Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
111|Tak Tertebak


__ADS_3

Dia benar-benar tidak keluar kamar semalaman. Aku tahu ada minuman dan camilan di dalam, jadi dia tidak akan kelaparan atau haus. Namun aku tidak bisa tidur tenang memikirkan pertengkaran kami. Pantas saja orang tua bilang jangan pendam amarah sampai matahari terbenam.


Karena aku tidak tidur pulas, aku tidak memaksakan diri untuk menutup mata. Sudah saatnya olahraga, maka aku bersiap-siap. Aku sudah memakai sepatu kets dan menoleh ke pintu kamar. Dia pasti masih marah. Olahraga adalah rutinitas pagi yang tidak akan pernah dia lewatkan. Sepertinya, marah kepadaku membuat dia lebih suka mendekam di kamar.


Berhari-hari jalan pagi dengannya sejak kami datang, aku merasa sepi hanya melintasi hutan sendiri. Walau ada penghuni kabin lain yang juga sedang olahraga pagi, berbeda rasanya dengan kehadiran Amarilis. Mengapa dia marahnya lama sekali?


Sampai aku selesai menyajikan sarapan di atas meja pun, dia belum juga keluar kamar. Tidak bisa menahan diri lagi, aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada sahutan, aku memanggil namanya. Dia masih diam saja, maka aku memutar kenop pintu.


Dia melihat aku sesaat, lalu memejamkan matanya. Aku mendekat untuk memeriksa keadaannya. Pantas saja. Dia datang bulan, karena itu perasaannya sangat sensitif dan pagi ini dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kebiasaan yang menakutkan, tetapi kata dokter ini normal. Daya tahan tubuh setiap wanita berbeda dalam menahan sakit.


Aku membawakan sarapannya dan membantu dia minum dari gelasnya. Ketika dia sudah cukup kuat, dia makan sendiri. Dia menolak untuk disuap. Sedang sakit pun masih saja keras kepala. Namun aku tenang melihat wajahnya perlahan tidak pucat lagi.


“Maafkan aku,” katanya pelan. “Aku bersikap kekanak-kanakan semalam. Kamu benar. Rahasia orang tuamu tidak seharusnya kamu yang menceritakannya.”


“Gue mengerti. Enggak usah dipikirkan lagi. Istirahatlah.” Aku mengusap kepalanya.


“Maaf, liburan kita jadi terganggu karena aku.”


“Liburan apa yang terganggu?” godaku. Dia tertawa kecil.


Keesokan paginya, dia sudah aktif lagi dan membangunkan aku untuk berolahraga. Aku lega melihat keadaannya sudah baik-baik saja. Mungkin merasa bersalah sudah memarahi aku, dia banyak sekali menyentuh aku seharian itu. Oh, Tuhan. Apa dia benar-benar tidak mengerti?


Walau berat dan penuh godaan, liburan itu berakhir dengan selamat. Entah berapa kali sehari aku harus mendinginkan tubuh di bawah pancuran, aku tidak menghitungnya lagi. Yang penting, aku tidak menyentuh Amarilis melewati batas.


Tinggal bersama sepertinya bukan ide yang baik. Dia memang tidak memakai baju terbuka, tetapi sentuhannya saja sudah membuat pikiranku melayang. Namun kalau dipikir-pikir, apalah arti tantangan ini dibanding melihat dia tinggal dengan orang lain dan risiko yang sama bisa terjadi.


Pulang dari liburan, aku mengajaknya untuk menerima kado berikutnya dariku. Tidak banyak orang yang mengenali kami di sini, jadi aku mewujudkan satu hal yang ingin dia perbaiki dari tubuhnya. Melihat tempat tujuan kami, dia menahan tanganku.


“Kamu sudah memberi aku sangat banyak. Tidak, Theo.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gue mau lo bahagia. Pulang dari sini ke Indonesia, lo enggak akan dipandang rendah oleh siapa pun lagi karena kekurangan fisik lo,” bujukku. “Mama lo membawa lo ke dermatolog untuk mengobati wajah lo, maka izinkan gue membantu lo dalam hal satu ini. Ya?”


