
Aku melirik pengawalku. Dia segera memegang tangan perempuan itu dan menjauhkan dia dariku. Amarilis adalah orang yang perlu aku pikirkan. Wajahnya memucat mendengar kata undangan. Sial. Kami akan bertengkar hebat.
Mengapa masalah selalu saja datang ketika aku tidak punya persiapan apa pun? Liburan berantakan, lalu datang kabar tidak mengenakkan. Perempuan ini hanya menambah masalahku saja. Apa dia tidak bisa menunggu sampai kami bertemu di tempat kerja?
“Theo, aku butuh penjelasan! Mengapa kamu tidak bilang kamu sudah punya tunangan!?” serunya dengan nada menuntut saat aku mengabaikannya.
Aku menggandeng tangan Amarilis, tetapi dia menepis tanganku. Aku memeluk pinggangnya, dia masih menolak aku. “Kat,” ancamku. Aku tahu aku salah, tetapi dia tidak perlu bersikap begini.
“Undangan apa yang dia bicarakan?” Dia menatap aku dengan tajam.
Aku menggandeng tangannya, dia tidak menolak lagi. “Kita bicara di dalam.” Aku membuka pintu dan memasuki lobi bersamanya.
“Kita bicara di dalam? Hanya itu jawabanmu? Tiga bulan sejak kedatangan orang tuamu, kamu tidak mau menjawab pertanyaanku mengenai hal itu. Kapan kalian akan menikah, hah? Kapan kamu akan memberi tahu aku? Setelah kamu resmi menjadi suaminya?” tanyanya, membombardir aku.
“Kat, gue bilang, kita bicara di dalam. Apa lo mau semua orang mendengar kita bertengkar?” Aku melihat ke sekeliling kami.
Dia merapatkan bibirnya. “Lepaskan aku!” Dia menarik tangannya dariku, tetapi aku memegangnya lagi. “Aku tidak sudi jadi yang kedua. Lepaskan aku, Theo!” Kali ini, aku tidak melepaskannya.
“Bisakah lo bersikap dewasa? Lo bisa teriak dan maki gue di apartemen. Jangan di sini,” kataku dengan tegas. Aku merasa bersalah melihat matanya berkaca-kaca, tetapi dia akhirnya diam.
Perjalanan menuju apartemen kami terasa sangat lama dan angka berganti begitu lambat. Aku tahu ini hanya perasaanku saja, tetapi setiap detiknya jadi terasa sangat menyiksa. Mengapa Mama harus mengundang mereka juga? Berapa orang yang tahu rencana ini?
Mustahil Pak Willis mau datang jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk satu hari. Mengapa Mama tidak fokus kepada orang di Indonesia saja? Semua ini di luar prediksiku. Aku tidak berharap berita itu akan sampai di telinga Amarilis secepat ini.
Sampai di apartemen, aku membiarkan dia masuk dahulu dan melepaskan tangannya. Dia mendesah keras, lalu membalikkan badannya dengan tatapan menusuk aku. Dia menunggu dengan tidak sabar saat aku menutup pintu. Kepalaku tidak berhenti memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan.
Namun tidak ada kata yang bisa aku temukan yang mampu membuat Amarilis tenang. Apa pun kata yang aku pakai, berita ini adalah berita buruk baginya. Maka yang perlu aku pikirkan adalah kata yang tepat untuk membujuk dia.
“Mengapa diam? Jawab. Undangan apa itu?” tanyanya dengan tajam.
“Pada hari wisuda Matt, ortu akan mengadakan acara pertunangan juga untuk gue,” jawabku pelan.
Dia mengangakan mulutnya. “Maksud kamu, di gereja?” Aku mengangguk. “Kita putus.” Mudahnya dia mengatakan kalimat itu tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
“Kat,” protesku.
“Aku serius, Theo. Kita putus. Aku sudah bilang, aku tidak mau jadi selingkuhanmu. Orang tuamu sudah jelas hanya mau kamu menikah dengan wanita pilihan mereka.”
“Itu hanya tunangan, Kat.” Aku meraih tangannya, tetapi dia menjauh dariku. Dadaku perih melihat dia menghindari sentuhanku lagi.
“Hanya?” Dia tertawa terkejut. “Kalian akan mengucapkan sumpah untuk menikah di depan keluarga dan undangan. Itu hal yang sama seriusnya dengan pernikahan, Theo.”
Jantungku berdetak sangat cepat. Aku tidak mau kehilangan dia. “Gue akan cari cara supaya acara itu dibatalkan. Percaya sama gue.”
“Aku percaya kepadamu, tetapi kamu tidak akan bisa menentang keinginan orang tuamu.”
“Itu sama saja dengan lo enggak percaya sama gue. Kami belum sempat bicara. Rencana ini mereka sampaikan di depan keluarga Venny. Karena itu, gue enggak bisa menyampaikan pendapat gue.”
“Undangan sudah disebar. Kapan kamu mau bicara dengan mereka?” tuntutnya.
