Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
53|Liburan Singkat


__ADS_3

“Jangan menoleh ke sana kemari. Nanti dia tahu Kakak menyadari kehadirannya,” ucap Matt ketika aku berniat untuk mencari orang yang dia maksud.


“Laki-laki atau perempuan, pakai baju apa, dan apa kamu bisa menebak usianya?” tanyaku.


“Perempuan, dia selalu memakai kemeja dan celana panjang jin, sepertinya sengaja mengenakan baju yang dipakai sebagian besar mahasiswa. Aku tidak bisa menebak usianya. Yang pasti, dia lebih tua dari Kakak,” jawabnya sambil ikut merapikan alat tulisnya.


“Mungkin ada laki-laki kaya yang mengincar aku untuk menjadi istrinya dan menyuruh orang untuk menjaga aku dari jauh,” kataku, berkelakar.


“Atau dia utusan dari perempuan yang menyukai laki-laki itu dan ingin mencari tahu kelemahan Kakak yang bisa dia sebarkan,” balasnya, menerima tantangan.


“Punya kamu oke juga,” pujiku.


“Yuk, pulang. Aku harus latihan pagi besok di orkestra.” Dia berdiri, maka aku pun mengikutinya. Dia pulang dengan sepeda motornya, sedangkan aku dengan sepedaku.


Kalimat peringatan Matt membuat aku waspada. Walau aku bersikap tenang dan berusaha untuk tidak melihat sosok yang mengikuti aku itu, dadaku bergemuruh. Siapa kira-kira yang menyuruh orang untuk mengikuti aku?


Ada terlalu banyak orang yang aku curigai, Theo, Tante Ruth, Tante Wibowo, Chika, Rahma, juga Nisa. Bila ada orang di luar mereka, maka aku tidak bisa menebaknya. Hanya mereka yang punya motif untuk melakukan ini, baik untuk tujuan yang mulia atau jahat.


Ujian akhir semester tiba, Matt sangat gugup. Aku semakin menggodanya supaya dia ketakutan. Enak juga bisa membuat dia resah. Sebaliknya, aku santai saja mengikuti tes di kampus. Semua bisa aku kerjakan dengan baik, sama seperti dua semester awal.


Keluargaku di Medan menelepon dan memberi tahu aku rencana mereka pada liburan akhir tahun kali ini. Aku mempersiapkan segala hal yang akan mereka butuhkan selama berada di ibu kota. Aku mencarikan dua kamar, satu untuk orang tuaku dan satu lagi untuk Hercules.


Untung saja, aku menemukan lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Mereka bisa pergi ke mana pun dengan kereta api dan bus nanti. Tempatnya dekat dengan halte dan stasiun. Aku dapat banyak pekerjaan untuk tampil di acara mewah sehingga ada uang lebih untuk membantu mereka.


“Mengapa kita naik taksi?” ucap Mama segan ketika aku menjemput mereka dari bandara.


“Tidak apa-apa, Ma. Naik bus akan lebih repot, karena harus naik turun angkutan umum,” paparku, menjaga pintu tetap terbuka.


Dia pun masuk ke taksi. Papa duduk di samping sopir, kami bertiga di jok belakang. Aku duduk di tengah, jadi Mama dan Hercules bisa melihat-lihat kondisi di sekitar mereka. Satu jam perjalanan, kami pun tiba di depan rumah, tempat tinggal mereka selama berlibur.


Mama puas dengan kondisi kamarnya dan Papa, tetapi dia bingung melihat rumah itu sepi. Aku jelaskan bahwa penghuni kamar yang lain sedang bekerja atau pulang ke kampung halaman untuk berlibur dengan keluarga. Hercules juga senang dengan keadaan kamarnya.

__ADS_1


“Aku harus tetap bekerja, jadi aku minta maaf tidak bisa menemani Papa dan Mama jalan-jalan,” ucapku pelan, merasa tidak enak.


“Kamu tidak pernah keliling Jakarta, sama saja. Kamu pasti tidak tahu jalan menuju tempat wisata. Tenang saja, kami tidak akan mengganggu aktivitasmu. Tapi kamu harus sediakan satu hari untuk bersama kami. Kita akan merayakan ulang tahun papamu,” kata Mama dengan antusias.


“Baik, Ma.” Aku sangat lega mendengarnya.


Hercules tukang pamer itu memposting foto mereka di mana pun mereka berada. Jadi, aku tidak perlu khawatir mereka akan tersesat atau mengalami kesulitan. Aku tidak berteman dengan siapa pun di media sosial, hanya keluargaku.


Menepati janji, aku menyediakan satu hari untuk bersama mereka. Kami merayakan ulang tahun Papa dengan berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Mereka mencoba setiap tempat wisata lainnya yang kami lewati, termasuk restoran yang sedang naik daun.


Mama memesan kue ulang tahun pada saat makan siang dan kami membuat acara kecil-kecilan untuk Papa. Pria itu tersenyum bahagia. Walau kami sudah satu tahun bersama sebelum aku pergi kuliah, aku tidak merasa dekat dengan keluarga ini. Aku serasa sedang menonton sebuah siaran di mana mereka adalah pemain utamanya.


“Bagaimana kuliahmu? Semuanya lancar?” tanya Mama.


Aku yang semula melihat ke arah luar jendela menoleh kepada Mama. Kami dalam perjalanan kembali ke Depok menggunakan bus. “Lancar, Ma.”


“Baguslah. Uangmu cukup untuk menyelesaikan kuliahmu?” tanyanya lagi.


Aku mengangguk. “Bagaimana dengan toko kue Mama? Apa semua lancar?”


“Berita apa yang disebar, Ma?” tanyaku khawatir.


