Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
160|Bersiap Pulang


__ADS_3

~Amarilis~


Aku bosan diam saja melihat orang bertindak sewenang-wenang terhadap kami. Aku tidak berdaya ketika Hillary mênödongkan sênjàtanya, maka aku tidak mau bersikap sama waktu peristiwa serupa terulang. Semua orang fokus kepada Clara sehingga tidak ada yang memperhatikan aku.


Daisy mengajari aku setiap hal yang aku butuhkan untuk menjaga diri, sekaligus menyerang di saat musuh sedang lengah. Itu yang aku lakukan kepada Clara. Aku sadar sepenuhnya nyawaku ada dalam bahaya. Namun pilihannya hanya aku atau orang tua Theo yang terluka.


Meski kami tidak punya hubungan yang baik, kami juga tidak punya masalah yang berarti. Jadi, aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau penghargaan dari mereka. Karena itu, aku memberi sinyal kepada Theo agar tidak meneruskan kalimatnya terhadap orang tuanya.


Aku tidak mau dianggap mengharapkan imbalan atas kejadian itu. Niatku hanya menolong mereka semua, termasuk sahabat baikku. Meghan akan sangat sedih jika kakaknya sampai ditangkap polisi. Sebencinya aku terhadap Clara, dia layak mendapat kesempatan kedua.


“Nah, sudah siap. Bagaimana menurutmu?” ucap dokter gigi yang baik hati itu. Dokter yang hampir selama dua tahun telah membantu merawat senyumku.


Aku menerima cermin darinya dan berdebar-debar melihat penampilan baruku. Berbulan-bulan, aku menatap bayanganku dengan kawat pada gigi, ini pertama kalinya aku tidak perlu melihatnya lagi. Aku menarik napas panjang, lalu perlahan mengarahkan kaca itu ke mulutku.


“Oh, Tuhan.” Mataku memanas melihat hasilnya yang luar biasa. Semula aku khawatir besi kecil yang ditempelkan di gigiku itu akan meninggalkan bekas. Ternyata tidak sama sekali.


“Kamu berhasil melewati rasa sakit dan disiplin datang sesuai jadwal untuk merawat gigimu. Selamat, ya. Jangan lupa kenakan retainer dengan teratur setiap malam sebelum tidur. Lalu kamu tidak perlu memakainya selama beraktivitas. Kamu bebas menunjukkan senyum sempurnamu kepada dunia.”


“Oh, Dokter. Terima kasih banyak.” Aku memeluknya dengan erat.


Aku sangat puas melihat Theo dan Matt tidak bisa berkata-kata ketika aku tersenyum lebarku tanpa kawat itu. Bêrciúman dengan Theo juga terasa sangat bebas. Aku tidak perlu khawatir lagi dia akan menyakiti dirinya setiap kali dia lepas kendali.


Pada keesokan paginya, Meghan sudah datang untuk membantu kami mengemasi barang terakhir. Namun Theo tidak juga selesai membersihkan dirinya. Khawatir dengan keadaannya, aku mencari dan menemukan dia meringkuk di lantai kamar mandi.


Dia tidak pernah mau meminum obat pereda nyerinya. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan serangan sakit kepalanya itu. Namun diam-diam aku berharap dia sedang mengingat kenangan yang sangat penting agar dia bisa kembali melakukan hal yang dia sukai: bekerja.


Tidak ada jalan lain yang bisa membantu mengurangi rasa sakitnya, maka aku menolong untuk mengalihkan pikirannya. Cara yang sepertinya selalu efektif setiap kali dia mengalami serangan itu. Entah bagaimana kami nanti bisa membesarkan seorang anak dengan kondisinya ini.


“Kalian lakukan apa saja di kamar? Mengapa lama sekali?” keluh Matt. “Semua barang ini punya kalian, kenapa gue dan Meghan yang harus repot menyortirnya?”

__ADS_1


“Lo mau burito, daging panggang, hamburger, atau piza? Gue mau pesan makan siang.” Theo mengambil ponselnya yang ada di atas konter dapur.


“Semuanya.” Aku dan Meghan saling bertukar pandang mendengar jawaban Matt. Dia memahami percakapan mereka, karena aku yang menerjemahkannya ke bahasa Inggris.


“Jangan peras pengangguran.” Theo menatap adiknya dengan tajam. “Cepat pilih.”


Begitu makanan tiba, kami beristirahat sejenak menyusun barang terakhir yang aku dan Theo miliki. Aku merangkul Meghan yang terlihat sedih. Perpisahan memang bukan hal yang mudah dijalani, tetapi harus. Aku datang ke negara ini hanya untuk studi, tidak untuk menetap.


Aku memahami perasaan Meghan yang akan kehilangan teman satu-satunya. Namun dia akan dapat sahabat baru di tempat kerjanya. Walau butuh waktu untuk menemukan yang tulus seperti yang kami alami bersama saat di kampus, kami pasti bisa melewatinya dengan baik.


Meghan membawa semua barang kami yang akan dijual atau disumbangkan. Aku meminta agar uangnya diberikan kepada yang membutuhkan. Aku tidak mau merepotkan dia lagi dengan urusan transfer. Kami pun berpisah, karena dia menolak untuk menginap bersama di rumah Antonio.


Obat yang Theo bawa hanya tersimpan di laci nakasnya. Entah dia lupa atau sengaja membiarkan aku yang mengurusnya. Jumlahnya tidak berkurang. Padahal ada obat yang harus diminum tiga kali sehari. Aku memahami dia tidak mau bergantung pada bahan itu, tetapi dia masih sering sakit kepala.


