Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
218|Memiliki Segalanya


__ADS_3

~Altheo~


“Terima kasih banyak, Theo.” Richo duduk di kursi di depanku. “Tanpa bantuanmu, aku mungkin tidak akan bisa membuka agensiku sendiri.”


“Lo adalah kakak istri gue, masa gue enggak bantu usaha lo? Apalagi lo menunjuk istri gue sebagai direktur utamanya.” Aku melirik buku menu di depannya. “Pesan makanan lo.”


Dia mengajak aku bertemu untuk makan siang, maka aku menyempatkan diri untuk bertemu. Lagi pula, aku sedang luang dan bosan bertemu dengan rekan bisnis Papa yang seusianya. Aku juga mau sesekali bertemu dengan orang yang sebaya denganku.


“Apa kabar Asher dan Aiden?” tanyanya setelah pelayan pergi.


“Merindukan om mereka,” jawabku sekenanya.


“Hebat juga kamu bisa punya dua anak laki-laki.”


“Gue bisa kasih tahu triknya kalau lo mau, tetapi jangan sampai adik lo tahu.”


Dia tertawa kecil. “Riris tidak bodoh. Dia pasti tahu.”


Kami mengobrol dengan santai mengenai banyak hal. Aku tidak heran mendengar dia mengeluh tentang tingginya intensitas pertengkarannya dengan calon istrinya. Semakin dekat harinya memang calon pengantin akan sering berdebat. Sekalipun seluruh acara disiapkan oleh event organizer.


Aku turut bahagia melihat kedua kakak iparku menemukan cinta mereka. Nolan sudah menikah lebih dahulu. Wanita yang juga ahli waris usaha penginapan sama seperti Keluarga Wibowo. Aku tidak pernah mendengar gosip mengenai hubungan juga pernikahan mereka. Keduanya sangat menjaga privasi, tidak seperti Amarilis yang masih doyan pamer di media sosial.


Dia menitipkan beberapa berkas penting untuk aku berikan kepada adiknya. Aku menerimanya dan kami pun berpisah. Dia memaksa untuk membayar tagihan kami, maka aku tidak menolaknya. Istriku pasti senang jika dia tahu aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun saat makan siang.


Sejak kami memiliki anak, dia sangat perhitungan dengan pengeluaran bulanan kami. Sampai baju hàmîl pun, dia memakai semua pakaian lamanya saat mengandung Asher. Kami juga tidak membeli perlengkapan bayi yang baru. Semua yang Aiden pakai adalah milik kakaknya sebelumnya.


Bukan masalah, karena kondisinya memang masih bagus. Lagi pula, baju longgarnya tidak akan dia pakai lagi begitu berat badannya turun. Dia sangat disiplin dalam hal yang satu itu. Mungkin karena Amarilis pernah gendut untuk waktu yang lama, Katelia takut umurnya pendek. Dia berharap bisa hidup sampai melihat cucu kami lahir nanti. Ada-ada saja.


Matt sudah tidak bekerja di ruangan yang sama denganku. Dia sibuk merintis usahanya sendiri. Aku harus akui dia sangat nekat. Usaha pertama gagal, dia tidak menyerah. Belajar dari kekurangan, dia mencoba bisnis kedua. Warung kopinya bertahan dan aku yakin sesaat lagi dia akan sukses besar.


Aku dan Papa juga sudah membuka restoran kedua di Amerika di negara bagian yang berbeda. Kami tidak mencari orang lain sebagai rekan bisnis, karena Antonio menawarkan diri. Hal yang tentu saja tidak kami tolak. Pengalamannya dalam bisnis kuliner di sana jauh lebih lama dari kami.


“Papa pulang! Papa pulang!” sambut Asher yang melompat-lompat senang di teras rumah.


“Hai, jagoan papa.” Aku mengangkat dia, mencium pipinya, lalu menggendongnya.


“Papa, ada tamu!” lapornya dengan wajah riang. Dia benar-benar meniru sifat mamanya. Syukurlah. Aku tidak mau anak-anakku punya sifat dingin seperti aku.

__ADS_1


“Oh, ya? Apa dia membawa oleh-oleh buat lo?” Aku melihat kepala pelayan bersiap untuk membuka pintu ruang keluarga. Sepertinya mereka ada dalam ruangan itu.


