
Seluruh tubuhku gemetar, tetapi aku tidak punya waktu untuk merasa gentar. Aku menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan debaran jantungku. Aku melihat ke sekelilingku tanpa mengalihkan pandanganku dari kedua pengawal Chika itu.
Wanita itu melayangkan tinjunya lebih dahulu, aku menghindar. Dia mencoba lagi, aku berhasil mengelak. Wajahnya mulai merah padam, tidak suka melihat dua pukulannya itu meleset. Aku tahu aku akan segera lengah, karena dua elakan itu saja sudah membuat aku kepayahan.
Melarikan diri, aku jelas kalah cepat dari kedua orang bertubuh tinggi dan besar ini. Maka aku mundur perlahan, kemudian bersembunyi di balik sebuah pilar. Dia menendang, meninju dengan ahlinya, tetapi aku menggunakan pilar itu sebagai tameng.
Teman prianya tidak menolong, jadi aku beruntung. Satu lawan satu bukanlah masalah. Yang aku khawatirkan hanyalah rasa lelah. Begitu mengenali urutan serangan perempuan itu, aku menangkap tangannya saat dia meninju dan mematahkan pergelangan tangannya itu.
“Aarrgghh!!” teriakan kesakitannya segera memenuhi koridor.
Namun aku belum selesai. Melihat dia lengah, aku menendang bagian di balik lututnya sehingga dia berlutut di lantai dan mengarahkan satu tinjuku ke wajahnya. Chika mengomeli pengawal prianya dan menyuruh dia untuk segera menyelamatkan rekannya.
Aku sudah pasti kalah, tetapi aku tidak menyerah. Tidak peduli dia sudah mempelajari trikku, aku menggunakan pilar sebagai tameng. Aku sudah mulai ngos-ngosan dan gerakanku melambat. Namun aku tidak berhenti bergerak menghindari serangan demi serangan darinya.
Debaran jantungku semakin menyesakkan dada. Keringat mulai mengalir deras di sekujur tubuhku. Pertanda fisikku protes dengan keletihan yang mendadak harus ditanggung. Aku harus berpikir dengan cepat kalau mau melumpuhkan pria ini.
Ketika dia mengulurkan kedua tangannya untuk memegang tanganku yang ada di pilar, maka aku menempelkan kakiku di pilar dan menginjaknya sekuat tenaga sehingga tubuhku terdorong ke belakang dan dia tertarik ke depan. Dia meringis kesakitan saat wajahnya terantuk tembok.
Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan penyemprot merica dari kantong depan ranselku. Tepat saat dia menjauhkan tangan dari wajahnya, aku menyambut dengan menyemburkan cairan pedih itu ke mukanya. Dia tertegun sejenak sebelum berteriak kepedasan.
“Tidak! Ampun. Aku tidak akan memukul kamu. Pergilah!” pekik rekan perempuannya ketika aku mendekat untuk melakukan hal yang sama.
“Goblok! Kalian aku bayar mahal bukan untuk kalah dengan perempuan jelek itu!” jerit Chika.
Melihat tidak ada lagi yang akan menghalangi, aku bergegas pergi. Chika tidak akan berani memukul aku setelah melihat kedua orang itu kalah dariku. Syukurlah, olahraga setiap hari yang aku lakukan tidak sia-sia. Aku kembali gesit walau belum secepat Katelia. Aku bisa mengalahkan mereka!
Bagus, Amarilis! Kamu berhasil melatih dirimu dan melawan rasa malasmu! Kita berhasil! Syukurlah, kita berhasil! Semoga saja Chika tidak akan menyuruh orang untuk memukul aku lagi. Setelah aksiku tadi, aku akan butuh waktu lama untuk memulihkan tenagaku.
“Lo yakin bisa mengajar adik gue dengan kondisi itu?” tanya Theo dari arah depanku, membuat aku melompat terkejut. “Ada apa? Mengapa lo kaget begitu?”
Aku melihat dia yang berdiri santai di dekat sepeda motornya, lalu ke belakang di mana aku tadi melawan dua orang bertubuh besar itu. Apa mataku tidak salah? Dia bisa menyaksikan kejadian tadi dari titik ini. Lalu mengapa dia tidak datang menolong aku?
Jantungku yang berdebar kencang dan tubuhku yang gemetar karena rasa takut, berganti amarah. Bagaimana bisa seorang pemuda menyebut dirinya pacar, tetapi diam saja melihat ceweknya melawan orang jahat seorang diri?
__ADS_1
“Kamu melihat aku dalam kesulitan dan hanya diam?” tanyaku sambil mengepalkan tangan.
Untuk apa dia punya badan bagus begitu kalau hanya dijadikan pajangan? Masa dia tidak tergerak sama sekali untuk menolong aku melawan mereka? Aku tidak akan kewalahan begini kalau kami berbagi. Dia melawan laki-laki besar itu dan aku menghadapi yang perempuan.
“Lo baik-baik saja, tidak babak belur,” katanya acuh tak acuh.
“Bukannya kamu suka menolong orang yang dianiaya? Mengapa kamu hanya diam saat Chika menyuruh kedua pengawalnya memukul aku?” tanyaku lagi masih menahan amarah.
“Dia bukan siapa-siapa bagi gue, untuk apa gue pikirkan?”
“Amarilis juga bukan siapa-siapa, tetapi kamu membela dia,” kataku, mengingatkan.
Dia menatap aku sejenak, lalu menyeringai. “Lo pikir gue memarahi lo dahulu, karena gue mau membela Amarilis?” tebaknya.
“Iya. Memangnya ada alasan lain?” Aku semakin tidak mengerti.
