Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
155|Mengenal Aku


__ADS_3

~Altheo~


Aku tidak akan bisa melupakan serangan rasa panik yang aku alami ketika menyadari aku tidak bisa mengingat apa pun. Wajah-wajah yang aku saksikan setiap hari adalah muka yang tidak bisa aku sebut nama dan hubungannya denganku.


Papa, Mama, dan Matt adalah keluarga kandungku, tetapi tidak ada sedikit pun kenangan mengenai mereka di benakku. Aku sampai meminta bukti kuat kalau benar kami ada hubungan darah. Semua dokumen resmi yang mereka punya, mereka tunjukkan kepadaku, hingga hasil pemeriksaan DNA.


Berbulan-bulan aku merasa menjadi orang tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya menjalani fisioterapi, konseling dengan psikolog, dan sisanya aku gunakan untuk belajar. Aku lulusan master luar negeri, sangat memalukan tidak bisa kembali bekerja.


Matt mengajari semua hal yang aku tanyakan kepadanya. Papa dan Mama lebih banyak membahas tugas dan tanggung jawabku sebagai ahli waris mereka. Aku tidak tahu siapa namaku, tetapi mereka sudah membicarakan hal seberat itu.


Bisa kabur sejenak ke luar negeri adalah pelarian yang aku cari. Tujuanku hanya menikah. Begitu akta kawinku dilegalkan, maka kami pulang dan aku melanjutkan pemulihanku. Fungsi tangan dan kakiku sudah normal, jadi aku tidak butuh kursi roda, juga tidak nyeri lagi saat berjalan. Waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan jauh.


Walau aku tidak mengenal Antonio, aku memercayai instingku. Ponselku yang dicari-cari keluargaku ternyata disimpan dengan baik oleh pengawal pribadiku. Katanya, itu atas perintahku. Theo gila itu sangat teratur dan detail. Dia membuat alarm dan pengingat untuk banyak hal. Aku sampai tidak bisa hidup tenang karena setiap hari ada saja yang harus aku lakukan.


Sampai nama gadis itu muncul. Amarilis. Pengawalku menunjukkan dia adalah wanita yang berfoto bersamaku di foto profil media sosialku. Berkat bantuannya, aku bisa membuka semua akun dan surel pribadiku. Namun aku hanya tertarik mencari tahu tentang perempuan itu.


Aku yang tampan dan disukai banyak wanita ini memilih perempuan jelek itu untuk menjadi istriku. Sepertinya kecelakaan ini pantas aku alami supaya kerja otakku kembali normal. Dia sangat gendut, sampai aku yakin usianya pasti singkat, berjerawat, rambut kusam, dan giginya, ya ampun. Apa otakku pernah kesetrum listrik?


“Perlakukan dia dengan baik atau gue hajar lo sampai babak belur. Gue enggak peduli lo koma lagi. Amarilis adalah kakak terbaik gue,” ancam Matt untuk kesekian kalinya sebelum dia ke bandara.


Adik yang berisik, tetapi sikapnya itu yang membuat aku percaya dan suka kepadanya. Dia tidak seperti papa dan mamanya yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Dia peduli kepadaku dengan caranya yang apa adanya dan mendukung setiap keputusanku, bahkan yang konyol sekalipun.


Aku seperti ditinju dengan keras di wajahku ketika gadis itu akhirnya muncul di hadapanku. Matt sialan itu akan aku hajar nanti. Dia tidak bilang wanita itu sudah tidak sama seperti di foto. Luar biasa. Bagaimana bisa berat badannya jauh berkurang, wajahnya bersinar tanpa bekas jerawat, rambutnya terawat, dan giginya rapi walau masih mengenakan kawat?


Dia tidak cantik dan berada jauh dibawah standarku mengenai perempuan. Namun bagian tubuhku yang semula aku pikir tidak berfungsi malah bereaksi. Gila. Jadi, ini alasan aku memilih dia menjadi calon istriku? Aku tidak menduga kalau caraku memilih istri sekuno itu.