“Bawa, Pa. Banyak sekali. Ada mainan, makanan, baju. Untuk Adik juga ada!” jawabnya.


Kami memasuki ruangan itu. Aku tahu Antonio akan tiba hari ini di Indonesia. Dia dan Meghan duduk bersama pada satu sofa, sedangkan istriku di seberang mereka. Bayi kami ada dalam gendongan sahabat baiknya itu. Mereka serentak menoleh menyadari kedatangan kami.


“Hai, sayang!” sambut Amarilis.


“Hai, Theo!” sapa pasangan itu.


“Hai,” balasku, lalu mengecup bibir istriku setelah duduk di sisinya. Aku meletakkan Asher di atas pahaku. “Kalian tidak istirahat? Apa kalian tidak jet lag?”


“Meg tidak sabar mau melihat keponakan keduanya,” jawab Antonio. “Aku sudah menyuruhnya untuk istirahat, tetapi dia tidak mau.”


“Siapa yang butuh tidur setelah melihat wajah damai malaikat kecil ini?” ucap Meghan terharu. “Dia mirip sekali denganmu, Theo. Amarilis tidak berhenti mengeluh karena anak kalian tidak ada yang meniru ciri fisiknya.” Wanita itu memandang istriku penuh arti.


Aku hanya mendengarkan mereka berbicara melepas rindu. Pertemuan terakhir mereka adalah tiga tahun lalu saat Asher baru lahir. Antonio dan Meghan menepati janji mereka untuk datang melihat keadaan si kecil. Mereka kini datang lagi untuk melihat putra kedua kami.


Walau tidak bertemu, mereka tetap aktif berkomunikasi. Meghan sudah sangat sibuk dengan proyek pada perusahaan keluarganya, jadi mereka hanya mengobrol satu atau dua kali sebulan. Amarilis juga sibuk dengan putra sulung kami dan usaha agensi baru bersama kakaknya sehingga frekuensi panggilan video mereka menurun. Namun itu tidak mengendurkan keakraban mereka.


Usai makan malam, Amarilis membawa putra kami ke kamar untuk bersiap tidur. Meghan mengikuti mereka, sedangkan Antonio tetap bersamaku di ruang keluarga. Anjingnya yang setia berbaring di dekat kakinya, bersikap sangat baik sejak tadi.


“Aku bukan dokter.” Untung saja, aku menemukan jawaban yang aman.


Dia tersenyum. “Kalau bukan karena trauma yang aku alami, aku juga mau memiliki anak lagi. Aku kasihan melihat Meghan akan sendirian jika aku pergi nanti.”


“Kamu masih muda, belum saatnya bicara mati. Lagi pula, Meghan tahu semua risikonya menjadi istrimu. Dia tetap mau menikah denganmu, maka kamu tidak perlu khawatir,” ujarku.


“Sepertinya aku harus belajar banyak darimu. Seandainya saja aku bisa bersikap acuh tak acuh.”


“Aku hanya berpikir realistis.”


Keputusannya dan Meghan untuk menikah adalah sebuah kejutan sekaligus misteri bagiku. Mereka dekat sama halnya seperti Antonio terhadap Amarilis. Namun tidak pernah tebersit dalam benakku mereka akan menikah. Setelah satu tahun bersama pun, mereka masih bersikap layaknya sahabat.


Baru kali ini Antonio membahas hal seserius anak. Mungkin hubungan mereka sudah lebih akrab sejak satu tahun ini. Aku tidak bisa membayangkan kesulitan yang mereka alami dalam pernikahan mereka. Apalagi Wilson masih menentang hubungan mereka sampai detik ini.


Wajar saja. Mama pun tidak mau membayangkan seandainya Amarilis menikah dengan pria itu. Usia mereka terpaut terlalu jauh, itu masalah utamanya, disamping masalah lain seperti perbedaan cara berpikir. Antonio lebih pantas menjadi papanya daripada pasangan hidupnya.

__ADS_1


“Asher, ayo, tidur sama papa,” ajakku, melihat dia masih asyik di kamar adiknya.


“Oke, Pa!” Dia segera berdiri dan berlari mendekati aku.


Amarilis dan Meghan pasti punya banyak hal yang akan mereka bicarakan. Aku tidak mau kehadiran putra kami menghalangi mereka untuk saling berbagi. Meski aku tidak tahu-menahu tentang alasan wanita itu menikahi Antonio, aku yakin istriku tahu segalanya.


