
“Adakan jumpa pers saja, lalu jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Itu cara yang efektif,” kata Edrick, memberi usul.
“Mengapa solusi dari kalian selalu jumpa pers? Amarilis tidak bersalah, jadi dia tidak perlu memberi penjelasan kepada siapa pun mengenai kejadian pada malam itu,” protes Sonata.
“Jumpa pers itu sarana bagi kita menceritakan duduk perkaranya dari sisi kita. Persoalan mereka percaya dia bersalah atau tidak, itu hal yang subjektif. Apalagi kalau orang menilai pakai perasaan, itu sudah tidak objektif lagi,” ucap Kak Jericho.
“Amarilis sudah pasti bersalah. Kalau tidak, mengapa dia dipanggil polisi?” sindir Rahma. Semua orang menoleh ke arahnya.
“Siapa nama kamu tadi?” tanya Sonata dengan sinis. “Ah, iya. Rhoma. Dengar, ya. Semua yang ada di sini mau memberi dukungan kepada Amarilis dan Theo. Kalau kamu hanya mau menghina mereka, sebaiknya kamu pergi dari sini. Mereka tidak butuh tambahan musuh dalam selimut.”
“Namaku Rahma,” ujarnya kesal. Dia menoleh ke arah Kakak. “Apa kamu akan diam saja aku dihina begitu? Lakukan sesuatu.”
“Dia benar. Sebaiknya kamu pergi kalau tidak mau memberi dukungan kepada adikku,” kata Kakak.
Tanpa janjian, Kak Jericho, Sonata, dan Edrick datang sepulang dari tempat kerja mereka. Aku tidak tahu untuk apa Rahma menempeli kakakku, jika niatnya hanya untuk bertentangan dengan tujuan kedatangan ketiga orang terdekatku.
Suamiku lembur seperti biasanya, jadi mereka datang pada waktu yang sangat tepat. Aku punya teman sampai Theo pulang nanti. Mereka tidak berhenti mendiskusikan solusi untuk meredam gosip buruk mengenai aku karena panggilan ke kantor polisi kemarin pagi.
Berita mengenai kedatanganku ke kantor polisi masih menjadi tajuk utama di berbagai media besar. Aku sampai heran, mereka semua fokus kepadaku. Tidak ada yang peduli dengan Bastian sebagai orang yang digosipkan bêrzinà denganku.
Dunia memang tidak adil. Setiap kali ada skandal, selalu saja wanita yang menjadi pihak yang paling dirugikan. Pria bisa kembali menjalani hidup dengan normal, bahkan menjadi tenar. Sebaliknya, si perempuan harus menanggung aib seumur hidupnya. Sadis.
“Aku tidak percaya aku diperlakukan serendah ini.” Rahma mengambil tasnya, berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Dia pergi begitu saja dari ruang duduk.
Kami saling bertukar pandang sejenak, lalu tertawa kecil. Dia datang bersama Kakak, memangnya dia mau pulang jalan kaki? Melihat dia tidak kembali, maka aku tahu dia pasti memesan taksi daring untuk menjemput mobilnya di tempat kerja Kakak tadi. Perempuan aneh.
Sudah jelas orang yang dia dekati adalah kakakku, pastilah Kak Jericho akan memihak aku, bukan dia. Lagi pula, ada Sonata dan Edrick juga yang sengaja menemui aku untuk memberi dukungan. Dia malah terus saja mengucapkan hal yang bertentangan dengan mereka berdua.
Mendengar deru mobil di halaman depan, maka aku tahu dugaanku benar. Dia pulang menggunakan taksi daring. Baguslah. Kakak tidak perlu susah mengantar dia pulang. Aku heran. Lama juga Kakak bertahan menghadapi wanita manja yang merepotkan itu.
“Kamu dan Amarilis ada hubungan apa?” tanya Edrick sambil memandang kami secara bergantian.
“Kamu dan Sonata ada hubungan apa?” balas Kakak.
