Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
70|Ulang Tahun


__ADS_3

~Amarilis~


Aku puas melihat hasil akademik semester empatku. Serba A. Padahal tingkat kesulitannya semakin tinggi. Semoga saja pada semester lima nanti kami tidak bertemu dengan dosen aneh yang sulit dipahami cara berpikirnya. Karena aku perlu menjaga nilaiku selalu stabil agar tetap mendapatkan beasiswa sampai wisuda nanti.


Theo mengajak aku ke ruang sidang di mana Kakak sedang memperjuangkan hasil penelitiannya. Aku sangat bangga kepadanya yang sudah bersusah payah untuk tamat tepat waktu. Walau kami jarang bertemu karena skripsinya, aku senang dia bisa mengejar ketinggalannya.


Papa dan Mama pasti bangga sekali kepadanya. Ah, maksudku, Om dan Tante Wibowo. Aku masih saja kesulitan menyebut mereka begitu. Mereka selalu membanggakan Kak Nolan sehingga kurang memperhatikan Kak Jericho. Wajar saja, Kak Nolan adalah penerus utama keluarga kami.


“Selamat, Kak!” ucapku, mengetahui dia mendapatkan nilai A untuk sidangnya itu.


“Terima kasih. Semua berkat bantuanmu juga!” Kakak mempererat pelukannya.


“Lepaskan dia atau gue colok mata lo,” ancam Theo.


Aku menoleh dan menatapnya tidak percaya. Dia meletakkan kedua tangan di pinggulnya dengan mata tajam tertuju kepada Kak Jericho. Apa dia tidak bisa bicara baik-baik tanpa kekerasan? Pria ini adalah kakakku, bukan selingkuhanku.


Kak Jericho malah tertawa. “Aku semakin tenang dia ada dalam pengawasanmu,” kata Kakak sambil melepaskan pelukannya. “Kalian sudah berbaikan?”


“Terpaksa,” jawabku kesal.


“Lo tahu, ‘kan, kalau dia bohong,” ucap Theo.


“Aku tahu dia suka kamu, karena dia menunjukkan emosinya. Kalau dia tidak menyukai kamu, maka dia akan mengabaikan semua ucapan dan tindakanmu kepadanya. Karena kamu bukan siapa-siapa.” Kakak dengan gampangnya membuka rahasiaku.


“Mengapa Kakak beri tahu dia tentang itu?” protesku.


“Kalian pasti sudah lapar. Aku juga. Ayo, kita makan. Lalu kalian boleh bertengkar sesuka kalian.” Kakak berjalan dahulu sehingga Theo bisa menggandeng tanganku dan menyusul dia.


Walau aku sudah berjanji di dalam hati tidak akan bertengkar dengan Theo pada hari bahagia Kak Jericho, aku gagal. Bagaimana aku bisa bersikap manis jika dia terus bersikap menjengkelkan? Aku tidak bisa duduk di samping Kakak atau bercanda terlalu akrab dengannya.


Sekadar bergelayut manja atau menggandeng tangannya pun tidak boleh. Padahal saat kami jalan bertiga dengan adiknya, dia mengizinkan aku berjalan bersama Matt. Entah apa yang dia lihat dari sikap Kakak sehingga dia yakin pemuda yang sudah aku kenal sejak bayi itu akan berubah rasa. Yang benar saja. Kak Jericho adalah kakak kandungku.


Ulang tahun Theo sudah di depan mata, maka aku menyiapkan sebuah hadiah untuknya. Meski dia kekasih yang merepotkan, aku mau dia bahagia. Aku masih menyimpan kado yang semula akan kuberikan kepadanya tahun lalu. Jadi, aku akan memberikan keduanya pada hari yang sama.


Sama seperti tahun lalu, keluarganya mengadakan sebuah perayaan untuknya. Aku tidak diundang, juga tidak mau hadir. Sudah cukup Theo menantang orang tuanya di depan banyak orang. Aku tidak mau mereka semakin benci aku dan menutup pintu maaf selamanya dengan datang ke acara itu.


