Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
47|Makin Dekat


__ADS_3

Aku dan keluarga Theo semakin dekat sejak aku tampil pada perayaan ulang tahun pernikahan Om dan Tante Husada. Sampai makan malam bersama di sebuah restoran mahal pun, aku diajak serta. Usai belajar bersama Matt pada hari itu, kami merayakan ulang tahun Tante Ruth.


Om Azarya yang biasanya absen pun bergabung dengan kami. Aku merasa seperti orang asing yang tidak seharusnya duduk di sana bersama mereka. Namun keramahan mereka dan setiap percakapan yang melibatkan aku, menepis rasa tidak nyaman tersebut.


Ketiga pria itu memberi kado mereka masing-masing. Theo memberi sebuah tas yang sangat bagus, Matt menghadiahkan ibunya sebuah sepatu yang sangat cantik, sedangkan Om Azarya membelikan satu set perhiasan berlian yang sudah bisa aku bayangkan harganya.


Tante Ruth segera menghibur aku yang tidak membawakan apa pun untuknya. “Matt menjadi lebih baik secara akademik, itu hadiah yang terbaik yang pernah aku dapatkan,” sanjungnya dengan mata berbinar-binar. “Kado dari para pria ini tidak bisa menandinginya.”


“Terima kasih, Tante,” ucapku terharu. Tiga pria yang disinggung itu hanya mengangkat alis mereka.


Hubunganku dengan Sonata semakin dekat, tetapi aku memutuskan untuk mengajak Theo ke acara peragaan busana di mana Kakak tampil sebagai salah satu model. Aku tidak menyesali keputusanku itu, karena Chika juga menghadirinya bersama teman-temannya.


Aku tidak perlu bersusah payah membuatnya cemburu, karena Theo yang melakukannya. Dia duduk dekat denganku dan tangannya selalu berada di bahuku atau memegang tanganku di atas pahaku. Dari sudut mata, aku bisa melihat Chika merapatkan bibir, menahan emosi melihat kedekatan kami.


Kakak tampil memukau dengan berjalan penuh rasa percaya diri di atas panggung. Matanya yang nakal dan suka iseng itu berubah dingin dan serius. Entah mengapa semua model peragaan busana harus berekspresi seperti menghadiri pemakaman. Walau Kak Jericho sudah menjelaskannya, aku tetap tidak bisa memahami alasan tersebut.


“Selamat, Kak! Kakak keren sekali!” ucapku ketika dia mendatangi kami usai pertemuan singkat mereka di belakang panggung.


“Terima kasih, Ris!” Dia memeluk aku dengan erat. “Aku senang kamu datang memenuhi undangan. Sayangnya, kamu membawa orang yang tidak aku suka.”


“Sebelum gue tonjok muka lo, sebaiknya lepaskan dia.” Theo menarik tubuhku menjauh dari Kak Jericho. “Peluk sebentar saja. Jangan lama-lama.”


Aku berniat marah atas sikap kasarnya, tetapi melihat wajah mengalah Kak Jericho, aku menahan diri. Mengapa dia takut sekali dengan Theo? Papa bisa menolong dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik andai keberhasilannya menjadi model iklan itu dicekal Theo.


“Kalian pasti sudah lapar. Ayo, aku traktir makan,” ajak Kakak menuju tempat parkir.


Aku melihat antara Kakak dengan rekan-rekannya sesama model dan panitia. “Lo? Kakak tidak ikut makan malam bersama tim?” tanyaku bingung.


Biasanya mereka semua yang mengikuti pagelaran akan mengikuti acara makan malam bersama. Seluruh kru, model, bahkan perancang busana akan berkumpul sebagai silaturahmi terakhir. Karena setelah hari ini, mereka tidak akan berkumpul lagi dan acara resmi ditutup.


“Aku sudah minta izin. Toh, urusanku sudah selesai,” tuturnya dengan santai.

__ADS_1


Kakak memilih restoran yang cukup jauh dari lokasi tadi dan beruntung mendapatkan ruangan. Aku mengerti mengapa dia memilih tempat itu. Dia pasti mau menghindari fan atau wartawan yang bisa jadi mengekori dia ke rumah makan ini.


Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk makan sepuasnya. Apalagi makanan yang ada dalam menu sangat menggugah selera. Theo terlihat senang melihat aku makan dengan lahap dan banyak. Tentu saja, dia satu-satunya pendukung aku tetap gendut dan jelek.


“Walau Riris bukan adik kandungku, rasa sayangku kepadanya sebesar sayangku kepada Katelia,” kata Kakak ketika kami selesai makan.


Piring dan gelas kosong yang ada di atas meja sudah dibawa oleh pelayan diganti dengan makanan dan minuman sebagai penutup. Aku hanya mendengar, melihat Kakak menatap Theo dengan serius. Pemuda itu malah acuh tak acuh menyantap kuenya.


“Aku harap kamu tidak akan menyakiti dia, apa pun tujuan kamu bersikap akrab dengannya,” lanjut Kak Jericho. “Keluarganya mungkin tidak bisa menolong dia dari kamu, tetapi aku bisa.”


“Gue bukan playboy seperti lo, Richo. Gue tidak akan menyakiti Amarilis,” ucap Theo dengan santai. “Lo yang sepertinya harus berusaha lebih keras untuk melindungi dia. Tante Wibowo sangat marah kepadanya tiga minggu yang lalu.”


“Aku sudah berusaha—” kata Kakak, membela diri.


“Berusahalah lebih keras,” sela Theo. “Amarilis bilang, lo melarang dia untuk mengatakan siapa dia yang sebenarnya kepada keluarga lo. Jadi, pikirkan solusi yang lain. Jangan sampai mama lo punya hobi menampar pipi orang seumur hidupnya.”


Kakak menatap aku dengan khawatir. Aku mengangguk mengiyakan. “Mama menampar aku di toilet. Bukan sepenuhnya kesalahan Mama, karena aku tahu Chika memprovokasinya.”


“Ada apa, Kak? Apa yang Chika lakukan kepada Kakak?” tanyaku ingin tahu.


“Dia sepertinya masih marah karena Kak Nolan menolak dijodohkan dengannya tahun lalu. Aku tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan Papa, tetapi mereka sepakat untuk murni berbisnis bersama. Baik Papa maupun Om Winara tidak tertarik untuk berbesan,” kata Kak Jericho.


Aku tidak tahu Chika pernah suka dengan Kak Nolan. Bagaimana bisa hal sebesar itu luput dari perhatianku? Ah, mungkin dia baru memperhatikan Kakak setelah aku tiada, jadi aku tidak tahu-menahu mengenai perasaannya. Cepat juga dia berpaling hati kepada Theo.


“Apa menurut Kakak, dia masih marah, jadi dia sengaja memprovokasi Mama?” tebakku.


“Tidak.” Kakak melirik Theo. “Melihat kedekatannya dengan Theo, aku yakin dia tidak peduli lagi dengan Kak Nolan. Yang dia incar kamu. Apalagi dia tahu Mama sangat marah kepadamu, karena dia percaya kamu yang menyebabkan putri semata wayangnya meninggal.”


“Yang tidak bisa aku pahami, mengapa dia masih dendam kepadamu? Bukannya dia sudah tahu kamu adalah Katelia? Kalian berteman begitu lama, apa yang membuat dia berbalik membenci kamu?” tanya Kakak yang kami beri tatapan tanpa ekspresi.


“Sebentar. Dia tadi datang tetapi tidak melihat penampilan kami sama sekali. Dia memandang ke—” Mulutnya menganga dengan lebar. “Chika suka Theo??”

__ADS_1


Kedekatanku dengan keluarga Theo semakin diperkuat dengan undangan untuk perayaan ulang tahun Om Azarya. Padahal acara itu hanya untuk kerabat dan sahabat dekat mereka. Namun aku tidak merasa asing lagi, terutama karena Theo tidak pernah jauh dariku.


Anehnya, kedua orang tuanya tidak mencurigai apa pun dari keakrabanku dengan Theo. Untunglah, Chika dan keluarganya belum masuk dalam daftar kerabat mereka. Jadi, aku tidak perlu khawatir akan ada drama dari kehadiran dua makhluk mengesalkan itu.