Sejak malam pertama terbangun karena rîntîhannya, aku bisa melihat tanda-tanda dia menahan sakit saat kami beraktivitas. Pria bodoh. Apa harga dirinya lebih penting daripada kesehatannya? Aku ingin membantu dengan memasukkan obat ke makanan atau minumannya, tetapi aku tidak tega.


“Apa kamu sudah memutuskan akan bekerja di mana nanti?” tanya Antonio.


Theo dan Matt sedang berenang di kolam dalam ruangan miliknya. Kami duduk di kursi yang tersedia. Aku tidak tertarik berenang dengan cuaca dingin, walau suhu airnya mengikuti suhu ruangan. Lagi pula, melihat tubuh bagus Theo sudah cukup membuat jantungku berolahraga.


“Ada beberapa tempat yang akan aku lamar. Yang beruntung yang akan mendapatkan aku.” Aku mengedipkan sebelah mataku kepadanya.


Dia tertawa kecil. “Sayang sekali kamu tidak menetap di sini. Aku dengan senang hati akan membuka cabang baru dan menunjuk kamu sebagai manajernya.”


“Bisakah kamu berhenti pamer kekayaan?” protesku.


Dia tertawa renyah. “Aku berkata jujur,” ralatnya. Wajahnya berubah serius. “Orang tua Theo masih tidak merestui hubungan kalian?”


Aku mengangkat kedua bahuku. “Aku hanya orang miskin tanpa harta kekayaan. Mereka berharap bisa menikahkan Theo dengan wanita yang akan memberi keuntungan bagi bisnis mereka. Lagi pula, status adalah segalanya bagi mereka.”

__ADS_1


“Orang kaya turun-temurun memang begitu. Hal yang sama juga terjadi di sini. Dua keluarga yang sangat berpengaruh tidak akan sembarangan menikahkan anak mereka. Perusahaan mereka yang menjadi taruhannya. Kalau sampai salah pilih menantu, mereka bisa bangkrut.


“Aku hanya orang kaya baru yang kebetulan sukses besar, jadi hal itu bukan masalah. Aku bahkan tidak berniat mewariskan apa pun kepada anakku, seandainya saja mereka bertahan hidup. Aku benci drama perebutan warisan.” Dia menggeleng pelan.


“Karena itu, aku mengerti sikap orang tuanya. Theo saja yang bodoh. Aku sudah katakan, hubungan kami tidak akan berhasil. Pernikahan kami tidak akan pernah direstui, tetapi dia tetap nekat. Sudah diberi jalan keluar dengan melupakan segalanya, termasuk aku, dia malah tetap mengajak kawin lari.” Mataku memanas membayangkan masa depan kami yang tidak menentu.


“Kamu menyesal?” tanyanya prihatin. Buddy menyalak, ikut merasakan emosi kami.


“Tidak. Setelah tahu rasanya kehilangan dia, aku tidak mau dipisahkan lagi dengannya. Walau aku tidak tahu bagaimana pernikahan kami ke depan, aku tidak akan menyerah lagi. Aku mau berjuang bersama Theo.” Aku melihat ke arah dia yang asyik berenang.


“Dia menyiapkan setiap detail dengan baik. Aku sampai curiga kalau saja dia punya indera keenam yang memberi tahu dia kecelakaan itu akan terjadi. Karena semua yang direncanakan tetap bisa dia wujudkan, meski tidak bisa mengingatnya.”


Antonio memegang tanganku. “Jangan pernah lupa, kamu punya aku yang bisa kamu andalkan.”


“Terima kasih banyak, Antonio. Kamu harus datang ke Indonesia. Aku akan membawa kamu ke berbagai tempat yang—” kataku dengan antusias.


“Lepaskan tangan istriku!” teriak Theo mengagetkan kami. “Mau berapa lama kamu pegang dia!?”


Oh, Tuhan. Dia memang hilang ingatan, tetapi sikapnya masih sama. Cemburunya sangat parah. Padahal ini hanya Antonio, bukan pria asing yang tidak dia kenal. Apa dia pikir pria tua ini tertarik kepada perempuan yang lebih cocok menjadi cucunya?


Kami berpisah pada keesokan harinya di teras depan rumahnya. Aku tidak tahu apa kami akan pernah kembali lagi mengunjungi mereka, jadi aku memuaskan mataku memandang tanah miliknya itu. Seolah mengerti apa yang aku lakukan, sopir mengendarai mobil dengan santai menuju gerbang.


Tiba di bandara sesuai waktu yang kami rencanakan, kami menuju konter check-in. Barulah kami bisa berjalan dengan santai tanpa perlu membawa troli berisi koper dan kardus berisi barang kami. Aku berdiri di depan Theo ketika mengantri di bagian imigrasi.


Petugas yang melayani aku memeriksa paspor dan VISA-ku lebih lama dari yang biasanya aku alami. Yang berubah dari wajahku sejak kedatangan pertamaku hanya susunan gigi. Namun fotoku tidak tersenyum menunjukkan gigi, jadi aku yang sekarang dengan dua tahun lalu tidak jauh berbeda.


Rekannya sampai datang, membuat aku curiga. Apakah ada yang bermasalah dengan paspor atau VISA-ku? Izin tinggalku diperpanjang, seharusnya tidak ada kendala. Aku belum melewati masa izin tinggal di negara ini. Masa berlaku pasporku juga masih tiga tahun lagi.


Theo dan Matt mendekati aku, lalu Theo bertanya kepada petugas. Pria itu malah memberi jawaban yang tidak aku duga-duga. Ada masalah dengan pasporku. Bagaimana bisa? Aku sudah memeriksa segalanya. Apa yang luput dari pengamatanku?

__ADS_1


__ADS_2