Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
180|Asal Bukan Dia


__ADS_3

“Papa marah? Bayangkan perasaan gue ketika gue bukan sekadar mendengar nama, tetapi melihat dia berdiri di depan gue setelah mencampakkan gue di masa terpuruk,” kataku dengan tenang. “Jadi, hentikan semua kekonyolan ini, Pa. Gue sudah menikah.”


Dia tidak bisa membalas karena sibuk mengendalikan emosinya. Aku tidak menunggu dan keluar dari ruangannya. Sisa jam kerja itu aku gunakan untuk fokus menyelesaikan semua tugasku agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Apalagi kami tidak ada pertemuan pada malam harinya.


“Enggak ada yang mencurigakan,” kata Matt saat kami membereskan meja kerja masing-masing. “Papa dan Mama tidak pernah membahas tentang kesepakatan di antara mereka dengan keluarga Venny. Beberapa kali menemani Papa pun, tidak ada pembicaraan mengenai itu.


“Jadi, mereka memilih Venny murni karena Mama menyukainya atau membenci pilihan lo sampai Mama memilih siapa pun jadi asal bukan Kak Amarilis.” Dia tersenyum penuh arti.


“Tidak mungkin, Matt. Mama bisa saja berpikir begitu, tetapi Papa tidak akan menyetujui pilihannya jika tidak ada keuntungan yang didapat dari pernikahan kami.” Aku berpikir sejenak. “Iya, pasti ada yang membuat ortu kita rela menerima orang yang sudah menginjak-injak harga diri mereka.”


“Percaya sama gue.” Matt menepuk pundakku. “Mereka hanya tidak mau lo menikah dengan Kak Amarilis selamanya. Titik.”


Aku belum bisa membawa kabar baik untuk istriku, karena Akta Kawin kami belum juga selesai. Jadi, aku mengerti dengan kegelisahannya. Namun saat dokumen itu akhirnya selesai, dia malah sibuk sendiri dengan Richo yang memperkenalkan teman-temannya.


Para kolega Papa yang juga diundang mengajak aku berbincang. Aku bersyukur kedua orang tuaku tidak datang ke tempat ini. Aku tidak mau mereka bersikap buruk kepada Amarilis di depan semua orang. Apalagi tunangan jadi-jadian itu ada di sini.


“Itu Altheo Husada, ‘kan?” kata seorang wanita di belakangku, ketika aku mengambil air minum.


“Iya. Ganteng, ya? Sikap dinginnya itu, ya, ampun. Pantas saja Venny tidak mau melepaskan dia. Sudah kaya, pintar, ganteng, tidak mata keranjang lagi,” kata perempuan kedua.


“Tidak mata keranjang?” sungut wanita ketiga. “Dia punya simpanan. Apa kamu tidak tahu? Itu perempuan kegatalan yang sejak dahulu ada di foto profilnya. Yang video panasnya pernah viral. Yang cîúman itu, lo.” Wanita itu menyebarkan racunnya.


“Oh! Itu wanita yang sama? Wah, dia berubah sekali. Wajahnya mulus, giginya rapi, dan badannya ramping. Apa kamu tidak salah?” kata perempuan pertama dengan nada terkejut.


“Untuk apa aku bohong. Kabarnya, dia operasi plastik di luar negeri. Altheo sedang kuliah, dia ikut ke sana. Kamu tahu sendiri, orang-orang di sana hidupnya bebas, jadi sudah biasa kumpul kebo.”


“Ih, amit-amit. Mereka begituan tanpa menikah?” tanya wanita kedua, tidak percaya. “Kasihan Venny. Dia benar-benar setia mau menunggu Altheo kembali kepadanya.”


Sebelum aku menyiram seseorang dengan air dingin, aku menjauhi meja saji itu, lalu mencari kerumunan yang aman. Mataku tidak berhenti melihat di mana istriku berada. Dia masih bersama kakaknya bicara dengan seorang pengusaha busana terkenal.