__ADS_1
“Kamu seorang model yang sedang naik daun.” Edrick mengusap-usap dagunya, tidak terpancing dengan pengalihan topik yang Kakak lakukan. “Mengapa kamu bergaul dengan seorang wanita biasa? Aku tidak pernah melihat kamu dekat dengan dia atau Theo saat menghadiri acara bersama.”
“Dia juniorku di sekolah, satu kelas dengan mendiang adikku. Dia juga juniorku di kampus bersama Sonata,” jawab Kakak dengan mulus. “Aku memang terkenal, tetapi aku tidak memilih teman.”
Edrick mendengus mengejek. “Sombong sekali kamu. Aku tahu reputasimu sebagai seorang model. Kamu tidak mau berteman dengan siapa pun. Konon kabarnya, kamu belum pacaran juga karena digosipkan pênyúka sêsàma jénis. Isu itu sepertinya benar, karena pacar yang kamu pilih pun tidak kamu sukai. Dia hanya tameng untuk menepis gunjingan orang, ‘kan?”
“Wah, wah.” Kakak duduk bersandar. “Aku baru tahu seorang wakil direktur perusahaan properti terbesar di negeri ini suka gosip murahan.”
Edrick tertawa kecil. “Aku justru harus tahu banyak gosip untuk menentukan strategi pemasaran yang cocok dengan topik yang sedang hangat.”
Aku menoleh saat pintu terbuka. Seorang pelayan mengangguk pelan, memberi isyarat. “Aku lapar. Makan malam sudah siap. Kalau kalian mau makan, ayo. Jika mau terus berdebat, silakan.”
Diskusi mengenai solusi dilanjutkan sembari makan. Mereka sangat baik memikirkan hal yang cocok untuk menyelesaikan masalahku dengan jerat hukum. Padahal Theo sudah memikirkan segalanya. Namun mereka tetap mau membantu mencari alternatif lain.
Mereka pulang ketika Theo sudah datang. Sonata memeluk dan memberi aku kata-kata manis untuk menghibur. Kakak juga melakukan hal yang sama. Hanya Edrick yang tidak bisa berbuat hal serupa, karena suamiku menatapnya dengan tajam.
Aku akhirnya bisa beristirahat. Hanya duduk mendengarkan orang bicara ternyata melelahkan juga. Suamiku belum membawa kabar baik, tetapi kami tidak menyerah. Cepat atau lambat, orang suruhannya pasti berhasil menemukan informasi yang kami cari.
“Ada kejutan untuk lo pagi ini. Semoga lo suka,” kata Theo saat dia akan berangkat kerja pada hari Senin itu. Kejutan? Untuk apa dia memberi aku kejutan?
“Ini tidak ada hubungannya dengan itu.” Dia mengècúp bibirku. “Aku akan pulang untuk makan. Jadi, jangan lama-lama bertemu Richo.” Aku mengangguk patuh.
Setelah dia keluar dari pekarangan rumah dengan sepeda motornya, aku menuju ruang kerja. Kakak meminta bertemu setelah makan siang, jadi aku bisa bekerja sejenak di rumah. Namun menunggu beberapa saat, tidak ada kejutan yang datang. Kejutan apa yang dia maksudkan?
Melihat layar ponselku terus menyala, aku tergoda untuk mengintipnya. Biasanya pada jam kerja begini, aku tidak membuka ponsel pribadi. Melihat banyaknya notifikasi pada layar, aku membuka peramban dan melihat sebuah berita sedang menjadi tajuk utama.
Seorang pejabat didapati istrinya tidur dengan seorang wanita penghibur di sebuah hotel ternama di Medan. Aku sempat deg-degan mencari info nama hotel yang dimaksud. Barulah aku mendesah lega saat tahu kejadiannya bukan di hotel milik Keluarga Wibowo.
Papa tidak mau tahu dengan status tamu yang berpasangan yang menginap di hotelnya. Baginya, itu urusan pribadi, bukan ranah dia maupun karyawannya untuk mengusik keperluan tamu menginap. Namun dia selalu menjamin penginapan kami bersih dari praktik pêlàcuran.