“Apa saja. Produkku menggunakan bahan yang sudah kedaluwarsa, dapur tempat pembuatan kue penuh dengan tikus dan kecoa, bahkan aku memasak kue atau roti sisa hari sebelumnya dan dijual layaknya masih hangat,” katanya sedih.


Seharusnya aku menghibur dia dengan memegang tangannya, tetapi aku tidak terbiasa begitu. Selama kami tinggal bersama, dia hanya menyentuh aku pada hari-hari pertama aku berada di rumah mereka. Begitu aku sembuh, sikapnya berubah total.


Jadi, aku hanya bisa menggunakan kata-kata untuk menghiburnya, bukan sentuhan seperti layaknya hubungan ibu dengan anak perempuannya.


“Mama kehilangan pelanggan?” tebakku.


Dia mengangguk pelan. “Kami akan pikirkan cara untuk menepis semua gosip itu agar pelanggan tidak kabur semua. Aku memperhatikan beberapa toko roti, restoran, dan kafe yang kita datangi. Mereka punya cara yang unik yang bisa aku tiru.” Semangatnya kembali lagi.

__ADS_1


“Apa itu, Ma?” tanyaku tertarik.


“Kami akan membuka dinding pemisah antara toko dengan dapur. Beberapa bagian dari tembok itu perlu diganti dengan kaca. Jadi, semua pengunjung bisa melihat langsung kondisi dapur kita. Aku tidak pernah membiarkan dapur kotor, apalagi sampai menjadi sarang kecoa dan tikus.”


Ternyata liburan mereka ada keuntungan lainnya juga selain menjauh sejenak dari masalah. Mama mendapatkan satu ide yang bisa dijadikan jalan keluar untuk mengatasi masalah di toko. Semoga saja dengan bersikap transparan, usaha Mama bisa ramai lagi seperti sebelumnya.


“Itu ide yang bagus, Ma!” ucapku senang. “Apa Mama punya biaya untuk renovasi?”


“Ada. Selama toko sedang laris-larisnya, aku tidak memfoya-foyakan pendapatan kami,” jawab Mama dengan bangga.


Syukurlah, kalau begitu. Semoga saja cara yang Mama pikirkan itu bisa membantu menepis gosip yang beredar. Karena kalau dibiarkan, Mama dan Papa yang akan rugi besar. Apalagi Papa sudah fokus bekerja di toko roti juga.


Ini jelas perbuatan orang yang tidak suka kepada keluarga kami. Apa mungkin ada yang cemburu dengan keberhasilan Mama? Siapa? Mengapa harus pakai cara rendahan begini untuk menjatuhkan usaha orang lain yang dibangun dengan susah payah?


Kalau ada yang tidak suka dengan kesuksesan orang tuaku, buat usaha tandingan, dong. Jangan merusak kerja keras orang lain. Jika ada yang dendam, hadapi mereka dengan jantan. Aku saja yang masih muda berani menghadapi musuhku satu lawan satu. Masa yang sudah berumur masih pakai cara kekanak-kanakan untuk mengungkapkan iri hati?


“Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Mama setelah beberapa saat kami hanya diam. Ini pertama kalinya dia bertanya mengenai hal yang pribadi kepadaku.


“Belum, Ma,” jawabku dengan jujur. Aku dan Theo sudah putus, kami tidak punya hubungan apa pun lagi. Berteman pun tidak. Jadi, aku tidak berbohong mengenai statusku. “Aku mau fokus kuliah.”


“Kamu gadis yang pintar, bergaullah dengan laki-laki pintar.” Dia tersenyum. “Kamu tidak akan menemukan pemuda seperti teman-temanmu kalau kamu mencarinya pada saat bekerja. Kalian akan berubah nanti. Melihat pasangan dari isi dompetnya, bukan ketulusan hatinya lagi.”


“Aku mengikuti nasihat Mama, karena itu, aku memilih untuk menunda menjalin hubungan, Ma.”


“Aku menasihati kamu untuk menjaga tubuhmu sampai kamu menikah nanti, bukan tidak pacaran.”


Pada malam terakhir aku ada di rumah mereka, Mama masuk ke kamar dan memberi satu nasihat sebagai seorang ibu. Dia meminta aku untuk tidak memberikan tubuhku kepada laki-laki mana pun sebelum dia menikahi aku. Nasihat yang sangat aku hargai.


Dia pasti belajar banyak hal dari pengalaman orang-orang sehingga hanya memberi aku satu nasihat itu ketika aku akan pergi jauh. Kebetulan kami sependapat. Jangankan memberi tubuhku kepada seorang laki-laki, berpacaran pun aku tidak mau, sebelum semua impianku tercapai.


Rencana yang sempat goncang karena aku mau segera membalas perbuatan jahat Chika. Membuat dia cemburu memang berhasil aku lakukan, tetapi aku mundur sejenak. Dia dan Theo bertunangan adalah jalan keluar yang aku tunggu-tunggu untuk menjauh dari Theo.

__ADS_1


Aku sekarang bisa kembali fokus pada kuliahku. Semua waktuku hanya untuk diriku sendiri dan studiku. Walau kehadiran Theo tidak sepenuhnya menjadi beban, aku lega tidak perlu makan siang bersamanya dua kali dalam seminggu. Juga tidak perlu terlibat drama cinta segitiga dengan Chika. Aku belum punya kekuatan apa pun, jadi aku harus menjauhi masalah.


Aku juga perlu menjaga agar keluargaku tidak disusahi orang karena mereka dendam kepadaku. Urusan toko yang digosipkan orang itu bisa saja ada hubungannya denganku. Maka hanya ada dua orang yang mungkin melakukannya.


__ADS_2