“Gue menasihati lo sebagai calon istri gue, enggak ada alasan yang lain. Kalau lo punya reputasi buruk dan kebiasaan lo merundung itu tercium awak media suatu hari nanti, nama gue juga yang tercoreng. Jadi, lo salah paham. Gue enggak membela Amarilis.”
Bagaimana mungkin aku baru tahu ada orang seegois ini? Yang dia pikirkan ternyata hanya dirinya sendiri. Bukan para korban atau aku, melainkan nama baiknya sendiri. Ah, tidak. Dia jelas menyebut tentang reputasi Katelia, bukan hanya nama baiknya yang dia jaga.
“Dan kamu tidak peduli dengan Chika karena dia bukan siapa-siapa kamu.” Aku menyimpulkan. Entah mengapa aku merasa sedikit senang mengetahui hal itu.
“Bagus, kalau lo sudah paham.” Dia mengenakan helmnya.
“Kamu bohong,” kataku, teringat dengan kejadian sebulan yang lalu. “Saat Chika dan dua temannya memaksa aku mengaku di ruang kuliah siang itu, kamu menolong aku.”
“Lo benar-benar bawel, ya. Ayo, kita pergi sekarang.”
Dia menarik tanganku ketika aku tidak mau mendekati dia. Aku pun terpaksa menurut dan pergi ke rumahnya bersamanya. Tante Ruth menyambut kedatanganku dengan riang, sedangkan Theo naik tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Aku menggunakan kamar mandi sejenak untuk membersihkan diri. Bajuku lusuh dan aku tidak mau Matt merasa tidak nyaman karena aroma tidak sedap keringatku tadi. Aku selalu membawa baju ganti untuk berjaga-jaga andai kehujanan atau berkeringat. Setelah penampilanku rapi kembali, barulah aku memasuki ruang belajar kami.
Matt terlihat sangat segar bahkan sempat mengerjai aku dengan memberikan kue yang ternyata sangat asin. Sial. Dia sudah menghindar sebelum aku sempat memukul kepalanya. Ketika kami sedang belajar dengan serius dan dia lengah, barulah aku menjitak kepalanya itu.
__ADS_1
Om Azarya tidak makan bersama kami, jadi aku hanya bersama ibu dan anaknya itu. Aku tidak lagi berpura-pura tidak tahu etika makan. Lebih nyaman rasanya menjadi diri sendiri. Mereka juga tidak terlihat peduli dengan gaya makanku yang persis seperti mereka.
“Matt, apa kamu sudah memberi undangan kepada gurumu untuk menghadiri konser?” tanya Tante Ruth kepada putra keduanya.
“Sudah, dong, Ma. Satu baris dengan kalian,” jawabnya santai.
“Bagus.” Tante Ruth menoleh ke arahku. “Jangan segan kalau kamu tertidur selama konser. Theo selalu pulas pada nada pertama yang adiknya mainkan.”
Matt dan Theo tertawa. Aku melihat mereka bertiga dengan bingung. Ooo, aku mengerti. Konser ini menyajikan musik klasik. Bukan jenis musik favoritku, tetapi aku tidak akan tertidur. Keluargaku sudah biasa menghadiri acara musik serupa dan aku cukup menikmatinya.
Theo mengantar aku pulang seperti biasanya. Kebaikan keluarga ini sampai kapan bisa aku rasakan? Jika Theo resmi bertunangan dengan seorang perempuan pilihan orang tuanya, apa mereka akan tetap bersikap baik dan ramah kepadaku? Bagaimana jika mereka tahu aku pacar rahasia Theo?
Sampai di depan tempat tinggalku, lamunan itu harus buyar. Theo membantu aku turun, lalu aku membuka helm dan mengembalikan kepadanya. Dia memegang tanganku, bukan pelindung kepala itu. Aku menatapnya penuh tanya.
“Apa lo punya baju untuk hadir di acara konser?” tanyanya.
“Aku bisa pakai gaun pemberian Tante,” jawabku santai.
“Gue jemput besok untuk makan siang, lalu kita cari baju yang cocok buat lo.” Dia melihat tubuhku. “Berat badan lo berkurang lagi, gaun itu pasti sudah longgar.”
“Tidak perlu. Baju itu sudah aku kecilkan di tukang jahit. Kalau ternyata longgar lagi, aku bisa pakai kemeja terbaikku dan rok panjang. Beres,” tukasku.
“Lo ada janji sama cowok besok?” Dia menatap aku tidak suka.
Mengapa dia malah berpikir begitu? Akhir pekan adalah hariku mencari uang. Lebih baik aku fokus mengamen daripada mencari baju demi menghadiri acara yang berlangsung beberapa jam saja. Namun aku tidak mau dia tahu itu.
“Aku tidak ada janji dengan Kak Jericho jika itu yang kamu curigai.”
“Bagus, kalau begitu. Gue jemput tepat pukul satu siang. Awas, kalau lo tidak ada di sini. Gue gedor terus pagarnya sampai lo muncul,” ancamnya.
Gila ini orang. Semakin hari semakin ganas. Sudah pacarannya main sembunyi-sembunyian. Kalau di depan orang suka mesra hari ini, besoknya jadi orang asing. Dia bisa pegang-pegang perempuan lain, aku dilarang ketemu kakakku sendiri. Eh, urusan baju pun harus diatur.
Namun dia ada benarnya juga. Aku memeriksa lemari baju kecilku dan tidak menemukan pakaian yang layak selain gaun ungu itu. Tidak mau mempermalukan mereka yang sudah membayar jasaku dengan mahal, aku mengirim pesan kepada Kak Jericho. Aku hanya mengetik, SOS.
__ADS_1