Reputasi hotel milik keluarga Chika sudah pasti tercoreng dengan adanya temuan ini. Media akan membahasnya berhari-hari, jika tidak berminggu-minggu. Apalagi pelakunya adalah pejabat tinggi daerah. Perempuan bodoh. Theo dilawan. Akhirnya, reputasi dibalas dengan reputasi.
“Suamimu benar-benar menyeramkan. Aku tidak percaya kasus itu tidak ada hubungannya dengan pembalasannya atas tuntutan Jessica.” Edrick berdecak ngeri.
__ADS_1
“Makanya, kamu harus hati-hati. Jangan cari perkara dengan dia atau Amarilis,” sahut Sonata.
“Kenapa gue harus ikut konferensi dengan kalian? Apa kalian enggak lihat ini masih jam kerja?” ujar Theo. “Lo enggak takut dipecat, Sonata? Jangan tiru Edrick. Dia bos, jadi enggak mungkin dipecat.”
“Memangnya kamu tidak istirahat minum kopi?” tanya Edrick. “Santai sedikit. Perusahaan kalian tidak akan bangkrut kalau kamu tinggalkan beberapa menit.”
“Inilah alasan perusahaan kami selangkah lebih sukses dari lo,” sindir Theo.
“Ouch!” seruku dan Sonata serentak, menggoda Edrick.
Dia melakukan panggilan video tadi, jadi aku segan menolak. Ternyata dia juga menghubungi Theo dan Sonata. Kebetulan gadget Kakak masih sepi, jadi aku senang diinterupsi sejenak. Punya sahabat seperti mereka menyenangkan juga. Aku ditimpa kemalangan, mereka ikut merasakan. Aku bahagia, mereka juga ikut merayakan.
Setelah makan siang, sesuai janji kami, aku menemui Kakak di lokasi kerjanya. Syukurlah, perempuan itu tidak ada, jadi kami bisa mendiskusikan perubahan jadwalnya untuk beberapa hari ke depan. Kalender kerjanya penuh nyaris tiga ratus enam puluh lima hari dalam satu tahun ke depan.
Karena itu, aku pusing menyisipkan rapat, janji, atau syuting lain di luar yang sudah dijadwalkan. Aku tidak bisa asal mengisi acara, harus mempertimbangkan jarak dan lamanya waktu yang dibutuhkan dari satu lokasi ke lokasi lain. Kakak benar-benar hebat masih sehat dengan jadwal sepadat itu.
Menjelang malam, aku mulai gelisah. Theo akan pulang untuk makan malam. Kalau aku masih di luar bersama Kakak, maka kami tidak bisa makan bersama. Bukannya mengizinkan aku pulang dahulu, dia malah mengajak aku ke sebuah restoran.
“Kamu ini ada apa? Aku hanya sesekali mengajak kamu makan bersamaku, sedangkan Theo makan denganmu setiap hari.” Kakak menunggu dengan membiarkan pintu mobil tetap terbuka. “Ayo.”
Karena aku sudah lapar, maka aku menurut. Yang membuat aku tidak suka itu, Rahma juga ikut bersama kami. Untuk apa aku ada di satu tempat yang sama dengan perempuan pengacau ini? Hanya merusak suasana hatiku saja.
Restoran yang kami masuki itu cukup ramai karena jam makan malam. Kakak tidak memilih salah satu meja, jadi aku tahu dia dan teman-temannya pasti memesan ruangan lagi. Aku mengerutkan kening karena kami terus berjalan ke bagian belakang.
Saat pelayan membuka pintu, aku bingung melihat suasana di baliknya gelap gulita. Kami mau makan atau main petak umpet?
___
~Author's Note~
Teman-teman, mohon maaf, ya. Tetangga sedang pesta, jadi dari pagi musiknya, ya, gitu, deh. Sampai sekarang sudah pukul 22.05 WIB masih dangdutan. Aku tidak bisa konsentrasi memeriksa naskah.
Semoga suasana besok lebih kondusif supaya aku bisa tambah banyak bab, ya. Terima kasih atas pengertiannya. Selamat malam minggu.
__ADS_1
Salam sayang,
Meina H.