Aku memejamkan mata, menenangkan emosiku. Ini kesalahanku karena tidak fokus. Aku memang tidak menduga mereka akan menyiapkan segalanya secepat dan sebesar ini. Aku pikir Mama akan mengundang kerabat dekat saja. Mana aku tahu mereka akan mengundang Pak Willis juga.
“Gue akan bicara dengan mereka sekarang,” janjiku.
“Terserah kamu. Kita tetap putus.” Dia membalikkan badannya, aku segera menangkap tangannya.
“Apa maksud lo, Kat? Kita tetap bersama. Lo bertingkah seolah gue sudah menikah dengannya.”
“Tunangan atau menikah, apa bedanya? Kalian tetap akan diberkati pendeta.” Dia menepis tanganku. “Kamu tahu kita sudah sepakat tidak ada rahasia lagi, Theo. Kamu tega menyimpan hal sebesar itu dariku dan menjanjikan aku kita akan menikah.”
Aku merasakan dadaku kian sakit melihat matanya berkaca-kaca. “Kita akan menikah, sayang.” Mengapa dia tidak bisa mengerti juga?
“Kamu menikah saja dengan Benny itu.”
“Venny,” ralatku. Seharusnya aku diam, tetapi mulutku sudah bicara dahulu.
“Benny, Venny, aku tidak peduli!”
__ADS_1
Dia memasuki kamar dan aku mendengar dia mengunci pintunya dari dalam. Aku menghela napas panjang. Melelahkan sekali. Kami baru pulang dari perjalanan panjang, dia sudah marah-marah. Aku harus bagaimana sekarang?
Setiap kali kami bertengkar, aku selalu merasa ketakutanku beralasan. Hubungan kami sangat rapuh, baik dari sisiku atau dia. Ada masalah sedikit, kami bertengkar hebat seperti ini. Rasanya damai hanya sebentar dan kami lebih banyak berdebat. Kalau begini terus, dia benar-benar akan pergi.
Putus. Solusi darinya selalu putus. Sedikit-sedikit putus. Mengapa dia tidak mau ikut berpikir untuk mencari alternatif lain? Katanya, tidak akan ada yang memisahkan kami, tetapi dia sendiri yang terus bicara pisah. Apa hubungan kami tidak pernah berarti untuknya?
Aku memasuki kamar dan mengempas tasku di atas tempat tidur. Menjengkelkan sekali. Mengapa semua rencanaku akhir-akhir ini berujung bencana? Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, bahkan mendapat berita baik dari kakek misterius itu. Mama malah merusak semuanya.
“Kita sudah sepakat, Pa,” kataku lewat telepon, begitu dia menjawab panggilanku.
“Bertunangan dahulu adalah solusi terbaik yang bisa aku pikirkan,” kata Papa, berkelit. Dia segera memahami maksudku, karena kami memang belum sempat membahas hal ini sejak hari itu.
“Papa takut sama Mama. Kalau Papa tidak bisa memegang kata-kata Papa sendiri, bagaimana gue bisa percaya pada kesepakatan kita berikutnya?”
“Dengar, aku akui aku salah. Tetapi apa bedanya kamu bertunangan tahun ini dengan tahun depan? Aku tidak melanggar kesepakatan kita.”
Kami memang sepakat tidak ada pernikahan sampai aku kembali ke Indonesia. Aku tidak bisa memilih wanita yang aku nikahi, maka aku yang memutuskan tanggal pernikahan. Namun untuk bertunangan dahulu tidak ada dalam diskusi kami.
“Papa bahkan mengundang Pak Willis.”
“Itu keinginan mamamu. Dia mau semua orang diundang.” Dia membela diri. “Kamu tidak berharap akan menikah dengan Amarilis, ‘kan? Kamu sudah melupakan gadis itu untuk selamanya, ‘kan?” Dia sengaja mengalihkan topik.
“Yang pasti, gue enggak akan menikah dengan Venny.”
“Nak, ini pilihan terbaik. Dia putri rekan bisnisku. Usaha kita bisa saling bekerja sama untuk jangka panjang lewat pernikahan kalian. Penyatuan kalian sangat menguntungkan kedua belah pihak,” bujuk Papa, berusaha untuk meyakinkan aku.
“Menikah dengan Amarilis tidak akan memberi dampak positif bagi bisnis kita. Kamu hanya akan mengundang skandal besar. Ingat, Nak. Ada pemegang saham yang harus kita perhatikan juga saran dan pendapatnya. Pernikahanmu dan Matt nantinya harus membawa keuntungan,” pungkasnya.
“Matt pasti kalian izinkan menikah dengan siapa pun. Jangan bohongi gue.”
“Kamu pikir aku tidak tahu apa saja yang kamu lakukan di sana selama satu tahun ini?” kata Papa dengan nada serius. Jantungku nyaris berhenti mendengarnya. “Kamu bicara tentang kebohongan. Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak sedang membohongi aku?”
__ADS_1