“Lo yakin dia sehat?” tanyaku setelah mengantar Amarilis yang pulas ke kamar di bagian belakang pesawat. “Kenapa dia kelihatan lemah begitu?”


“Apa lo enggak tahu dia baru jalan-jalan dengan keluarganya? Biar saja dia istirahat. Lumayan, menghimpun tenaga untuk melayani lo nanti.” Matt tertawa kecil.

__ADS_1


“Ada orang yang tidak mengerti bahasa kalian di sini,” tegur Antonio.


Matt berkata benar. Wanita bernama Amarilis itu sehat, juga kuat. Aku sengaja mau cepat menikah, tanpa prosesi yang membuang waktu demi tidur dengannya. Walau mulutnya menolak, dia siap kapan saja aku membutuhkannya. Tubuhnya tidak mengecewakan aku.


Zaman di mana orang-orang tidak peduli dengan malam pertama, aku senang dia menjaga dirinya hanya untukku. Aku tidak perlu khawatir dia akan membandingkan aku dengan pria lain. Aku juga tidak perlu takut ada pria lain yang dia pikirkan di kepalanya saat bersamaku.


“Lo enggak bisa menahan dia terus di kamar, Theo. Dia juga perlu menjauh sejenak dari lo,” kata Matt ketika kami sarapan bersama di konter.


“Walau kita sudah tidak di Las Vegas, kami masih dalam masa bulan madu.” Aku meneguk air dalam botolku. “Kalau lo sudah merasakannya, lo akan mengerti.”


“Jadi, lo enggak protes lagi dengan keadaan fisiknya yang jauh dari standar lo?” ejeknya. “‘Apa kakak lo sudah enggak waras lagi, Matt? Dia memilih perempuan jelek, gendut, dan jorok ini jadi istrinya?’” Dia sengaja mengulang kalimat protesku dahulu.


“Diam lo. Apa lo pikir enak lupa segalanya? Lagi pula, bercinta tidak ditentukan dari wajah. Selama lo menemukan orang yang bisa membuat lo menginginkannya, maka dialah orangnya.”


Dia tertawa kecil. “Bercinta? Jadi, lo sudah cinta sama kakak gue?” Dia menatap aku penuh arti.


Dia menepuk pundakku. “Lo akan segera pulih, Theo. Sabar saja.”


“Bagaimana kalau gue enggak akan pernah bisa mengingat apa pun?”


“Enggak masalah. Lo cerdas. Lo bisa mengejar ketinggalan lo dalam beberapa bulan. Gue yakin lo sudah kembali jadi diri lo beberapa bulan lagi.” Dia melirik ke arah pintu kamarku. “Kak Amarilis bisa membantu lo belajar memimpin perusahaan lagi. Kalian kuliah di kampus yang sama.”


Baru membaca laporan harian restoran keluarga kami yang ada di kota ini, kepalaku sakit. Aku tidak yakin masalah ini bisa aku atasi jika aku tidak berhenti merasakan perih. Aku benci bergantung pada obat pereda nyeri. Obat itu membuat aku mengantuk dan aku bosan hanya tidur seharian.


Wanita itu sudah bangun saat aku kembali ke kamar. Dia cepat-cepat menutup tubuhnya dengan selimut. Setidaknya, dia tetap duduk tanpa kabur ke kamar mandi lagi. Wanita yang menarik. Dia takut, sekaligus suka kepadaku. Padahal aku memperlakukan dia dengan baik saat kami bercinta.


“Lo pasti lapar.” Aku meletakkan baki berisi makanan dan minuman untuknya di atas nakas.


“Terima kasih.” Dia menerima segelas air dariku.

__ADS_1


Melihat dia makan, aku menahan diri untuk tidak menidurinya sekarang. Dia perlu membersihkan diri dan tempat tidur perlu dirapikan. Setelah dia selesai makan, aku mempersilakan dia mandi, lalu mengganti seprai dan sarung bantal. Aku memanggil pengawalku untuk membawanya bersama baju kotor kami ke penatu di lantai dasar.