Dia menatap klinik itu, lalu kembali kepadaku. Matanya berkaca-kaca. “Kamu malu, ya, punya pacar yang tidak sempurna? Itu, ‘kan, alasan kamu membawa aku ke sini?”

__ADS_1


Melihat air mata mulai menetes membasahi wajahnya, aku ingin marah. Namun aku menahan diri dengan menarik napas panjang. Apalagi dia baru selesai datang bulan. Mama juga sering begini. Satu detik dia tertawa, tiba-tiba dia marah, lalu berikutnya malah menangis.


Aku mengajaknya untuk duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu. Sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu giliran mereka. Namanya sebentar lagi akan dipanggil, jadi aku harus cepat atau kami akan menunggu lama untuk mendapat kesempatan bertemu dengan dokter.


“Dengar.” Aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku. “Gue tahu lo terharu, tetapi lo calon istri gue. Yang gue lakukan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaan yang lo berikan selama kita bersama. Sayang, gue mau lo bahagia.”


“Aku bahagia. Apa aku pernah mengeluh?”


“Lo menabung agar kelak bisa melakukan ini, anggap saja gue mendahulukannya. Bagaimana? Lo bisa bayar secara mencicil begitu uang lo sudah cukup.” Aku memberi alternatif lain.


Dia tertegun sejenak. Matanya bergerak-gerak, terlihat sedang berpikir. “Oke. Ini utang, bukan kado. Kamu sudah memberi aku banyak hadiah, tidak lagi.”


Aku mengangguk. “Satu lagi, buat gue, lo sempurna. Badan lo gendut, muka lo penuh jerawat, atau apa pun kekurangan lo, gue enggak peduli. Walau gue enggak setuju lo jadi kurus begini, gue tetap menerima lo apa adanya. Mengerti?”


“Iya.” Dia menyeka air mata dengan punggung tangannya.


“Amarilis Josepha?” panggil suster menyebut namanya.


“Theo, bukankah biayanya akan sangat mahal di sini?” Dia menahan tanganku lagi.


“Lo lupa? Lo mahasiswa di kampus ini, jadi lo akan dapat diskon besar.” Matanya pun membulat.


Dia menemui dokter dengan wajah ceria. Aku sampai tidak percaya dia baru saja menangis. Wanita baik hati itu memeriksa keadaan giginya, lalu memberi tahu prosedur yang dia tawarkan. Waktu yang dibutuhkan tidak sampai dua puluh empat bulan, jadi kami beruntung.


Ketika dia tamat kuliah nanti, perawatan sudah selesai dan dia tinggal menggunakan alat yang bisa dilepas pasang. Jika ada masalah, dokter gigi itu juga punya kenalan yang bisa dia hubungi di negeri kami untuk meneruskan tugasnya.


Setelah menentukan jadwal konsultasi berikutnya, kami pun keluar. Dia melompat-lompat senang saat kami mendekati sepeda. Dasar wanita. Emosinya sama sekali tidak bisa aku prediksi. Dia dengan bahagia meminta diantar ke laboratorium untuk memeriksakan kesehatan mulut dan giginya.


Persiapannya untuk memulai kehidupan di kota ini telah terpenuhi. Kampus belum aktif, tetapi kami sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan awal semester sebelum kuliah dimulai. Kami mendaftar ulang, membayar uang kuliah, memilih mata kuliah, dan segala detail lainnya.


“Amarilis, waktunya sarapan!” panggilku pada pagi itu.


Kemampuan memasakku terbatas, tetapi aku senang dia tidak pernah mengeluh. Semuanya dia lahap. Entah karena masakanku lumayan atau dia tidak mau disuruh menggantikan tugasku jika mengeluh. Benar-benar wanita manja, belajar memasak saja tidak mau.