Merayakan ulang tahunnya pada tanggal yang sama atau keesokan harinya, tidak ada bedanya. Jadi, aku meminta dia memberikan satu hari itu hanya untukku. Dia memenuhinya dengan datang pagi sekali dan menunggu di depan tempat tinggalku.


“Selamat ulang tahun!” Aku memberikan tas belanja yang aku bawa.

__ADS_1


“Mengapa lo repot begini?” protesnya tidak enak.


“Tidak repot. Mereka memberi aku uang yang sangat banyak, jadi aku bisa membelikan ini untukmu. Uang kuliahku juga sudah dibayar, tenang saja.” Aku memegang tangannya dan meletakkan tali tas di telapaknya. “Ayo, buka. Katakan, apa kamu menyukainya?”


Dia membuka tas itu dan mengintip isi di dalamnya. Dia mengeluarkan sebuah jaket, lalu kotak berisi jam tangan. “Mengapa lo memberi gue dua kado?”


“Jam ini kado untuk ultahmu tahun lalu, sedangkan jaket hadiah tahun ini,” jawabku.


“Ah.” Dia mengangguk mengerti. “Kita putus karena lo cemburu gue tunangan dengan Chika.” Dia tersenyum penuh arti. Aku cemberut mendengarnya.


Dia mendekat, mengecup bibirku, lalu memeluk tubuhku. “Terima kasih.”


Walau dia melakukannya dengan tiba-tiba, aku tidak marah. Kami akan merayakan ulang tahunnya, jadi aku berkompromi dan membiarkan dia mencuri satu ciuman. Hanya satu ciuman. Kalau dia memanfaatkan hari ini untuk mencium aku sesukanya, aku akan buat perhitungan.


“Sama-sama. Kamu suka?” tanyaku penasaran.


“Suka,” jawabnya. Dia melepaskan pelukannya, lalu membuka jaket dan jamnya agar bisa memakai kedua barang yang aku berikan itu. “Pas sekali!”


“Merek jaket kamu mahal juga. Tetapi aku mengerti mengapa kamu memilihnya. Kualitasnya bagus dan tahan lama. Kamu tidak suka gonta-ganti barang, ya?”


“Sama barang saja gue setia, lo sekarang percaya kalau gue akan setia juga sama lo?” Dia mengecup bibirku lagi tanpa peringatan.


“Lo enggak boleh pelit. Hari ini bukan hanya waktu gue untuk lo, tetapi lo juga hanya buat gue.” Dia menggandeng tanganku mendekati sepeda motornya. “Ayo, kita mau ke mana?”


“Hari ini yang aku berikan untuk kamu hanya waktuku, bukan tubuhku. Enak saja,” protesku lagi.


“Baru juga ketemu sudah bawel. Kita jadi merayakan ulang tahun gue atau tidak?” Dia memasang helm di kepalaku. Aku merapatkan bibirku, menahan diri untuk tidak membantah. “Kita ke mana?”


“Bawa aku ke tempat impianmu.”


Semula aku menduga dia akan membawa aku ke gedung perkantoran milik keluarganya. Ternyata dia membawa aku ke sebuah wilayah perumahan elit. Ini bukan tempat tinggal keluarganya, tetapi bisa jadi kami menuju rumah sanak saudaranya.


Dia menghentikan sepeda motornya di depan sebuah rumah. Aku turun dan melihat ke sekitar kami. Aneh. Apa kami akan menemui salah satu saudaranya? Tidak mungkin. Mana ada keluarganya yang mau bertemu dengan orang yang sedang viral di media karena jadi selingkuhan Theo.


“Itu adalah tempat impian gue. Bagaimana menurut lo?”


Aku melihat ke arah gerbang besar yang dia pandang. Lokasinya di seberang rumah di mana kami berdiri. Kami bisa melihat isi di balik pagar raksasa itu karena celah-celah besinya tidak ditutup seperti kebiasaan rumah mewah lainnya. Namun yang bisa aku lihat hanyalah tanaman hijau dan jalan menuju bagian dalam.


“Aku tidak mengerti,” akuku.