Karena dia masih di kamar mandi dan kamar itu sudah rapi lagi, sebuah ide yang lebih baik melintas di kepalaku. Benar juga. Ada cara yang lebih praktis agar aku tidak perlu terlalu sering mengganti alas tidur dan bantal kami. Aku melepaskan pakaianku dan menyusul dia ke kamar mandi.


Aku mau urusanku dengan orang tuaku cepat selesai. Amarilis segera hamil akan lebih baik. Aku bisa fokus pada urusanku yang lain dan mama yang merawat anak kami. Aku tahu Amarilis punya banyak rencana. Dia hanya perlu berkorban satu tahun selama hamil dan pemulihan setelah melahirkan.


Lalu kami tidak perlu memikirkan punya anak lagi dan bisa fokus dengan aktivitas kami selama berada di kamar. Aku akan membebaskan dia melakukan apa pun yang dia mau hanya sampai sore hari. Malam dan subuh harus dia berikan kepadaku saja.


Aku tidak tahu apa yang ada pada dirinya, tetapi aku tidak suka dengan emosi yang aku rasakan ketika dia disentuh Antonio. Aku selalu bisa mengendalikan diri dan perasaanku dengan baik. Namun semua yang ada hubungannya dengan perempuan ini membuat aku lepas kendali.


“‘Theo.’” Aku tidak bisa melihat wajah wanita yang menyebut namaku itu, tetapi aku mengenal suaranya. Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena aku mênciúm bibirnya.


Tidak pernah cukup. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa berhenti menyentuh perempuan ini. Entah berapa lama fase bulan madu akan berlangsung, aku tidak mengeluh. Beberapa waktu ke depan, aku hanya akan berada di rumah, jadi ini hiburan yang menguntungkan bagiku.


“‘Theo, hentikan. Banyak orang yang melihat kita,’” keluhnya lagi.


Kami sedang di kamar, mana ada orang banyak? Apa dia sedang berhalusinasi? Dia memberontak ingin lepas dariku, tetapi aku mempererat pelukanku. Mengapa dadaku terasa sesak seolah aku akan kehilangan wanita ini? Kami sudah menikah, dia tidak akan bisa pergi dariku.


“‘Theo,’” katanya lagi, setelah sekian kalinya berhasil menjauh dariku.


“‘Gue mencintai lo, Kat,’” ucapku, membuat aku bingung sendiri. Kat? Siapa Kat?


“‘Aku juga mencintai kamu, tetapi kamu harus pergi.’” Dia mendorong aku menjauh darinya.


Pergi? Pergi ke mana? Aku berusaha meraih tubuhnya, tetapi dia menghilang tidak berbekas. Apa yang terjadi? Suaranya, tubuhnya yang sudah aku kenal, bahkan rasa bibirnya adalah Amarilis. Lalu mengapa aku memanggil dia Kat? Apa aku sudah menikah dengan wanita yang salah?


Sakit kepala yang luar biasa tiba-tiba saja menyerang. Aku membuka mata dan keadaan di sekitarku gelap. Apakah itu mimpi? Namun sakit kepala itu nyata. Aku duduk dan menyentuh kepalaku. Tidak. Aku tidak mau minum obat lagi. Nyeri ini akan segera hilang, aku bisa menahannya.


Mendadak adegan demi adegan bermain dengan cepat di kepalaku. Apa ini? Aku menggigit bibir menahan rîntihan yang nyaris keluar dari mulutku. Amarilis sedang tidur di dekatku, jangan sampai dia terbangun. Aku meringkuk meletakkan kepala di permukaan kasur, di antara kedua lututku, tetapi rasa sakitnya semakin menjadi. Apa yang terjadi kepadaku?

__ADS_1


__ADS_2