan dari sikapnya itu hanya satu.
“Selingkuhanmu tadi datang lagi, ya?” Itu menjadi kalimat pertama yang aku ucapkan begitu dia menutup pintu apartemen kami.
“Gue sayang lo, Kat.” Dia mencium pipiku. “Kalau butuh internet, nama dan kode jaringannya ada di pintu kulkas. Sampai ketemu saat makan malam.” Dia menghindari pertanyaanku. Coba kalau aku yang begitu, mana mau dia melepaskan aku sampai mengaku.
Pada malam harinya, aku mengeluarkan pakaian yang akan aku pakai ke kampus. Aku juga mengisi tas dengan hal-hal yang aku perlukan saja dan menyimpan barang lainnya di laci meja belajar. Aku senang sekali bisa melihat kampus di mana aku akan belajar selama dua tahun ke depan.
Suasana pagi sangat menyenangkan saat kami bersepeda menuju kampus. Aku melihat ada banyak juga orang yang melakukan hal yang sama. Dia menunjuk perpustakaan universitas dan aula makan yang bisa aku kunjungi. Ternyata tempat makannya terbagi banyak, aku sampai pusing.
Tiba di tujuan, Theo memarkirkan sepedanya dan aku meniru caranya mengunci ban di besi. Aku hanya sebentar, tetapi aku ikut menggembok sepedaku agar aman.
“Tidak akan ada yang mencuri, tetapi ini untuk berjaga-jaga,” katanya. Aku mengangguk mengerti. “Ayo.” Dia mengulurkan tangannya kepadaku.
“Pagi, Theo!” Tiba-tiba saja seseorang memeluk tubuhnya, menjauhkan aku dari pacarku. Apa-apaan ini? Siapa perempuan bule berambut kuning ini?
“Aku sudah bilang berkali-kali, jangan lakukan ini.” kata Theo dengan bahasa Inggris, mendorong perempuan genit itu menjauh darinya. Dia meraih tanganku dan menggandengnya.
Mata bule itu mengikuti gerakan tangan Theo. “Siapa dia?” tanya perempuan itu dengan muka tidak suka, sama sekali tidak berniat pura-pura tidak cemburu.
Bukannya menjawab, Theo hanya mengajak aku untuk memasuki gedung. Aku melirik perempuan yang sedang mencibir itu. Seorang pria mendekatinya, lalu mereka mengobrol. Jauh-jauh ke Amerika, sepertinya ada juga rival berat yang harus aku hadapi.
“Enggak usah khawatir. Hanya dia yang agresif begitu di sini. Gue sama sekali tidak tertarik,” kata Theo, menjelaskan. “Ini ruang kuliah gue.” Kami berhenti di depan sebuah pintu.
Ruangan itu sangat besar dengan bagian belakang semakin tinggi dari barisan depannya. Di bagian depan ada papan besar berwarna putih yang aku yakin berfungsi untuk menampilkan presentasi dari dosen juga sebuah podium.
“Lo enggak apa-apa gue tinggal sendiri?” tanyanya.
“Dia orangnya?” Aku tidak menunggu lagi untuk menanyakan hal yang dia hindari dari kemarin.
“Dia siapa?” Dia lagi-lagi menghindari mataku. Cowok ini memang tidak bisa berbohong.
“Orang yang datang ke apartemen dan yang kamu hindari saat kita pulang dari makan siang,” ucapku, mengikuti arah pembicaraannya.
__ADS_1
Dia mendesah pelan. “Gue enggak selingkuh, sayang.”
“Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”
“Bisakah kita bicarakan ini nanti? Aku benar-benar harus ke ruang kuliah sekarang.” Dia melirik jam tangannya dengan resah.
“Berjanjilah kita akan membahas ini nanti.”
“Baik, gue janji.”
Dia mengecup keningku, lalu memasuki ruang kuliahnya. Aku menatap punggungnya sampai dia duduk di kursi barisan depan. Wanita muda tadi tidak terlihat di antara mahasiswa lain yang masuk bersama Theo. Padahal aku tidak akan marah kalau dia jujur. Mengapa harus berahasia segala?
Tempat pertama yang aku datangi adalah perpustakaan. Gedung itu besar dan megah sekali. Aku diizinkan masuk dengan memakai kartu pengunjung. Tempat ini akan sering aku kunjungi nanti. Perpustakaannya tidak hanya melayani buku cetak, tetapi mereka punya banyak sekali jurnal atau buku elektronik yang bisa diakses menggunakan akun dan kode dari petugas.
Walau masih pagi, sudah ada beberapa orang yang konsentrasi di depan layar komputer. Aku tidak sabar kembali sibuk dengan urusan akademik. Puas berkeliling, aku keluar dan mengembalikan kartu yang aku pinjam.
Theo sudah menunggu di luar dengan sepedanya dan aku. Ah, aku tidak ingat waktu! “Maafkan aku.”
“Bagus kalau lo tahu lo salah,” ucapnya, menjengkelkan. “Ayo, gue lapar.”
“Kampus ini menyenangkan.” Aku meletakkan baki berisi makananku di atas meja, lalu duduk.
“Tunggu sampai kuliah lo mulai nanti,” godanya.
“Oke, saatnya untuk menjawab pertanyaanku.” Aku mengingatkan janjinya.