Aku hanya berpaling sebentar, Amarilis dan Richo sudah berpisah. Aku mencari istriku dan melihat dia berjalan menuju meja saji. Bagus, dia sudah selesai dengan urusan pekerjaan. Namun seseorang tiba-tiba menjambak rambutnya dan menariknya masuk ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Sial! Aku mendekati tempat itu, mencoba untuk melewati kerumunan undangan, dan tiba di depan pintunya bersamaan dengan Richo. Kami tidak menunggu, jadi aku memutar kenop pintunya. Aku tidak menduga akan menemukan Venny yang kesakitan dan istriku baik-baik saja. Aku semakin yakin untuk mengakhiri hubungan kerja sama dengan keluarganya kelak.


Aku berteman dengan istriku di media sosial dengan satu alasan. Aku mau tahu rencana apa yang dia siapkan untuk Chika. Dia tidak perlu mengatakannya, karena hanya itu satu-satunya alasan dia mendadak membagi kehidupan pribadinya kepada orang banyak.


Pancingannya itu berhasil. Aku selalu memeriksa media sosial istriku saat dia sudah tidur. Wanita itu mengunggah foto dan membuat status bersama suaminya hampir setiap hari. Namun reaksi orang tidak sebanyak yang mereka berikan kepada Amarilis. Chika pasti semakin kesal.


Aku harus berhati-hati. Bisa saja perempuan itu merencanakan sesuatu yang jahat. Dia bukan tipe wanita yang membalas postingan dengan postingan, tetapi sanggup mengusik kehidupan pribadi musuhnya juga. Apalagi aku yakin pernikahannya dengan Norman hanyalah kesepakatan bisnis.


“Pak,” panggil pengawalku, “ada kabar baru.”


“Jangan bilang istri gue mampir lagi ke tempat lain.” Dia menunggu aku pulang di kafe tadi, tetapi aku menyuruhnya langsung ke rumah. Ada-ada saja. Untuk apa dia di kafe sendirian?


“Tidak. Ada seorang pria yang menegur Bu Amarilis di kafe. Dia berniat untuk membayar tagihannya. Bastian, dua puluh enam tahun, sepupu dari Nisa. Salah satu teman SMU Anda.”


Nisa? Dia satu dari teman baik Katelia saat SMU. Apa urusan sepupunya mendekati istriku? Jika dia ada hubungannya dengan Chika, maka kemungkinan besar dia mau mengganggu hubungan kami. Nisa tidak ada urusan apa pun denganku atau Amarilis.


Bila pada pagi hari, dia mengantar aku dengan pelukan dan cîúman, maka dia mengabaikan aku saat aku tiba di rumah. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku menemui dia di ruang keluarga. Aku duduk di sisinya dan memeluknya dengan erat.


Aku menurut dengan melepaskan pelukanku. “Bukankah berada di rumah lebih enak? Lo bisa duduk santai menonton film pilihan lo. Enggak ada suara bising yang bisa mengganggu lo dan anak kita.” Melihat dia tertegun sejenak, aku mendekat dan mengusap perutnya.


“Benar juga. Musik yang diputar di kafe bisa terdengar olehnya.” Dia ikut menyentuh perutnya itu, lalu menjentikkan jarinya. “Mengapa aku tidak memikirkan hal itu? Kebetulan aku sudah lama tidak praktik.” Dia tersenyum bahagia.


Sudah, begitu saja. Kami kembali mesra dan dia tidak menolak saat aku memeluk dan mencium pipinya. Kami menyelesaikan film yang sedang ditonton, baru makan malam. Aku senang melihat dia makan dengan lahap. Sampai hari ini, dia belum menunjukkan tanda-tanda susah makan.


Walau keluarganya sudah tahu mengenai kehamilannya, aku menunggu sampai waktunya tepat untuk mengabarkan hal ini kepada orang tuaku. Matt adalah pengecualian, karena dia membantu aku untuk menjaga kakak iparnya itu. Karena saat Amarilis tidak mau mendengarkan aku, Matt bisa menolong memberi pengertian kepada istri keras kepalaku ini.


