
Dia mengangkat tangan kananku. “Amarilis, ke mana benda berharga yang gue berikan kepada lo?”
Oh. Ternyata itu yang dia cari. Aku pikir dia akan mencium aku di tempat sepi ini. Dengan tanganku yang bebas, aku meraih rantai kalung yang melingkari leherku, lalu mengeluarkannya lewat kerah. Cincin yang dia berikan kepadaku menjadi liontinnya.
“Aku tidak mungkin memakainya saat kuliah. Terlalu mencolok dan bisa saja ada dosen di semester ini yang tidak suka mahasiswanya pakai perhiasan mahal. Jadi, lebih aman aku simpan di balik baju,” kataku, menjelaskan sambil memasukkan kalung itu kembali.
“Gadis pintar.” Dia membelai pipiku.
“Sebaiknya kamu jangan melakukan itu.” Aku menjauhkan wajahku dari jangkauannya.
“Mengapa?” Dia menatap aku penuh curiga.
“Tangan kamu kotor. Jerawatku bisa makin parah.” Masa itu saja dia tidak mengerti?
“Berjerawat atau tidak, mengapa itu jadi masalah? Gue tetap akan menikahi lo.” Dia menggandeng tanganku. “Ayo. Jangan sampai kita terlambat.”
Bicaranya sepele sekali. Aku tidak yakin dia akan tahan mendengar ejekan orang setelah beberapa saat kami bersama. Ketika waktu itu tiba, aku tidak akan heran dia menyuruh aku untuk merawat wajah. Jika aku tidak mau, maka dia pasti akan memutuskan hubungan. Aku tidak percaya dia serius menikahi aku begitu menghadapi banyak masalah nanti.
Bila mahasiswa lain memandang sinis, maka hanya Sonata yang bahagia melihat kami bersama. Dia memeluk aku begitu erat sambil mengucapkan selamat. Seandainya saja dia tahu hubungan kami tidak akan pernah berhasil, maka dia tidak akan mengucapkan kalimat itu.
Perkuliahan hari pertama berjalan dengan lancar. Kami bertemu dengan dua dosen baru, tetapi orangnya sudah sering berpapasan dengan kami di lingkungan kampus. Sama seperti sifat guru di sekolah, mereka juga ada yang baik hati, galak, atau yang sulit diketahui apa maunya. Aku paling benci yang tipe terakhir.
Memahami rutinitasku, Sonata tidak mengajak aku makan siang bersamanya. Apalagi Theo sudah menunggu di depan pintu seperti biasanya. Kami mengajak dia untuk makan bersama kami, dia segera menolak. Maka aku tidak memaksanya.
“Tidak, Theo.” Aku melarang dia memesan makanan lagi. “Aku sudah kenyang.”
“Lo terlalu kurus, gue enggak suka.” Dia menoleh ke arah pelayan di samping meja kami. “Pesan menu yang sama seperti itu satu porsi lagi.” Dia menunjuk ke arah piringku.
“Tidak, Mbak. Terima kasih.” Aku tersenyum kepada wanita muda itu, lalu melotot kepada Theo.
“Lo diam. Gue serius. Lo terlalu kurus,” ancamnya.
__ADS_1
“Mbak, apa menurut Mbak aku kurus?” Aku bertanya kepada wanita itu, tidak memedulikan tatapan kesal pemuda yang duduk di depanku itu.
Dia memandang aku dan Theo secara bergantian. “Tidak, Mbak. Malah saya yang cocoknya disebut kurus,” katanya dengan sopan, tidak mau menyebut aku gemuk.
“Tuh, kamu dengar? Aku tidak kurus. Kalau kamu jejalkan aku dengan makanan tidak sehat, aku bisa sakit jantung karena kolesterol tinggi,” tuturku.
“Kami pesan menu yang sama, terima kasih,” kata Theo kepada pelayan itu.
Melihat dia menatap aku dengan tajam, maka aku mengalah. Dia yang akan membayarnya, jadi biar saja dia memesan makanan sebanyak yang dia inginkan. Aku tidak akan menyentuhnya. Susah payah selama dua tahun menurunkan berat badan, aku tidak akan merusak keberhasilanku.
Begitu makanan datang, aku hanya membiarkannya ada di atas meja. Dia sibuk membaca buku yang dia bawa, maka aku melakukan hal yang sama. Tanpa mengatakan apa-apa, dia menyuapi aku makan. Melihat dia tidak menjauhkan sendok itu dari mulutku, aku terpaksa menurutinya.
Perutku terasa penuh saat kami kembali ke kampus. Sial. Apa yang dia mau dengan membuat aku tetap gemuk dan mukaku berjerawat? Biasanya laki-laki suka kalau pacarnya ramping dan berwajah mulus. Ada yang aneh dengan otak cowok arogan ini.
“Theo, pelan-pelan.” Aku sedikit menarik tangannya agar tidak berjalan terlalu cepat. Perutku bisa sakit. Kalau itu terjadi, maka aku tidak akan konsentrasi saat mengikuti kuliah nanti.
“Mengapa lo jadi manja begini? Biasanya juga lo enggak apa-apa dibawa jalan cepat,” gerutunya, tetapi dia mengurangi kecepatan langkahnya.
“Makanya, jangan diet.”
Sesuai dengan ucapannya, Theo menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar. Dia seharian bersamaku setiap kali tidak berada di ruang kuliah. Karena dia sudah mulai mengerjakan proposal, dia lebih sering berada di perpustakaan daripada mengikuti perkuliahan.