Asher melompat-lompat senang saat kami berjalan menuju kamarnya. Dia menyikat giginya di kamar mandi, lalu mendekati aku  yang sudah siap dengan piyamanya. Karena dia sudah mengantuk, aku tidak perlu membaca buku terlalu lama untuknya.


Aku diam sejenak, setengah berbaring di tempat tidur kecilnya. Kepalanya ada di dadaku, maka aku menunduk agar bisa mencium rambutnya. Aku pasti akan menjaga dia sekuat tenaga. Aku akan beri semua hal yang terbaik untuknya, pakaian, makanan, pendidikan, bahkan hiburan. Dia tidak akan kalah dengan teman-temannya, selama masih ada aku.


Putra pertamaku, penerus keluargaku kelak. Dia dan adiknya akan seperti aku dan Matt atau Nolan dan Richo. Mereka tidak boleh menjadi kakak adik yang saling menyakiti karena memperebutkan warisan. Jika hal itu terjadi, aku lebih baik menjual semuanya dan membagi dua uangnya.


“Akhirnya, aku bisa berdua sejenak dengan suamiku.” Amarilis memasuki kamar, lalu mencari aku. “Sayaanngg.” Dia mendekati aku yang sudah duduk di sisi tempat tidurku.


Aku menyingkirkan tablet yang aku pegang agar dia bisa memeluk aku dengan leluasa. “Aiden sudah tidur?” Aku menghirup rambutnya dalam-dalam. Aroma bedak bayi.


“Sudah, tetapi dia akan bangun sebentar lagi.” Dia melepaskan pelukannya, lalu mengambil map yang ada di atas nakas. “Titipan Kak Jericho?”


Aku tidak melepaskan pelukanku. “Iya.” Aku ménciúm lehernya, bahunya, tetapi dia menghindar saat aku akan mèngécup bibirnya.


“Kita belum bisa melakukan ini, sayang,” katanya, mengingatkan.


“Kita tidak akan bèrcintà. Gue cuma mau memanjakan lo.” Aku meletakkan tanganku di belakang kepalanya agar dia tidak bisa menghindar lagi.


Bêrcúmbu adalah pelepas stres terbaik kami. Dengan kesibukannya mengurus bayi kami, aku tahu dia membutuhkan ini. Aku menginginkan lebih dari ini, tetapi aku bersedia menunggu. Bércintà usai berbulan-bulan puasa itu tiada bandingannya. Rasanya persis seperti màläm pértàma.


“Lo senang jadi dirut di agensi itu?” tanyaku, melihat dokumen yang dia baca. Aku meletakkan daguku di bahunya.


“Lebih senang bekerja bersamamu, tetapi itu berbahaya. Bisa-bisa kita tidak bekerja, malah sibuk bercinta.” Dia mengerling, menggoda aku. “Jadi, kita harus bekerja di tempat yang berbeda sampai kita bisa mengendalikan hàsrät yang mênggèbu-gèbu ini.”


“Untuk apa dikendalikan? Itu artinya kita saling mencintai.” Aku ménciúm pipinya. “Saat Richo pensiun dari model dan mengambil alih posisi lo, maka lo harus jadi asisten gue. Tenang, gue pasti bayar tiga kali lipat dari gaji terakhir yang kakak lo berikan.”


Dia tertawa geli, maka aku menggunakan kesempatan itu untuk ménciúmnya lagi. Ada dia di sisiku, aku telah memiliki segalanya. Walau status kami awalnya jauh berbeda, aku bahagia tidak menyerah begitu saja. Kami kini sederajat, bahkan bila dia mau, status sosialnya bisa lebih tinggi. Antonio rela memberikan apa saja untuknya karena sudah menyelamatkan nyawanya.


Demi dia dan anak-anak kami, aku harus menjadi lebih kuat. Hidup kami masih panjang dan orang yang ada di sekitar kami bukan hanya orang baik. Pasti ada musuh yang sudah mengintai, siap menerkam saat kami lengah. Bisa saja ada yang menyamar dengan menjadi kerabat atau sahabat.


Walau ada para pengawal kami yang siap bertaruh nyawa untuk melindungi kami, aku harus berdiri paling depan menjaga istri dan anak-anakku. Karena mereka memercayakan diri mereka kepadaku.

__ADS_1


...***S E L E S A I***...


__ADS_2