__ADS_1


Dia mendekat dan melingkarkan tangannya di bahuku. “Kita akan tinggal di sini nanti. Gue belum tahu bagaimana caranya, tetapi gue akan kumpulkan uangnya.”


“Kamu akan membujuk pemiliknya untuk menjualnya kepadamu?” tanyaku terkejut.


“Pemiliknya sudah tua dan punya anak-anak yang tidak tinggal di Indonesia. Gue yakin rumah ini akan dijual begitu pria itu meninggal. Jadi, gue harus cepat supaya bisa menjadi pembeli pertama.”


Wow. Dia pasti sangat menyukai rumah ini sehingga tahu hal sedetail itu. Mengetahui nama pemilik adalah hal yang umum, tetapi sampai tahu status anak-anak dan keberadaan mereka adalah bukti dia sangat serius. Walau saling kenal pun, tidak semua orang suka berbagi privasi kepada orang asing.


Aku mengangguk mengerti. “Apa yang menarik dari rumah ini?”


“Pertama kali datang ke rumah ini, gue sudah menyukainya. Taman, jalan, air mancur, tanaman, bahkan isi rumahnya membuat gue jatuh cinta. Ketika gue melamar lo, rumah ini kembali ada dalam kepala gue. Percayalah, lo juga akan menyukai suasananya.”


“Aku percaya. Tetapi rumah ini pasti sangat mahal, Theo. Dari sini saja kelihatannya pekarangannya sangat luas. Berapa miliar ini?” Aku bergidik.


“Cukup aku yang tahu harganya.”


Karena hari ini hari bahagia, maka aku tidak memaksa. Lagi pula, aku mengetahuinya juga tidak akan ada gunanya. Aku tidak bisa membantu dia mengumpulkan uangnya. Bekerja mati-matian tidak akan cukup berapa tahun pun lamanya untuk membeli rumah sebesar itu. Kecuali aku menjadi model tenar seperti Kak Jericho.


Berikutnya, dia membawa aku ke sebuah gedung apartemen yang terdiri dari empat gedung kembar. Dia mengendarai sepeda motornya memasuki pekarangan gedung, lalu memarkirkannya di tempat yang tersedia di tempat parkir khusus pengunjung.


“Ini tempat impian gue yang kedua,” ucapnya sambil melihat gedung tinggi tersebut.


Tempat ini bagus, lokasinya strategis, dan suasananya hijau dengan tanaman juga segar dengan air mancurnya yang indah. Sepertinya dia menyukai tempat yang dekat dengan alam. Jadi, aku tahu harganya tidak murah. Seleranya memang berkelas.


“Mengapa?” tanyaku, melihat dia hanya diam.


“Rumah alternatif kita. Jadi, kalau lo butuh suasana hotel, kita bisa menginap di sini selama akhir pekan. Gue tidak akan bisa mengambil banyak cuti ketika bekerja nanti.” Dia memandang ke gedung tinggi itu. “Daripada pergi jauh, kita menginap di sini saja.”


“Kamu benar baru berusia dua puluh satu tahun, ‘kan?” tanyaku curiga.


Dia tertawa, lalu menoleh kepadaku. “Apa hanya orang dewasa yang boleh punya impian tentang tempat tinggal?”


“Tidak. Impian kamu selalu mengenai pernikahan. Orang seusia kita biasanya memimpikan tempat kerja, kendaraan, jalan-jalan, kamu malah memikirkan tempat tinggal bersama istrimu,” tuturku.


“Gue sudah punya semua itu, kecuali tempat tinggal sendiri dan istri.” Dia kembali melihat gedung itu. Aku senang dia berbagi impiannya kepadaku.


Aku mengangguk mengerti. “Kamu benar juga.”


“Tempat impian ketiga gue adalah kantor. Lo sudah tahu itu. Rumah kami akan gue berikan kepada Matt. Gue enggak mau rakus dengan menerima semua peninggalan keluarga. Karena itu, gue sudah pikirkan mengenai rumah masa depan gue.” Dia menoleh ke arahku. “Bagaimana dengan lo? Di mana tempat impian lo?”

__ADS_1


__ADS_2