Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
65|Jauhi Dia


__ADS_3

Untuk menghindari Theo yang pasti akan datang menjemput aku untuk membawa aku ke taman, maka aku berangkat lebih pagi menuju tempat janji temu tersebut. Karena datang satu jam lebih cepat, tempat makan itu belum dibuka.


Aku menunggu di tempat duduk yang tersedia di teras mal. Theo menelepon dan mengirim pesan, aku mengabaikan semuanya. Ponsel itu tidak bisa aku nonaktifkan, karena aku membutuhkannya andai wanita itu menghubungi aku.


Mal dibuka, aku mendekati sekuriti. Setelah bertanya lokasi tempat temu kami, aku mengikuti instruksinya itu. Aku menunggu di depan restoran yang dimaksud. Pelayan beberapa kali mendekat untuk mempersilakan aku masuk, tetapi aku menolak.


Barulah saat wanita itu datang, aku mengikutinya berjalan ke meja terdekat. Dia hanya memesan minuman, maka aku menolak meminta apa pun. Aku datang memenuhi undangannya untuk bicara, bukan makan atau minum.


“Kamu gadis yang cerdas, kamu pasti tahu apa tujuanku meminta bertemu,” katanya tanpa basa-basi. “Kembalikan cincin mertuaku dan jauhi Theo.”


Tentu saja aku tahu tujuan dia mengajak aku untuk bicara. “Maafkan saya, Tante. Saya tidak bisa melakukan itu. Theo yang memberikannya kepada—”


“Jangan berlagak pintar di depanku,” potongnya. “Apa yang kamu lakukan kepadanya? Apa kamu menggunakan ilmu hitam untuk menghipnotis dia? Kamu bukan tipe gadis kesukaannya. Bagaimana bisa dia malah lebih memilih kamu daripada Chika?”


Ilmu hitam. Hanya karena Amarilis jelek dan gemuk, dia tidak percaya putranya sayang kepadanya dengan tulus. Kami sering bersama, dia penasaran sekaligus nyaman bersamaku adalah awal rasa itu muncul. Aku juga merasakannya: ada yang kurang ketika dia tidak berada di sisiku.


Enam bulan lebih kami saling menjauh dan tidak bicara, ada yang hilang dalam diri kami. Makan siang bersama yang hanya dua hari, waktu yang bahkan tidak sampai dua jam itu, kami habiskan dengan diam. Namun ketika tidak menjalaninya, hidupku terasa tidak sama lagi.


Ya, Tuhan. Mengapa aku baru menyadari hal ini? Perasaan nyaman saat bersamanya dan kehilangan ketika dia tidak ada di dekatku itu artinya hanya satu. Aku juga sayang kepada cowok arogan itu.


“Mengapa kamu hanya diam?” tanya Tante Ruth, terlihat tidak sabar.


“Saya bekerja karena membutuhkan uang untuk membiayai kuliah saya. Ilmu hitam itu tidak murah, Tante. Jadi, saya tidak akan membuang uang demi hal yang sia-sia. Untuk pertanyaan yang terakhir, Tante harus bertanya kepada Theo,” jawabku dengan lugas.


“Sombong sekali kamu. Aku tidak percaya aku pernah peduli dengan gadis jahat dan egois sepertimu. Putraku sudah bertunangan, kamu seharusnya menolak dia. Mengapa kamu malah menerima cincin yang seharusnya untuk Chika?” Dia menatap aku dengan mata memerah.


“Berapa?” Dia membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya. “Berapa yang kamu mau agar kamu menjauh dari Theo?”


Itu kalimat yang sangat merdu di telinga Katelia. Dia tidak peduli dengan apa pun asal dapat uang. Apalagi syaratnya hanya menjauhi seorang laki-laki, dengan senang hati. Namun sebagai Amarilis, aku tidak bisa melakukan itu. Kejadian ini bisa menjadi bumerang bagiku suatu hari nanti.


Bisa saja aku bekerja dan ada yang cemburu kepadaku, lalu menggunakan kasus ini untuk merusak nama baikku. Mungkin aku tidak akan menikah dengan Theo, tetapi dengan pria lain yang sederajat dengan Amarilis. Kalau ada yang menyebarkan kejadian ini, maka aku akan ditolak sebagai menantu.

__ADS_1


Menjadi perempuan mata duitan bukanlah jalan keluar. Walau aku butuh uang yang sangat banyak agar bisa hidup dengan nyaman. Dengan status sosialku saat ini, juga tanpa adanya pengaruh atau relasi dekat dengan orang hebat, maka aku hanya punya reputasi. Hal yang harus aku jaga sebaik mungkin agar kelak tidak ada yang mengorek masa laluku untuk menghancurkan aku.


“Maaf, Tante. Saya tidak akan mengkhianati Theo,” jawabku pelan.


Dia tertawa kecil. “Tentu saja kamu tidak mau uang. Kamu akan dapat lebih banyak dengan menjadi istrinya. Hidupmu dan keluargamu juga terjamin selamanya. Pasti itu yang kamu pikirkan.”


“Baiklah.” Dia menyimpan ponselnya lagi ke tasnya. “Kamu mau berpacaran dengannya, silakan. Tetapi jangan harap kamu akan bisa menikahinya. Aku pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi.”


Minuman pesanannya datang, maka dia meneguknya dengan santai. Melihat dia tidak bicara lagi, aku pamit dengan sopan. Dia hanya diam, tidak mau menatap mukaku. Aku keluar dari restoran itu. Sesampainya di keramaian, aku mendesah lega.


“Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega,” gumamku.


Aku memutuskan untuk hanya berada di kamar pada sisa hari itu. Theo masih saja menghubungi dan mengirimi aku pesan, tetapi aku mengabaikannya. Barulah melihat sebuah pesan dari nomor baru, aku membuka dan membacanya.


