
Aku masuk ke ruangan itu, lalu menutup pintunya kembali. Tante Ruth duduk di salah satu sofa dan menunjuk ke arah kursi di depannya sebagai tempat dudukku. Walau bingung dengan situasi itu, aku menurut. Dia tersenyum kepadaku.
“Matt sudah satu tahun lebih belajar denganmu di rumah ini di ruangan yang sama. Nah, aku pikir dia sudah butuh suasana baru. Berhubung dia ingin sekali mengikuti jejak papa dan kakaknya, maka ada baiknya dia mulai menikmati waktu di kampusmu,” paparnya dengan antusias.
“Apa kamu punya ide di mana di sekitar kampus kalian yang cocok menjadi tempat belajar? Theo bilang, di sekitar perpustakaan ada meja dan kursi yang bisa digunakan untuk belajar. Bagaimana menurutmu? Apa Matt bisa belajar denganmu di sana?” tanyanya penuh harap.
“Tentu saja bisa, Tante. Ini adalah masa-masa yang penting bagi Matt, jadi aku senang mendengar Tante sangat peduli dengan semangat belajarnya. Aku akan coba melihat-lihat tempat yang bisa kami gunakan untuk belajar bersama.” Aku menyetujui usulnya tersebut.
“Wah, baguslah, kalau begitu! Kalian bisa belajar di sana mulai hari Senin depan,” pungkasnya.
Dia tidak melakukan ini demi Matt, tetapi untuk mencegah aku dan Theo sering bertemu. Padahal aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa. Tante Ruth bersikap berlebihan. Lagi pula, ada cara yang lebih praktis. Dia bisa mencari guru pengganti untuk Matt.
Putra keduanya itu sudah bisa belajar mandiri, jadi siapa pun gurunya, dia akan baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan dengan bayaran bagus ini. Namun bila semuanya jadi begini, lebih baik aku mencari murid privat di tempat lain. Sayang sekali, dia lebih memilih mempertahankan aku.
Mungkin dia tidak mau susah payah mencari pengganti yang betah menghadapi keisengan Matt. Putranya itu hanya suka mengeksplorasi ekspresi orang atas setiap kenakalannya. Semakin orang itu tahan, maka dia akan semakin sayang. Dia hanya perlu menemukan guru yang tepat.
“Apa kamu dan Theo sedang bertengkar?” tanya Sonata saat kami makan siang bersama.
Dia menjadi teman makan siangku nyaris setiap hari, karena Kakak sangat sibuk. Selain bekerja, dia juga sudah fokus menyiapkan proposal terbaiknya untuk dia ajukan pada semester gasal nanti. Aku bangga sekali kepadanya. Walau mengambil cuti selama satu semester, dia bisa tamat tepat waktu.
Enaknya, dia bisa mengambil semester pendek. Aku mana punya uang untuk membayar semester yang mahal itu. Jadi, aku lebih baik ikut kelas reguler saja. Wajarlah, dia mengambil semester itu. Dia sudah pernah mengatakan tidak mau aku yang tamat lebih dahulu darinya.
“Mengapa kamu menyimpulkan begitu?” Aku balik bertanya.
“Karena kalian sudah tidak makan siang bersama pada hari Senin dan Jumat,” jawabnya.
“Hanya kesalahpahaman biasa. Kami sama-sama tidak ada yang mau mengalah,” kataku sekenanya.
“Ah, aku jadi ingat kesalahpahaman di antara kita pada tahun lalu,” sesalnya. “Tetapi aku senang, kita sudah bersahabat baik lagi. Berteman denganmu sangat menyenangkan!”
“Aku juga senang berteman denganmu.”
Sonata adalah satu-satunya sahabat yang menerima aku apa adanya. Dia tidak mendekat karena aku cantik, kaya, dan terkenal. Entah apa alasan dia mau tetap ada di dekatku, tetapi aku tidak akan kecewa andai dia menjauh dariku suatu hari nanti. Karena aku sadar, ada banyak orang yang akan membuat aku kehilangan orang-orang terdekatku.