Setelah berulang kali mendengar tentangnya, akhirnya, aku tahu gadis yang telah mencuri perhatian muridku itu. Pantas saja Theo selalu mengejek aku setiap kali aku menggoda tentang kedekatan hubunganku dengan Matt. Gadis itu layaknya langit, sedangkan aku bumi.


Ciri-ciri fisiknya tipikal anak gadis orang kaya raya yang terpandang. Kulit putih, badan ramping, wajah terawat, rambut indah dan berkilau, serta gigi yang rapi. Sikapnya sangat sopan dan manis. Aku yakin pakaiannya didesain khusus hanya untuknya. Dia sempurna, seperti Katelia.


“Bedanya gadis itu dari lo adalah dia sangat baik dan dermawan. Dia tidak sanggup menyakiti siapa pun seumur hidupnya,” kata Theo, setengah mengejek aku.


“Aku adalah korban anak orang kaya seperti kalian, jadi aku tahu tidak ada manusia yang sempurna, tidak terkecuali dia. Kalian hanya belum menemukan kekurangannya,” balasku, tidak mau kalah.


Fisik sempurna itu hal yang biasa, tetapi sifat yang tiada cela itu mustahil. Matt harus berhati-hati. Lebih baik berhadapan dengan perempuan yang apa adanya seperti aku, tanpa kepura-puraan, dibanding gadis itu yang pintar menutupi kekurangannya.


“Dia tidak cerdas, jika itu bisa disebut sebagai kelemahan. Karena itu, Matt ingin meningkatkan nilai akademiknya. Dia ingin membuat orang tua gadis itu terkesan, bukan perempuan itu,” kata Theo, melanjutkan. “Jangan sebut dia bodoh di depan Matt kalau lo tidak mau jadi musuhnya.”


“Tidak ada orang yang bodoh,” ujarku tidak setuju. “Dia hanya belum bertemu guru yang tepat.” Aku mengangkat daguku, memberi tahu dia yang aku maksud dengan guru yang tepat itu.


Tiba-tiba saja dia mencium pipiku. Aku tertegun sejenak. Jantungku perlahan berdetak semakin cepat, lalu aku menyadari kami sedang ada di mana. Wajahku memanas, khawatir ada yang melihat kejadian itu. Namun melihat semua orang sibuk sendiri, tidak ada yang memandang ke arah kami, aku merasa sedikit lega.


“Jangan lakukan itu di sini,” bisikku khawatir.


“Kita bisa ke kamar gue,” usulnya yang segera merapatkan bibirnya menahan sakit. Aku mencubit pahanya dengan keras.


Ujian akhir semester pun tiba. Aku mengikutinya dengan tenang, karena belajar setiap hari. Semua tugas juga aku kerjakan dengan baik. Jadi, aku cukup percaya diri, nilaiku akan sesempurna semester pertama. Hanya Sonata yang tidak berhenti khawatir.


Matt yang lebih dahulu memberi kabar baik. Dia naik kelas tiga dan memasuki kelas impiannya: IPS. Dia ingin mengikuti jejak papa dan kakaknya dengan memasuki jurusan manajemen kelak. Aku terkejut menerima hadiah darinya, sebuah ponsel baru yang sangat mahal.


Liburan sekolah dan kampus, aku tetap berada di Depok. Setiap hari adalah kerja bagiku. Walau aku tidak mengajar Matt, aku mengamen dan mengisi acara apa pun jika ada yang membutuhkan jasaku. Ketika Matt menyebut tentang pesta kejutan ulang tahun Theo, aku menyiapkan kado untuknya.


Sama seperti pada perayaan ulang tahun pernikahan Om dan Tante, mereka meminta aku untuk berduet dengan Matt. Kami berlatih di markas orkestra muridku itu agar Theo tidak mengetahui kejutan dari keluarganya tersebut.

__ADS_1


Namun pada hari perayaan, bukan hanya Theo, aku pun kaget dengan kejutan yang sudah mereka siapkan. Aku tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi, tetapi aku tidak menduga akan secepat ini.


__ADS_2