Tidak ada lagi hari di mana aku tidak makan siang bersamanya, kecuali pada akhir pekan. Aku masih mengamen di taman dan dia akan duduk tidak jauh dariku, bergelut dengan laptopnya. Tidak ada yang berubah dalam hubungan kami. Masih terasa seperti teman biasa.
Bedanya, semua orang mengetahui hubungan kami. Dia juga dengan bangganya menyebut aku sebagai calon istrinya. Calon istri, bukan pacar, kepada siapa saja yang bertanya status kami atau siapa aku baginya. Aku yang sedikit gentar, karena publik tahu dia dan Chika bertunangan.
Pada malam harinya, aku masih mengajari Matt yang fokus untuk menghadapi ujian nasional. Dia sangat gugup walau aku sudah meyakinkan dia segalanya akan baik-baik saja. Dia tidak perlu takut, karena dia mampu menjawab contoh soal yang sudah keluar pada ujian tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun yang sudah lalu itu berbeda dengan tahun ini, Kak. Bagaimana kalau mereka menaikkan level kesulitannya? Aku yang mati.” Dia menutup kepala dengan kedua tangannya.
“Bisa jadi, mereka malah menurunkan tingkat kesulitannya,” balasku.
__ADS_1
Dia terdiam, menjauhkan tangan dari kepalanya, lalu menoleh kepadaku. “Benar juga.”
“Kamu terlalu banyak berpikir negatif. Sesekali berpikirlah positif. Aku percaya pada kemampuanmu, masa kamu sendiri tidak?” Aku melirik jam tanganku. “Sudah saatnya untuk pulang. Bereskan tasmu.”
“Sudah saatnya untuk pulang atau Kakak sudah tidak sabar mau kencan dengan Theo?” godanya. Hilang sudah wajah khawatirnya tadi, diganti dengan senyuman usilnya.
“Hus. Anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa,” tegurku.
“Orang dewasa apanya? Kita hanya beda tiga tahun,” ralatnya.
Usai belajar dengan adiknya, Theo mengantar aku pulang. Dia masih berusaha iseng untuk mencuri ciuman, tetapi aku sudah kabur sebelum dia sempat melakukannya. Aku tahu dia tidak marah atau tersinggung dengan sikapku itu dari suara tawanya.
Aku masih rajin berolahraga setiap pagi. Joging di luar jika tidak hujan dan senam ringan di kamar bila cuaca buruk. Mengurangi asupan makanan harus disertai dengan olahraga yang teratur. Badan Amarilis benar-benar tidak sama dengan Katelia. Aku teledor sedikit saja, tubuhku bisa gemuk lagi.
Cuaca pagi itu sangat bagus, jadi aku berlari mengelilingi gang sekitar tempat tinggalku. Sudah ada pedagang sarapan pagi yang bersiap di beberapa titik. Aku menyapa mereka yang sudah mengenal aku, tanpa mengabaikan mereka yang hanya aku ketahui sepintas lalu.
Aku berbelok ke jalan menuju tempat tinggalku, tetapi seseorang membekap mulutku dan memeluk aku dari belakang. Sebelum bisa mencerna apa yang terjadi, kakiku dipegang dengan erat. Tangan kanan dan kiriku diràba-ràba, entah mencari apa.
Berengsek! Lancang sekali mereka menyentuh aku tanpa izinku. Tidak pernah seumur hidupku ada orang yang memegang aku begini. Jantungku berdebar dengan kencang. Pegangan mereka sangat kuat sehingga aku tidak melepaskan diri.
Dasar bodoh! Mengapa aku tidak waspada? Bagaimana bisa aku tidak merasakan firasat apa pun sebelum berbelok tadi? Ini kedua kalinya aku bisa dihadang dengan mudah oleh lawan. Tubuhku mulai gemetar, karena tidak bisa membebaskan diri. Apa yang hendak mereka lakukan kepadaku?
“Benda itu tidak ada, Bos,” ucap pria yang memegang tanganku.
“Jangan bersuara, Bodoh!” geram pria yang memeluk aku dari belakang. “Arrgghh!”
Pegangannya melonggar ketika dia menjerit kesakitan. Kesempatan itu aku gunakan untuk menarik tanganku dari rekannya dan membenturkan kepalaku ke wajahnya. Pria yang memegang kakiku dihajar seorang pria berpakaian serba hitam, jadi aku bisa fokus pada satu orang tadi.
Aku melampiaskan rasa takut yang berubah amarah itu kepadanya. Darahku mendidih mengingat dia yang sudah kurang ajar memegang tanganku seenaknya. Walau dia jauh lebih kuat dan lincah, adrenalin membuat aku lebih unggul. Karena aku tidak segan menyakitinya dan tidak takut terluka sehingga beberapa kali berhasil memukulnya dengan fatal.
Melihat dari gerak-gerik mereka, penutup wajah pun tidak bisa menyembunyikan siapa yang sudah mengirim ketiga laki-laki bertubuh besar ini. Tempat yang mereka periksa dengan teliti adalah jariku. Hanya satu orang yang aku curigai. Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya.
__ADS_1
Sebentar saja kami berhasil membekuk mereka. Namun kedua penolongku itu lagi-lagi kabur tanpa kata. Aku berteriak memanggil mereka, tidak ada yang menoleh. Menjengkelkan sekali. Siapa yang menyuruh mereka untuk melindungi aku?