“Gue enggak mau bahas ini karena lo pasti marah.” Dia cemberut. “Perempuan tadi suka sama gue. Dia beberapa kali mengajak tinggal bareng untuk menghemat biaya, tetapi gue tolak. Walau gue kuliah di sini, budaya gue tetap Indonesia.”
“Jadi, kalau dia tahu aku tinggal bersamamu, dia akan mempermasalahkannya,” kataku, mengerti. Dia mengangguk. “Memangnya mau sampai kapan kamu sembunyikan ini? Cepat atau lambat, dia akan mengetahuinya juga.”
“Dia senior kita. Bulan depan dia akan wisuda, jadi gue aman.” Dia menatap aku dengan saksama. “Lo enggak marah?”
Aku mendesah pelan. “Mau bagaimana lagi. Ini risiko punya pacar tampan, cerdas, dan kaya.”
__ADS_1
“Jadi, lo enggak cemburu?” tanyanya lagi.
“Tentu saja aku cemburu. Aku marah melihat dia memeluk kamu sesukanya begitu. Apa aku harus bilang supaya kamu mengerti?” omelku.
“Lo enggak bisa baca pikiran, gue juga enggak, Kat. Kalau lo enggak bilang, gue enggak akan tahu.”
Sepertinya kami memang selalu bermasalah dalam hal komunikasi. Mungkin karena kami sama-sama egois hanya ingin didengar dan tidak mau mendengar. Aku sudah marah dahulu ketika dia melarang aku dekat dengan laki-laki tanpa tahu maksudnya adalah tanpa kehadiran teman wanita.
Aku juga tidak mau jujur dengan perasaanku setiap kali dia melakukan kesalahan. Padahal Theo selalu jujur mengatakan apa yang ada di kepalanya sekalipun tidak enak didengar. Aku senang kami membicarakan hal ini sekarang. Jadi, hubungan kami bisa lebih baik lagi.
“Usaha dia boleh juga. Dia menyapa kamu dengan bahasa Indonesia,” godaku, mencairkan suasana.
“Jangan mulai, Kat,” katanya dengan nada serius.
Pada hari selanjutnya, aku menolak untuk ikut bersamanya ke kampus. Aku mulai mempelajari hal yang akan aku dapatkan dari dosen. Theo memberikan setiap buku kuliah dan catatannya untuk aku baca sendiri. Menurutnya, belajar dahulu akan menolong memahami penjelasan dosen nantinya.
Apalagi bahasa yang digunakan adalah bahasa asing. Aku akan butuh dua kali usaha yang lebih keras untuk bisa memahami perkuliahan kali ini. Dia benar. Dengan usaha yang sama, aku belum tentu bisa mendapatkan hasil yang sama dengan kuliah sarjana.
“Untuk lo.” Theo memberikan sebuah kotak berlabel ponsel kepadaku.
“Oh, sayang. Terima kasih,” ucapku terharu.
“Ponsel di negara ini berbeda dengan negeri kita. Setiap ponsel sudah ada nomor SIM-nya sendiri. Tidak bisa dilepas pasang. Gue sudah masukkan nomor gue. Jangan sampai salah memberikan data saat menemui pihak kampus. Mengerti?” Dia mengusap rambutku. Aku mengangguk.
Theo mengantar aku ke ruangan administrasi dan bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. Dia meninggalkan aku untuk mengikuti ujian di kampusnya. Setelah menerima beberapa penjelasan disertai pemberitahuan ulang mengenai persyaratan beasiswa, aku menerima berkas dari mereka.
“Maaf, apa saya boleh tahu, siapa orang yang sudah membantu biaya akademik dan hidup saya selama kuliah di sini?” tanyaku ingin tahu.
“Mohon maaf. Seperti yang sudah kami sampaikan lewat surel, donatur meminta hal ini untuk dirahasiakan. Jika waktunya tiba, bisa jadi orangnya sendiri yang akan datang kepada Anda,” jawabnya, dengan gaya diplomasi.
Aku tidak merasa berutang budi kepada Kak Nolan yang sudah membantu biaya SMU Amarilis, atau beasiswa yang aku menangkan dari perusahaan ternama di Indonesia selama kuliah sarjana. Namun aku merasa tidak enak ada orang yang tidak mengenal aku memberikan uang sangat besar untuk biaya studi lanjutku.
Sebuah perusahaan atau organisasi tidak akan menyembunyikan identitas mereka. Aku justru akan dijadikan duta mereka atau teladan untuk perempuan lain yang ingin menuntut ilmu lebih tinggi. Maka donatur ini seorang pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedua hal tadi.
__ADS_1
Siapa orangnya? Papa dan Mama tidak bisa berbahasa Inggris, juga tidak punya uang sebanyak ini. Ayah dan Bunda baru tahu siapa aku satu bulan sebelum keberangkatanku ke sini. Kedua kakakku memang berduit, tetapi mereka tidak akan menggunakannya untuk membayar aku kuliah di luar negeri. Theo masih bergantung kepada orang tuanya, tidak mungkin dia punya uang lebih.
Kalau bukan mereka, lalu siapa yang menyembunyikan dirinya dariku? Masa iya ada cowok kaya raya yang diam-diam suka aku membiayai lanjut studiku?