Ajakan itu datang tepat waktu, jadi aku bisa mengambil angkutan umum menuju tempat itu dari halte terdekat. Berdesakan di dalam bus bukanlah masalah, karena jarak tempuhnya tidak jauh. Setelah melewati dua halte, aku pun tiba di tujuan.


Kafe yang dimaksudkan, syukurnya, ada di bagian luar mal. Jadi, aku bisa masuk tanpa melewati pintu masuk utama pusat perbelanjaan tersebut. Tempat yang dia pilih ramai sekali. Aku melihat ke sekitarku mencari dia. Tangannya terangkat, membantu aku menemukan tempat duduknya.


“Mengapa Kakak datang sendiri?” tanyaku bingung. “Mana Kak Jericho?”


Aku tertawa kecil. “Kak Jericho pasti ada pekerjaan. Mana mungkin dia membiarkan kita bertemu berdua saja tanpa kehadirannya? Apalagi dia selalu mengeluh dianggap tidak ada.”


Kak Nolan hanya diam menatap aku. Dia tidak berkedip, maka aku membiarkan dia mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya. Aku tahu kenyataan ini sulit untuk diterima pada beberapa hari pertama. Ada jiwa Katelia dalam tubuh Amarilis.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Kalian tenggelam dan jiwa kalian tertukar begitu saja?” tanya Kakak sambil menggeleng pelan.


Aku mengangguk pelan. “Aku hanya ingat ada cahaya yang mengelilingi kami saat ada di dalam air. Karena silau sekali, aku menutup mata. Tiba-tiba saja aku sudah berada di tepi danau saat membuka mata dan ada dalam tubuh ini.”


“Bagaimana Jericho bisa tahu?”


“Aku menyelinap ke kamarku untuk mengambil biola,” akuku. Dia mengerutkan keningnya. “Aku butuh uang, Kak, jadi aku mengamen. Orang tuaku hanya menyiapkan uang untuk biaya kuliah Hercules. Lulusan SMU mana bisa dapat kerja yang bagus.”

__ADS_1


“Jericho tahu semua ini dan dia tidak mau menolong kamu??” protesnya tidak percaya. “Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti.”


“Bukan salah Kak Jericho. Aku yang tidak mau ditolong. Kakak tahu sendiri dia sangat sayang aku. Mana mungkin dia sanggup melihat aku susah,” kataku, membelanya.


Aku sudah bilang tidak pun, Kakak pernah beberapa kali membujuk, siapa tahu aku akan berubah pikiran. Dia tidak lantas menyerah ketika aku berkata tidak pada percakapan pertama kami di kamar lamaku. Jadi, tidak benar Kak Jericho tidak mau menolong aku.


“Aku juga sayang kamu, tetapi tidak akan membiarkan kamu susah seperti dia. Dasar pelit.”


“Apa Kakak tidak dengar? Aku tidak mau dibantu,” kataku dengan tegas.


“Tetapi, Kat, ah, maksudku, Riris, aku sudah membantu kamu selama SMU. Apa bedanya aku juga menolong kamu sekarang?” tanya Kak Nolan, mengejutkan aku.


“Kakak membantu Amarilis selama SMU?” tanyaku tidak percaya.


“Orang tuanya tidak menyinggung hal itu sama sekali?” Dia balik bertanya.


Aku menggeleng pelan. “Hanya menyebut tentang beasiswa, tidak pernah menyebut nama orang yang menjadi donaturnya. Lagi pula, untuk apa mereka melakukannya? Mereka pikir aku tahu siapa yang membiayai uang sekolahku.”


“Nah, berikan nomor rekeningmu.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Aku akan transfer beberapa juta untuk membantu kebutuhanmu selama satu semester ini. Beri tahu aku kapan kamu akan bayar uang kuliah, akan aku transfer. Kamu tidak perlu kerja keras, cukup belajar saja.”


“Kak, aku sudah bilang tidak,” tukasku.


Melihat sikapnya kepadaku masih sama, itu sudah cukup. Aku bangga sekali kepada kedua kakakku yang memperlakukan aku seperti biasanya. Mereka tidak mengabaikan aku, tetapi sayang kepadaku sebagaimana aku ada di tubuhku sendiri.


“Ada apa denganmu? Lihat, badanmu jadi kurus, tanganmu kapalan, jerawatmu semakin parah. Ris, kamu stres. Kalau bukan aku yang membantu kamu, siapa lagi?”


“Kalau Kakak terus memaksa, aku tidak mau lagi berteman dengan Kakak,” ancamku.


Dia pun diam. Aku sedikit merasa tidak enak sudah membuat dia cemberut, tetapi aku harus tegas. Kepadanya, juga kepada diriku sendiri. Aku sudah memutuskan untuk tidak manja pada diri sendiri atau menerima pertolongan orang lain, maka aku harus konsisten melakukannya.


Kak Nolan memaksa untuk mengantar aku ke tempat tinggalku, tetapi aku menolak. Theo bisa saja sedang berada di sekitar sana dan aku tidak mau dia melihat aku sedang bersama kakakku. Dia akan cemburu, lalu menasihati aku panjang lebar bahwa aku tidak boleh dekat dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Topik pertengkaran kami yang mulai membuat aku bosan. Entah mengapa dia sangat pencemburu. Apa karena dia anak pertama dan Matt datang mengambil perhatian yang semula hanya untuknya? Hm. Kak Nolan tidak begitu. Ah, aku bukan pacarnya, jadi aku tidak tahu apa dia posesif atau tidak.


“Jadi, begitu.” Aku melompat terkejut mendengar suara itu. “Lo enggak jawab panggilan dan baca pesan gue karena berduaan dengan Nolan.” Gawat. Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini?


__ADS_2