Itu juga yang menjadi alasan aku tidak mau terlalu terbuka dengannya mengenai masalah pribadiku. Walau kami dekat, aku belum bisa sepenuhnya percaya kepadanya. Orang yang sangat aku percaya berkhianat begitu dalam. Tidak mudah bagiku untuk membuka hati bagi seorang sahabat lagi.
__ADS_1
“Mengapa kita harus belajar di sini, sih?” keluh Matt yang duduk di sisiku untuk memulai pelajaran pertama kami di kampusku. “Mama benar-benar aneh. Apa salahnya belajar di rumah?”
“Kamu akan terbiasa setelah beberapa hari kita belajar di sini,” hiburku.
Tempat ini memang bukan lokasi yang setenang ruang belajar di rumahnya, tetapi perintah atasan harus dituruti. Bagaimana pun juga, Tante Ruth adalah bos sekaligus ibu dari muridku yang berhak untuk menentukan di mana tempat anaknya belajar.
Dia mendesah kesal, kemudian meletakkan sebuah bungkusan dengan label toko kue. “Aku tidak suka belajar dalam keadaan lapar, jadi aku beli beberapa camilan juga minuman untuk kita.”
“Terima kasih,” ucapku senang.
Tiga hari pertama belajar dengan suasana baru, Matt sangat rewel. Namun memasuki hari keempat, dia sudah terbiasa dan bisa belajar dengan tenang. Pada minggu berikutnya, dia sudah santai saja dan tidak mengeluhkan keadaan kami lagi.
Suasana perpustakaan juga sudah kondusif. Kadang-kadang saja ada sekelompok mahasiswa tidak tahu diri yang bercanda hingga tertawa terbahak-bahak di sekitar kami. Syukurnya, aku tidak perlu repot menegur mereka, karena ada mahasiswa lain yang melakukannya.
Selain mengajar Matt, aku juga masih mengamen dan semakin sering mendapatkan tawaran untuk bermain biola pada sebuah acara besar. Kadang-kadang aku bertemu dengan Theo atau keluarganya, tetapi mereka sama-sama mengabaikan aku.
Hanya Matt yang mendekat dan terkejut melihat penampilanku. Tidak jarang, dia meminta diizinkan berduet denganku. Biasanya band yang diundang tidak menolak. Mereka malah senang bisa istirahat sejenak. Benar-benar pemuda yang baik.
“Kak Jericho!” Aku segera mendekat dan memeluk dia yang berdiri di dekat gerbang kampus. “Ada apa Kakak berdiri di sini pagi-pagi?”
“Kakak seperti membicarakan hantu saja pakai kata mendatangi.” Aku mencoba untuk bercanda.
“Aku sudah bilang, hati-hati. Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana dunia kita berjalan. Orang kaya bersama orang kaya, sedangkan orang miskin, ya, pikirkan saja sendiri.” Dia menggandeng tanganku, lalu mengajak aku berjalan menuju gedung kuliah kami.
“Syuting iklannya sudah selesai?” tanyaku ingin tahu, sekaligus mengalihkan topik.
Mengajar Matt membahas Theo, begitu juga saat bersama Sonata. Masa bersama Kakak pun aku harus membicarakan dia juga? Usahaku untuk melupakan dia dan melanjutkan hidup bisa gagal total. Aku mau satu hari saja tidak perlu memikirkan tentang pemuda itu.
“Iya. Aku hampir saja dimarahi produser.” Dia berdecak kesal.
Aku tahu menyinggung pekerjaannya akan membuat dia lupa tentang topik yang dia bahas tadi. “Lo? Ada apa?” tanyaku terkejut.
Dia adalah model berbakat, tetapi tampang bukan satu-satunya modal Kakak bisa menjadi model terkenal. Kakak juga sangat disiplin dan tidak banyak menuntut setiap kali mendapatkan proyek. Dia bukan model manja yang dibenci krunya.