Richo juga sangat membantu dengan meminta adiknya menjadi asistennya. Aku tidak menduga dia sampai membutuhkan dua asisten untuk urusan pekerjaan. Kalau bukan adiknya yang menjadi pilihan terbaik untuk mengatur jadwalnya, siapa lagi?


“Apa lo enggak punya sesuatu yang mau dilaporkan ke gue?” tanyaku, memancing.


“Misalnya?” tanyanya bingung.

__ADS_1


“Bastian,” kataku, tanpa basa-basi.


Dia tertawa kecil. “Pasti Daisy yang melaporkan itu kepadamu. Tidak terjadi apa pun, jadi tidak ada yang perlu aku laporkan.” Dia mengangkat kedua bahunya dengan santai.


“Dia mau membayar tagihan makan lo, lo bilang tidak terjadi apa pun?”


“Aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Aku sudah menolaknya. Aku bukan wanita lajang lagi, aku sadar itu, sayang. Kamu tidak perlu curiga kepadaku.”


“Apa lo enggak tahu dia sepupu Nisa?” Aku memicingkan mataku.


“Sepupu Nisa?” Dia mengerutkan keningnya, lalu berpikir sejenak. “Ah, aku ingat sekarang. Pantas saja wajahnya terlihat tidak asing. Dia adalah sepupu yang dia kenalkan saat kita akan berangkat ke Danau Toba. Aneh. Apa dia tahu siapa aku? Amarilis tidak pernah akrab dengan Nisa.”


Melihat kebingungan pada wajahnya itu tulus, maka kecurigaanku hilang. Aku tahu sikap cemburuku ini berlebihan, tetapi aku tidak bisa mengendalikannya. Dia satu-satunya orang yang bisa membuat aku tidak tenang setiap dia dekat dengan pria lain.


Ketika dia tidur pada malam harinya, aku memeriksa ponselnya. Hm. Dia menambah pria itu sebagai teman barunya. Mendengar nama Nisa, Amarilis pasti mau menggunakan kesempatan ini untuk mencari cara membalas mantan teman jahatnya itu.


Aku mulai mengerti mengapa dia melakukan semua ini sekarang. Dia ingin segalanya cepat selesai, sebelum anak kami lahir. Perempuan ini pasti tidak mau dibantu, jadi aku biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Ada Daisy yang akan mengawasi dan melaporkan segalanya kepadaku.


Bosan dengan tingkah perempuan itu yang aku yakin tidak akan berhenti menemui aku, maka aku mendatangi ayahnya di kantornya. Pria itu menerima aku dengan senang hati. Tidak lama kemudian, putrinya bergabung bersama kami.


“Aku tidak akan basa-basi.” Aku mengabaikan wanita itu dengan fokus kepada ayahnya. “Aku dan putri Anda sudah putus, tetaplah menjaga jarak dariku. Ini terakhir kalinya aku bicara untuk topik ini. Aku sudah menikah dan pernikahan kami sah di mata hukum.


“Tidak peduli apa yang orang tuaku katakan, aku sudah memilih. Kalian juga begitu. Kalian sudah memilih untuk melepaskan aku pada hari aku berbaring di dipan rumah sakit. Apa kalian pikir mudah melupakan sombongnya kalian menyakiti keluargaku?”


“Theo,” kata Venny dengan nada membujuk.


“Aku amnesia, tetapi tidak bodoh.” Aku menatap pria itu dengan serius. “Apa kalian pikir aku tidak tahu alasan kalian merahasiakan putusnya pertunangan kami pada hari itu?”



Sudah bab 180!! Yeaayy ...! Terima kasih, ya, teman-teman, masih setia membaca cerita Amarilis dan Altheo. Kita akan perlahan mengucapkan perpisahan dengan mereka, so, siap-siap, ya. Selamat malam minggu.

__ADS_1


__ADS_2