__ADS_1


“Amarilis?” panggilku lagi melihat dia tidak juga keluar dari kamarnya.


Apa dia sakit? Kami tadi joging bersama dan masuk kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Apa yang membuat dia lama sekali berada di kamarnya? Aku memanggilnya sekali lagi, dia tidak juga menyahut. Khawatir hal buruk menimpanya, maka aku membuka pintu kamarnya.


Ternyata dia sedang duduk di dekat jendela. Karena dia membelakangi aku, maka aku berniat untuk mengejutkannya. Aku berjingkat mendekatinya. Dia sama sekali tidak sadar dengan langkah kakiku di belakangnya. Aku mengagetkan dia dengan mencium pipinya.


Sejak dia memakai kawat gigi, dia mengeluh sakit sehingga kami tidak sering berciuman. Lagi pula, kami sedang berdua, dia melarang aku mencium bagian wajahnya itu saat tidak ada orang lain. Dia tertawa geli karena aku menciumnya berkali-kali.


“Theo, hentikan!” protesnya sambil tertawa.


“Lo sedang apa, hah? Gue panggil dari tadi tidak menjawab.” Aku memeluknya dari belakang agar dia tidak bisa menghindari ciumanku.


“Aku memakai headset untuk bicara dengan Mama,” jawabnya, tetapi aku tidak berhenti mencium wajahnya. “Theo! Mama dan Bunda melihat kita. Hentikan!”


“Bicara dengan mama lo? Mereka melihat kita?” tukasku. Aku melihat dia sudah melepas headset dari telinganya juga yang terhubung ke ponselnya.


Mendengar suara tertawa, aku menoleh ke layar gadgetnya itu. Ada dua wajah wanita dewasa selain wajah Amarilis di sana. Mereka sama-sama menutup mulut menyembunyikan tawa mereka. Oh, Tuhan. Apa yang baru saja aku lakukan?


Wajahku memanas memikirkan mereka melihat kejadian tadi. Aku mencium pipi Amarilis berkali-kali tanpa sadar ada yang menyaksikan kami. Penontonnya pun bukan orang biasa, tetapi kedua mama Amarilis. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku kehilangan kata-kata.


“Theo?” ucap Tante Wibowo. “Kamu juga kuliah di sana?”


“Dia satu tahun lebih dahulu, Bunda. Jadi, dia adalah seniorku di kampus,” jawab Amarilis, karena aku jelas tidak bisa bicara.


“Kamu ada di kamar, lalu mengapa dia masuk? Apa tidak ada larangan laki-laki tidak boleh masuk ke kamar perempuan di sana?” tanya Tante Andriyana dengan curiga.


Melihat ada kesempatan untuk kabur, maka aku menepuk bahu Amarilis dan segera keluar dari kamarnya. Dia hanya tertawa melihat tingkahku. Mau bagaimana lagi? Aku berharap ini menjadi rahasia sampai pulang nanti, dia malah tidak memberi tahu sedang panggilan video dengan mereka.


Gawat. Apa mereka akan menasihati dia karena hal ini? Bagaimana kalau mereka menyuruh dia untuk mencari tempat tinggal yang baru? Aku tidak mau kami tinggal di tempat yang terpisah. Aku tidak khawatir dengan mamanya, yang aku pikirkan adalah bundanya.


Wanita itu punya uang yang banyak untuk datang ke sini dan mencari tempat tinggal baru untuk Amarilis. Aku bisa kehilangan konsentrasi belajar kalau tinggal jauh dari Amarilis. Aku lebih suka kami tinggal di tempat yang sama walau godaannya besar.


Pintu kamarnya dibuka dan dia akhirnya keluar. Aku melirik kedua tangannya, dia tidak membawa ponselnya. “Bagaimana?” tanyaku tidak sabar. “Apa mereka mengatakan sesuatu tentang kejadian tadi? Apa kamu disuruh pindah ke tempat lain?”

__ADS_1


__ADS_2