“Rahma, teman kamu, datang hampir setiap hari ke lokasi syuting. Dia sampai membuat sutradara kesal karena ulahnya yang mengganggu jalannya syuting.” Dia mendesah keras.
__ADS_1
“Rahma bukan temanku,” ralatku.
“Teman Katelia, ya, teman kamu,” katanya kesal. Aku tertawa kecil. “Dia jauh lebih buruk dari fan yang sudah mengikuti aku dengan setia dari awal aku memulai karier ini.”
Aneh. Mengapa Rahma mendadak mendatangi lokasi syuting Kak Jericho? Setahuku, mereka tidak pernah dekat saat kami SMU. Kakak terlalu sibuk dengan kariernya, jadi dia jarang di rumah. Lalu apa yang menyebabkan Rahma sampai mengganggu pekerjaannya?
Ah, tidak mungkin. Apa iya Rahma suka dengan Kak Jericho? Dia memang semakin tampan setiap hari. Apalagi wajah culunnya berubah menuju laki-laki dewasa yang gagah dan tampan. Sudah tidak ada sisa usia remaja pada muka dan badannya. Kapan dia mulai jatuh cinta kepada Kakak?
“Eh, lihat itu,” bisik seorang mahasiswa yang melihat aku dan Kakak melintas.
“Tidak berhasil mendekati Theo, dia mulai menggoda Jericho,” kata yang lain, memahami maksud temannya tersebut.
“Gadis yang menyedihkan,” ucap mahasiswa yang lain.
“Sudah, jangan didengarkan.” Kakak melingkarkan tangannya di bahuku. “Kamu ke ruang kuliah yang mana? Aku antar.”
Kami berjanji untuk makan siang bersama sebelum berpisah. Sonata belum datang, jadi aku duduk di kursi biasanya dan mengeluarkan buku kuliah pagi. Dia datang dengan wajah ceria, menularkan rasa bahagianya kepadaku. Dia menolak ketika aku mengajaknya makan siang bersama Kakak.
Mendengar ada keributan di koridor, aku mengabaikan suitan para mahasiswa itu dan berjalan ke gerbang kampus. Mereka yang berdiri di kanan dan kiriku mengarahkan pandangan mereka ke belakangku. Entah apa pun yang ada di sana, makan siang bersama Kakak lebih menarik.
“Wah, mereka benar-benar serasi, ya!” pekik seorang mahasiswa dengan suara tertahan.
Oh. Aku langsung tahu siapa yang mereka maksudkan. Melihat Kakak sudah menunggu di samping sepeda motornya, aku mendekat. Dia menolong memakaikan helm di kepalaku, lalu kami pergi. Dia memilih restoran yang sepi seperti biasanya.
“Aku akan menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru di Medan, jadi kamu harus menjaga dirimu,” kata Kakak dengan serius.
Memahami maksudnya, aku mengangguk. “Aku akan menjaga diri, tenang saja,” ucapku santai. “Bagaimana dengan proposal Kakak? Semuanya lancar?”
Dia mengangguk pelan. “Aku akan ujian pada awal Desember. Jadi, aku bisa memulai skripsiku pada semester depan. Semuanya sudah beres, hanya perlu memeriksa data yang sudah aku kumpulkan.” Dia tersenyum bangga.
“Tumben. Siapa yang membantu Kakak mengerjakan penelitian?” tanyaku tidak percaya.
“Rahasia.”
Pada sore harinya, aku mengajar Matt di perpustakaan. Dia membawa kantong berisi camilan dan minuman untuk kami nikmati bersama. Walau aku tidak mendapatkan makan malam gratis lagi, yang dia bawa sangat mengenyangkan. Jadi, aku tidak perlu makan lagi tiba di kamar nanti.
__ADS_1
“Kak,” panggil Matt. Aku menggumam pelan sambil merapikan buku dan alat tulisku. “Hati-hati di jalan. Karena aku perhatikan beberapa hari ini, ada yang mengawasi gerak-gerik Kakak.”